Home / Romansa / Malam Panas Dengan Mantan Suami / 2. Bertemu mantan suami

Share

2. Bertemu mantan suami

Author: Rossy Dildara
last update Last Updated: 2024-10-19 08:10:22

"Kak Calvin??" gumamku pelan merasa tak percaya, dengan siapa orang yang berada di hadapanku saat ini.

Tidak! Kenapa aku harus bertemu dengan Kak Calvin yang merupakan mantan suamiku? Dan bukankah dia ini berada di Korea? Tapi kenapa malah ada di Indonesia?

Selain itu, lima tahun sudah waktu yang telah berlalu. Tapi jika dilihat-lihat, wajahnya tampak semakin tampan dan berkharisma saja. Padahal dulu pas masih jadi suamiku—perasan biasa saja.

Apa mungkin karena aku memang tidak ada rasa padanya? Ah bukankah sekarang pun sama saja?

Hanya saja bedanya jantungku sekarang berdebar kencang saat berada di dekatnya. Tapi mungkin ini efek aku yang terlalu terkejut.

"Kukira salah orang tadi. Ternyata benar." Kak Calvin menatap wajahku sebentar dan kulihat begitu sinis. Setelah itu dia berlalu pergi begitu saja tanpa mengatakan apa pun. Bahkan sebelum aku menanggapi ucapannya.

Ada apa dengan Kak Calvin?

Ah, seharusnya aku tahu. Sikapnya yang berubah mungkin disebabkan oleh luka yang masih membekas akibat perpisahan kami. Aku seharusnya bisa memahaminya, karena memang ini adalah akibat dari kesalahanku yang terlalu memikirkan diri sendiri.

Pernikahan kami dulu adalah hasil dari paksaan. Ayahnya yang bernama Andre, telah menyelamatkan hidupku dengan mendonorkan darahnya saat aku mengalami kecelakaan.

Papa berpikir Ayah Andre melakukannya dengan tulus, tanpa mengharapkan imbalan apapun. Tapi, ternyata kami salah. Ayah Andre tidak meminta uang, tetapi dia meminta sesuatu yang jauh lebih berharga, yaitu pernikahan antara aku dan putra sulungnya—Calvin.

Papa dan aku tidak punya pilihan lain selain menyetujui permintaan Ayah Andre. Meski dengan berat hati, aku terpaksa menikah dengan Kak Calvin. Ironisnya, pernikahan itu tidak bertahan lama.

Kak Calvin mencintaiku, tapi aku tidak bisa membalas cintanya. Aku terlalu egois, aku lebih memilih Kak Yogi daripada Kak Calvin.

Kak Yogi ini adalah pacarku, jauh sebelum aku menikah dengan Kak Calvin.

Papa sempat berpesan, supaya aku memutuskan hubungan dengannya. Tapi karena terlalu dalam mencintai Kak Yogi, aku tak kuasa melakukannya sampai akhirnya aku kepergok oleh Kak Calvin, saat dimana aku dan Kak Yogi bertemu.

Pria itu terlihat begitu kecewa, sama halnya dengan Kak Yogi, karena dia sendiri baru mengetahui bahwa aku sudah menikah.

Selanjutnya, aku mendapatkan beberapa pertanyaan dari Kak Calvin perihal sedalam mana aku mencintai Kak Yogi, sampai dimana dia menawarkan diri apakah aku ingin bercerai darinya, lalu menikah dengan Kak Yogi?

Tentu saja pertanyaan itu sangat mudah bagiku untuk menjawabnya, tentu saja aku mencintai Kak Yogi, mau menikah dengannya yang berarti dengan senang hati berpisah dengan Kak Calvin.

Aku tahu betul bahwa Kak Calvin pasti merasa sakit hati saat mendengar hal itu, tapi dia memilih untuk menghargai keputusanku.

Namun, pada kenyataannya, setelah aku berhasil terlepas dari Kak Calvin, aku justru tidak jadi menikah dengan Kak Yogi.

Itu semua karena aku hamil, dan Kak Yogi tidak mau bertanggung jawab karena anak itu adalah anak Kak Calvin.

Apakah aku kecewa?! Tentu saja! Aku merasa seolah-olah telah membuang-buang waktu dan perasaan orang yang mencintaiku, demi orang yang aku cintai tapi tidak mau menerima keadaanku.

Mungkin aku memang bodoh. Aku telah membuat keputusan yang salah dan sekarang aku harus menanggung semua konsekuensinya.

Jika saja waktu bisa diputar kembali, mungkin aku tidak akan meminta perceraian ini terjadi. Karena imbasnya kepada Kenzie, yang sejak lahir sampai sekarang, tak pernah merasakan vigur seorang Ayah.

Ting!

Bunyi hapeku yang masih berada dalam genggaman seketika membuyarkan lamunan, aku terhenyak dan segera membuka chat yang dikirim oleh Nona Agnes.

Namun, sontak mataku kembali membulat.

"Apa-apaan ini?"

Nona Agnes ternyata bukan mengirimkan sebuah chat, melainkan sebuah foto. Tapi anehnya, mengapa itu adalah foto Kak Calvin?

Apa ini berarti Kak Calvin adalah pacarnya Nona Agnes?

Untuk memastikannya dengan jelas, aku segera menelepon Nona Agnes. Dalam hati berharap mungkin dia salah kirim foto. Sayangnya tidak.

"Benar, itu pacarku. Orang yang harus kamu jebak." Jawaban dari Nona Agnes seketika membuat jantungku berdebar kencang.

Aku merasa dunia ini begitu sempit seperti daun kelor. Kenapa harus Kak Calvin? Apa tidak ada pria lain di dunia ini?

Aku sudah terlalu banyak menyakitinya, dan sekarang aku diminta untuk menjebaknya? Ahh dasar gila!

"Lakukan segera, aku sudah standby di hotel. Jangan lupa, nomor 1006 lantai 4."

"Baik, Nona."

Ya ampun bagaimana sekarang? Aku terpaksa mengiyakan karena memang sudah dari awal aku setuju, meski itu dari paksaan.

Aahh aku bingung, kepalanya juga ikut berdenyut-denyut secara tiba-tiba. Rasanya aku ingin menjerit, tapi dengan menjerit itu tak akan menyelesaikan masalah.

Aku tidak mau menyakiti Kak Calvin lagi, tapi aku juga tidak mau kehilangan pekerjaan.

Kak Calvin tolong maafkan aku. Aku terpaksa melakukan hal ini, dan semoga saja apa yang aku lakukan sama sekali tidak merugikan Kakak. Karena kuyakin, Nona Agnes sangat mencintai Kakak, itu sebabnya dia melakukan hal ini.

Setelah menutup telepon, aku segera masuk ke dalam restoran tersebut untuk memilih tempat duduk yang tidak jauh dari Kak Calvin, kemudian meminta tolong pada salah satu pelayan untuk mau bekerjasama denganku.

Tidak sulit ternyata meminta orang untuk mau bekerjasama, asalkan kita menyodorkan uang, pasti dia langsung setuju. Itulah penting dimana kita harus selalu punya uang.

Karena saudara saja, akan menganggap kita orang asing jika kita tak memiliki uang. Namun sebaliknya, jika kita memiliki banyak uang, orang asing pun bisa menganggap kita sebagai saudaranya.

"Silahkan diminum, Pak," ucap seorang pelayan yang berada di meja Kak Calvin, yang baru saja mengantarkan pesanan. Seperti dua gelas kopi hitam, satu untuk Kak Calvin dan satu lagi untuk seorang pria di depannya. Yang sebelumnya memang sudah ada sebelum aku masuk ke restoran.

Mungkin dia rekan bisnisnya Kak Calvin.

Pelayan perempuan itu langsung tersenyum, saat mata kami bertemu. Apakah ini merupakan kode, bahwa dia sudah memasukkan obat yang aku minta ke dalam minuman Kak Calvin? Ahhh semoga saja.

Jadi, aku tunggu saja bagaimana reaksinya nanti.

Setelah beberapa menit berlalu, kuperhatikan Kak Calvin sering sekali menyentuh kepalanya setiap kali mengobrol dengan pria di depannya. Cara dia duduk pun begitu gelisah, ditambah wajahnya merah sekali seperti orang yang sedang kasmaran.

Ada apa dengannya? Tidak mungkin 'kan dia menyukai pria di depannya? Ya walau aku sendiri sempat mendengar kabar jika dulunya Ayah Kak Calvin memiliki kelainan homoseksual, tapi sepertinya tidak mungkin jika Kak Calvin pun begitu.

Meskipun aku tidak terlalu mengenal dekat mantan suamiku, tapi aku yakin jika dia adalah pria normal.

Tiba-tiba....

Brukk!!

Mataku sontak membulat, saat melihat Kak Calvin terjungkal dari tempat duduknya. Refleks aku berdiri dan melihatnya yang sudah kehilangan kesadaran.

Ya Allah, ada apa dengannya? Apa dia keracunan?

"Astaghfirullah! Pak Calvin! Security tolooonnng!!!" Seorang pria yang bersama Kak Calvin berteriak, wajahnya terlihat panik. Dan aku yang ikut panik pun segera berlari mendekatinya.

"Ada apa, Pak?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (4)
goodnovel comment avatar
Helmy Rafisqy Pambudi
di kiri Calvin hom apa ya ma si vania
goodnovel comment avatar
Rania Humaira
wanita goblok yg g bisa menggunakan akal sehatnya buat bertindak.
goodnovel comment avatar
Fenty Izzi
sampai sini Masih ok
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Malam Panas Dengan Mantan Suami   BonCap

    Karena ada yang bilang tamatnya terlalu menggantung, jadi Author kasih BonCap ya, Guys... Happy reading ❤️❤️*****"Nena, ayok masuk ke dalam, Nak. Sampai kapan kamu duduk di luar terus?"Mama Winda melangkah menghampiri sang cucu yang duduk di kursi plastik di teras rumah. Langit sudah berubah jingga keunguan, angin sore berembus pelan, tapi Nena tetap bertahan di sana dengan kedua kaki menggantung, menatap ke arah gerbang.Sejak sampai rumah, bocah itu menolak untuk masuk. Dia mengatakan ingin menunggu Papa dan Mamanya. Tapi sudah hampir dua jam semenjak dia sampai rumah, kedua orang tuanya tak kunjung tiba."Nena masih nunggu Mama sama Papa, Nek.""Nunggunya di dalam saja, sambil tiduran di kamar. Kamu pasti capek, Nak. Kita 'kan habis perjalanan jauh." Mama Winda menyentuh lembut puncak rambut Nena, mengusapnya dengan penuh sayang.Nena menggeleng cepat."Nena nggak capek kok, Nek. Tapi kenapa Mama dan Papa lama banget??""Mungkin mereka terjebak macet, Nak."Mama Winda tahu seben

  • Malam Panas Dengan Mantan Suami   (S2) 133. END

    Keiko menunduk, menatap wajah kecil itu. Hatinya terasa berat seperti ditekan sesuatu. Dia lalu mengangguk sambil tersenyum, berusaha membuat ekspresinya terlihat biasa saja. "Iya, Sayang. Tentu saja jadi." "Ya sudah, ayok sekarang kita ke mobil," ajak Ayah Calvin, langsung merangkul bahu sang anak. Gerakannya tegas, seperti ingin segera mengakhiri momen itu segera. Tangan Nena pun perlahan terlepas dari lengan Keiko. Jemari kecil itu sempat mencengkeram, seolah enggan benar-benar melepaskan, sebelum akhirnya terurai. Jamal dengan cepat menggendong kembali Nena. Meski gadis itu sudah bisa berjalan, dia tetap mengangkatnya dengan hati-hati. Satu tangan menyangga punggung, satu lagi di bawah lututnya. Dia tak ingin mengambil risiko. Perjalanan panjang dari Singapura tadi cukup melelahkan. Transit, antrean imigrasi, bagasi—semuanya bisa membuat Nena kelelahan. Jamal tidak mau kakinya yang baru saja pulih dipaksa terlalu banyak bekerja. Nena menyandarkan kepalanya di bahu Ja

  • Malam Panas Dengan Mantan Suami   (S2) 132. Jangan menghilang

    "Saya ingin .…” Jamal berhenti sejenak, seolah memilih kata yang paling tepat. “Walaupun nanti kita sudah resmi berpisah, saya ingin Nona tetap datang menemui Nena sesekali. Jangan menghilang dari hidupnya.” “Semenjak ada Nona, Nena menjadi lebih ceria.” Suara Jamal melembut. “Saya hanya khawatir kalau nanti kita berpisah, dia akan merasa kehilangan.” Keiko menunduk. Bayangan Nena yang tersenyum, memeluknya, memanggilnya Mama—semuanya tiba-tiba berputar di benaknya. “Aku tidak pernah berniat meninggalkan Nena, Mas,” jawab Keiko akhirnya, suaranya pelan namun tegas. “Meskipun nanti kita tidak lagi terikat, dia tetap anak yang ingin aku lihat tumbuh sehat dan bahagia.” Jamal menatapnya, ada kelegaan yang nyata di wajahnya. “Terima kasih, Nona.” "Mas nggak perlu berterima kasih. Seharusnya aku lah berterima kasih." *** Setengah tahun sudah berlalu. Enam bulan yang terasa panjang, melelahkan, tetapi penuh keajaiban kecil yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Jama

  • Malam Panas Dengan Mantan Suami   (S2) 131. Pelan-pelan

    Tiga bulan kemudian… Waktu berlalu lebih cepat dari yang mereka sadari. Tiga bulan penuh tangis, doa, dan latihan yang tak pernah absen sehari pun. Jamal berdiri di sudut ruang terapi, menatap ke arah Nena yang sedang berlatih dengan bantuan alat penyangga kaki. Tangannya berpegangan pada palang besi, sementara fisioterapis memberi aba-aba pelan. “Pelan-pelan, Nena… dorong dari paha, ya .…” Dan untuk pertama kalinya, kedua kaki kecil itu bergerak lebih jelas. Tidak lagi sekadar refleks samar, melainkan dorongan yang nyata—meski masih gemetar dan belum kuat menopang tubuh sepenuhnya. Jamal menahan napas. Dia tak menyangka, pengobatan dan terapi yang dilakukan sang anak akan membawa perubahan yang sangat signifikan, dimana kini kedua kakinya sudah bisa mampu digerakkan meski belum sepenuhnya. Tapi dia yakin, itu berarti cepat atau lambat anaknya akan bisa berjalan normal lagi. Dadanya terasa penuh. Rasa syukur bercampur haru membuat tenggorokannya tercekat. Andai dulu dia m

  • Malam Panas Dengan Mantan Suami   (S2) 130. Membalasnya

    "Nggak ada masalah, tapi aku tetap takut mereka khilaf, Zea."Kenzie kembali melangkah, tapi kali ini lebih pelan. Wajahnya menunjukkan kegundahan yang tak mudah dijelaskan dengan logika semata.Sejak sang adik memutuskan untuk menikah dengan Jamal, ada sesuatu dalam dirinya yang terus mengusik—perasaan tak nyaman yang tak pernah benar-benar pergi.Sejak saat itu pula, hari-hari Kenzie terlihat tidak setenang biasanya."Aku ngerti perasaan Kakak, tapi untuk sekarang... ada baiknya Kakak jangan terlalu dipikirkan, itu nggak baik untuk kesehatan Kakak juga. Yang penting 'kan sekarang semaunya berjalan semestinya, dan harapan kita adalah supaya Nena cepat sembuh," ucap Zea memberikan sedikit nasihat supaya suaminya bisa lebih tenang.***Pesawat yang mereka tumpangi mendarat dengan mulus di Bandara Changi. Dentingan sabuk pengaman yang dilepas para penumpang bercampur dengan suara roda koper yang mulai ditarik.Udara Singapura yang bersih dan tertata rapi seolah menjadi pembuka dari hara

  • Malam Panas Dengan Mantan Suami   (S2) 129. Suami istri

    "Nenek, Nena kepengen makannya disuapi Mama baru boleh nggak?" tanya Nena dengan polos, perlahan melepaskan pelukan hangatnya. Tatapan matanya penuh harap, seolah takut keinginannya ditolak."Boleh, tapi ...." Mama Winda tampak ragu. Kerutan halus di dahinya menunjukkan kekhawatiran—dia takut Keiko merasa canggung atau bahkan menolak permintaan itu."Biar aku yang suapi Nena, Bu," sahut Keiko cepat, hampir tanpa berpikir. Tangannya langsung terulur, refleks, seolah ingin menenangkan semua kecanggungan yang ada.Mama Winda menatap Keiko sejenak, lalu tersenyum kecil. Dia segera menyerahkan mangkuk bubur ke arah Keiko, kemudian berdiri dari kursi kecil di samping ranjang, memberi ruang bagi menantunya itu untuk duduk menggantikannya."Jamal, kamu ikut Mama sebentar keluar, yuk. Mama mau ngobrol sama kamu," pinta Mama Winda sambil menatap sang anak dengan sorot mata yang sulit diartikan."Iya." Jamal mengangguk. Namun sebelum mengikuti Mamanya keluar kamar, dia lebih dulu mengambil paper

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status