MasukBab 2 – Malam yang Tidak Bisa Ditolak
"Jangan buka bajumu!" Erlan menahan Nayla yang berusaha membuka satu per satu kancing baju yang dikenakannya. "Tapi ini sangat menyiksa." Nayla tidak tahu berapa lama ia terombang-ambing di antara sadar dan tidak. Yang ia rasakan hanya panas. Menyiksa. Seolah seluruh darah di tubuhnya mendidih dan menuntut pelepasan. “Dingin…” bisiknya lirih. “Aku kepanasan…” Erlan menghentikan mobilnya, ia melepaskan dasi dan mendekati Nayla. "Jangan lakukan apa pun. Aku akan membawamu pulang," ujar Erlan seraya mengikat kedua tangan Nayla dengan dasinya. Sepanjang perjalanan, Nayla terus merintih sambil memberontak. Ia mengerang, sesekali mendesis seraya membusungkan dadanya. Erlan menghentikan mobil di depan apartemennya. Ia menoleh dan mendapati wajah Nayla yang pucat, keringat membasahi pelipis, bibir gadis itu bergetar tak wajar. “Sial,” gumam Erlan pelan. "Gadis ini diberi obat perangsang." Ia membantu Nayla turun. Namun dikarenakan terlalu sulit membawa Nayla yang memberontak seperti cacing kepanasan, Ia pun memutuskan menggendong gadis itu dan berlari sekuat tenaga masuk ke dalam apartemen. Begitu pintu apartemen tertutup, Nayla terkulai. Tubuhnya gemetar hebat. “Maaf…” Nayla meraih kemeja Erlan tanpa sadar. “Aku nggak biasanya begini… aku mau…” Bibir gadis itu menempel pada bibir Erlan dan menggigitnya kuat. Erlan membeku saat merasakan sentuhan itu. Ia tahu. Terlalu tahu apa yang sedang terjadi. Terlebih bibir Nayla dingin melebihi dinginnya es. “Kamu diberi obat,” ucapnya berat. “Tenang. Aku di sini.” Ia berusaha menenangkan Nayla yang terus menggerayangi tubuhnya. Nayla menggeleng, matanya berkaca-kaca. “Aku sakit… tolong…” Ia tidak tahu mana panas, mana dingin. Yang ia tahu hanya satu, Ia tersiksa. Dan tubuhnya seolah mengkhianatinya. "Hanya ada satu cara untuk membebaskan gadis ini ... Tapi tak mungkin aku melakukan itu," gumam Erlan. "Tapi aku tak mungkin membantunya. Aku tak ingin merusaknya." Erlan menuntunnya ke sofa. Ia berusaha menjaga jarak, tapi Nayla justru merapat, mencari sesuatu yang bahkan tak ia pahami. “Jangan pergi…” suara Nayla pecah. “Aku takut…” Nayla kembali meraih tengkuk Erlan dengan bibir yang semakin dingin. "Aku bisa mati jika seperti ini." Kata-kata itu menghantam pertahanan Erlan. Ia mengepalkan tangan, rahangnya mengeras. “Dengar aku. Aku tidak akan menyentuhmu kalau kamu tidak mau.” Nayla menatapnya kosong, lalu menggeleng pelan. Air mata jatuh di pipinya. “Tapi Aku nggak kuat…” bisiknya. “Kalau begini terus… aku bisa gila…” Napasnya memburu. Sementara kedua tangannya semakin memaksa membuka semua kancing baju sehingga terlepas. Erlan terdiam lama. Napasnya berat. Di satu sisi ada logika, di sisi lain ada seorang gadis yang jelas sedang berada di ambang kehancuran. “Apa kamu tahu … apa yang kamu minta?” tanya Erlan pelan, nyaris berbisik. Nayla tidak menjawab dengan kata-kata. Tangannya kembali meraih Erlan, kali ini lebih erat. Seolah ia akan tenggelam jika pria itu menjauh. “Aku tahu…” suara Nayla bergetar. “Tolong… bantu aku. Ini sakit sekali…” Erlan memejamkan mata. "Aku tak ingin melukaimu." "Tapi aku benar-benar tersiksa. Aku mohon sentuh aku ...." Ciuman Nayla semakin dalam membuat tubuh Erlan seketika memanas. Ia tak mampu menolak gairah yang disalurkan oleh Nayla. Gadis itu menciumnya secara membuta. Bahkan membuka kancing kemejanya. "Kamu harus sadar. Ayo aku bawa kamu mandi air dingin." Erlan berusaha membawa Nayla menuju kamar mandi. "Tidak, Tuan. Aku benar-benar butuh sentuhanmu ...." Erlan terpaku. Ia menatap wajah Nayla yang semakin memelas. Gadis itu terlihat sangat tersiksa. "Baiklah. Ini kemauanmu." Malam itu, batas terakhir runtuh. Bukan karena nafsu semata, melainkan karena keadaan yang memaksa dua orang asing berbagi kehangatan yang seharusnya tidak terjadi. *** Nayla terbangun dengan kepala berat dan tubuh pegal. Cahaya pagi menyusup dari sela tirai. Sesuatu terasa hangat di sekelilingnya. Ia menunduk. Menatap tubuhnya yang polos tanpa sehelai benang. Jantungnya seakan berhenti. Ia berada dalam pelukan seorang pria. Kenangan semalam menyerbu tanpa ampun. Potongan-potongan perasaan. Suara. Sentuhan. Permohonan yang bahkan tidak ia ingat pernah ia ucapkan. “Tidak…” Nayla menutup mulutnya, menahan isak. Pelan-pelan ia melepaskan diri, memungut pakaiannya yang berserakan. Tangannya gemetar saat mengenakan kembali pakaian itu. Saat ia hampir selesai, suara berat terdengar dari belakang. “Kamu sudah bangun?” Nayla menegang. Ia tak berani menoleh pada sosok di belakangnya. "Ehem, Kamu tak mendengar pertanyaanku?" Erlan duduk di tepi ranjang, menatapnya dengan ekspresi sulit ditebak. “Bagaimana keadaanmu?” tanya Erlan seraya menyentuh bahu Nayla membuat bulu kuduk gadis itu berdiri. Nayla tidak berani menatapnya. “Aku baik. Semalam… itu cuma kesalahan.” Erlan terdiam. “Aku minta maaf,” lanjut Nayla cepat. “Aku nggak seharusnya merepotkanmu.” Ia mengambil dompet, mengeluarkan sejumlah uang, dan meletakkannya di atas meja. “Ini… anggap saja tanda terima kasih.” Erlan berdiri. “Kamu pikir ini soal uang?” Ia tersenyum sinis menatap Nayla yang masih tertunduk. "Ini tentang kesucian," bisiknya. Nayla menggigit bibir, lalu melangkah ke pintu. Ia buru-buru pergi karena tak ingin ditatap tajam oleh Erlan. Namun tangan Erlan menghentikannya. Lelaki itu melipat kedua tangan di dada sambil menatap Nayla dengan tatapan dingin. “Ada satu hal yang harus kamu tahu,” ucap Erlan pelan. Nayla menoleh dengan wajah pucat. “Semalam adalah yang pertama buatmu,” lanjut Erlan “Dan aku tidak menggunakan pengaman.” Erlan berbisik tepat di telinga Nayla. Dunia Nayla runtuh untuk kedua kalinya. Ia menggeleng perlahan saat Erlan kembali membisikkan sesuatu. "Obat itu membuatmu tak mau berhenti menikmati percintaan. Jadi kita melakukannya lebih dari dua kali. Jadi aku yakin benihku tertanam di sini," ujarnya lagi sambil mengusap perut Nayla. Nayla memejamkan mata, menarik napas panjang, memaksa dirinya tetap berdiri. “Jangan khawatir." Nayla menyahut dengan suara nyaris tak terdengar. “Kalau terjadi apa-apa… aku tidak akan menuntut apa pun darimu.” Ia membuka pintu dan kembali hendak pergi. "Mau kemana?" Erlan kembali menahan langkah gadis itu. "Kamu melakukannya denganku. Jadi harus menunggu keputusanku dulu untuk pergi!" "Keputusan apa? Aku yang melibatkanmu dalam masalahku. Aku tak minta pertanggungjawaban apa pun." "Tapi ...." Nayla tetap memaksa membuka pintu. Ia melepaskan diri dari Erlan. "Aku tak akan pernah muncul di hadapanmu. Dan aku pastikan tak akan ada benihmu di rahimku." Gadis itu pergi dengan terburu-buru. Ia meninggalkan Erlan yang masih termangu. "Memastikan tidak ada benihku? Lucu." Ia bergumam dan kembali masuk ke dalam kamar. "Bagaimana pun. Aku harus mendapatkan gadis tu ....""Aku punya rumah sederhana untuk kita tempati," ujar Erlan."Kenapa tidak di rumah saya saja? Saya sudah nyaman di sana." Nayla menolak."Lalu kamu mau pemilik kost tahu kalau kita menikah? Bukannya di kost tidak boleh ada lelaki di kamar perempuan?"Nayla menggigit bibir bawahnya. Harus Ia akui semua yang dikatakan Erlan benar. Namun Ia sendiri belum siap tinggal satu rumah dengan Erlan. Ia merasa Erlan begitu asing meskipun mereka telah menghabiskan malam bersama."Ayolah. Apa kamu ingin diusir satpam di kantor catatan sipil ini dulu, baru mau pulang?" Erlan menarik tangan Nayla menuju mobilnya.Nayla buru-buru melepas tangan Erlan. Setiap bersentuhan dengan pria itu, Ia selalu teringat pada malam panas yang telah mereka lalui."Saya bisa jalan sendiri." Erlan hanya menarik napas berat melihat sikap Nayla yang selalu menghindar darinya. Sepanjang perjalan menuju rumah yang dituju pun, mereka hanya diam membisu tanpa suara. Sesampai di rumah yang dituju, Nayla terpaku. Ada banyak p
Bab 4 – Keheningan yang Membesar"Nayla." Erlan menahan pergerakan Nayla yang hendak membawa sepeda motor meninggalkan halaman kampus."Apa lagi? Saya udah bilang kalau sebaiknya kita lupakan saja malam itu.""Kamu yakin? Bagaimana kalau kamu hamil?""Itu tidak mungkin terjadi. Lagi pula, kita hanya melakukannya satu kali kok."Erlan tertawa mendengar ucapan Nayla. Ia mengambil kunci sepeda motor dan dan memainkannya."Kamu yakin hanya mengingat satu kali saja? Pura-pura lupa atau kamu terlalu menikmati sentuhanku?" Erlan meyibak rambut Nayla yang tertutup. "Bahkan tanda kepemilikan yang kutinggalkan masih terpampang dengan jelas. Kebayang kan bagaimana kuatnya Aku menghisap setiap inci tubuhmu?"Bulu kuduk Nayla seketika meremang mendengar ucapan itu. Tentu saja Ia teringat bagaimana Erlan menghisap kuat-kuat setiap inci tubuhnya sehingga Ia melenguh tanpa henti."Aku mohon lupakan itu ...." Bibir Nayla bergetar. Ia sendiri tak yakin bisa melupakan kejadian itu."Aku tidak bisa melup
"Sial! Hidupku benar-benar sial!" Nayla mengumpat seorang diri. Ia menatap wajahnya di cermin. Terlihat sangat menyedihkan."Auww." Nayla menyentuh area inti tubuhnya. Terasa sangat sakit dan nyeri. Bayangan percintaannya dengan Erlan menari-nari di kepala. Ia tak bisa melupakan bagaimana Erlan memberikan sentuhan pada setiap inci tubuhnya."Dasar lelaki munafik. Katanya nggak mau menyentuhku. Tapi dia melakukannya dengan buas," desis Nayla saat Ia teringat bagaimana Erlan membawanya terbang ke nirwana dengan menikmati percintaan mereka.Nayla memutuskan istirahat selama beberapa hari. Selain ingin menenangkan pikirannya yang kacau. Ia merasa kesulitan berjalan karena area intinya yang sedikit membengkak.***Nayla menunduk saat berjalan melewati gerbang kampus. Setiap langkah terasa berat, seolah rahasianya terpampang jelas di wajah. Bayangan malam itu masih menghantuinya. "Teruskan, Tuan. Ini nikmat ..." Desahan Nayla di malam itu terngiang-ngiang di telinganya. "Aku akan membant
Bab 2 – Malam yang Tidak Bisa Ditolak"Jangan buka bajumu!" Erlan menahan Nayla yang berusaha membuka satu per satu kancing baju yang dikenakannya."Tapi ini sangat menyiksa."Nayla tidak tahu berapa lama ia terombang-ambing di antara sadar dan tidak. Yang ia rasakan hanya panas. Menyiksa. Seolah seluruh darah di tubuhnya mendidih dan menuntut pelepasan.“Dingin…” bisiknya lirih. “Aku kepanasan…”Erlan menghentikan mobilnya, ia melepaskan dasi dan mendekati Nayla. "Jangan lakukan apa pun. Aku akan membawamu pulang," ujar Erlan seraya mengikat kedua tangan Nayla dengan dasinya.Sepanjang perjalanan, Nayla terus merintih sambil memberontak. Ia mengerang, sesekali mendesis seraya membusungkan dadanya. Erlan menghentikan mobil di depan apartemennya. Ia menoleh dan mendapati wajah Nayla yang pucat, keringat membasahi pelipis, bibir gadis itu bergetar tak wajar.“Sial,” gumam Erlan pelan. "Gadis ini diberi obat perangsang."Ia membantu Nayla turun. Namun dikarenakan terlalu sulit membawa
"Kenapa seperti ada acara pernikahan?" Nayla menatap nanar pada tenda berwarna Maroon kombinasi gold yang terbentang mewah di depan rumah Yudi_kekasihnya.Rumah megah tersebut nyaris hilang ditenda tenda pernikahan nan mewah. "Apa mungkin Kakaknya yang menikah?" gumamnya lagi.Nayla Kezya. Gadis cantik berkulit putih yang sering menghabiskan waktu di rumah kekasihnya itu hendak masuk ke dalam tenda pernikahan. Ia penasaran, siapa kah yang menikah di rumah itu? Kenapa Ia tak diundang?Ia menghentikan langkah saat notifikasi di ponselnya berbunyi.Ditatapnya layar ponsel tanpa berkedip. Sebuah undangan digital masih terbuka, seolah mengejeknya.Yudi & AlyaSave the date.Tangannya gemetar. Nama itu_nama pria yang berjanji akan menikahinya setelah ia lulus_tertera jelas sebagai pengantin pria.“Ini… bercanda, kan?” gumam Nayla lirih.Napasnya terasa berat. Kepalanya berdengung. Baru seminggu lalu Yudi berkata ia sedang sibuk mengurus masa depan mereka. Baru seminggu lalu Yudi menggengga







