MasukKael mengambil gelas kosong dari tangan Althea lalu meletakkannya kembali ke atas meja dengan gerakan perlahan. Setelah itu, ia tidak langsung menjauh. Jarak di antara mereka kini begitu dekat, hingga Althea bisa merasakan embusan napas Kael yang teratur di permukaan kulitnya. Suasana ruang tengah terasa semakin sunyi, hanya menyisakan detak jarum jam dinding yang samar. Lampu temaram di sudut ruangan memantulkan siluet tegas wajah Kael, menyembunyikan tatapan matanya yang biasanya sedingin es, kini berubah menjadi begitu dalam dan penuh perhatian. Kael mengangkat tangannya perlahan, bergerak sangat hati-hati seolah takut mengejutkan wanita di depannya. Ibu jarinya menyentuh sudut bibir Althea dengan sangat lembut, mengusap sedikit sisa makanan yang tertinggal di sana. Sentuhan kulit yang hangat itu seketika mengirimkan desir halus yang membuat jantung Althea berdegup lebih cepat. Althea tidak menghindar. Ia justru terpaku, menatap lurus ke dalam manik mata Kael yang malam ini tamp
Setelah Om Krisna berpamitan untuk kembali ke hotelnya, suasana di dalam rumah aman itu mendadak menjadi sangat sunyi. Althea masih terduduk di sofa panjang, menyandarkan kepalanya yang terasa pening ke sandaran kulit yang dingin. Lelah fisik dan batin benar-benar terasa menumpuk malam ini. Kael sempat menghilang ke area dapur belakang selama beberapa saat. Ketika ia kembali, aroma harum nasi goreng mentega yang gurih langsung memenuhi ruangan. Kael berjalan mendekat sambil membawa sebuah nampan berisi sepiring makanan hangat dan segelas air putih. "Makan dulu, Thea," ucap Kael, meletakkan nampan itu di atas meja kopi di depan Althea. Althea membuka matanya perlahan, menatap makanan itu dengan pandangan lesu. "Aku tidak lapar, El. Perutku masih terasa agak mual sejak dari pengadilan tadi." Kael tidak langsung menyerah. Ia mengambil piring tersebut, lalu duduk di sofa tunggal yang berada tepat di sebelah Althea, memotong jarak di antara mereka namun tetap memberikan ruang yang sopa
Malam harinya, rumah dua lantai di pinggiran Jakarta itu tampak sunyi namun dijaga ketat oleh tim Bayu. Di ruang tengah, Kael, Althea, dan Om Krisna kembali duduk bersama Damar untuk mematangkan persiapan sidang berikutnya. Damar tampak jauh lebih tenang dibanding saat pertama kali diselamatkan dulu, meski sisa-sisa trauma di wajahnya belum sepenuhnya hilang. Di atas meja, beberapa berkas dokumen dan laptop dalam posisi terbuka. "Semua poin yang pernah kamu jelaskan saat interogasi waktu itu sudah dirangkum oleh tim hukum kita, Damar," buka Kael, memecah keheningan dengan suara rendahnya yang tegas. "Malam ini kita hanya perlu memastikan tidak ada satu pun detail yang meleset untuk kesaksianmu minggu depan." Damar mengangguk pelan, melirik berkas di depan Kael. "Saya paham, Pak Kael. Saya sudah siap. Semua yang saya katakan sebelumnya tentang bagaimana Zayyan memaksa saya membuat akun fiktif itu... tidak ada yang berubah. Saya pegang kata-kata saya." Althea menatap Damar denga
Perjalanan dari pengadilan dialihkan menuju pemakaman mewah di kawasan Jakarta Selatan. Setelah melewati gerbang beringin yang rindang, mobil berhenti di dekat sebuah area rumput hijau yang terawat rapi. Di sana, dua batu nisan marmer hitam berdiri berdampingan di bawah teduhnya pohon kamboja. Althea melangkah lebih dulu, membawa sebaskat bunga segar. Langkahnya yang tadi lemas saat di koridor pengadilan, kini mendadak memiliki sisa kekuatan. Ia bersimpuh di antara kedua makam itu, menyentuh permukaan marmer yang terasa dingin. Kael dan Om Krisna berdiri beberapa langkah di belakangnya, memberikan ruang dan waktu bagi Althea untuk berbicara dengan dunianya yang telah runtuh. Althea mengusap sisa air mata di pipinya, lalu mulai menaburkan bunga perlahan. "Papa... Mama..." Suara Althea tercekat pada kata pertama. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menahan gemuruh di dadanya. "Thea datang lagi hari ini." Hening sejenak. Angin siang berembus pelan, menggugurkan beberapa helai daun
Mereka melangkah menyusuri koridor belakang pengadilan yang sepi dan dingin. Langkah kaki Althea terasa sangat berat, seolah seluruh sisa tenaganya sudah terkuras habis di dalam ruang sidang tadi. Suara gemuruh dari kerumunan wartawan di luar gedung masih terdengar lamat-lamat, menambah rasa sesak di dadanya. Althea tiba-tiba menghentikan langkahnya di dekat jendela besar yang menghadap ke area parkir dalam. Ia menyandarkan punggungnya ke dinding beton, lalu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Bahunya gemetar ringan. "Thea," panggil Kael dengan nada yang sangat lembut. Ia ikut berhenti dan berdiri di depan Althea, memberikan ruang aman bagi wanita itu tanpa berniat menyentuhnya demi menjaga batasan status hukumnya. Althea menurunkan tangannya, menatap Kael dengan mata yang berkaca-kaca karena kelelahan emosional yang teramat sangat. "El... aku benar-benar lelah," bisik Althea, suaranya terdengar parau dan bergetar hebat. "Aku ingin semua ini cepat selesai. Aku ingin surat
Setelah Hakim Ketua melangkah keluar, suasana ruang sidang langsung mencair menjadi kegaduhan. Beberapa petugas kejaksaan segera bergerak mendekati Zayyan untuk memasang kembali borgol di tangannya sebelum membawanya kembali ke sel tahanan sementara. Saat Zayyan berdiri, ia sengaja memperlambat gerakannya. Januar yang berada di sampingnya mencoba berbisik dengan panik. "Zayyan, kita harus bicara dengan ibumu, Bu Inara. Jika Damar benar-benar bersaksi minggu depan, posisi kita bisa hancur total!" Zayyan tidak memedulikan ucapan Januar. Tatapannya kembali beralih pada Althea dan Kael yang baru saja berdiri dari kursi mereka. Dengan langkah yang tertahan oleh petugas, Zayyan sengaja berjalan melewati meja pelapor. "Menuntutku atas penggelapan dana?" Zayyan terkekeh pelan, suaranya terdengar sangat sinis saat menatap Althea. "Jangan lupa, Althea... di atas kertas, kamu itu masih istri sahku. Semua aset yang kamu sebut milik ayahmu itu, sebagian masih terikat atas namaku sebagai suamimu
Althea membuka mata saat mobil melambat. Mereka sudah sampai di rumah aman, sebuah vila modern yang tersembunyi di balik pepohonan di kawasan perbukitan yang sunyi.Kael menoleh padanya dengan tatapan tenang. "Kita sampai."Udara dingin pegunungan menyambut saat pintu mobil terbuka. Bayu dan timnya
Mobil SUV yang membawa Althea dan Kael melesat tenang di jalan tol, menjauh dari ingar-bingar kekacauan yang sengaja dibuat musuh di vila. Di dalam mobil, hening menyelimuti. Althea masih terlelap, napasnya teratur dan damai. Di sampingnya, Kael tidak ikut memejamkan mata. Ia memegang ponselnya, me
Althea terdiam, memberikan ruang bagi Kael untuk melanjutkan kalimatnya. "Sejak kita pulang dari klinik kemarin," Kael menatap mata Althea semakin dalam, suaranya terdengar sangat hati-hati namun tegas, "setelah dokter memastikan hasil tesmu bersih dan alat sialan itu akhirnya dikeluarkan secara
Setelah tidur yang nyenyak—tidur paling tenang yang ia rasakan dalam beberapa tahun terakhir—Althea bangun dengan pikiran yang jernih. Ia menemukan Kael sudah duduk di ruang tengah, ditemani oleh secangkir kopi hitam dan tablet yang memantulkan deretan data. Kael mengenakan kemeja putih yang digul







