Share

Bab 166

Penulis: Nayyarara
last update Tanggal publikasi: 2026-06-21 01:37:10

Hakim Ketua memeriksa berkas yang diserahkan Januar, lalu menatap Jaksa Penuntut Umum. "Bagaimana tanggapan Jaksa atas keberatan Penasihat Hukum Terdakwa?"

Jaksa berdiri dengan tenang. "Yang Mulia, kami tetap pada dakwaan kami. Bukti video yang kami serahkan telah melalui uji forensik digital resmi dari laboratorium kepolisian, bukan ahli independen yang tidak jelas kredibilitasnya."

Januar langsung menyela dengan nada meremehkan. "Tetapi teknologi sekarang sudah terlalu canggih, Yang Mulia.
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Malam Itu, di Pelukan Sahabat Suamiku   Bab 288 - Puncak Bahagia

    Suasana ruang keluarga utama kediaman Dirgantara terasa teramat teduh, diiringi harum semerbak bunga melati segar dari vas kristal di sudut ruangan serta alunan musik klasik ber-volume rendah yang menenangkan. Di atas sofa empuk berlapis kain beludru krem, Althea duduk bersandar dengan nyaman. Gaun katun panjang berwarna putih gading yang dikenakannya tampak serasi dengan tataan interior ruangan. Di pangkuannya, Kalathea yang kini makin menggemaskan sedang sibuk memegang mainan kayu berbentuk mobil-mobilan kecil. Pipi merahnya yang empuk dan matanya yang bulat jernih dipenuhi oleh rasa ingin tahu yang tinggi. Kael melangkah masuk dari arah ruang kerja pribadi. Pria itu sudah melepas jas formal serta dasinya, kini hanya mengenakan kemeja putih yang digulung rapi sampai ke siku dan celana bahan hitam. Sosok tegap yang dulu selalu terlihat kaku dan dingin itu melangkah dengan tatanan raut wajah yang begitu hangat begitu matanya menangkap keberadaan istri dan anaknya. "Bagaimana kond

  • Malam Itu, di Pelukan Sahabat Suamiku   Bab 287

    Setelah menghabiskan waktu berlibur yang begitu menenangkan di villa tepi pantai, rombongan keluarga Dirgantara kembali ke mansion utama. Suasana rumah megah itu kini terasa jauh lebih hidup. Lorong-lorong marmer yang dulu terasa dingin dan sepi kini setiap harinya dipenuhi oleh kehangatan tawa serta nuansa domestik yang menenangkan. Pagi hari di area taman belakang mansion, sinar matahari hangat menembus celah-celah dedaunan hijau. Burung-burung berkicau riang di sekitar kolam air mancur. Di atas rumput sintetis yang bersih dan tebal, sebuah alas karpet piknik telah tergelar rapi. Althea duduk berselonjor di atas karpet, mengenakan gaun santai katun berwarna merah muda lembut. Di depannya, Kalathea yang kini sudah makin menggemaskan duduk di atas pangkuan khusus seraya memainkan mainan klintingan kayu berukir halus. Suara tawa gusi dan cicitan kecil terus terdengar dari mulut mungil bayinya. Kael melangkah keluar dari teras belakang membawa nampan berisi dua gelas jus jeruk sega

  • Malam Itu, di Pelukan Sahabat Suamiku   Bab 286

    Malam hari di villa pribadi tepi pantai berlangsung dengan sangat tenang. Angin malam berembus perlahan membelah keheningan, membawa aroma khas laut yang menyejukkan. Di teras atas yang menghadap langsung ke arah hamparan laut lepas, pendar lampu hias berwarna kuning temaram menciptakan suasana intim dan hangat. Althea duduk santai di atas kursi panjang berlapis busa empuk, berselimut kain rajut tebal hingga batas dada. Di dalam boks bayi portabel di dekatnya, Kalathea sudah tertidur lelap setelah diminumi susu malam. Wajah mungilnya tampak tenang dengan napas yang teratur. Kael melangkah keluar dari dalam ruangan membawa dua cangkir cangkir keramik berisi teh herbal hangat. Pria itu mengenakan sweater rajut hitam berpotongan simpel yang dipadukan dengan celana bahan santai. Kael meletakkan satu cangkir di meja kecil dekat Althea, lalu mendudukkan tubuh tegapnya tepat di samping istrinya. Kael melingkarkan lengan besarnya di bahu Althea, menarik tubuh halus istrinya merapat ke d

  • Malam Itu, di Pelukan Sahabat Suamiku   Bab 285

    Matahari sore mulai condong ke arah barat, memancarkan pendar cahaya keemasan yang hangat melintasi teras luas villa pribadi tepi pantai. Angin laut berembus sepoi-sepoi membawa kesegaran alami. Setelah menghabiskan waktu bersantai di pagi hari, kini dinamika domestik keluarga kecil itu berlanjut di dalam ruang keluarga utama villa yang berdinding kaca transparan. Althea tampak duduk berselonjor di atas sofa empuk berlapis kain linen putih. Di sampingnya, satu set perlengkapan menyusui dan botol-botol ASI steril tertata rapi di atas meja. Sementara itu, Kalathea kecil yang baru saja terbangun dari tidur siang mulai mengeluarkan dengusan halus seraya menggerakkan kedua kaki mungilnya ke udara. Kael melangkah keluar dari kamar mandi dalam dengan handuk kecil tersampir di bahunya. Pria itu sudah membasuh wajah dan menggulung lengan kemeja lineng putihnya hingga ke siku. Begitu melihat Kalathea mulai menggeliat gelisah, langkah Kael langsung mengarah cepat menuju sofa tempat anak dan i

  • Malam Itu, di Pelukan Sahabat Suamiku   Bab 284 - Waktu Luang Keluarga Kecil

    Deru angin laut yang lembut berembus perlahan menerpa pepohonan kelapa di sekitar halaman villa pribadi keluarga Dirgantara. Villa megah yang terletak di atas tebing tepi pantai selatan itu menyajikan pemandangan hamparan laut biru yang membentang luas tanpa batas. Suasana di sekitar properti sangat tenang, terisolasi sepenuhnya dari hiruk-pikuk perkotaan dan hiruk-pikuk bursa saham yang biasa mengelilingi kehidupan Kael. Di teras lantai dua yang dilapisi kayu jati berpelitur halus, Althea berdiri menghirup udara segar pagi hari. Wanita itu mengenakan gaun santai lengan panjang berwarna krem yang longgar. Garis pantai dan deburan ombak di bawah sana memberikan ketenangan luar biasa yang sudah lama tidak dirasakannya. Dari arah dalam villa, Kael melangkah keluar menuju teras. Pria itu tampil sangat santai tanpa setelan jas formalnya, hanya mengenakan kemeja katun linen putih yang dibiarkan terbuka dua kancing teratas serta celana kain santai berwarna abu-abu. Di dalam dekapannya, K

  • Malam Itu, di Pelukan Sahabat Suamiku   Bab 283 - Momen Kecil yang Berharga

    Pukul tiga sore, suasana gedung utama Dirgantara Group berjalan sibuk seperti biasa. Di ruang rapat lantai lima puluh, puluhan direktur eksekutif berdiri rapi mengelilingi meja kaca besar, mendengarkan paparan proyek investasi baru yang diproyeksikan untuk kuartal mendatang.Kael duduk di kursi utama, mengenakan setelan jas hitam elegan. Tatapan matanya tajam memindai grafik di layar proyeksi, sesekali mengangguk pelan menilai angka-angka yang dipaparkan.Di samping kursi Kael, Bayu melangkah mendekat secara sangat perlahan, menundukkan tubuhnya untuk berbisik di dekat telinga sang CEO."Tuan Kael, waktu menunjukkan pukul tiga lebih lima belas menit," bisik Bayu penuh rasa hormat. "Mobil sudah siap di pelataran parkir bawah."Kael melirik jam tangan kustom di pergelangan tangan kirinya. Pria itu mengatupkan berkas laporan di depannya, lalu berdiri tegak dari duduknya. Seluruh direktur di dalam ruangan seketika menghentikan pembicaraan dan berdiri membungkuk hormat."Lanjutkan detail t

  • Malam Itu, di Pelukan Sahabat Suamiku   Bab 4 - Apa Aku Tidak Menarik?

    Althea terdiam. Pikirannya seolah kosong seketika. Ia juga bertanya-tanya untuk apa dia di sini, membuntuti suaminya tanpa tujuan yang jelas. Tak lama kemudian, tangis Althea pun pecah. Rasa sakit menyerang dadanya dengan kuat. Kael dengan sigap menariknya ke dalam pelukan, mendekap erat tubuh

  • Malam Itu, di Pelukan Sahabat Suamiku   Bab 3 - Jadi ... Benar?

    Suaminya sengaja membayar dokter untuk mematikan peluangnya memiliki anak, di saat pria itu membiarkan ibunya menghina Althea setiap hari karena mandul. Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar dari arah tangga. Althea panik. Dia segera menutup map itu dan mencoba memasukkannya kembali ke brank

  • Malam Itu, di Pelukan Sahabat Suamiku   Bab 2 - Rahasia Yang Terungkap

    Althea buru-buru berdiri dan mundur menjauh. “Kael, kamu ngapain di sini? Zayyan belum pulang.” Kael melangkah mendekat, matanya menyipit menatap wajah Althea yang sembab. “Maaf aku datang malam-malam. Aku mau ambil lensa kamera, kemarin ketinggalan di tas Zayyan,” ucap Kael pelan, masih khawa

  • Malam Itu, di Pelukan Sahabat Suamiku   Bab 1 - IUD di Rahimku ?

    “Kenapa ada IUD di dalam rahim kamu?” Suara Dokter Sarah membuat tubuh Althea membeku di atas ranjang periksa. “IUD?” bibirnya bergetar. “Alat kontrasepsi itu?” “Iya,” jawab dokter itu serius. “Dan posisinya sangat rapi. Jelas dipasang oleh tenaga profesional.” Jantung Althea berdetak kacau. Ke

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status