LOGINSetelah puas menciumiku tanpa ampun, bahkan hampir membuatku kehabisan oksigen, kini bibir Kak Calvin turun ke leher.
"Aahhhh!!" Aku terkejut, apa yang dia lakukan? Lidah, dia menyesap leherku sambil memainkan lidahnya dan itu sangat menggelitik hingga membuat seluruh tubuhku meremang. Bahkan dapat kurasakan seluruh bulu romaku berdiri tegak. Tapi, aku ingat bahwa aku belum mandi tadi sore. Pasti leher dan tubuhku ini beraroma kecut dan terasa asem, bisa-bisa Kak Calvin mual. "Huuuekk!!" Nah benar 'kan, baru saja aku menebak dan sekarang Kak Calvin terlihat seperti ingin muntah. Aktivitas itu terhenti sejenak, tapi kulihat Kak Calvin tengah sibuk melepaskan jas dan kemejanya. Ini kesempatan emas untukku supaya terlepas darinya, karena kalau sampai aku ketahuan Nona Agnes, bisa-bisa aku habis olehnya. Setelah mengeluarkan tenaga dalam, akhirnya aku berhasil mendorong tubuhnya untuk menyingkir dari tubuhku. Kak Calvin terjungkal dari kasur dan langsung merintih kesakitan, karena sempat kudengar bokongnya cukup keras menghantam lantai. "Aaaww!" "Maafkan aku, Kak." Aku segera turun dari kasur, kemudian berlari ke arah pintu. Tapi sialnya aku justru tersandung kaki sendiri, ceroboh sekali aku ini. Bruukkk! "Aaawww!!" Aku terjatuh dengan posisi tengkurap, kedua gunung kembarku terasa sakit sekali terhantam lantai. Untung tidak meletus. "Mau ke mana, Sayang?" Kulihat Kak Calvin mengesot menghampiriku sembari membuka celananya. Gila, apa-apaan dia? Kenapa dia menunjukkan kejantanannya yang sebelumnya sama sekali tak kuingat bagaimana bentuknya. "Astaghfirullah, Kakak!" Aku langsung menutup mata, karena merasa terkejut dan malu sendiri. Tapi aneh sekali, mengapa Kak Calvin bertingkah mesuum begini?? Apakah dia lupa, kalau kita berdua sudah bercerai? Aaah tapi tidak mungkin, kita saja bercerai sudah lama. Pastilah dia ingat. Tiba-tiba, dapat kurasakan celana berpinggang kolorku tertarik begitu cepat. Pasti itu ulah Kak Calvin. Dan benar saja, saat aku membuka mata dia justru sudah kembali berada di atas tubuhku. "Kakak! Lepaskan aku, Kak! Istighfar, Kak! Apa yang Kakak lakukan salah!!" Aku sudah histeris sendiri, merasakan kejantanannya sudah menempel pada bokongku. Rasanya hangat, namun sukses membuat seluruh tubuhku gemetar. Ya Allah, apa jangan-jangan Kak Calvin akan memperkosaku? Tidak! Ini tidak boleh sampai terjadi, aku tidak mau ya, Allah. Berusaha aku memberontak, tapi posisiku yang tengkurap dan tertindih di bawah seperti ini benar-benar menyulitkanku untuk bergerak. Krrreettt... Astaga celana dallam berendam kesayanganku dirobek olehnya. Benda tumpul itu pun kini seakan mencari-cari lubang untuk bisa masuk. Kak Calvin terus menerus menekannya. "Nona Agnes, to —aaahh!" Aku merasa tak sanggup melanjutkan, di mana benda tumpul itu akhirnya berhasil menembus dan memenuhi tubuh bagian bawahku. Kak Calvin melenguh dengan desaahan yang nyaring, sementara gerakan naik-turun bokongnya menghadirkan sensasi yang tak terduga. Aku merasakan rasa perih dan sesak yang membuatku meringis ingin menangis. Aneh, padahal ini bukan hal yang pertama bagiku, bahkan aku sendiri sudah pernah melahirkan dengan jalur normal. Namun, seiring berlalunya waktu, rasa perih itu mulai mereda, dan dengan tiba-tiba, berubah menjadi gelombang kenikmatan yang mengalir dalam diriku. Sesak di bawah sana, seolah menjadi pemicu birahi yang memuncak. Sentuhan yang lembut namun penuh gairah, membawaku terbang melayang-layang, menyatukan rasa sakit dan nikmat dalam satu aliran. Dengan jantung yang berdebar-debar, aku tak sadar terhanyut dalam desaahan yang saling bersahut-sahutan dengan Kak Calvin. Cahaya lampu yang tiba-tiba meredup, menciptakan atmosfer yang semakin mencekam, namun hal tersebut justru semakin membangkitkan semangat Kak Calvin untuk terus menghujamiku. Tak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa segalanya akan berakhir seperti ini. Rasanya benar-benar gila. Niat jahat untuk menjebak Kak Calvin malah berbalik menimpa diriku, membuatku diperkosa olehnya. Ironisnya, aku justru menikmatinya dan tak ingin semua ini cepat berakhir. Selama masa pernikahan kami, kami hanya sekali berhubungan badan, dan aku bahkan tidak ingat bagaimana rasanya. Akan tetapi, dengan keanehan yang ada, kali ini aku merasakan kenikmatan yang begitu luar biasa. Ya Allah... aku memohon ampun-Mu, semua ini adalah kesalahan dan dosaku. Seharusnya dari awal aku tidak menuruti permintaan yang konyol dari bosku. Namun, di sisi lain, aku juga takut kehilangan pekerjaan. Mungkin, besok aku akan benar-benar dipecat jika Nona Agnes mengetahui kalau aku dan Kak Calvin telah memadu kasih. Atau, justru sebentar lagi dia akan memergoki kita berdua. (Flashback Off) *** POV Agnes. "Sial!! Di mana mereka berdua?!" Kubanting kasar hapeku dengan penuh emosi, tapi di atas kasur karena kalau di lantai sayang jika pecah. Itu hape mahal. Hampir semalaman aku menunggu kedatangan Viona yang membawa Mas Calvin, sampai akhirnya tidak tidur. Namun, kenyataannya, mereka berdua belum juga muncul sampai sekarang. Bahkan sekarang sudah jam 6 pagi. Ke mana kira-kira Viona membawa pacarku? Bukankah semalam dia mengatakan rencana kita lancar dan sedang menuju ke hotel. Tapi, mengapa mereka berdua belum juga tiba? "Aaakkhh!!" Kepalaku terasa sakit memikirkannya, ditambah nomor mereka sulit dihubungi. Mas Calvin tidak aktif, sementara Viona aktif, hanya saja tidak merespon. Ada apa dengan Viona ini? Aku khawatir obat yang kuberikan kepada Mas Calvin bereaksi kepadanya, bisa-bisa salah sasaran. "Ahh tapi rasanya nggak mungkin." Aku menggeleng kepala. Mas Calvin tidak mungkin semudah itu melakukan hubungan badan dengan seseorang yang tidak dia kenal. Karena denganku saja tidak pernah dia mau melakukannya, meski sering aku menggodanya. Kadang kala aku berpikir, apakah Mas Calvin ini adalah pria normal? Sebab aneh saja, masa pacaran kami sudah memasuki 2 tahun, ditambah sering LDR lama, tapi jika bertemu—kami paling berpelukan dan sekedar ciuman saja. Bahkan, rasa-rasanya dia juga belum pernah meremmas dadaku. Padahal sering kali kupamerkan belahan dada yang montok ini di hadapannya, berharap dia naffsu padaku. Setiap ada waktu bersama, aku juga sering sesekali menyentuh miliknya yang terbungkus di dalam celana. Asli aku juga penasaran dengan bentuknya, tapi, Mas Calvin justru marah dan mengatakan aku tidak sopan. Aneh banget, kurasa Mas Calvin sedikit gila. Padahal mantan-mantan pacarku saja dulu selalu minta jatah setiap kali bertemu, kalau dia boro-boro. Itulah sebabnya aku setuju dengan rencana yang diusulkan oleh Daddy. Ya memang pada dasarnya aku ingin cepat dinikahi dan ingin mempunyai suami kaya raya juga tentunya. Apalagi, bisnis Daddy sedang tidak baik-baik saja sekarang. Selama ini, memang Mas Calvin sudah membantunya, tapi Daddy merasa masih kurang. Dia berpikir, jika Mas Calvin sudah menjadi menantu, bantuan darinya akan semakin banyak dia dapatkan. Drringggg!! Bunyi hape seketika memecah keheningan, buru-buru kuambil kembali benda itu di atas kasur.Karena ada yang bilang tamatnya terlalu menggantung, jadi Author kasih BonCap ya, Guys... Happy reading ❤️❤️*****"Nena, ayok masuk ke dalam, Nak. Sampai kapan kamu duduk di luar terus?"Mama Winda melangkah menghampiri sang cucu yang duduk di kursi plastik di teras rumah. Langit sudah berubah jingga keunguan, angin sore berembus pelan, tapi Nena tetap bertahan di sana dengan kedua kaki menggantung, menatap ke arah gerbang.Sejak sampai rumah, bocah itu menolak untuk masuk. Dia mengatakan ingin menunggu Papa dan Mamanya. Tapi sudah hampir dua jam semenjak dia sampai rumah, kedua orang tuanya tak kunjung tiba."Nena masih nunggu Mama sama Papa, Nek.""Nunggunya di dalam saja, sambil tiduran di kamar. Kamu pasti capek, Nak. Kita 'kan habis perjalanan jauh." Mama Winda menyentuh lembut puncak rambut Nena, mengusapnya dengan penuh sayang.Nena menggeleng cepat."Nena nggak capek kok, Nek. Tapi kenapa Mama dan Papa lama banget??""Mungkin mereka terjebak macet, Nak."Mama Winda tahu seben
Keiko menunduk, menatap wajah kecil itu. Hatinya terasa berat seperti ditekan sesuatu. Dia lalu mengangguk sambil tersenyum, berusaha membuat ekspresinya terlihat biasa saja. "Iya, Sayang. Tentu saja jadi." "Ya sudah, ayok sekarang kita ke mobil," ajak Ayah Calvin, langsung merangkul bahu sang anak. Gerakannya tegas, seperti ingin segera mengakhiri momen itu segera. Tangan Nena pun perlahan terlepas dari lengan Keiko. Jemari kecil itu sempat mencengkeram, seolah enggan benar-benar melepaskan, sebelum akhirnya terurai. Jamal dengan cepat menggendong kembali Nena. Meski gadis itu sudah bisa berjalan, dia tetap mengangkatnya dengan hati-hati. Satu tangan menyangga punggung, satu lagi di bawah lututnya. Dia tak ingin mengambil risiko. Perjalanan panjang dari Singapura tadi cukup melelahkan. Transit, antrean imigrasi, bagasi—semuanya bisa membuat Nena kelelahan. Jamal tidak mau kakinya yang baru saja pulih dipaksa terlalu banyak bekerja. Nena menyandarkan kepalanya di bahu Ja
"Saya ingin .…” Jamal berhenti sejenak, seolah memilih kata yang paling tepat. “Walaupun nanti kita sudah resmi berpisah, saya ingin Nona tetap datang menemui Nena sesekali. Jangan menghilang dari hidupnya.” “Semenjak ada Nona, Nena menjadi lebih ceria.” Suara Jamal melembut. “Saya hanya khawatir kalau nanti kita berpisah, dia akan merasa kehilangan.” Keiko menunduk. Bayangan Nena yang tersenyum, memeluknya, memanggilnya Mama—semuanya tiba-tiba berputar di benaknya. “Aku tidak pernah berniat meninggalkan Nena, Mas,” jawab Keiko akhirnya, suaranya pelan namun tegas. “Meskipun nanti kita tidak lagi terikat, dia tetap anak yang ingin aku lihat tumbuh sehat dan bahagia.” Jamal menatapnya, ada kelegaan yang nyata di wajahnya. “Terima kasih, Nona.” "Mas nggak perlu berterima kasih. Seharusnya aku lah berterima kasih." *** Setengah tahun sudah berlalu. Enam bulan yang terasa panjang, melelahkan, tetapi penuh keajaiban kecil yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Jama
Tiga bulan kemudian… Waktu berlalu lebih cepat dari yang mereka sadari. Tiga bulan penuh tangis, doa, dan latihan yang tak pernah absen sehari pun. Jamal berdiri di sudut ruang terapi, menatap ke arah Nena yang sedang berlatih dengan bantuan alat penyangga kaki. Tangannya berpegangan pada palang besi, sementara fisioterapis memberi aba-aba pelan. “Pelan-pelan, Nena… dorong dari paha, ya .…” Dan untuk pertama kalinya, kedua kaki kecil itu bergerak lebih jelas. Tidak lagi sekadar refleks samar, melainkan dorongan yang nyata—meski masih gemetar dan belum kuat menopang tubuh sepenuhnya. Jamal menahan napas. Dia tak menyangka, pengobatan dan terapi yang dilakukan sang anak akan membawa perubahan yang sangat signifikan, dimana kini kedua kakinya sudah bisa mampu digerakkan meski belum sepenuhnya. Tapi dia yakin, itu berarti cepat atau lambat anaknya akan bisa berjalan normal lagi. Dadanya terasa penuh. Rasa syukur bercampur haru membuat tenggorokannya tercekat. Andai dulu dia m
"Nggak ada masalah, tapi aku tetap takut mereka khilaf, Zea."Kenzie kembali melangkah, tapi kali ini lebih pelan. Wajahnya menunjukkan kegundahan yang tak mudah dijelaskan dengan logika semata.Sejak sang adik memutuskan untuk menikah dengan Jamal, ada sesuatu dalam dirinya yang terus mengusik—perasaan tak nyaman yang tak pernah benar-benar pergi.Sejak saat itu pula, hari-hari Kenzie terlihat tidak setenang biasanya."Aku ngerti perasaan Kakak, tapi untuk sekarang... ada baiknya Kakak jangan terlalu dipikirkan, itu nggak baik untuk kesehatan Kakak juga. Yang penting 'kan sekarang semaunya berjalan semestinya, dan harapan kita adalah supaya Nena cepat sembuh," ucap Zea memberikan sedikit nasihat supaya suaminya bisa lebih tenang.***Pesawat yang mereka tumpangi mendarat dengan mulus di Bandara Changi. Dentingan sabuk pengaman yang dilepas para penumpang bercampur dengan suara roda koper yang mulai ditarik.Udara Singapura yang bersih dan tertata rapi seolah menjadi pembuka dari hara
"Nenek, Nena kepengen makannya disuapi Mama baru boleh nggak?" tanya Nena dengan polos, perlahan melepaskan pelukan hangatnya. Tatapan matanya penuh harap, seolah takut keinginannya ditolak."Boleh, tapi ...." Mama Winda tampak ragu. Kerutan halus di dahinya menunjukkan kekhawatiran—dia takut Keiko merasa canggung atau bahkan menolak permintaan itu."Biar aku yang suapi Nena, Bu," sahut Keiko cepat, hampir tanpa berpikir. Tangannya langsung terulur, refleks, seolah ingin menenangkan semua kecanggungan yang ada.Mama Winda menatap Keiko sejenak, lalu tersenyum kecil. Dia segera menyerahkan mangkuk bubur ke arah Keiko, kemudian berdiri dari kursi kecil di samping ranjang, memberi ruang bagi menantunya itu untuk duduk menggantikannya."Jamal, kamu ikut Mama sebentar keluar, yuk. Mama mau ngobrol sama kamu," pinta Mama Winda sambil menatap sang anak dengan sorot mata yang sulit diartikan."Iya." Jamal mengangguk. Namun sebelum mengikuti Mamanya keluar kamar, dia lebih dulu mengambil paper







