Se connecter“Hanya menemani.” Tania mendorong dada bidang Bryan. Kedua mata Bryan memicing. Pria itu tampak tak suka dengan apa yang Tania ucapkan. Namun, Bryan sama sekali tidak membantah. Detik berikutnya, Tania malah mendengar suara tawa dari Bryan. Tangan Bryan terulur, menyusuri rambut Tania, membelainya lembut. “Ada banyak cara untuk menemani, kan?” ucap Bryan menggoda. “Tanda tangani kontraknya dulu,” sahut Tania. Ia tak mau mengalah. Jelas Tania tak ingin rugi. Sangat banyak resiko yang harus Tania hadapi. Jadi ia ingin memastikan semuanya dibayar pantas. “Aku sudah ada di sini. Kamu tak punya alasan untuk menolak, Bryan,” tegas Tania.“Siapa yang bilang aku akan menolaknya?” Bryan mengambil map yang Tania sodorkan, tanpa membuka isinya. Map itu dilemparkan ke sudut meja. Sementara Bryan sibuk menarik Tania ke dalam pelukan. Tania mencebik saat tubuhnya dibawa ke atas pangkuan Bryan. “Bryan!” Tania
“Apa aku harus membiarkannya masuk ke dalam rumah? Ia bisa dianggap sebagai tamu?” Kedua kaki Tania tak berhenti bergerak sejak tadi. Ia memutari kamarnya sendiri, seolah hal itu mampu memberikannya jalan keluar. “Enggak. Bryan enggak akan menandatangani kontrak kalau aku ragu seperti ini. Ia sedang mengujiku.”Tania sangat ingin Bryan menyetujui kontrak mereka. Ia mau pria itu memberikan semua hak eksklusif untuk minumannya, andai bisa. “Harus bisa. Akan aku lakukan.” Tanpa menunggu, Tania mengganti pakaian. Ia mengenakan kaos polos dan celana kulot. Tania menyempatkan diri mengecek Rafael, dan ia bisa mendengar suara Rafael dari kejauhan.Dalam langkah yang pelan, Tania berjalan keluar. Ia berusaha untuk tidak terlihat mencurigakan, tapi juga tetap berhati-hati. Di luar pagar, Tania mengecek handphone. Layarnya menyala. Bryan menghubunginya. “Kita berjodoh,” ucap suara dari seberang. Tania
“Apa kamu mau bertemu dengan mereka?” Rafael balik bertanya. Seketika Tania terdiam. Ia hanya ingin tahu, bukan ingin bertemu. Dengan mendengar nama kedua orang itu saja, Tania mulai membayangkan wajah mereka. Lalu, apa yang terjadi di antara mereka. Semua mimpi buruk itu. “Ayo kita tidur saja,” ucap Rafael seraya membelai puncak kepala Tania lembut. Tania tak mengiyakan. Ia masih sibuk dengan pikirannya sendiri. Sudah bertahun-tahun, tapi ia masih belum mampu melupakan. “Apa … mereka mau bertemu dengan Zayne?” Ragu, Tania bertanya. Hatinya memang masih tidak nyaman. Namun, ini masalah di antara mereka. Zayne harusnya tidak menanggung apapun yang terjadi di masa lalu. “Enggak perlu memaksakan diri, Tania ….”Rafael tersenyum lembut. Pria itu berdiri tepat di belakang Tania. Melalui pantulan cermin meja rias, mereka saling bertatapan. Perlahan, Tania merasakan hangat dari lengan Rafael yang
“Ah, sudah sampai.” Tania mengalihkan pembicaraan dengan menunjuk ke arah jendela. Sedikit beruntung karena mereka tiba di rumah Anggi pada waktu yang tepat. Tania bisa mengalihkan pembicaraan. Ia kewalahan karena Rafael terus bertanya kapan dan di mana mereka akan bertemu dengan Bryan nanti. Tania langsung turun ketika mobil berhenti. Ia gegas mengetuk pintu setelahnya. Wajah Tania menjadi tiga kali lebih cerah saat melihat Zayne di depannya. Saat bersama Zayne, tak akan ada lagi pembicaraan tentang pekerjaan. “Kalian mau makan malam dulu di sini?” Anggi menawarkan ramah. Tania langsung menggeleng, karena ia tahu Rafael tak akan mampu menolak. Rafael tak pernah mengatakan tidak pada apapun yang kedua orang tua Tania katakan. “Nanti ngerepotin, Bu. Tania sama Rafael juga belum nyiapin apa-apa. Mungkin akhir pekan nanti, atau Ibu pilih aja waktunya. Asal kasih tau ke Tania lebih awal.”Anggi dengan berat hati mengangguk.
“Iya, aku mau lantainya berlapis marmer. Buat semewah mungkin.”Tania meringis sekilas saat ia mendengar suara Rafael. Baru saja Tania membuka pintu, tapi ketegangan dalam ruangan itu sudah sampai padanya. Rafael benar-benar serius saat mengatakan jika ia ingin membuat tingkat yang lebih tinggi dari pelanggan VIP. Suaminya itu benar-benar menyiapkan segalanya. Helaan napas Tania terdengar berat. Ia teringat kembali dengan kejadian beberapa hari lalu saat dirinya bertemu dengan Bryan. Kecupan itu, dan juga penolakan kontrak yang dibuat oleh Bryan. Tania masih merasa kesal sampai hari ini. “Sayang?” Rafael langsung menghampiri Tania. Seketika, lamunan Tania selesai. Ia harus fokus pada Rafael yang sedang ada di depannya, atau sang suami bisa mencium keanehan. “Apa aku mengganggu? Kamu belum selesai bekerja?” Rafael langsung menggeleng. Ia menunjuk Dika yang memang selalu berada di sampingnya untuk melanjutk
“Apa kamu sedang mengancamku?” Wajah Tania berubah penuh kemarahan. Ia tidak suka pada Bryan yang menggunakan cara kotor seperti ini. Bryan menjebaknya! “Tidak, Sayang.” Bryan membelai pipi Tania lembut. “Aku tidak sedang mengancam, hanya memastikan jika kamu akan terus ada di sisiku.”Tania melotot tak percaya. Tepat saat ia berniat membalas ancaman Bryan, terdengar suara teriakan dari luar. “Maaf!” Meski baru pertama kali bertemu, Tania tahu jika itu adalah suara Erik. Pria itu di luar sana seolah memberitahu jika ia sudah dekat. Jika mereka sudah dekat, Erik dan Farah tentu saja. Tania bergegas duduk kembali di tempatnya. Ia mengabaikan Bryan sempurna, seolah tak pernah terjadi apapun di antara mereka sebelumnya. “Aku benar-benar minta maaf.” Erik masih saja memohon meski pintu ruang VIP sudah dibuka oleh Farah. Tania dan Bryan menoleh bersamaan dari tempat duduk mereka masing-masing. De







