"Kak Calvin??" gumamku pelan merasa tak percaya, dengan siapa orang yang berada di hadapanku saat ini.
Tidak! Kenapa aku harus bertemu dengan Kak Calvin yang merupakan mantan suamiku? Dan bukankah dia ini berada di Korea? Tapi kenapa malah ada di Indonesia? Selain itu, lima tahun sudah waktu yang telah berlalu. Tapi jika dilihat-lihat, wajahnya tampak semakin tampan dan berkharisma saja. Padahal dulu pas masih jadi suamiku—perasan biasa saja. Apa mungkin karena aku memang tidak ada rasa padanya? Ah bukankah sekarang pun sama saja? Hanya saja bedanya jantungku sekarang berdebar kencang saat berada di dekatnya. Tapi mungkin ini efek aku yang terlalu terkejut. "Kukira salah orang tadi. Ternyata benar." Kak Calvin menatap wajahku sebentar dan kulihat begitu sinis. Setelah itu dia berlalu pergi begitu saja tanpa mengatakan apa pun. Bahkan sebelum aku menanggapi ucapannya. Ada apa dengan Kak Calvin? Ah, seharusnya aku tahu. Sikapnya yang berubah mungkin disebabkan oleh luka yang masih membekas akibat perpisahan kami. Aku seharusnya bisa memahaminya, karena memang ini adalah akibat dari kesalahanku yang terlalu memikirkan diri sendiri. Pernikahan kami dulu adalah hasil dari paksaan. Ayahnya yang bernama Andre, telah menyelamatkan hidupku dengan mendonorkan darahnya saat aku mengalami kecelakaan. Papa berpikir Ayah Andre melakukannya dengan tulus, tanpa mengharapkan imbalan apapun. Tapi, ternyata kami salah. Ayah Andre tidak meminta uang, tetapi dia meminta sesuatu yang jauh lebih berharga, yaitu pernikahan antara aku dan putra sulungnya—Calvin. Papa dan aku tidak punya pilihan lain selain menyetujui permintaan Ayah Andre. Meski dengan berat hati, aku terpaksa menikah dengan Kak Calvin. Ironisnya, pernikahan itu tidak bertahan lama. Kak Calvin mencintaiku, tapi aku tidak bisa membalas cintanya. Aku terlalu egois, aku lebih memilih Kak Yogi daripada Kak Calvin. Kak Yogi ini adalah pacarku, jauh sebelum aku menikah dengan Kak Calvin. Papa sempat berpesan, supaya aku memutuskan hubungan dengannya. Tapi karena terlalu dalam mencintai Kak Yogi, aku tak kuasa melakukannya sampai akhirnya aku kepergok oleh Kak Calvin, saat dimana aku dan Kak Yogi bertemu. Pria itu terlihat begitu kecewa, sama halnya dengan Kak Yogi, karena dia sendiri baru mengetahui bahwa aku sudah menikah. Selanjutnya, aku mendapatkan beberapa pertanyaan dari Kak Calvin perihal sedalam mana aku mencintai Kak Yogi, sampai dimana dia menawarkan diri apakah aku ingin bercerai darinya, lalu menikah dengan Kak Yogi? Tentu saja pertanyaan itu sangat mudah bagiku untuk menjawabnya, tentu saja aku mencintai Kak Yogi, mau menikah dengannya yang berarti dengan senang hati berpisah dengan Kak Calvin. Aku tahu betul bahwa Kak Calvin pasti merasa sakit hati saat mendengar hal itu, tapi dia memilih untuk menghargai keputusanku. Namun, pada kenyataannya, setelah aku berhasil terlepas dari Kak Calvin, aku justru tidak jadi menikah dengan Kak Yogi. Itu semua karena aku hamil, dan Kak Yogi tidak mau bertanggung jawab karena anak itu adalah anak Kak Calvin. Apakah aku kecewa?! Tentu saja! Aku merasa seolah-olah telah membuang-buang waktu dan perasaan orang yang mencintaiku, demi orang yang aku cintai tapi tidak mau menerima keadaanku. Mungkin aku memang bodoh. Aku telah membuat keputusan yang salah dan sekarang aku harus menanggung semua konsekuensinya. Jika saja waktu bisa diputar kembali, mungkin aku tidak akan meminta perceraian ini terjadi. Karena imbasnya kepada Kenzie, yang sejak lahir sampai sekarang, tak pernah merasakan vigur seorang Ayah. Ting! Bunyi hapeku yang masih berada dalam genggaman seketika membuyarkan lamunan, aku terhenyak dan segera membuka chat yang dikirim oleh Nona Agnes. Namun, sontak mataku kembali membulat. "Apa-apaan ini?" Nona Agnes ternyata bukan mengirimkan sebuah chat, melainkan sebuah foto. Tapi anehnya, mengapa itu adalah foto Kak Calvin? Apa ini berarti Kak Calvin adalah pacarnya Nona Agnes? Untuk memastikannya dengan jelas, aku segera menelepon Nona Agnes. Dalam hati berharap mungkin dia salah kirim foto. Sayangnya tidak. "Benar, itu pacarku. Orang yang harus kamu jebak." Jawaban dari Nona Agnes seketika membuat jantungku berdebar kencang. Aku merasa dunia ini begitu sempit seperti daun kelor. Kenapa harus Kak Calvin? Apa tidak ada pria lain di dunia ini? Aku sudah terlalu banyak menyakitinya, dan sekarang aku diminta untuk menjebaknya? Ahh dasar gila! "Lakukan segera, aku sudah standby di hotel. Jangan lupa, nomor 1006 lantai 4." "Baik, Nona." Ya ampun bagaimana sekarang? Aku terpaksa mengiyakan karena memang sudah dari awal aku setuju, meski itu dari paksaan. Aahh aku bingung, kepalanya juga ikut berdenyut-denyut secara tiba-tiba. Rasanya aku ingin menjerit, tapi dengan menjerit itu tak akan menyelesaikan masalah. Aku tidak mau menyakiti Kak Calvin lagi, tapi aku juga tidak mau kehilangan pekerjaan. Kak Calvin tolong maafkan aku. Aku terpaksa melakukan hal ini, dan semoga saja apa yang aku lakukan sama sekali tidak merugikan Kakak. Karena kuyakin, Nona Agnes sangat mencintai Kakak, itu sebabnya dia melakukan hal ini. Setelah menutup telepon, aku segera masuk ke dalam restoran tersebut untuk memilih tempat duduk yang tidak jauh dari Kak Calvin, kemudian meminta tolong pada salah satu pelayan untuk mau bekerjasama denganku. Tidak sulit ternyata meminta orang untuk mau bekerjasama, asalkan kita menyodorkan uang, pasti dia langsung setuju. Itulah penting dimana kita harus selalu punya uang. Karena saudara saja, akan menganggap kita orang asing jika kita tak memiliki uang. Namun sebaliknya, jika kita memiliki banyak uang, orang asing pun bisa menganggap kita sebagai saudaranya. "Silahkan diminum, Pak," ucap seorang pelayan yang berada di meja Kak Calvin, yang baru saja mengantarkan pesanan. Seperti dua gelas kopi hitam, satu untuk Kak Calvin dan satu lagi untuk seorang pria di depannya. Yang sebelumnya memang sudah ada sebelum aku masuk ke restoran. Mungkin dia rekan bisnisnya Kak Calvin. Pelayan perempuan itu langsung tersenyum, saat mata kami bertemu. Apakah ini merupakan kode, bahwa dia sudah memasukkan obat yang aku minta ke dalam minuman Kak Calvin? Ahhh semoga saja. Jadi, aku tunggu saja bagaimana reaksinya nanti. Setelah beberapa menit berlalu, kuperhatikan Kak Calvin sering sekali menyentuh kepalanya setiap kali mengobrol dengan pria di depannya. Cara dia duduk pun begitu gelisah, ditambah wajahnya merah sekali seperti orang yang sedang kasmaran. Ada apa dengannya? Tidak mungkin 'kan dia menyukai pria di depannya? Ya walau aku sendiri sempat mendengar kabar jika dulunya Ayah Kak Calvin memiliki kelainan homoseksual, tapi sepertinya tidak mungkin jika Kak Calvin pun begitu. Meskipun aku tidak terlalu mengenal dekat mantan suamiku, tapi aku yakin jika dia adalah pria normal. Tiba-tiba.... Brukk!! Mataku sontak membulat, saat melihat Kak Calvin terjungkal dari tempat duduknya. Refleks aku berdiri dan melihatnya yang sudah kehilangan kesadaran. Ya Allah, ada apa dengannya? Apa dia keracunan? "Astaghfirullah! Pak Calvin! Security tolooonnng!!!" Seorang pria yang bersama Kak Calvin berteriak, wajahnya terlihat panik. Dan aku yang ikut panik pun segera berlari mendekatinya. "Ada apa, Pak?""Papa sama Mama serius, Zea. Kamu ini kok kayak nggak percaya gitu sih?" tanya Papa Bahri yang heran dengan reaksi Zea. Namun, dari sikapnya yang malu-malu kucing, jelas terlihat bahwa putrinya itu tengah salah tingkah."Ya aku nggak percaya aja, soalnya selama ini Kak Kenzie nggak pernah begitu sama aku," Zea perlahan melepaskan tangannya dari wajahnya yang merona, lalu berjalan mendekat ke arah Mama Eva."Namanya manusia pasti ada berubahnya, Zea. Tapi baguslah kalau memang berubahnya itu ke arah yang lebih baik," Papa Bahri menghela napas lega, membayangkan bahwa rumah tangga putrinya akan semakin harmonis."Tapi Papa yang ngomong sama Kak Kenzie, ya, tentang niat Papa ingin aku dan dia tidur terpisah. Karena kalau nantinya aku yang ngomong... bisa panjang urusannya, bisa-bisa dia mengira aku memang nggak mau tidur dengannya," pinta Zea dengan nada khawatir."Tenang, nanti Papa kasih tau setelah kita makan malam," janji Papa Bahri, berusaha menenangkan kegelisahan putrinya.***"
Tiba-tiba, kamar mandi terasa panas membara.Dengan gerakan tergesa, Kenzie membuka kancing demi kancing kemeja Zea. Kain itu jatuh, memperlihatkan kulit seputih susu berada di hadapannya.Jantung Zea berdebar tak karuan. Ada gejolak ingin menolak, namun tubuhnya seolah menyerah pada sentuhan-sentuhan yang menggelitik saat bibir Kenzie mulai menjelajahi lehernya. Setiap kecupan seolah menjadi bisikan rayu yang membangkitkan hasratnya."Kaaakkkk, geliii!" Zea terkikik, namun tak ada upaya untuk menghentikan Kenzie. Tangannya justru melingkar di leher pria itu, seolah memberi izin untuk melanjutkan.Kenzie tak menjawab. Bibirnya semakin gencar memberikan kecupan-kecupan panas di leher dan bahu Zea, menciptakan sensasi merinding yang nikmat.'Wangi dan lembut, sepertinya Zea sudah mandi. Apa dia sengaja, karena ingin menyambutku pulang kerja?' batin Kenzie senang.Dengan lembut, Kenzie menuntun Zea untuk duduk di tepi bathtub yang sudah terisi air hangat. Uapnya mengepul, menambah kesan
Kenzie membuka chat dari Heru dan membaca isinya dalam hati dengan dahi berkerut. [Kenzie, aku dengar kamu sudah menjadi Ayah, ya? Selamat, ya, Ken. Aku ikut senang. Oh ya... nanti malam kamu ada waktu nggak? Apa kita bisa ketemu? Aku mau berikan hadiah untuk anakmu.] Sebaris kalimat itu membuatnya semakin curiga. Dengan berat hati, Kenzie membalas chat itu, meskipun sebenarnya dia sangat malas berurusan dengan masa lalunya. [Terima kasih, Her. Tapi maaf... nanti malam aku sibuk.] Jawabnya singkat, padat, dan jelas. Tidak butuh waktu lama, Heru kembali mengirim chat. [Kalau besok bagaimana, Ken? Sekalian kita makan siang bareng?] Kenzie menghela napas. Heru benar-benar tidak menyerah. [Besok juga aku sibuk, banyak meeting di kantor. Lain kali saja ya, Her.] Balasnya. Ini bukan sekadar alasan, karena kenyataannya jadwalnya memang padat dengan berbagai pertemuan penting. [Oh ya sudah, nggak apa-apa. Nanti kabari aku kalau kamu sudah ada waktu, ya? Maaf aku udah nganggu.]
"Pengirimnya atas nama Jamal, Pak. Dan sudah dibayar juga lewat aplikasi," jawab kurir itu, menunjuk nama pengirim yang tertera di layar ponselnya."E-eh, Mas Jamal??" Zea terkejut, suaranya tercekat.Selain nama yang disebutkan oleh kurir itu, dia juga merasa heran mengapa Jamal bisa tahu alamat rumah ini. Zea saja tidak tahu alamat lengkap rumah orang tuanya."Kamu kenal Jamal, Zea?" tanya Papa Bahri semakin penasaran, matanya mengamati ekspresi wajah anaknya yang masih dipenuhi keterkejutan."Dia mantan pacarku, Pa.""Lho, kok bisa mantan pacarmu ngirim paket ke sini segala? Kenapa kamu izinkan, Zea?" Papa Bahri bertanya dengan nada heran dan sedikit khawatir. Dia tidak suka dengan situasi yang tidak jelas ini."Aku nggak izinkan kok, Pa," Zea menggeleng cepat, lalu menjelaskan dengan cepat karena khawatir Papanya salah paham. "Aku malah nggak tau apa-apa. Aku juga nggak pernah kontak-kontakan sama dia, Pa. Sudah berbul
"Kenzie bilang ... untuk sementara dia ingin mengajak kamu dan Gala tinggal di rumah Papa.""Kok jadi Kak Kenzie yang mengajakku tinggal di sini sih, Pa?" Zea tampak bingung, alisnya berkerut dalam, merasa ada sesuatu yang janggal."Iya, katanya kalau kalian tinggal di rumah Kenzie ... dia nggak bisa nyewa pembantu atau babysitter. Dia juga cerita kalau almarhum kakeknya suka gangguin orang-orang yang ada di rumah, memangnya bener ya, Zea?" Papa Bahri menatap Zea dengan tatapan menyelidik, mencari jawaban yang jujur di matanya."Kalau sama aku sih nggak ganggu, tapi kalau sama pembantunya yang dulu iya, Pa. Sama mantan istrinya juga," jawab Zea, teringat pengalaman-pengalaman aneh yang pernah dia alami di rumah Kenzie."Oh gitu. Syukurlah kalau sama kamu enggak. Tapi nanti kamu bicara sama Kenzie, kalau dia nggak perlu sewa babysitter untuk Gala, ya?" Papa Bahri melanjutkan, nadanya terdengar sedikit mendesak."Memangnya kenapa, Pa?" Zea
"Kenapa jadi tiba-tiba bahas Helen? Dia sudah menjadi masa laluku, Zea." Suara Kenzie terdengar berat, namun berusaha terdengar tenang, mencoba meyakinkan Zea sekaligus dirinya sendiri."Tapi Kakak 'kan sangat mencintainya." "Iya. Tapi itu dulu, saat dia masih menjadi istriku. Setelah berpisah... aku sudah melupakannya." Kenzie menjawab dengan suara yang sedikit lebih tegas, mencoba untuk meyakinkan Zea."Benarkah?" Zea tampak tidak percaya, keraguan masih terpancar dari sorot matanya. Kenangan tentang cinta Kenzie kepada Helen masih begitu kuat terpatri dalam ingatannya. Dia tahu betul, bagaimana dulunya Kenzie yang begitu mencintai Helen, cinta yang begitu besar dan mendalam."Benar dong." Jawab Kenzie dengan suara mantap. "Ngapain juga sih aku masih cinta sama dia, sementara dia sudah berkhianat. Lagian ... aku juga sudah punya kamu dan Gala." Dia menambahkan kalimat terakhir dengan nada yang lebih lembut, mencoba untuk menenangkan