MasukBab 4 – Keheningan yang Membesar
"Nayla." Erlan menahan pergerakan Nayla yang hendak membawa sepeda motor meninggalkan halaman kampus. "Apa lagi? Saya udah bilang kalau sebaiknya kita lupakan saja malam itu." "Kamu yakin? Bagaimana kalau kamu hamil?" "Itu tidak mungkin terjadi. Lagi pula, kita hanya melakukannya satu kali kok." Erlan tertawa mendengar ucapan Nayla. Ia mengambil kunci sepeda motor dan dan memainkannya. "Kamu yakin hanya mengingat satu kali saja? Pura-pura lupa atau kamu terlalu menikmati sentuhanku?" Erlan meyibak rambut Nayla yang tertutup. "Bahkan tanda kepemilikan yang kutinggalkan masih terpampang dengan jelas. Kebayang kan bagaimana kuatnya Aku menghisap setiap inci tubuhmu?" Bulu kuduk Nayla seketika meremang mendengar ucapan itu. Tentu saja Ia teringat bagaimana Erlan menghisap kuat-kuat setiap inci tubuhnya sehingga Ia melenguh tanpa henti. "Aku mohon lupakan itu ...." Bibir Nayla bergetar. Ia sendiri tak yakin bisa melupakan kejadian itu. "Aku tidak bisa melupakannya. Aku tak mau melupakannya." Erlan menyahut santai. "Kenapa?" "Karena perbuatanmu sudah menodai perjakaanku." "Hhh. Omong kosong!" Nayla tersenyum mengejek. "Omong kosong apa maksudmu?" "Lelaki tampan sepertimu. Tak mungkin bisa buas di ranjang seperti itu jika memang masih perjaka. Kamu pikir aku bodoh?" Erlan semakin geram melihat tingkah Nayla. Ia mencengkram gadis itu dan semakin menyudutkannya. "Jadi kamu tidak percaya? Aku lelaki smart, jadi menguasai permainan ranjang bukan berarti aku harus berkali-kali bercinta dengan perempuan. Kamu yang pertama aku puaskan. Dan kamu benar-benar merasakannya ‘kan?" Tangan Nayla hampir saja melayang di pipi Erlan jika Ia tidak memikirkan nilainya yang akan hancur jika bermasalah dengan dosen itu. "Minggir!" Nayla mendorong tubuh Erlan dan buru-buru pergi meninggalkannya Pria itu. Sementara itu, Erlan hanya tersenyum dan mulai menyusun strategi untuk membuat Nayla akhirnya tunduk padanya. *** Nayla menatap langit-langit kamar kosnya lama sekali. Tidak ada suara. Tidak ada air mata. Hanya dada yang terasa sesak, seperti ada tangan tak kasatmata menekan dari dalam. Stik tes kehamilan itu tergeletak di meja. Dua garis. Tidak mencolok. Tidak berisik. Tapi cukup untuk mengubah segalanya. “Aku… hamil,” bisiknya pelan, seperti sedang menguji apakah kata itu benar-benar nyata. Perutnya masih rata. Tidak ada yang berubah dari luar. Tapi di dalam, dunianya runtuh perlahan. Tidak dengan dentuman, melainkan retakan halus yang terus melebar. "Bagaimana ini?" Ia bersedesis lirih. "Aku tak mungkin meminta pertanggungjawaban Erlan." Nayla memeluk bantal. Ingatannya berputar ke malam itu. Panas yang menyiksa. Suara Erlan yang berusaha menenangkannya. Namun Nayla terus memaksa untuk menyentuhnya. Tatapan pria itu saat pagi datang bukan jijik, bukan menyesal, melainkan sesuatu yang tidak ia mengerti. "Seharusnya aku tidak pergi ke club malam itu," pikirnya. "Seharusnya aku pulang dan menangis saja." Air mata akhirnya jatuh. Diam-diam. Satu per satu. Sebuah penyesalan yang terlambat karena akhirnya takdir tak bisa lagi diubah. Nayla menyeka pipinya, berdiri, lalu pergi ke kamar mandi. Ia muntah, bukan karena mual semata, melainkan karena rasa takut yang tak bisa dikeluarkan dengan kata-kata. Hari-hari berikutnya berlalu dengan lambat. Nayla semakin merasa frustasi. Nayla tetap kuliah. Tetap duduk di bangku kelas. Tetap mencatat. Tapi pikirannya selalu tertinggal di satu hal. Malam panas itu dan akibatnya. "Bagaimana kalau perutku mulai terlihat? Bagaimana kalau orang-orang tahu? Bagaimana kalau ini menghancurkan hidupku?" Nayla meremas buku catatannya. "Nayla, apa ada yang ingin ditanyakan?" Erlan menghampirinya Nayla yang tengah meremas buku catatannya. Tatapan Erlan di kelas selalu terasa berat bagi Nayla meski pria itu tidak pernah menatap lama. Profesional. Dingin. Seolah tidak ada apa-apa di antara mereka. Namun kali ini Erlan menegurnya di depan seluruh mahasiswa. "Apa ada materi saya yang tidak anda mengerti?" Erlan menatap kertas kumal di hadapan Nayla. "Ah, tidak, Pak." "Belajar di kelas saya harus serius. Akan selalu ada pertanyaan yang harus kalian jawab di akhir materi. Jika tidak bisa menjawab, maka siap-siaplah menerima hukuman dari saya." Suara Erlan tegas penuh penekanan. Nayla semakin takut untuk tidak fokus pada materi kuliah. Namun suara Erlan yang terdengar, selalu mengingatkannya pada malam terkutuk itu. Ia tak bisa melupakan setiap sentuhan dan kegilaan Erlan yang membuatnya hamil seperti ini. *** Nayla sedang melamun di dalam kamar kosnya. Ia memikirkan bagaimana dengan tanggapan keluarganya jika tahu ia hamil sebelum menikah. Sebuah notifikasi masuk ke ponselnya. "Nayla. Kita perlu bicara. Tenang saja. Bukan di kampus." Pesan yang dikirimkan oleh Erlan semakin membuat Nayla merasa stres. Nayla membaca pesan itu berkali-kali sebelum akhirnya membalas singkat. "Baik." Mereka bertemu di taman kecil yang sepi. Daun-daun gugur menumpuk di bangku kayu tempat Nayla duduk. Erlan berdiri beberapa langkah di depannya, menjaga jarak seperti menghormati batas yang bahkan tidak mereka sepakati. “Kamu pucat,” ucap Erlan akhirnya. Nayla tersenyum tipis. “Biasa aja kok.” Erlan tidak langsung membantah. Ia paham bagaimana keadaan psikologis Nayla saat ini. Ia hanya menghela napas. “Kamu hamil.” Bukan pertanyaan tapi pernyataan. Nayla menunduk. Kata itu akhirnya keluar dari mulut orang lain. Rasanya berbeda. Lebih nyata. Lebih menakutkan. Namun Nayla tetap membantah. Ia tak ingin Erlan memaksanya untuk mengaku. "Anda jangan sok tahu," ujarnya datar. "Bukan sok tahu. Tapi Aku emang tahu kalau benihku sudah berkembang di sana." "Saya tidak hamil." "Anda yakin? Apa perlu saya bawa periksa ke dokter." Erlan meraih tangan Nayla. “Tidak perlu." Wajah Nayla semakin pucat. Ia takut saat melihat wajah Erlan yang menuntut kebenaran. “Iya, Saya hamil,” jawabnya pelan. Hening. “Aku ingat ucapanmu,” lanjut Erlan “Kamu bilang tidak akan menuntut tanggung jawab dariku.” Nayla mengangguk. “Dan itu masih berlaku. Saya memang tak akan pernah menuntut tanggung jawabmu.” Erlan menatapnya lama. “Kamu yakin itu keputusan yang kamu pahami sepenuhnya?” Nayla mengangkat wajah. Matanya basah, tapi tatapannya jujur. “Aku tidak ingin menggugurkannya,” katanya lirih. “Tapi aku juga tidak tahu bagaimana harus hidup dengan semua ini.” Erlan duduk di bangku seberangnya. Nada suaranya lebih rendah. “Kamu tidak sendirian.” Kalimat itu sederhana, tapi membuat dada Nayla bergetar. “Saya tidak minta apa pun darimu,” sahut Nayla cepat. “Saya bisa, Saya akan berusaha membesarkan bayi ini sendiri.” Erlan menggeleng pelan. “Bukan begitu caranya.” Pria itu semakin mendekati Nayla. "Bayi itu darah dagingku." Nayla terdiam. “Kita menikah,” ujar Erlan akhirnya, suaranya tenang tapi berat. Nayla tertawa kecil, nyaris putus asa. “Kamu tahu itu mustahil.” “Aku tahu risikonya,” balas Erlan. “Tapi ini jalan yang paling masuk akal.” “Masuk akal untuk siapa?” tanya Nayla pelan. “Aku masih mahasiswa. Kamu dosenku. Orang-orang akan menghakimi kita.” “Orang-orang memang selalu menghakimi,” jawab Erlan. “Aku lebih peduli dengan kamu dan bayiku agar aman. Menikah denganku akan membuat kalian bahagia.” Nayla memejamkan mata. Nama Yudi kembali muncul di kepalanya. Janji-janji kosong. Impian pernikahan yang bahagia bahkan tak sempat ia raih karena penghianatan Yudi. “Aku tidak percaya lagi yang namanya cinta,” ucap Nayla akhirnya. “Aku tidak sanggup menjalani rumah tangga tanpa cinta.” Erlan mengangguk. “Aku juga tidak menawarkan cinta di antara kita. Aku hanya ingin bayiku aman bersamaku.” "Tapiii ...." "Baiklah. Kalau kamu masih ingin kebebasan, kita bisa menikah diam-diam. Aku gak akan membatasi ruang gerakmu selama itu tidak membahayakan bayiku," ujar Erlan meyakinkan Nayla. Mereka pun akhirnya menikah secara diam-diam. Tidak ada gaun putih. Tidak ada senyum bahagia. Hanya tanda tangan dan janji formal. Saat Nayla menggenggam buku nikah itu, tangannya gemetar. Ini bukan akhir dari kesedihannya. Ini hanya awal dari hidup yang akan berubah pelan-pelan dengan cara yang tidak pernah ia rencanakan. "Lalu ... Di mana kita akan tinggal?" tanya Erlan yang membuyarkan lamunan Nayla. "Apa kita harus tinggal seatap?" Kening Nayla berkerut."Aku punya rumah sederhana untuk kita tempati," ujar Erlan."Kenapa tidak di rumah saya saja? Saya sudah nyaman di sana." Nayla menolak."Lalu kamu mau pemilik kost tahu kalau kita menikah? Bukannya di kost tidak boleh ada lelaki di kamar perempuan?"Nayla menggigit bibir bawahnya. Harus Ia akui semua yang dikatakan Erlan benar. Namun Ia sendiri belum siap tinggal satu rumah dengan Erlan. Ia merasa Erlan begitu asing meskipun mereka telah menghabiskan malam bersama."Ayolah. Apa kamu ingin diusir satpam di kantor catatan sipil ini dulu, baru mau pulang?" Erlan menarik tangan Nayla menuju mobilnya.Nayla buru-buru melepas tangan Erlan. Setiap bersentuhan dengan pria itu, Ia selalu teringat pada malam panas yang telah mereka lalui."Saya bisa jalan sendiri." Erlan hanya menarik napas berat melihat sikap Nayla yang selalu menghindar darinya. Sepanjang perjalan menuju rumah yang dituju pun, mereka hanya diam membisu tanpa suara. Sesampai di rumah yang dituju, Nayla terpaku. Ada banyak p
Bab 4 – Keheningan yang Membesar"Nayla." Erlan menahan pergerakan Nayla yang hendak membawa sepeda motor meninggalkan halaman kampus."Apa lagi? Saya udah bilang kalau sebaiknya kita lupakan saja malam itu.""Kamu yakin? Bagaimana kalau kamu hamil?""Itu tidak mungkin terjadi. Lagi pula, kita hanya melakukannya satu kali kok."Erlan tertawa mendengar ucapan Nayla. Ia mengambil kunci sepeda motor dan dan memainkannya."Kamu yakin hanya mengingat satu kali saja? Pura-pura lupa atau kamu terlalu menikmati sentuhanku?" Erlan meyibak rambut Nayla yang tertutup. "Bahkan tanda kepemilikan yang kutinggalkan masih terpampang dengan jelas. Kebayang kan bagaimana kuatnya Aku menghisap setiap inci tubuhmu?"Bulu kuduk Nayla seketika meremang mendengar ucapan itu. Tentu saja Ia teringat bagaimana Erlan menghisap kuat-kuat setiap inci tubuhnya sehingga Ia melenguh tanpa henti."Aku mohon lupakan itu ...." Bibir Nayla bergetar. Ia sendiri tak yakin bisa melupakan kejadian itu."Aku tidak bisa melup
"Sial! Hidupku benar-benar sial!" Nayla mengumpat seorang diri. Ia menatap wajahnya di cermin. Terlihat sangat menyedihkan."Auww." Nayla menyentuh area inti tubuhnya. Terasa sangat sakit dan nyeri. Bayangan percintaannya dengan Erlan menari-nari di kepala. Ia tak bisa melupakan bagaimana Erlan memberikan sentuhan pada setiap inci tubuhnya."Dasar lelaki munafik. Katanya nggak mau menyentuhku. Tapi dia melakukannya dengan buas," desis Nayla saat Ia teringat bagaimana Erlan membawanya terbang ke nirwana dengan menikmati percintaan mereka.Nayla memutuskan istirahat selama beberapa hari. Selain ingin menenangkan pikirannya yang kacau. Ia merasa kesulitan berjalan karena area intinya yang sedikit membengkak.***Nayla menunduk saat berjalan melewati gerbang kampus. Setiap langkah terasa berat, seolah rahasianya terpampang jelas di wajah. Bayangan malam itu masih menghantuinya. "Teruskan, Tuan. Ini nikmat ..." Desahan Nayla di malam itu terngiang-ngiang di telinganya. "Aku akan membant
Bab 2 – Malam yang Tidak Bisa Ditolak"Jangan buka bajumu!" Erlan menahan Nayla yang berusaha membuka satu per satu kancing baju yang dikenakannya."Tapi ini sangat menyiksa."Nayla tidak tahu berapa lama ia terombang-ambing di antara sadar dan tidak. Yang ia rasakan hanya panas. Menyiksa. Seolah seluruh darah di tubuhnya mendidih dan menuntut pelepasan.“Dingin…” bisiknya lirih. “Aku kepanasan…”Erlan menghentikan mobilnya, ia melepaskan dasi dan mendekati Nayla. "Jangan lakukan apa pun. Aku akan membawamu pulang," ujar Erlan seraya mengikat kedua tangan Nayla dengan dasinya.Sepanjang perjalanan, Nayla terus merintih sambil memberontak. Ia mengerang, sesekali mendesis seraya membusungkan dadanya. Erlan menghentikan mobil di depan apartemennya. Ia menoleh dan mendapati wajah Nayla yang pucat, keringat membasahi pelipis, bibir gadis itu bergetar tak wajar.“Sial,” gumam Erlan pelan. "Gadis ini diberi obat perangsang."Ia membantu Nayla turun. Namun dikarenakan terlalu sulit membawa
"Kenapa seperti ada acara pernikahan?" Nayla menatap nanar pada tenda berwarna Maroon kombinasi gold yang terbentang mewah di depan rumah Yudi_kekasihnya.Rumah megah tersebut nyaris hilang ditenda tenda pernikahan nan mewah. "Apa mungkin Kakaknya yang menikah?" gumamnya lagi.Nayla Kezya. Gadis cantik berkulit putih yang sering menghabiskan waktu di rumah kekasihnya itu hendak masuk ke dalam tenda pernikahan. Ia penasaran, siapa kah yang menikah di rumah itu? Kenapa Ia tak diundang?Ia menghentikan langkah saat notifikasi di ponselnya berbunyi.Ditatapnya layar ponsel tanpa berkedip. Sebuah undangan digital masih terbuka, seolah mengejeknya.Yudi & AlyaSave the date.Tangannya gemetar. Nama itu_nama pria yang berjanji akan menikahinya setelah ia lulus_tertera jelas sebagai pengantin pria.“Ini… bercanda, kan?” gumam Nayla lirih.Napasnya terasa berat. Kepalanya berdengung. Baru seminggu lalu Yudi berkata ia sedang sibuk mengurus masa depan mereka. Baru seminggu lalu Yudi menggengga







