Beranda / Romansa / Malam Membara dengan Pak Dosen / Bab 1 – Malam yang Salah

Share

Malam Membara dengan Pak Dosen
Malam Membara dengan Pak Dosen
Penulis: Althafunnisa

Bab 1 – Malam yang Salah

Penulis: Althafunnisa
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-04 12:21:06

"Kenapa seperti ada acara pernikahan?" Nayla menatap nanar pada tenda berwarna Maroon kombinasi gold yang terbentang mewah di depan rumah Yudi_kekasihnya.

Rumah megah tersebut nyaris hilang ditenda tenda pernikahan nan mewah.

"Apa mungkin Kakaknya yang menikah?" gumamnya lagi.

Nayla Kezya. Gadis cantik berkulit putih yang sering menghabiskan waktu di rumah kekasihnya itu hendak masuk ke dalam tenda pernikahan. Ia penasaran, siapa kah yang menikah di rumah itu? Kenapa Ia tak diundang?

Ia menghentikan langkah saat notifikasi di ponselnya berbunyi.

Ditatapnya layar ponsel tanpa berkedip. Sebuah undangan digital masih terbuka, seolah mengejeknya.

Yudi & Alya

Save the date.

Tangannya gemetar. Nama itu_nama pria yang berjanji akan menikahinya setelah ia lulus_tertera jelas sebagai pengantin pria.

“Ini… bercanda, kan?” gumam Nayla lirih.

Napasnya terasa berat. Kepalanya berdengung. Baru seminggu lalu Yudi berkata ia sedang sibuk mengurus masa depan mereka. Baru seminggu lalu Yudi menggenggam tangannya dan berbisik, "Aku akan setia nunggu kamu."

Namun sekarang Ia menerima sebuah undangan digital disertai rumah Yudi yang dihiasi tenda mewah.

Air mata Nayla jatuh tanpa bisa ditahan. Ia perlahan masuk tenda untuk memastikan apa yang dilihatnya sebuah kesalahan.

"Yudi nggak mungkin mengkhianatiku," desisnya. "Ini pasti kesalahpahaman," tambahnya lagi.

Ia terus masuk hingga langkahnya berdiri tepat di depan pelaminan.

Napas Nayla tersengal saat melihat apa yang ada di depan matanya, Ia menghadapi sebuah pemandangan di mana Yudi dengan mesra mencium bibir mempelai wanita. Riuh ramai tepuk tangan para undangan seakan membuat kedua pengantin itu semakin memperdalam ciuman.

Sesaat kemudian, ciuman itu terlepas dan tatapan Yudi tertuju pada Nayla.

"Yudi ...." Bibir Nayla bergetar. Ia tak percaya melihat sikap Yudi yang malah kembali melabuhkan ciuman di bibir istrinya. Bukan menghampirinya dan memberi penjelasan.

"Tega kamu, Yudi!" Nayla menyeka air matanya dan berlari sekuat tenaga meninggalkan pelaminan.

Dilajukannya sepeda motor dengan kecepatan tinggi. Rasa sakit menghantam jiwanya. Apa yang harus Ia katakan pada keluarganya di kampung? Mengingat Yudi yang telah datang meminta restu hubungan pada orang tua Nayla.

Nayla menghentikan laju sepeda motor di tepi jalan. Digenggaminya hati yang terasa sakit mendalam. Bukan hanya sakit yang Ia rasa, tapi kecewa karena terlalu percaya pada semua ucapan Yudi.

"Kenapa cintaku harus berakhir seperti ini?" Nayla menangis seorang diri.

Ia melajukan lagi sepeda motor dan memarkirkannya di depan sebuah club malam .

Hatinya yang remuk butuh pelampiasan. Ia memilih pergi ke club malam agar bisa melupakan semuanya sesaat.

"Kata orang, Club malam bisa mengobati rasa sakit hati," ujarnya berjalan perlahan.

Nayla memasuki Club malam dengan langkah pasti. Lampu warna-warni berkedip, musik berdentum keras. Tempat yang bahkan tak pernah terlintas di pikirannya sebelumnya saat ini justru membuat Nayla seperti orang gila.

Awalnya Nayla hanya duduk di bar sambil minum segelas Vodca. Lalu ia berbaur dengan para penari dan meliuk mengikuti dentuman musik. Sesaat kemudian dia kembali meneguk minuman beralkohol itu hingga tandas beberapa gelas.

“Sendirian?” tanya bartender.

Nayla mengangguk singkat. “Iya."

"Boleh aku temani?"

"Nggak perlu, Aku cuma mau minum.”

Beberapa menit berlalu, Nayla merasa ada yang aneh. Tubuhnya terasa panas. Bukan karena alkohol. Tapi ini berbeda. Jantungnya berdegup terlalu cepat, napasnya pendek.

“Kok… begini?” Nayla memegang dadanya sendiri.

Ia berjalan menuju kerumuman penari dengan tujuan rasa aneh di dalam tubuhnya mereda, tapi rasa itu justru semakin menjadi. Tubuhnya semakin terasa terbakar, tapi terkadang juga dingin.

Pandangan matanya berkunang. Ia berdiri, tapi langkahnya goyah. Nayla memutuskan untuk kembali duduk di bar.

Saat itulah sebuah tangan menyentuh lengannya.

“Hei, kelihatannya kamu nggak enak badan.” Suara seorang pria tua terdengar terlalu dekat.

Nayla menoleh. "Aku nggak apa-apa."

"Tapi kamu mabuk. Mari aku antar pulang." Pria tua itu semakin mengamit lengan Nayla.

“Jangan sentuh aku!” Nayla menatap tajam. Ia tak nyaman dengan sentuhan pria tua itu.

Pria itu justru tersenyum, membuat perut Nayla mual. “Santai saja, Nona. Aku bisa menemanimu.”

"Lepaskan aku." Nayla memberontak saat Pria itu mulai memapah tubuhnya.

"Jangan takut, Nona. Aku akan mengantarmu pulang. Tapi sebelum itu sebaiknya kita bersenang-senang."

Panik mulai merayap. Nayla mundur, tubuhnya semakin lemah. "Sepertinya dia orang jahat. Aaarrrgh! Kenapa rasanya panas sekali?"

Di tengah kekacauan itu, pandangan Nayla menangkap sosok pria lain. Sosok tinggi, rapi, dengan sorot mata tenang yang kontras dengan hiruk-pikuk sekitar. Pria itu tengah berbincang dengan beberapa Pria lain.

Tanpa berpikir panjang, Nayla menghampirinya dan mencengkeram lengan pria itu.

“Tolong aku,” ucap Nayla dengan suara bergetar. “Aku… aku nggak kenal dia.”

Pria itu menoleh. Tatapannya tajam saat melihat pria tua yang tadi mendekat.

“Ada masalah?” tanya Pria itu dingin.

“Bukan urusanmu,” dengus pria tua.

"Erlan, sebaiknya nggak usah ikut campur," bisik seseorang.

Lelaki itu_Erlangga hanya tersenyum tipis.

"Sepertinya si bandot itu sugar Daddy si gadis. Nggak usah cari perkara," bisik Teman Erlangga lagi.

"Tolong aku. Aku gak kenal dia." Nayla tetap memohon seraya meraba-raba tubuhnya yang terasa panas.

Melihat wajah ketakutan dari Nayla, Erlangga melangkah sedikit ke depan, posisinya protektif. “Dia bersamaku.”

Nada suaranya tenang, tapi mengandung ancaman. Pria tua itu mendecak kesal sebelum pergi.

Nayla hampir roboh jika Erlangga tidak menahan tubuhnya.

“Terima kasih…” Nayla berbisik, napasnya terengah.

“Kamu minum apa?” tanya Erlangga, alisnya berkerut.

“Aku… aku nggak tahu. Tubuhku panas… aku takut.”

Erlangga mengatupkan rahang. Ia langsung mengambil keputusan. “Kita pergi dari sini. Sekarang.”

Nayla mengangguk lemah, menyerahkan dirinya pada pria asing itu.

"Erlan, kamu mau ke mana?" Beberapa teman Erlangga berseru. Namun pria itu tak peduli. Ia tetap membawa Nayla keluar dari Club malam.

Di dalam mobil, Nayla menggigil. Keringat dingin bercampur panas yang menyiksa membuatnya berkali-kali mengerang.

Erlangga meliriknya berkali-kali. Cemas melihat kondisi perempuan di sampingnya.

“Kamu pernah merasa begini sebelumnya?” tanya Erlangga.

Nayla menggeleng. “Tidak… ini aneh. Tolong… jangan tinggalkan aku.”

Permohonan itu membuat Erlangga terdiam sejenak. Ia menghela napas panjang. “Aku tidak akan meninggalkanmu,”

Erlangga melajukan mobil dengan kecepatan tinggi. Erangan Nayla membuat Ia yakin telah terjadi sesuatu yang buruk pada gadis itu.

Sementara itu, Nayla semakin mengerang. "Arrrgghhh. Panas sekali." Ia membuka semua kancing baju yang dikenakannya.

"Hey, apa kamu gila?" Erlangga terkejut melihat apa yang dilakukan Nayla.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Malam Membara dengan Pak Dosen    Bab 5 – Jarak yang Terlalu Dekat

    "Aku punya rumah sederhana untuk kita tempati," ujar Erlan."Kenapa tidak di rumah saya saja? Saya sudah nyaman di sana." Nayla menolak."Lalu kamu mau pemilik kost tahu kalau kita menikah? Bukannya di kost tidak boleh ada lelaki di kamar perempuan?"Nayla menggigit bibir bawahnya. Harus Ia akui semua yang dikatakan Erlan benar. Namun Ia sendiri belum siap tinggal satu rumah dengan Erlan. Ia merasa Erlan begitu asing meskipun mereka telah menghabiskan malam bersama."Ayolah. Apa kamu ingin diusir satpam di kantor catatan sipil ini dulu, baru mau pulang?" Erlan menarik tangan Nayla menuju mobilnya.Nayla buru-buru melepas tangan Erlan. Setiap bersentuhan dengan pria itu, Ia selalu teringat pada malam panas yang telah mereka lalui."Saya bisa jalan sendiri." Erlan hanya menarik napas berat melihat sikap Nayla yang selalu menghindar darinya. Sepanjang perjalan menuju rumah yang dituju pun, mereka hanya diam membisu tanpa suara. Sesampai di rumah yang dituju, Nayla terpaku. Ada banyak p

  • Malam Membara dengan Pak Dosen    Bab 4 – Keheningan yang Membesar

    Bab 4 – Keheningan yang Membesar"Nayla." Erlan menahan pergerakan Nayla yang hendak membawa sepeda motor meninggalkan halaman kampus."Apa lagi? Saya udah bilang kalau sebaiknya kita lupakan saja malam itu.""Kamu yakin? Bagaimana kalau kamu hamil?""Itu tidak mungkin terjadi. Lagi pula, kita hanya melakukannya satu kali kok."Erlan tertawa mendengar ucapan Nayla. Ia mengambil kunci sepeda motor dan dan memainkannya."Kamu yakin hanya mengingat satu kali saja? Pura-pura lupa atau kamu terlalu menikmati sentuhanku?" Erlan meyibak rambut Nayla yang tertutup. "Bahkan tanda kepemilikan yang kutinggalkan masih terpampang dengan jelas. Kebayang kan bagaimana kuatnya Aku menghisap setiap inci tubuhmu?"Bulu kuduk Nayla seketika meremang mendengar ucapan itu. Tentu saja Ia teringat bagaimana Erlan menghisap kuat-kuat setiap inci tubuhnya sehingga Ia melenguh tanpa henti."Aku mohon lupakan itu ...." Bibir Nayla bergetar. Ia sendiri tak yakin bisa melupakan kejadian itu."Aku tidak bisa melup

  • Malam Membara dengan Pak Dosen    Bab 3 – Tatapan yang Mengunci

    "Sial! Hidupku benar-benar sial!" Nayla mengumpat seorang diri. Ia menatap wajahnya di cermin. Terlihat sangat menyedihkan."Auww." Nayla menyentuh area inti tubuhnya. Terasa sangat sakit dan nyeri. Bayangan percintaannya dengan Erlan menari-nari di kepala. Ia tak bisa melupakan bagaimana Erlan memberikan sentuhan pada setiap inci tubuhnya."Dasar lelaki munafik. Katanya nggak mau menyentuhku. Tapi dia melakukannya dengan buas," desis Nayla saat Ia teringat bagaimana Erlan membawanya terbang ke nirwana dengan menikmati percintaan mereka.Nayla memutuskan istirahat selama beberapa hari. Selain ingin menenangkan pikirannya yang kacau. Ia merasa kesulitan berjalan karena area intinya yang sedikit membengkak.***Nayla menunduk saat berjalan melewati gerbang kampus. Setiap langkah terasa berat, seolah rahasianya terpampang jelas di wajah. Bayangan malam itu masih menghantuinya. "Teruskan, Tuan. Ini nikmat ..." Desahan Nayla di malam itu terngiang-ngiang di telinganya. "Aku akan membant

  • Malam Membara dengan Pak Dosen    Bab 2 – Malam yang Tidak Bisa Ditolak

    Bab 2 – Malam yang Tidak Bisa Ditolak"Jangan buka bajumu!" Erlan menahan Nayla yang berusaha membuka satu per satu kancing baju yang dikenakannya."Tapi ini sangat menyiksa."Nayla tidak tahu berapa lama ia terombang-ambing di antara sadar dan tidak. Yang ia rasakan hanya panas. Menyiksa. Seolah seluruh darah di tubuhnya mendidih dan menuntut pelepasan.“Dingin…” bisiknya lirih. “Aku kepanasan…”Erlan menghentikan mobilnya, ia melepaskan dasi dan mendekati Nayla. "Jangan lakukan apa pun. Aku akan membawamu pulang," ujar Erlan seraya mengikat kedua tangan Nayla dengan dasinya.Sepanjang perjalanan, Nayla terus merintih sambil memberontak. Ia mengerang, sesekali mendesis seraya membusungkan dadanya. Erlan menghentikan mobil di depan apartemennya. Ia menoleh dan mendapati wajah Nayla yang pucat, keringat membasahi pelipis, bibir gadis itu bergetar tak wajar.“Sial,” gumam Erlan pelan. "Gadis ini diberi obat perangsang."Ia membantu Nayla turun. Namun dikarenakan terlalu sulit membawa

  • Malam Membara dengan Pak Dosen    Bab 1 – Malam yang Salah

    "Kenapa seperti ada acara pernikahan?" Nayla menatap nanar pada tenda berwarna Maroon kombinasi gold yang terbentang mewah di depan rumah Yudi_kekasihnya.Rumah megah tersebut nyaris hilang ditenda tenda pernikahan nan mewah. "Apa mungkin Kakaknya yang menikah?" gumamnya lagi.Nayla Kezya. Gadis cantik berkulit putih yang sering menghabiskan waktu di rumah kekasihnya itu hendak masuk ke dalam tenda pernikahan. Ia penasaran, siapa kah yang menikah di rumah itu? Kenapa Ia tak diundang?Ia menghentikan langkah saat notifikasi di ponselnya berbunyi.Ditatapnya layar ponsel tanpa berkedip. Sebuah undangan digital masih terbuka, seolah mengejeknya.Yudi & AlyaSave the date.Tangannya gemetar. Nama itu_nama pria yang berjanji akan menikahinya setelah ia lulus_tertera jelas sebagai pengantin pria.“Ini… bercanda, kan?” gumam Nayla lirih.Napasnya terasa berat. Kepalanya berdengung. Baru seminggu lalu Yudi berkata ia sedang sibuk mengurus masa depan mereka. Baru seminggu lalu Yudi menggengga

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status