LOGINSi perempuan selesai mandi. Saat dia keluar dari kamar mandi, dia melihat uang yang ada di atas tempat tidur utuh tidak tersentuh, dan malah ada secarik kertas.
"Aku nggak akan pernah melupakanmu, Nona. Karena kamu adalah perempuan pertama dalam hidupku. Bukankah aku juga yang pertama buatmu? Aku berharap takdir akan mempertemukan kita kembali." Si perempuan cantik mengerutkan dahi, "dasar lelaki gila! Kita nggak akan mungkin ketemu lagi. Jadi, jangan bermimpi." Si perepuan meremas kertas dan melemparkannya ke tempat tidur. Dia segera bersiap untuk berganti pakaian karena sudah akan pergi meninggalka hotel. *** 10 menit kemudian ... Terdengar pintu di ketuk, si perempuan yang sedang berkemas segera meringkas uang dan kertas, lalu memasukkan ke dalam tasnya. Setelah itu dia membukakan pintu. Begitu pintu terbuka, terlihat seorang lelaki berdiri di depan pintu dengan wajah khawatir. "Bu Presdir. Anda baik-baik saja? Maaf, seharusnya saya tak membiarkan anda minum-minum dengan mereka sendirian. Maafkan saya. Saya pantas dihukum," kata lelaki itu menundukkan kepala. "Sudahlah. Tak perlu minta maaf. Masuklah dan bantu aku berkemas," perintah si perempuan cantik. "Baik, Bu. Silakan anda duduk saja. Biar saya yang bekerja," kata si lelaki itu. Si perempuan cantik itu adalah Vanya Oliver. Presiden Direktur perusahaan Entertaiment ternama yang melahirkan banyak idol, aktor dan aktris berbakat sehingga menjadi bintang top kelas dunia. Dan lelaki yang baru datang adalah Antonio, Asisten kepercayaannya. "Aku dengar, Hansel akan pulang. Apa dia menghubungimu?" tanya Vanya. Menatap Antonio yang sedang merapikan kopernya. "Tuan Muda belum mengabari apa-apa," jawab Antonio. Antonio selesai menata koper Nyonyanya, lalu membawanya mendekati sang majikan. "Kenapa wajah anda murung?" tanya Antonio penasaran. "Enggak kok. Siapa yang murung? Perasaanmu saja itu," jawab Vanya. "Apa anda memikirkan Tuan Muda?" tanya Antonio. Vanya menarik napas dalam, lalu mengembuskan napas perlahan. "Aku cuma merasa, kalau aku ini adalah Ibu yang buruk. Selama lima belas tahun ini, aku sama sekali tak bisa menjangkau hatinya. Padahal segala macam cara sudah aku coba. Namun, semua sia-sia. Kami tak bisa akur layaknya anak dan ibu pada umumnya," jawab Vanya. "Apa anda kesal?" tanya Antonio lagi. Vanya menggelengkan kepala, "mana mungkin. Aku menghormati keputusannya. Aku tahu, nggak mudah baginya menerimaku yang tiba-tiba saja mejadi ibu sambungnya. Aku pun demikian. Aku yang dulu masih berusia dua puluh tahun, tiba-tiba harus mengurus anak sepuluh tahun. Dia mungkin merasa nggak enak. Seharusnya aku cocok jadi kakaknya daripada ibu sambungnya 'kan?" kata Vanya. "Itu 'kan sudah berlalu, Nyonya. Apa anda lupa? Setelah Tuan besar, andalah yang merawat dan mengurus Tuan Muda. Anda bahkan mati-matian mempertahankan hak milik tuan muda dari tangan pamannya. Seharusnya jika beliau tahu diri sih, dia harus banyak-banyak bersyukur dan berterima kasih pada anda. Selain anda, siapa lagi yang akan melakukan itu? Bukankah begitu?" kata Antonio. "Sudahlah. Nggak ada gunanya membicarakan masa lalu. Kita harus bergegas, kalau nggak mau ketinggalan pesawat," kata Vanya. "Bu, bagaimana dengan orang-orang yang menyakiti anda? Saya harus apakan mereka?" tanya Antonio. "Apa lagi. Tentu saja memblokir mereka. Aku dapat sesuatu yang menarik dari mereka semalam. Sebelum ke bandara, kita akan mampir dulu buat menggemparkan dunia. Sayang banget aku nggak bisa lihat ekspresi panik dan ketakutan mereka," jawab Vanya. *** Setibanya di rumah, Vanya di sambut oleh kepala pelayan kediamannya. "Nyonya, selamat datang kembali. Akhirnya anda pulang juga setelah hampir dua minggu pergi," kata kepala pelayan. Vanya menatap kepala pelayan, "ada apa? Wajahmu tampak tegang. Apa ada sesuatu yang terjadi, selama aku enggak ada?" tanyanya. "Itu ... Tuan Muda juga baru saja tiba beberapa jam yang lalu," kata kepala pelayan. "Apa? Hansel sudah pulang?" tanya Vanya. Kepala pelayan menganggukkan kepala, "ya, Nyonya." "Dia di mana?" tanya Vanya. "Ada di halaman belakang," jawab kepala pelayan. "Biarkan saja dia. Minta pelayan melayaninya dengan baik. Buat dia nyaman untuk tinggal. Aku mau istirahat dulu karena cukup lelah," kata Vanya yang langsung pergi meninggalkan kepala pelayan. Vanya berjalan menuju kamarnya diikuti pelayan yang membawa kopernya. *** Malam harinya. Saat Vanya sedang asik membaca buku, dia mendengar suara gaduh dari halaman depan rumahnya. Segera dia keluar dari kamar untuk memeriksa apa yang terjadi. "Ada apa ini?" tanya Vanya. "Nyonya, itu ... Tuan Muda mabuk dan diatar temannya pulang," jawab salah seorang pelayan. Tanpa mengatakan apa-apa, Vanya bergeges keluar. Dia ingin melihat langsung keadaan Hansel. Di depan pintu, terlihat Hansel dipapah oleh dua pelayan. "Nyo-Nyonya ..." kata salah seorang pelayan terkejut. Vanya menempelkan jari telunjuk tangan kanannya ke bibirnya. Mengisyaratkan agar pelayan tak bersuara. "Cepat bawa dia ke kamarnya. Dan ganti dulu pakaiannya. Sebelum kalian pergi, pastikan dia baik-baik saja," kata Vanya dengan suara rendah. "Baik, Nyonya." Vanya menatap kepergian pelayan yang menbawa Hansel. Dan segera meminta pelayan lain untuk bubar. "Ada apa dengannya? Kenapa minum banyak sampai mabuk seperti itu?" kata Vanya dalam hati. Saat Vanya ingin pergi kembali ke kamarnya, dia mendengar suara bel rumah. Seorang pelayan keluar, untuk membuka pintu. Namun, oleh Vanya di suruh masuk lagi. Dan dia sendiri yang akhirnya membuka pintu. "Permisi. Sa ... " kata seseorang berdiri di depan pintu. Betapa terkejutnya Vanya saat tahu siapa orang di hadapannya. Buru-buru Vanya menarik tangan seseorang itu dan menutup pintu dari luar. "Kamu ... " kata Vanya. "Kamu ... " kata seseorang dihadapan Vanya. Yang adalah si lelaki muda. "Ngapain kamu di sini?" tanya Vanya dengan dahi berkerut. "Kenapa kamu juga bisa ada di sini?" tanya si lelaki itu. "Ini rumahku. Tentu saja aku bisa ada di sini. Dasar aneh," jawab Vanya. "Hah? Rumahmu? Kamu serumah sama Hansel? Ada hubungan apa kamu sama Hansel?" tanya lelaki muda itu penasaran. Vanya melihat sekeliling. Untungnya tidak ada siapa-siapa. Dia mendekati pintu, membuka pintu untuk memastikan tidak ada seorangpun yang melihatnya, lalu menutup pintu lagi. "Cepat katakan alasanmu datang. Jangan membuang waktu," kata Vanya. "Jawab dulu pertanyaanku. Apa hubunganmu sama Hansel. Apa kamu dan Hansel ... jangan-jangan, kalian ... " kata si lelaki muda tak melanjutkan ucapannya. "Tutup mulutmu sebelum aku robek. Jangan bicara sembarangan kalau tidak tahu apa-apa," sentak Vanya geram. "Bagaimana aku bisa mikir yang baik-baik. Saat sedang mengantar temanku pulang ke rumahnya, dan mau memberikan ponselnya yang tertinggal di mobilku, tiba-tiba kamu muncul di hadapanku. Dan kamu bilang rumah ini adalah rumahmu. Yang juga merupakan tempat tinggal temanku. Gimana otakku mencernanya?" tanya si lelaki muda menjelaskan isi hati dan pemikirannya. Bak disabar petir, perkataan si lelaki muda, membuat Vanya sangat kaget. "A-apapa? Ba-baru saja kamu bilang apa? Ulangi perkataanmu," tanya Vanya menatap lekat si lelaki muda. "Apa yang mau kamu dengar?" tanya si lelaki muda. "Kamu bilang, kamu teman Hansel? Aku nggak salah dengar 'kan?" tanya Vanya. "Enggak. Kamu nggak salah dengar. Aku Charlexon, aku teman sekolah Hansel. Kami lagi reunian dan tadi Hansel mabuk. Karena aku nggak minum, aku antar dia pulang. Apa jawabanku sudah membuatmu puas?" jawab Charlexon menjelaskan Vanya menggelengkan kepala, "nggak mungkin. Nggak, nggak. Nggak mungkin," gumamnya. Vanya terlihat begitu terkejut sampai bergumam sendiri. Membuat Charlexon khawatir.Malam harinya ...Vanya mendatangi sebuah restoran, memenuhi undangan Robert.Awalnya Vanya ragu, apakah dia harus datang, atau tidak. Meskipun Vanya sangat penasaran dengan informasi yang dipunyai Robert, tetapi dia tetap tidak bisa mengendurkan kewaspadaannya pada Robert. Namun, pada akhirnya Vanya memelih datang. Sekalian untuk memperingatkan Robert, agar tak lagi menyentuh Hansel.Pelayan membuka pintu sebuah ruang VIP. Vanya berjalan masuk dan melihat Robert sedang berdiri menatap dinding kaca. Pemandangan di luar memang tampak indah.Robert memalingkan pandangan mendengar pintu di buka, dia tersenyum tampan ke arah Vanya."Sudah datang," sapa Robert. Segera Robert mendekati kursi, dia menarik kursi untuk Vanya, tetapi Vanya lebih memilih duduk di kursi lain."Nggak perlu repot. Aku punya tangan sendiri buat menarik kursi," kata Vanya, yang barus saja duduk.Robert menganggukkan kepala, dia duduk di kursi yang ditariknya sendiri."Bagaimana kabarmu?" tanya Robert basa-basi."Ng
Hansel duduk bersandar bantal di atas tempat tidurnya. Dia memikirkan Vanya dengan begitu serius."Bodohnya aku, baru tahu kalau dia sebaik dan sepeduli itu padaku. Padahal dia bisa saja mengabaikanku, bukankah sebaiknya dia pergi meninggalkan keluarga ini? Kenapa dia tetap bertahan?" tanyanya dalam hati.Hansel membuka laci nakas dan mengeluarkan sebuah foto. Dalam foto ada gambar dirinya dan seorang lelaki paruh baya yang sedang merangkulnya dengan senyuman lebar."Pa ... apa papa melakukan sesuatu padanya, sehingga dia nggak bisa pergi meninggalkan keluarga kita? Bukankah dia masih muda? Masa depannya masih panjang," tanya Hansel. Mengusap wajah sang papa dalam foto.Hansel menatapi gambar papanya. Dia tidak mengatakan apa-apa dan hanya duduk diam."Apa papa tahu? Seseorang yang papa nikahi adalah sosok perempuan tangguh dan hebat. Aku akui dulu pikiranku memang sempit. Aku kekanak-kanakan dan bodoh. Sekarang, aku akan terus bersikap baik padanya. Aku ingin dia terus melihatku," uc
Ciuman lembut penuh gairah itu, perlahan berubah menjadi ciumam panas."A-apa yang dia lakukan? Ciumannya ... " kata Vanya dalam hati, yang tiba-tiba saja mendorong tubuh Charlexon menjauh darinya."Apa yang kamu lakukan, Charlexon? Apa kamu gila? Sudah aku peringatan untuk tidak sembarangan menciumku, bukan?" omel Vanya tidak senang.Vanya langsung mengusap bibirnya, "pergi kamu dari sini," katanya mengusir.Charlexon kaget, "Ma-maaf. Aku minta maaf. Aku tidak bermaksud jahat, hanya saja aku memang tidak tahan untuk menciummu setelah melihatmu. Maafkan aku," jelasnya.Vanya mengerutkan dahi, "hah? Apa katamu? Bisakah kamu memberi penjelasan yang lebih masuk akal. Kamu benar-benar bajingan mesum. Pergi sana, sebelum aku panggil keamanan untuk menyeretmu keluar," katanya.Charlexon memegang tangan Vanya, "maafkan aku, aku benar-benar hilang kendali buat sesaat. Aku mohon," pintanya memelas.Vanya menepis tangan Charlexon, "apa kamu mau membuatku lebih marah dari ini?" tanyanya. Menatap
Malam harinya ...Hansel datang ke bar langganannya. Di sana sudah ada Charlexon yang sedang duduk menunggunya."Maaf telat," kata Hansel. Menepuk bahu Charlexon, lalu duduk disamping Charlexon.Charlexon menatap Hansel, "santai saja. Aku juga baru sampai kok," jawabnya."Gimana kerjaanmu di luar kota?" tanya Hansel ingin tahu."Ya, nggak gimana-gimana. Aku ke luar kota cuma mau ambil sesuatu," jawab Charlexon."Sesuatu apa?" tanya Hansel penasaran. Menatap Charlexon begitu lekat.Charlexon tersenyum, "ada deh. Kepo banget," jawabnya."His ... sudah dibuat penasaran, ujung-ujungnya nggak dikasih tahu. Teman macam apa kamu," kata Hansel mengejek Charlexon."Hei, hei. Begini-begini cuma aku satu-satunya temanmu di dunia ini. Emang ada yang mau temenan sama kamu selain aku? Dasar nggak tahu terima kasih," ejek balik Charlexon."Eh, eh, eh, kamu ... kalau ngomomg suka bener. Cih," kata Hansel mengakui."Ngeselin benget sih bocah satu ini. Bisa-bisanya dia blak-blakan ngomong gitu. Aku 'k
Hansel menatap Nicky dengan tatapan penuh harap. Dia penasaran dengan apa yang terjadi antara papanya dan Vanya sebelumnya. Dan satu-satunya yang tahu akan hubungan keduanya adalah Nicky."Om sudah lama kenal papa dan mama. Berarti tahu hubungan mereka seperti apa. Aku nggak meragukan siapapun, aku cuma ingin tahu. Tapi, kenapa om Nicky nggak ngomong apa-apa ya? Duh, bikin penasaran aja," kata Hansel dalam hati.Sedangkan Nicky masih diam berpikir. Dia tidak tahu harus bagaimana menanggapi pertanyaan Hansel."Aduh, kalau pertanyaannya kayak gini, gimana aku jelasinnya ya? Kalau salah ngomong, bisa-bisa buat salah paham. Apa aku harus jujur kasih tahu? Atau bohong dan ngarang cerita? Nggak, nggak. Nggak boleh. Mau jujur atau bohong aku nggak berhak bicara sekarang. Lebih baik aku tanyakan saja ke Nyonya nanti. Dan aku akan bilang kalau aku ada urusan dan harus balik ke kantor," kata Nicky dalam hati."Hm ... Hans, maaf sebelumnya, tapi om tiba-tiba ingat sesuatu. Karena om buru-buru ke
Vanya berjalan selangkah, dia diam sebentar sebelum mengatakan sesuatu pada Robert."Jangan lagi kamu menganggu atau menyakiti Hansel. Jangan pernah menginginkan apa yang bukan menjadi milik dan hakmu. Aku nggak akan tinggal diam, jika kamu macam-macam pada anakku. Sekalipun kamu omnya, dan aku hanyalah mama sambungnya, tetapi aku sama sekali nggak keberatan untuk melindunginya dan melawanmu. Pasang telingamu dan dengar omonganku ini, Robert Oliver," kata Vanya dengan mata berkaca-kaca.Vanya berbalik dan berjalan pergi meninggalkan Robert. Sesampainya di pintu, dia segera membuka pintu dan pergi keluar dari ruagan.Vanya berjalan pergi meninggalkan restoran, wajahnya tampak pucat dengan mata yang masih berkaca-kaca.Tanpa sadar air mata Vanya jatuh, menyadari hal itu, dia segera menyeka air matanya dan berjalan cepat keluar keluar dari restoran.Seseorang muncul dari balik dinding, memandangi punggung Vanya. Seseorang itu menyeka air matanya, lalu tersenyum. Dia lantas pergi meningga







