Share

Malam Panas Bersama Tunangan Kakak Angkatku
Malam Panas Bersama Tunangan Kakak Angkatku
Author: prasidafai

1. Menginginkanmu

Author: prasidafai
last update Last Updated: 2025-11-29 16:34:38

“Tuan! Tuan diberi obat lagi?!” tanya Daisy panik, mencoba melepaskan diri.

"Tidak," jawab Jade dengan suara berat. "Kali ini saya sangat sadar."

Hening merayap di antara mereka. Deru napas mereka memberat.

“Saya tidak tahu apa yang terjadi pada diri saya,” bisik Jade, “tapi yang jelas, saya menginginkanmu, Daisy.”

Daisy merasakan jantungnya berdebar dengan kecepatan yang tidak normal dan pipinya memerah.

Tidak bisa disangkal, sejak pertemuan mereka di pesta pertunangan, hubungan Daisy dan Jade seperti saling tarik-menarik hingga semakin dekat.

“Tapi Tuan … Tuan adalah bos saya, dan tunangan kakak angkat saya.” Daisy menggigit bibirnya gugup.

Jade menarik Daisy mendekat, memeluk gadis itu.

"Kamu tidak menginginkan saya?" tanya Jade berbisik di telinga Daisy.

Dada Daisy berdebar kencang ketika napas panas Jade menyapu telinganya.

Saat Jade menatap matanya lekat, Daisy tidak yakin bisa menahan dirinya lebih jauh.

***

Beberapa hari sebelumnya.

"Jangan sampai kamu mempermalukan kami hari ini, Daisy!”

Daisy Morwyn baru selesai menyesuaikan pinggiran apron putih saat kata-kata tajam itu menghantam telinganya. Dia tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang berbicara.

Suara Olga, ibu angkatnya, yang selalu membuat tulang belakang Daisy tegang, meski sudah bertahun-tahun mendengarnya.

"Iya, Ma," jawab Daisy dengan kepala tertunduk sambil mengusap kedua tangannya pada kain apron.

Seragam pelayan itu terlalu ketat di bagian bahu, jelas Olga asal memilihkan ukurannya untuk Daisy.

Olga melangkah lebih dekat, membuat Daisy secara reflek mundur selangkah.

"Kau tahu posisimu di keluarga ini," lanjut Olga tajam. "Karenanya, jangan buat orang lain penasaran. Layani tamu-tamu dengan baik, jangan bicara kecuali diminta, dan pastikan mereka tidak pernah menganggapmu sebagai bagian dari Keluarga Lulla. Mengerti?"

Daisy mengangguk. Dia sangat mengerti.

Sejak belasan tahun lalu, ketika ibunya yang bekerja sebagai pembantu Keluarga Lulla meninggal dunia dan Olga memberikan dia tempat tinggal, Daisy sudah cukup dewasa untuk memahami apa artinya diterima, tetapi tidak pernah benar-benar menjadi bagian dari sesuatu.

"Bianca dan tunangannya akan tiba dalam 10 menit," ujar Olga sambil memutar tubuhnya dengan anggun yang menyiratkan percakapan akan segera berakhir. "Pastikan kamu bisa menjaga sikap, demi kebahagiaan semua orang."

Ketika langkah kaki Olga menjauh, Daisy baru berani mengambil napas panjang.

Aula mewah di depannya sudah penuh dengan dekorasi bunga putih dan emas, cahaya kristal berkilau di langit-langit, dan meja-meja yang ditata dengan sempurna.

Ini adalah pesta pertunangan Bianca Lulla, kakak angkatnya.

Daisy bergerak cepat menuju meja kudapan, memastikan setiap nampan tertata dengan rapi. Semua pelayan saling membagi tugas.

Pintu utama aula terbuka lebar.

Tamu-tamu mulai memasuki ruangan dengan pakaian mereka yang berkilau, perhiasan yang bersinar, dan senyuman lebar.

Daisy dengan cepat tertinggal di belakang, menjadi sosok yang hanya diperhatikan saat seseorang membutuhkan sesuatu.

Kemudian, Bianca muncul. Putri kandung Keluarga Lulla itu tampil memukau dalam gaun pertunangan putihnya yang mewah dan mahkota mutiara menghiasi rambut ikal cokelatnya.

“Astaga, cantiknya!” puji beberapa tamu.

Namun yang membuat Daisy langsung membatu bukan keindahan Bianca, melainkan pria yang berjalan di sampingnya.

Daisy mengenali wajah itu. Wajah tampan yang selama seminggu terakhir Daisy temui sejak hari pertamanya bekerja di kantor Poseidon Exports Suri.

Jade Draxus, CEO di perusahaan itu sekaligus bos Daisy yang dingin dan intimidatif. Pria berusia 35 tahun dengan mata berwarna cokelat yang terasa dapat menembus jiwa.

“Bianca sangat beruntung mendapatkan Tuan Jade!” Tamu di depan Daisy mulai bergosip pelan.

“Kau benar. Tidak ada wanita yang mampu memikat Tuan Jade, tapi Bianca bisa.”

Jade menatap lurus ke depan, sama sekali tidak tertarik untuk membalas tatapan Bianca yang terus menoleh ke arahnya.

Sesaat setelahnya, mata Jade bergerak melintasi aula. Tatapan pria itu berhenti tepat di manik hitam Daisy yang membulat.

Daisy menelan ludah.

Waktu seakan berhenti, seolah seluruh orang di aula menghilang dan hanya menyisakan mereka berdua.

Daisy bisa melihat perubahan ekspresi di wajah Jade saat bertemu tatap dengannya. Pria itu pasti mengenali Daisy.

Daisy segera menunduk dan berpaling, bergerak cepat meninggalkan meja kudapan.

Gadis itu melangkah ke koridor yang sepi.

‘Apa-apaan ini?!’ batin Daisy seraya mengernyitkan dahi.

Jade Draxus, bosnya, bertunangan dengan Bianca, kakak angkatnya. Bagaimana mungkin?

Bianca selalu membawa pria lain ke rumah, Andrew. Wanita itu juga mengenalkan Andrew sebagai kekasihnya.

Hampir setiap akhir pekan, kedua pasangan itu menghabiskan waktu di kamar Bianca. Daisy sering mendengar desahan di antara keduanya setiap melewati pintu kamar kakak angkatnya.

"Apa mereka sudah putus? Tapi, kenapa cepat sekali Kak Bianca menemukan pengganti?" tanya Daisy pada dirinya sendiri.

Suara langkah kaki membuat Daisy tersentak. Dia berbalik cepat.

Olga sudah ada di sana, tengah mendekati Daisy sambil melipat tangan di depan dada.

"Tutup mulutmu," perintah Olga penuh penekanan. "Tentang Andrew, atau apa pun yang ada di pikiranmu. Mengerti?!"

"Tapi, Ma, bukankah Kak Bianca dan And–"

"Jangan menyebut namanya sembarangan," ucap Olga sambil memelotot dan mencengkeram lengan Daisy. "Cukup indahkan saja permintaan Mama!"

“Aw, sakit, Ma,” sahut Daisy seraya menatap Olga takut.

Olga segera melepaskan Daisy dengan kasar dan langsung berbalik pergi.

Begitu banyak pertanyaan dalam benak Daisy, tetapi gadis itu tahu lebih baik dia tidak mencari tahu lebih dalam.

Daisy kembali ke aula dan mulai melayani tamu-tamu. Mereka tertawa, bercengkerama, dan sepenuhnya tidak menyadari bahwa gadis dalam seragam putih itu bukanlah pelayan sungguhan.

Sampai akhirnya Daisy merasakan kehadiran seseorang, sebelum benar-benar melihat orangnya.

"Asisten pribadi saya bekerja paruh waktu sebagai pelayan di acara pertunangan?"

Suara itu membuat Daisy membeku. Daisy perlahan memutar tubuh.

Jade berdiri di hadapannya dengan postur tubuh sempurna. Salah satu tangannya berada di saku celana dan mata cokelat itu menatap Daisy lekat.

"Gajimu sebagai asisten pribadi saya tidak cukup?" tanya Jade sambil mengangkat kedua alis dan sedikit memiringkan kepalanya.

"Saya ... saya ...."

"Ganti pakaianmu dengan pakaian yang biasa kamu pakai di kantor," perintah Jade penuh penekanan. "Hari ini kamu akan lembur. Kamu harus melayani kebutuhan saya secara eksklusif."

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Agnes Dhone
bagus sekali pembukanya......
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Malam Panas Bersama Tunangan Kakak Angkatku   276. Jade Tidak Akan Bisa Menebaknya

    “Nona Daisy!” Suara wanita itu memecah udara pagi yang masih dipenuhi kabut tipis. Daisy yang baru saja menuruni anak tangga kereta berhenti melangkah. Dia menoleh ke arah sumber suara itu. Di ujung peron, seorang wanita muda melambaikan tangan beberapa kali dengan semangat. Senyumnya pun sangat lebar. Daisy langsung mengenalinya. “Martha?” sapa Daisy. Pelayan yang pernah Vincent pekerjakan khusus untuk melayani Daisy yang terkurung di rumah itu mengangguk cepat sambil tertawa kecil, lalu berjalan mendekat. Daisy ikut tersenyum. Untuk pertama kalinya sejak meninggalkan kota, dadanya terasa sedikit lebih ringan. Begitu jarak mereka cukup dekat, Martha berhenti dan sedikit menundukkan kepala. “Selamat datang, Nona Daisy.” Daisy terkekeh pelan. “Tolong, pakai nama saja,” pinta Daisy. “Kamu bukan lagi pelayanku.”

  • Malam Panas Bersama Tunangan Kakak Angkatku   275. Memantaskan Diri

    Jade meraih amplop itu. Hampir terlihat seperti sedang merebutnya dari tangan Sam. Pria itu membukanya dan mengeluarkan selembar kertas yang dilipat rapi. Dia mulai membaca dengan mata yang bergerak cepat dari baris ke baris. [Tuan Jade, Saat Tuan membaca surat ini, mungkin saya sudah tidak berada di tempat yang bisa Tuan jangkau. Jangan khawatir. Saya tidak pergi karena membenci Tuan. Justru sebaliknya. Saya pergi karena terlalu menghormati Tuan. Terima kasih sudah datang ke hidup saya saat dunia terasa begitu gelap. Terima kasih sudah memegang tangan saya ketika saya bahkan tidak yakin masih pantas untuk hidup. Tuan pernah berkata bahwa saya kuat. Padahal sebenarnya, kekuatan saya selama ini hanyalah karena Tuan berdiri di belakang saya. Jika suatu hari Tuan melihat langit sore yang cerah, anggap saja itu saya yang sedang tersenyum dari jauh.

  • Malam Panas Bersama Tunangan Kakak Angkatku   274. Bertemu Daisy untuk yang Terakhir Kali

    "Daisy?" panggil Gea seraya mengangkat kedua alis penuh kekhawatiran melihat sahabatnya termenung terlalu lama dengan tatapan kosong. Panggilan Gea membuyarkan lamunan Daisy. Daisy segera menjawab sambil menggeleng pelan, "Aku mengganti nomor telepon. Dan sejak awal bertemu kembali setelah aku sadar, kami tidak saling bertukar nomor." Kini luntur sudah prasangka Daisy yang mengira bahwa Jane, Sereia, dan Elias tidak menjenguknya karena menjaga perasaan Jade atau ikut kecewa pada Daisy karena menolak lamaran kakak mereka. Namun ternyata itu semua karena mereka sudah tidak ada di Suri. "Ah ya, Elias titip salam untukmu, Daisy. Dia juga minta maaf karena tidak sempat berpamitan," sahut July yang sedang memeriksa ponselnya. Sepertinya July sedang saling mengirim pesan dengan Elias. Wajahnya terlihat lebih cerah saat menatap layar ponsel. "Sampaikan kembali salamku," balas Daisy sambil tersenyum tipis. "Semoga Elias ce

  • Malam Panas Bersama Tunangan Kakak Angkatku   273. Pesta Perpisahan

    Pintu apartemen itu akhirnya terbuka, tepat setelah Daisy menekan tombol kirim di ponselnya. Gea muncul dari sana mengenakan bathrobe putih dan handuk berwarna senada di kepalanya. "Maaf, Daisy, aku baru saja selesai mandi dan July sedang mendengarkan musik dengan headphone, jadi dia tidak mendengarmu," ucap Gea sambil membukakan pintu lebih lebar. "Masuklah." Daisy masuk sambil membungkuk sopan. "Tidak apa-apa. Kupikir kalian belum sampai," balas Daisy. Gea menutup pintu apartemennya kembali. Dia mengajak Daisy masuk lebih dalam. Apartemen Gea memiliki ruang tamu yang cukup luas dengan sofa berwarna krem dan meja kaca yang bersih. Walaupun tidak seluas apartemen Daisy yang dulu, tetapi tempat ini tetap terasa nyaman dan penuh dengan sentuhan personal. "Di mana Rex?" tanya Daisy sambil menyapu pandangannya ke sekeliling, mencari-cari sosok berbulu yang sangat dia rindukan.

  • Malam Panas Bersama Tunangan Kakak Angkatku   272. Titipan Daisy

    Daisy tidak tahu dirinya merasa kesal karena Jade seperti mengingkari janjinya, atau karena bukan Jade yang ada di sana untuk menyambutnya keluar dari rumah sakit. Kedua perasaan itu bercampur aduk di dadanya, membuat Daisy semakin bingung dengan apa yang sebenarnya dia inginkan. "Tuan Jade tidak mungkin lupa," jawab Sam. "Beliau berani mengirim saya ke sini, karena tahu Nona Daisy akan mampir ke suatu tempat sebelum benar-benar pergi." Daisy membulatkan kedua bola matanya sesaat. "Tahu dari mana?" tanya Daisy sambil menyipitkan mata. Tatapan Daisy penuh dengan kecurigaan dan sedikit amarah yang mulai memuncak. Selain bekerja sebagai sopir Jade, Daisy yakin Sam melakukan hal lebih dari itu, seperti mungkin memata-matai pergerakan Daisy, mencatat setiap langkahnya, dan melaporkan segala aktivitasnya pada Jade tanpa sepengetahuan dirinya. "Saya tidak berhak bertanya seperti

  • Malam Panas Bersama Tunangan Kakak Angkatku   271. Berpura-pura Tidak Mendengar

    Daisy memutuskan untuk mengabulkan permintaan terakhir Jade, karena pria itu juga setuju untuk mengabulkan permintaan terakhirnya. Ini adalah kesepakatan yang adil. Selama satu bulan penuh, Daisy menjalani fisioterapi dengan penuh dedikasi dan tekad yang sangat kuat untuk bisa berjalan kembali. Sampai akhirnya di suatu siang yang cerah, dokter masuk ke ruangan Daisy saat gadis itu tengah berdiri di sisi ranjang sambil merapikan barang bawaannya yang tidak begitu banyak. Daisy sudah tidak lagi mengenakan pakaian pasien. Kini gadis itu memakai pakaian kasual warna kesukaannya, blus merah muda pastel yang lembut dengan celana panjang krem yang nyaman. "Selamat siang, Nona Daisy!" sapa dokter dengan ceria sambil melangkah masuk. "Senang sekali melihat Anda hari ini. Anda akan pulang, bukan?" Daisy tersenyum. "Ya, fisioterapi saya sudah selesai. Berkat dokter, perawat, dan terapis, saya sudah bisa berjalan kembali. Ter

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status