Masuk"Aku punya rumah sederhana untuk kita tempati," ujar Erlan."Kenapa tidak di rumah saya saja? Saya sudah nyaman di sana." Nayla menolak."Lalu kamu mau pemilik kost tahu kalau kita menikah? Bukannya di kost tidak boleh ada lelaki di kamar perempuan?"Nayla menggigit bibir bawahnya. Harus Ia akui semua yang dikatakan Erlan benar. Namun Ia sendiri belum siap tinggal satu rumah dengan Erlan. Ia merasa Erlan begitu asing meskipun mereka telah menghabiskan malam bersama."Ayolah. Apa kamu ingin diusir satpam di kantor catatan sipil ini dulu, baru mau pulang?" Erlan menarik tangan Nayla menuju mobilnya.Nayla buru-buru melepas tangan Erlan. Setiap bersentuhan dengan pria itu, Ia selalu teringat pada malam panas yang telah mereka lalui."Saya bisa jalan sendiri." Erlan hanya menarik napas berat melihat sikap Nayla yang selalu menghindar darinya. Sepanjang perjalan menuju rumah yang dituju pun, mereka hanya diam membisu tanpa suara. Sesampai di rumah yang dituju, Nayla terpaku. Ada banyak p
Bab 4 – Keheningan yang Membesar"Nayla." Erlan menahan pergerakan Nayla yang hendak membawa sepeda motor meninggalkan halaman kampus."Apa lagi? Saya udah bilang kalau sebaiknya kita lupakan saja malam itu.""Kamu yakin? Bagaimana kalau kamu hamil?""Itu tidak mungkin terjadi. Lagi pula, kita hanya melakukannya satu kali kok."Erlan tertawa mendengar ucapan Nayla. Ia mengambil kunci sepeda motor dan dan memainkannya."Kamu yakin hanya mengingat satu kali saja? Pura-pura lupa atau kamu terlalu menikmati sentuhanku?" Erlan meyibak rambut Nayla yang tertutup. "Bahkan tanda kepemilikan yang kutinggalkan masih terpampang dengan jelas. Kebayang kan bagaimana kuatnya Aku menghisap setiap inci tubuhmu?"Bulu kuduk Nayla seketika meremang mendengar ucapan itu. Tentu saja Ia teringat bagaimana Erlan menghisap kuat-kuat setiap inci tubuhnya sehingga Ia melenguh tanpa henti."Aku mohon lupakan itu ...." Bibir Nayla bergetar. Ia sendiri tak yakin bisa melupakan kejadian itu."Aku tidak bisa melup
"Sial! Hidupku benar-benar sial!" Nayla mengumpat seorang diri. Ia menatap wajahnya di cermin. Terlihat sangat menyedihkan."Auww." Nayla menyentuh area inti tubuhnya. Terasa sangat sakit dan nyeri. Bayangan percintaannya dengan Erlan menari-nari di kepala. Ia tak bisa melupakan bagaimana Erlan memberikan sentuhan pada setiap inci tubuhnya."Dasar lelaki munafik. Katanya nggak mau menyentuhku. Tapi dia melakukannya dengan buas," desis Nayla saat Ia teringat bagaimana Erlan membawanya terbang ke nirwana dengan menikmati percintaan mereka.Nayla memutuskan istirahat selama beberapa hari. Selain ingin menenangkan pikirannya yang kacau. Ia merasa kesulitan berjalan karena area intinya yang sedikit membengkak.***Nayla menunduk saat berjalan melewati gerbang kampus. Setiap langkah terasa berat, seolah rahasianya terpampang jelas di wajah. Bayangan malam itu masih menghantuinya. "Teruskan, Tuan. Ini nikmat ..." Desahan Nayla di malam itu terngiang-ngiang di telinganya. "Aku akan membant
Bab 2 – Malam yang Tidak Bisa Ditolak"Jangan buka bajumu!" Erlan menahan Nayla yang berusaha membuka satu per satu kancing baju yang dikenakannya."Tapi ini sangat menyiksa."Nayla tidak tahu berapa lama ia terombang-ambing di antara sadar dan tidak. Yang ia rasakan hanya panas. Menyiksa. Seolah seluruh darah di tubuhnya mendidih dan menuntut pelepasan.“Dingin…” bisiknya lirih. “Aku kepanasan…”Erlan menghentikan mobilnya, ia melepaskan dasi dan mendekati Nayla. "Jangan lakukan apa pun. Aku akan membawamu pulang," ujar Erlan seraya mengikat kedua tangan Nayla dengan dasinya.Sepanjang perjalanan, Nayla terus merintih sambil memberontak. Ia mengerang, sesekali mendesis seraya membusungkan dadanya. Erlan menghentikan mobil di depan apartemennya. Ia menoleh dan mendapati wajah Nayla yang pucat, keringat membasahi pelipis, bibir gadis itu bergetar tak wajar.“Sial,” gumam Erlan pelan. "Gadis ini diberi obat perangsang."Ia membantu Nayla turun. Namun dikarenakan terlalu sulit membawa
"Kenapa seperti ada acara pernikahan?" Nayla menatap nanar pada tenda berwarna Maroon kombinasi gold yang terbentang mewah di depan rumah Yudi_kekasihnya.Rumah megah tersebut nyaris hilang ditenda tenda pernikahan nan mewah. "Apa mungkin Kakaknya yang menikah?" gumamnya lagi.Nayla Kezya. Gadis cantik berkulit putih yang sering menghabiskan waktu di rumah kekasihnya itu hendak masuk ke dalam tenda pernikahan. Ia penasaran, siapa kah yang menikah di rumah itu? Kenapa Ia tak diundang?Ia menghentikan langkah saat notifikasi di ponselnya berbunyi.Ditatapnya layar ponsel tanpa berkedip. Sebuah undangan digital masih terbuka, seolah mengejeknya.Yudi & AlyaSave the date.Tangannya gemetar. Nama itu_nama pria yang berjanji akan menikahinya setelah ia lulus_tertera jelas sebagai pengantin pria.“Ini… bercanda, kan?” gumam Nayla lirih.Napasnya terasa berat. Kepalanya berdengung. Baru seminggu lalu Yudi berkata ia sedang sibuk mengurus masa depan mereka. Baru seminggu lalu Yudi menggengga







