Share

104. Di Pipimu

Author: prasidafai
last update Last Updated: 2026-01-06 21:57:33

Kedua bola mata Bianca membola. Dia segera menutup panggilan dari Jade dengan panik.

“Ada apa?” tanya Neil seraya mengernyitkan dahi.

“A-apa itu Jade?” Kali ini Olga yang bertanya.

Bianca mengangguk kaku.

Sedetik kemudian, Bianca tersadar. Wanita itu melangkah mendekati orang tuanya dan memegang tangan keduanya.

“Bagaimana ini?” tanya Bianca panik, keringat dingin turun dari pelipisnya. “Apa yang harus kulakukan, Mama, Papa?”

Awalnya mata Bianca hanya berkaca-kaca. Lalu pada akhirnya wanita itu menangis histeris.

Beberapa jam kemudian.

Jade melangkah lebar dengan rahang mengeras di lobi rumah sakit. Tatapan pria itu tajam, seakan ingin menghancurkan siapa atau apa pun yang ada di hadapannya.

Tidak ada rapat daring. Jade menelepon Daisy hanya untuk memeriksa keadaan gadis itu. Namun rupanya Jade sudah terlambat.

Baru saja sepuluh menit Daisy masuk ke pintu rumah Keluarga Lulla dan Jade meneleponnya, pria itu sudah tidak bisa mendengar suara asisten pribadinya.

Dan kini, sela
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Malam Panas Bersama Tunangan Kakak Angkatku   110. Kau Basah Sekali

    “A-apa, ini gaji selama enam bulan yang langsung dibayar di depan?” tanya Daisy lagi sambil mengernyitkan dahi.“Apa?” Jade mengangkat kedua alisnya, lalu tertawa lebar.Baru kali ini Daisy mendengar tawa atasannya sebebas itu. Biasanya Jade hanya akan tersenyum tipis atau pun terkekeh geli.“Ada uang lembur di dalamnya. Aku sering memintamu lembur mendadak, terutama perjalanan dinas ke Highvale,” jelas Jade sambil membenarkan jas.“Ah, menemani akhir pekan saya juga terhitung lembur. Pada dasarnya, kau bekerja untuk saya 7 x 24 jam. Itu bayaran yang cukup wajar,” sambung Jade sambil tersenyum tipis.Itu memang benar. Terkadang, walaupun tidak bertemu, Jade menelepon atau mengirimkannya pesan untuk melakukan pekerjaan.Bahkan saat tengah malam seperti waktu lalu di Highvale, Daisy rela terjaga demi menyiapkan rapat daring untuk Jade.Namun tetap saja Daisy merasa ini berlebihan.“Ini terlalu banyak, Tuan,” desah Daisy sambil menarik kembali tangannya

  • Malam Panas Bersama Tunangan Kakak Angkatku   109. Merindukan Tuan Jade

    Jade menatap lekat Daisy penuh dengan berbagai macam emosi. Marah atas perlakuan Keluarga Lulla pada gadis itu, juga perasaan semakin ingin melindungi. “Uruslah segera pergantian nomor rekeningmu sebelum Divisi Keuangan membuat laporan,” tukas Jade. Daisy mengangguk. “Baik, Tuan.” “Tidak perlu. Biar saya saja,” sela Jade kemudian, seolah sejak tadi pria itu bergumul dengan pikirannya sendiri. “Jika saya yang memintanya langsung, Divisi Keuangan bisa bergerak lebih cepat. Mereka juga tidak mungkin mempersulit saya.” “Apa tidak merepotkan?” tanya Daisy khawatir sambil mengernyitkan dahi. “Tidak,” jawab Jade tanpa ragu. “Oh ya, masalah tempat tinggal untukmu. Apa kau mau tinggal di properti milik keluarga saya?” Daisy mengernyitkan dahi. Gadis itu memasang ekspresi meminta penjelasan lebih lanjut. Jade mengangkat tangan dan mengusap lembut garis rahang wajah Daisy. Matanya menatap l

  • Malam Panas Bersama Tunangan Kakak Angkatku   108. Tinggal di Apatemenmu

    "Tidak." Jade langsung menatap Elias tajam. "Kenapa tidak? Apartemenku luas. Ada kamar kosong." Elias mengernyitkan dahi. "Tidak," ulang Jade penuh penekanan. Daisy terdiam, menatap kedua kakak beradik itu bergantian. Elias menoleh pada Daisy dengan tatapan heran. “Ada apa dengan bosmu, Daisy?” tanyanya sambil terkekeh geli. Daisy mengangkat kedua bahunya sambil menyembunyikan senyum. “Tapi kakakmu benar, aku tidak bisa tinggal di apartemenmu, Elias. Ini Suri, laki-laki dan perempuan yang bukan keluarga, tidak boleh tinggal dalam satu atap yang sama. Jadi aku hanya perlu menitipkan Rex, jika memang diizinkan,” tutur Daisy sambil terus tersenyum. Jade menyeringai penuh kemenangan sambil terus menatap Daisy. “Kalau begitu,” balas Elias sambil menaruh tangan di dagunya. “Biar aku tanyakan ke bibi pelayan lebih dulu. Mengurus kucing butuh perhatian dan waktu ekstra, jika aku tidak ada di apartemen

  • Malam Panas Bersama Tunangan Kakak Angkatku   107. Langsung Katakan Saja

    Daisy langsung kembali bekerja keesokan harinya. Gadis itu masuk kantor dengan wajah sedikit pucat, tetapi langkahnya tetap tegap. Tas kerjanya tersampir di bahu dan rambut dihiasi bando seperti biasa.Jade yang sejak pagi sudah menunggu di kantornya, keluar begitu melihat Daisy tiba. Pria itu berdiri di ambang pintu ruangannya sambil melipat tangan di depan dada."Apa kondisimu sudah siap bekerja?" tanya Jade dengan nada khawatir yang coba dia sembunyikan di balik tatapan datar. "Kemarin kau baru saja masuk rumah sakit."Daisy mengangguk sambil tersenyum tipis. "Saya baik-baik saja, Tuan.""Kau yakin?" desak Jade lagi.Daisy menaruh tasnya di meja. "Walaupun kondisi saya belum sepenuhnya baik, berada di mana pun selain kediaman Keluarga Lulla adalah pilihan yang terbaik."Jade terdiam. Pria itu mengamati Daisy dari ujung kepala sampai kaki, seakan mencari tanda-tanda yang bisa dia jadikan alasan untuk melarang.Namun, Jade tidak menemukannya. Lagipula Da

  • Malam Panas Bersama Tunangan Kakak Angkatku   106. Pemilik Aslinya

    Daisy membeku. “Kucing jantan dengan bulu hitam dan corak putih di perut. Apa benar tidak ada?” Kali ini Jade yang bertanya sambil menyipitkan mata. Wanita di hadapannya mengernyitkan dahi, mencoba mengingat-ingat. “Biar saya hubungi Mama,” ucap Daisy akhirnya sambil mencari kontak nama Olga di ponselnya. Daisy dan Jade menjauh sejenak dari meja administrasi. Mereka duduk di ruang tunggu yang hari itu sedang sepi. Olga tidak langsung menerima panggilan Daisy. Dia perlu menelepon Olga sampai tiga kali hingga akhirnya ibu angkatnya itu menerima panggilan. “Ada apa, Daisy?!” tanya Olga di ujung telepon terdengar kesal. “Kucingku di mana, Ma?” Daisy balik bertanya dengan tegas. “Aku ke Pawline Suri, tapi tidak ada Rex di sini.” “Rex?” ulang Olga terdengar heran. “Nama kucingku Rex,” jelas Daisy berusaha sabar sambil menyugar rambutnya ke belakang. “Oh,” sahut Olga santai. “Dia memang ada

  • Malam Panas Bersama Tunangan Kakak Angkatku   105. Kembali ke Ranjang

    Sesaat Bianca memelototi Daisy yang sudah berani terlalu banyak bicara. Namun ketika sadar Jade juga ada di sana, Bianca memaksakan diri untuk mengukir senyum pahit.“Daisy, saat kau sudah pingsan, pelayan gila itu juga hampir membunuhku. Jadi Rex datang untuk melindungiku, tapi pelayan itu menjadikanku tamengnya. Rex tidak sempat berhenti, jadi aku yang kena cakarnya,” kilah Bianca seraya memasang raut wajah penuh kesedihan.“Mama bilang, setelah kejadian ini Mama memeriksa lebih detail latar belakangnya. Dan dia ternyata aktif mengonsumsi obat dari psikiater,” sambung Bianca mencoba terdengar meyakinkan.Daisy mendesah lelah. Daripada berdebat dengan Bianca yang pandai membuat seribu alasan dalam waktu singkat, lebih baik Daisy tidak menanggapinya lagi.“Saya ingin bertemu dengan pelayan itu,” tukas Jade dingin sambil menatap lurus ke arah Bianca.Wanita yang berdiri di dekat Jade itu menelan ludah, lalu akhirnya mengangguk gugup.“Sebenarnya tidak perlu, S

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status