Beranda / Romansa / Malam Membara dengan Pak Dosen / Bab 3 – Tatapan yang Mengunci

Share

Bab 3 – Tatapan yang Mengunci

Penulis: Althafunnisa
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-04 12:23:26

"Sial! Hidupku benar-benar sial!" Nayla mengumpat seorang diri.

Ia menatap wajahnya di cermin. Terlihat sangat menyedihkan.

"Auww." Nayla menyentuh area inti tubuhnya. Terasa sangat sakit dan nyeri. Bayangan percintaannya dengan Erlan menari-nari di kepala. Ia tak bisa melupakan bagaimana Erlan memberikan sentuhan pada setiap inci tubuhnya.

"Dasar lelaki munafik. Katanya nggak mau menyentuhku. Tapi dia melakukannya dengan buas," desis Nayla saat Ia teringat bagaimana Erlan membawanya terbang ke nirwana dengan menikmati percintaan mereka.

Nayla memutuskan istirahat selama beberapa hari. Selain ingin menenangkan pikirannya yang kacau. Ia merasa kesulitan berjalan karena area intinya yang sedikit membengkak.

***

Nayla menunduk saat berjalan melewati gerbang kampus. Setiap langkah terasa berat, seolah rahasianya terpampang jelas di wajah. Bayangan malam itu masih menghantuinya.

"Teruskan, Tuan. Ini nikmat ..." Desahan Nayla di malam itu terngiang-ngiang di telinganya.

"Aku akan membantumu, Sayang."

"Aku mohon lakukan lagi. Ini masih sakit."

"Sentuh aku lagi ...."

"Arrrgghhh. Kenapa bayangan malam itu semakin menggangu otakku?" Nayla memukul kepalanya sendiri.

Sentuhan, kata-kata, lenguhan mereka malam itu benar-benar tak bisa Nayla lupakan. Bahkan setiap sentuhan Erlan di inci tubuhnya masih terasa jelas.

"Lupakan, Nayla. Lupakan." Ia berkata pada diri sendiri. "Anggap tidak pernah terjadi. Jangan bodoh."

“Nayla”

Langkah Nayla terhenti.

Suara itu. Ia sangat mengenal jelas bagaimana suara itu pernah mengisi hari-harinya.

"Nayla. Aku mohon berhenti."

Nayla menegang sebelum menoleh. Yudi berdiri di sana, rapi seperti biasa, senyumnya membuat dada Nayla terasa sesak.

“Kita perlu bicara,” ujar Yudi mendekati Nayla.

Nayla menggenggam tali tasnya. “Aku nggak punya urusan apa pun sama kamu.” Ia hendak pergi meninggalkan Yudi.

“Dengar dulu!”

“Tidak,” potong Nayla dingin. “Kamu sudah menikah. Tolong jaga jarak.”

Ia melangkah pergi sebelum Yudi yang sempat meraih lengannya. Bagaimana pun besarnya rasa cinta pada Yudi, Ia harus melupakan karena Yudi yang telah menyebabkan masa depannya hancur.

Jantung Nayla berdegup kencang saat ia memasuki gedung fakultas, napasnya baru terasa lega ketika pintu kelas tertutup di belakangnya.

Ia duduk di bangku paling belakang, mencoba menenangkan diri.

“Kamu kenapa?” bisik seorang teman. “Pucat banget.”

“Aku cuma kurang tidur.”

Temannya menatap leher Nayla, lalu berkerut. “Itu… bekas apa?”

Darah Nayla seolah membeku. Tangannya refleks menutup leher.

“A-aku alergi,” jawabnya cepat. Ia baru teringat kalau di lehernya ada banyak tanda kepemilikan yang ditinggalkan oleh pria asing malam itu. Bukan hanya di leher, tapi hampir di tiap inci tubuh Nayla.

Pria itu benar-benar buas.

"Bentuk alerginya kok aneh."

"Ini benar-benar alergi."

"Tapi ...."

Belum sempat pertanyaan lain muncul, bisik-bisik menyebar di kelas.

“Katanya dosen hari ini diganti.”

“Iya, dosen pengganti masih muda.”

“Dan ganteng katanya.”

Nayla tidak tertarik. Ia hanya ingin kelas ini cepat selesai.

Sejak kejadian malam itu, Nayla merasa dunia berjalan lebih lambat. Ia selalu dihantui bayangan malam itu.

Pintu ruangan terbuka.

Semua suara berhenti.

"Selamat pagi, Semuanya."

Nayla mengangkat wajah saat mendengar suara itu. Suara yang pernah ia kenali. Suara yang beberapa hari ini menggangu otaknya.

"Dia?" Nayla merasa dunia runtuh untuk ketiga kalinya. Ia merasa nafasnya sesak saat melihat sosok yang mati-matian ingin dilupakannya, justru hadir di hadapannya saat ini.

Erlan berdiri di depan kelas. Dengan penampilan kemeja rapi, wajah tenang, aura wibawa yang sama seperti malam it. Hanya saja, kini berada di tempat yang sama sekali berbeda.

"Mulai hari ini saya yang akan menjadi dosen pengganti untuk mata kuliah ...."

Erlan menjeda ucapannya saat tatapan mereka bertemu. Ia menatap Nayla yang terlihat pucat.

Detik itu terasa seperti hukuman bagi Nayla. Ia sungguh tak menyangka akan bertemu lagi dengan lelaki asing yang telah tidur dengannya.

Sementara itu, Erlan hanya menatap sekilas sebelum memalingkan wajah, seolah Nayla hanyalah satu dari puluhan mahasiswa di ruangan itu.

"Jadi Bapak akan mengajar di kelas kami sampai mata kuliah selesai?" tanya seorang mahasiswa."

"Benar sekali."

"Wahhh. Perkenalkan diri dong, Pak."

Riuh ramai suara mahasiswa perempuan memenuhi ruangan itu. Mereka antusias karena mendapat dosen pengganti yang tampan rupawan.

"Baiklah. Perkenalkan, Nama saya Abimana Erlangga. Kalian boleh panggil saya dengan sebutan Pak Abi."

Suara itu menghantam telinga Nayla. Tangannya gemetar di bawah meja. Ia menunduk, tak berani menatap lagi.

Bayangan malam itu semakin berputar keras di kepalanya. Ia semakin merasa takut saat tatapannya tertuju pada Erlan yang sedang menyampaikan materi perkuliahan.

Sepanjang perkuliahan, Erlan bersikap profesional. Nada datar. Materi jelas. Tidak ada celah emosi.

Dan justru itu yang membuat Nayla semakin tertekan.

"Dia berpura-pura tidak mengenalku? Atau dia sudah melupakanku?" gumam Nayla.

Ia pun tak tahu harus bersikap apa. Pura-pura tak kenal atau justru menyapanya.

"Untuk materi kuliah hari ini cukup sampai di sini ...." Suara Erlan kembali membuyarkan lamunan Nayla.

Begitu kelas berakhir, Nayla langsung beranjak. Ia ingin keluar sebelum Erlan turun dari podium. Namun sayangnya, dikarenakan Ia duduk di bangku paling belakang, Ia tak bisa menerobos keluar kelas seenaknya.

Nayla merasa lega karena hanya beberapa orang mahasiswa yang tersisa sehingga Ia bisa segera keluar dari ruangan tersebut. Buru-buru Ia berjalan menuju pintu.

Namun langkahnya terhenti saat tangan seseorang menahan lengannya.

“Nayla.”

Suara itu rendah. Dekat.

Nayla menoleh cepat. “Maaf, Pak. Anda salah orang.”

Erlan menatapnya lama. Terlalu lama untuk orang asing.

“Benarkah?” tanyanya pelan.

Nayla menahan napas. “Saya tidak mengenal Anda.”

"Benarkah Anda tidak mengenaliku?" Sudut bibir Erlan terangkat tipis. “Atau perlu aku ingatkan?”

Ia melangkah lebih dekat. Terlalu dekat. Dengan tatapan seakan ingin menghakimi Nayla.

Nayla terpojok ke dinding kelas yang kosong. Detak jantungnya memekakkan telinga. Ia sangat takut saat Erlan mengungkungnya dengan kedua tangan.

“Jangan,” bisiknya panik. “Tolong.”

Erlan menahan diri. Tangannya bertumpu di dinding, tidak menyentuh, tapi cukup untuk membuat Nayla gemetar.

“Kamu kabur tanpa menoleh,” ucap Erlan lirih. “Lalu berpura-pura tidak mengenalku.”

“Apa yang kamu mau?” suara Nayla bergetar.

“Kebenaran,” jawab Erlan singkat.

Nayla menelan ludah. “Yang terjadi itu kesalahan. Dan aku ingin melupakannya.”

Tatapan Erlan mengeras. “Semudah itu?”

Nayla mendorong dada Erlan dengan sisa keberanian, lalu berlari pergi tanpa menoleh.

Ia tidak tahu bahwa sejak saat itu, menghindari Erlan bukan lagi pilihan melainkan awal dari permainan tegang yang tak bisa ia kendalikan.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Malam Membara dengan Pak Dosen    Bab 5 – Jarak yang Terlalu Dekat

    "Aku punya rumah sederhana untuk kita tempati," ujar Erlan."Kenapa tidak di rumah saya saja? Saya sudah nyaman di sana." Nayla menolak."Lalu kamu mau pemilik kost tahu kalau kita menikah? Bukannya di kost tidak boleh ada lelaki di kamar perempuan?"Nayla menggigit bibir bawahnya. Harus Ia akui semua yang dikatakan Erlan benar. Namun Ia sendiri belum siap tinggal satu rumah dengan Erlan. Ia merasa Erlan begitu asing meskipun mereka telah menghabiskan malam bersama."Ayolah. Apa kamu ingin diusir satpam di kantor catatan sipil ini dulu, baru mau pulang?" Erlan menarik tangan Nayla menuju mobilnya.Nayla buru-buru melepas tangan Erlan. Setiap bersentuhan dengan pria itu, Ia selalu teringat pada malam panas yang telah mereka lalui."Saya bisa jalan sendiri." Erlan hanya menarik napas berat melihat sikap Nayla yang selalu menghindar darinya. Sepanjang perjalan menuju rumah yang dituju pun, mereka hanya diam membisu tanpa suara. Sesampai di rumah yang dituju, Nayla terpaku. Ada banyak p

  • Malam Membara dengan Pak Dosen    Bab 4 – Keheningan yang Membesar

    Bab 4 – Keheningan yang Membesar"Nayla." Erlan menahan pergerakan Nayla yang hendak membawa sepeda motor meninggalkan halaman kampus."Apa lagi? Saya udah bilang kalau sebaiknya kita lupakan saja malam itu.""Kamu yakin? Bagaimana kalau kamu hamil?""Itu tidak mungkin terjadi. Lagi pula, kita hanya melakukannya satu kali kok."Erlan tertawa mendengar ucapan Nayla. Ia mengambil kunci sepeda motor dan dan memainkannya."Kamu yakin hanya mengingat satu kali saja? Pura-pura lupa atau kamu terlalu menikmati sentuhanku?" Erlan meyibak rambut Nayla yang tertutup. "Bahkan tanda kepemilikan yang kutinggalkan masih terpampang dengan jelas. Kebayang kan bagaimana kuatnya Aku menghisap setiap inci tubuhmu?"Bulu kuduk Nayla seketika meremang mendengar ucapan itu. Tentu saja Ia teringat bagaimana Erlan menghisap kuat-kuat setiap inci tubuhnya sehingga Ia melenguh tanpa henti."Aku mohon lupakan itu ...." Bibir Nayla bergetar. Ia sendiri tak yakin bisa melupakan kejadian itu."Aku tidak bisa melup

  • Malam Membara dengan Pak Dosen    Bab 3 – Tatapan yang Mengunci

    "Sial! Hidupku benar-benar sial!" Nayla mengumpat seorang diri. Ia menatap wajahnya di cermin. Terlihat sangat menyedihkan."Auww." Nayla menyentuh area inti tubuhnya. Terasa sangat sakit dan nyeri. Bayangan percintaannya dengan Erlan menari-nari di kepala. Ia tak bisa melupakan bagaimana Erlan memberikan sentuhan pada setiap inci tubuhnya."Dasar lelaki munafik. Katanya nggak mau menyentuhku. Tapi dia melakukannya dengan buas," desis Nayla saat Ia teringat bagaimana Erlan membawanya terbang ke nirwana dengan menikmati percintaan mereka.Nayla memutuskan istirahat selama beberapa hari. Selain ingin menenangkan pikirannya yang kacau. Ia merasa kesulitan berjalan karena area intinya yang sedikit membengkak.***Nayla menunduk saat berjalan melewati gerbang kampus. Setiap langkah terasa berat, seolah rahasianya terpampang jelas di wajah. Bayangan malam itu masih menghantuinya. "Teruskan, Tuan. Ini nikmat ..." Desahan Nayla di malam itu terngiang-ngiang di telinganya. "Aku akan membant

  • Malam Membara dengan Pak Dosen    Bab 2 – Malam yang Tidak Bisa Ditolak

    Bab 2 – Malam yang Tidak Bisa Ditolak"Jangan buka bajumu!" Erlan menahan Nayla yang berusaha membuka satu per satu kancing baju yang dikenakannya."Tapi ini sangat menyiksa."Nayla tidak tahu berapa lama ia terombang-ambing di antara sadar dan tidak. Yang ia rasakan hanya panas. Menyiksa. Seolah seluruh darah di tubuhnya mendidih dan menuntut pelepasan.“Dingin…” bisiknya lirih. “Aku kepanasan…”Erlan menghentikan mobilnya, ia melepaskan dasi dan mendekati Nayla. "Jangan lakukan apa pun. Aku akan membawamu pulang," ujar Erlan seraya mengikat kedua tangan Nayla dengan dasinya.Sepanjang perjalanan, Nayla terus merintih sambil memberontak. Ia mengerang, sesekali mendesis seraya membusungkan dadanya. Erlan menghentikan mobil di depan apartemennya. Ia menoleh dan mendapati wajah Nayla yang pucat, keringat membasahi pelipis, bibir gadis itu bergetar tak wajar.“Sial,” gumam Erlan pelan. "Gadis ini diberi obat perangsang."Ia membantu Nayla turun. Namun dikarenakan terlalu sulit membawa

  • Malam Membara dengan Pak Dosen    Bab 1 – Malam yang Salah

    "Kenapa seperti ada acara pernikahan?" Nayla menatap nanar pada tenda berwarna Maroon kombinasi gold yang terbentang mewah di depan rumah Yudi_kekasihnya.Rumah megah tersebut nyaris hilang ditenda tenda pernikahan nan mewah. "Apa mungkin Kakaknya yang menikah?" gumamnya lagi.Nayla Kezya. Gadis cantik berkulit putih yang sering menghabiskan waktu di rumah kekasihnya itu hendak masuk ke dalam tenda pernikahan. Ia penasaran, siapa kah yang menikah di rumah itu? Kenapa Ia tak diundang?Ia menghentikan langkah saat notifikasi di ponselnya berbunyi.Ditatapnya layar ponsel tanpa berkedip. Sebuah undangan digital masih terbuka, seolah mengejeknya.Yudi & AlyaSave the date.Tangannya gemetar. Nama itu_nama pria yang berjanji akan menikahinya setelah ia lulus_tertera jelas sebagai pengantin pria.“Ini… bercanda, kan?” gumam Nayla lirih.Napasnya terasa berat. Kepalanya berdengung. Baru seminggu lalu Yudi berkata ia sedang sibuk mengurus masa depan mereka. Baru seminggu lalu Yudi menggengga

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status