Share

Tiga

Author: Reistya
last update publish date: 2024-12-22 01:48:55

"Yogi Finanda?" gumam Reisha Clemira setengah sadar.

Janda beranak satu itu semalam menghabiskan waktu bersama dengan seorang pria yang tak dikenal dan hanya ditinggalkan dengan sebuah note?

Sayangnya, Rei sontak tersadar kala menatap dinding yang menunjukkan pukul 07.00 pagi!

"Ah sial!" paniknya.

Wanita itu pun segera bergegas untuk menuju toilet seraya memunguti pakaian yang berserakan. 

Ponselnya sudah berdering sejak tadi dan itu adalah Strawberi putrinya, panggilannya Jil atau Bebe (Bibi). Anak perempuan itu berusia 6 tahun dan kini berada di kelas 1 sekolah dasar. Malam tadi seharusnya ia pulang setelah bekerja. Tapi malam tadi entah apa yang terjadi dan ia malah berakhir di hotel ini. 

Setelah membersihkan diri dan memakai pakaian ia segera beranjak pergi dari hotel Menatap layar ponsel. Banyak sekali panggilan dari ponsel milik Sinta temannya yang memang diminta untuk menjaga Bebe. 

Dan kini ponsel itu berdering lagi segera ia terima. "Ya Bebe?"

"Mami di mana? Hari ini aku nggak sekolah ya?" Terdengar suara Strawberry dari balik telepon.

"Why? Kamu nggak mau sekolah Nak?" Sambil melangkahkan kakinya dengan cepat Ia terus berjalan keluar pintu hotel, lalu mencari ojek untuk segera beranjak pulang.

"Karena Mami semalam nggak pulang. Be sendiri di rumah."

"Semalam Mami kerja sayang. Kalau gitu Kamu sekarang sekolah, nanti mami masakin makanan kesukaan kamu. Hmm?"

"No, aku nggak mau sekolah, aku nggak mau sekolah."

Rei menuju kumpulan tukang ojek yang tengah memarkirkan motornya tak jauh dari sana. Ia menunjukkan jarinya dan meminta untuk segera diantarkan. Pemilik tubuh gemuk tentu saja kadang memilih ojek pun menjadi sebuah tantangan. Biasanya pemilik motor-motor tua akan menolak. Beruntung kali ini salah satu tukang ojek itu segera menerima.

"Komplek Cendrawasih ya pak." Rei memberikan instruksi kemudian motor itu segera. 

"Nak, Mami OTW pulang. Kalau pas pulang Mami lihat kamu belum pakai seragam, lihat ya, Mami jitak kamu nanti. Babay Bebe." Rei kemudian mematikan panggilannya dan ia fokus dengan perjalanannya menuju rumah.

Begitu tiba, putrinya sudah mengenakan seragam dan tengah duduk di depan rumah. 

Strawberry berlari lalu memeluk sang ibu. Rei menyambut putrinya dan juga memeluk gadis kecil kesayangannya.

"Bebe udah mandi, cantik banget sih anak mami?"

"Nunggu mami baru berangkat." 

"Okay, Mami masuk dulu nanti kita ke sekolah Bebe ya." Rei menawarkan dan anak kecil itu anggukkan kepala. 

Dan seperti biasanya hari ini wanita itu mengantarkan putrinya ke sekolah menggunakan motor miliknya. Kemudian ia kembali ke rumah untuk melakukan kegiatannya sebagai ibu tunggal. Hari ini terpaksa izin bekerja. Tubuh dan kepalanya menjadi sakit akibat apa yang terjadi. 

Setelah pulang dari mengantar putrinya ia kemudian merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Kemudian ia mengambil tas miliknya yang berada di atas nakas. Lalu mengeluarkan kertas berisi nomor telepon Yogi. Rei berpikir lama apakah ia harus menyimpan nomor tersebut atau tidak.  Lalu pada akhirnya ia menyimpan nomor tersebut. Saat ini sedang berada pada masa subur dan benar-benar membahayakan. 

Rei lalu mengambil ponsel miliknya ia harus mengirimkan pesan kepada sahabatnya, Indah. Dadanya terasa kosong, padahal ia saat ini tengah menjadi donor ASI untuk putri dari Indah. Strawberry menyusu hingga berusia 5 tahun dan 1,5 tahun belakangan ia menjadi donor ASI. 

Rei:

Susu masih ada kan? Enggak masalah kalau gue kirim sore?

Indah:

Masih dua kantong Bep. Sibuk ya?

Rei:

Semalem gue mabok, gue takut Zee mabok juga kalau minum ASI gue. Hehehe.

Indah;

Tobat Lo! 

Rei:

Baru kemarin aja, udah lama kan enggak sejak ada Bebe. Ya udah gue kirim sore ya Bep.

Rei kesal juga karena dihabiskan oleh Yogi semalam. "Aish! Bayi tua!"

****

Yogi duduk di kursi kerjanya, sejak tadi satu persatu malam panas yang ia habiskan dengan Rei muncul di dalam ingatannya. Sambil menatap ke depan ia memegangi bibirnya, sambil mencubit-cubit perlahan, kemudian mengigit bibir bawahnya. Ia ingat bagaimana melakukan hubungan seraya meminum langsung susu dari dada lawan mainnya, menarik dan buat ia inginkan lagi. 

Permainan malam tadi pengalaman pertamanya melakukan hubungan intim seperti itu. Ada sensasi berbeda, mendesak untuk ia ingat dan kini memuat sensasi menjalar yang awalnya ia nikmati. Yogi kemudian gelengkan kepalanya, kini berusaha menepis ingatan yang persekian detik lalu ia nikmati.

"Clarissa, Clarissa," ucap Yogi mencoba mengingat gadis itu saja.

Saat itu pintu di ketuk, terdengar suara sepupunya Jimmy. Yogi segera mempersilahkan Jimmy untuk masuk ke dalam ruangannya. Pria bermata sayu itu berjalan masuk, si playboy kelas kakap. Bahkan ia berjalan dengan cara dan tatapan yang sensual. Dan jelas itu yang menjadi daya tarik utamanya. 

Jimmy duduk di kursi yang bersebrangan dengan meja kerja Yogi. Ia menatap Yogi yang sedikit terlihat kacau. "Kenapa?Gagal sama Rissa semalam?"

Yogi mengangguk pelan.

"Kok bisa?" tanya Jimmy terkejut juga dengan jawaban yang diberikan oleh Yogi. Padahal sudah direncanakan dengan baik. Dan memang itu adalah ie Jimmy. Pria itu merasa hubungan bisa dengan cepat dibangun dengan hubungan seks.

Dan dengan polos dan bodohnya, Yogi mempercayai itu. Ia menyetujui apa yang dikatakan oleh Jimmy. Jimmy mengatakan kalau Yogi harus mencari waktu dan cara untuk bisa berhubungan intim dengan Clarissa. Rencana yang sudah ia susun selama dua bulan itu akhirnya bisa ia jalankan semalam dan gagal. 

"Enggak tau, dia pulang mungkin. Dan sampai sekarang dia enggak hubungi." Yogi berkata dengan kecewa. 

Jimmy berdecak lalu berpikir tentang alasan kenapa Clarissa meninggalkan tempat itu begitu saja. "Dia sama sekali enggak kabarin atau ngomong apa-apa sama lo?" tanya Jimmy lagi. 

"Enggak, dia kabur gitu aja."

"Hmm, kalau ada sesuatu yang penting dia pasti kabarin. Kecuali--" ucapan Jimmy terhenti lalu menatap Yogi dengan tatapan ragu.

Tentu saja Yogi merasa tak nyaman dengan tatapan Jimmy padanya, ia kemudian bertanya. "Kecuali apa?" tanyanya. 

"Kecuali dia tau kalau lo mau jebak dia. Ya, wajar namanya mau dijebak kan? Pasti kabur." Jimmy berkata lagi sambil kini menyandarkan tubuhnya pada kursi.

Yogi terdiam, pikirannya kembali mengingat apa yang terjadi semalam. Dan tak ada yang ia ingat tentang kemungkinan Clarissa mengetahui niat buruknya. Bahkan yang terjadi malah ia yang pingsan karena kebanyakan minum efek dari gugup yang ia rasakan.

"Sebenarnya semalam gue sempat pingsan karena minum banyak."

Jimmy menepuk keningnya kemudian sedikit memijatnya. karena mendadak saja merasa sakit kepala akibat apa yang dikatakan oleh Yogi barusan. "Emang lo minum berapa banyak?"

"Hampir dua botol kayaknya. Bener-bener gugup kemarin itu."

"Bisa aja dia masuk ke ruangan, terus ya lihat lo yang pingsan dia kabur duluan." Jimin mencoba menerka karena Yogi mengatakan bahwa ia pingsan. Dan mungkin saja Clarissa takut melihat pria itu tiba-tiba saja tak sadarkan diri.

Yogi mengangguk setuju. Kemungkinan besar apa yang dikatakan oleh Jimmy adalah benar. Bahwa Clarissa masuk ke dalam ruangan di saat ia tak sadarkan, diri kemudian Gadis itu merasa takut dan melarikan diri. Dan sepertinya Yogi memang harus membicarakan masalah ini kepada gadis itu.

"Kalau gitu, gue akan hubungin dia dan minta ketemu lagi. Seenggaknya ada yang dijelaskan kalau gue pingsan karena gugup dekat sama dia." Yogi berkata. 

Jimmy anggukkan kepalanya tanda ia setuju dengan apa yang dikatakan oleh Yogi barusan. "Iya boleh, lo harus jelasin ke dia supaya semuanya jelas."

"Tapi semalam gue dapat pengalaman baru. Gue rasa ini adalah hal tergilas yang gue lakuin."Yogi mengatakan itu. Dan tentu saja apa yang dikatakan oleh Yogi membuat Jimmy menatap dengan penasaran.

"Pengalaman baru apa?"

"Gue tidur sama perempuan lain."

"WHAT?!!" Jimmy berteriak terkejut dengan apa yang ia dengar barusan. Pria itu kemudian menutup mulutnya dan berganti memegangi kepala dengan kedua tangannya. "Siapa? Pakai pengaman kan?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Malam Pertama Perjaka dan Janda Muda   delapan puluh empat

    Yogi berada di kantor, ketika tiba tadi ia sudah segera disibukkan dengan jadwal promosi yang akan dijalani oleh Rei. Dia benar-benar memilih lokasi yang dekat ketika hari biasa, kemudian ketika hari libur Rey bisa melakukan promosi di lokasi yang lebih jauh. Yogi memikirkan Strawberry, ia tak ingin Strawberry kehilangan banyak perhatian dan waktu dari ibunya. Menurutnya kalau libur Strawberry bisa diajak untuk bepergian sekaligus menghibur anak itu.Saat sedang memperhatikan dokumen-dokumen di atas mejanya, pintu tiba-tiba saja diketuk."Ini Jimmy." "Masuk." Yogi menyahut dari dalam.Jimmy kemudian membuka pintu dan masuk. Dia jadi lebih sopan ketika terakhir kali masuk nyaris saja melihat apa yang dilakukan oleh Yogi dan juga Rei di dalam ruangan. Sejak itu, Jimmy tak pernah lupa mengetuk pintu sebelum dia masuk ke dalam ruangan Yogi."Duduk," kata Yogi mempersilahkan Jimmy duduk di sofa. Kemudian dia bangkit dan berjalan menghampiri Jimmy dan duduk di sofa. Jimmy duduk kemudian

  • Malam Pertama Perjaka dan Janda Muda   delapan puluh tiga

    Kanaya menjalani pemeriksaan, kondisi tubuhnya masih cukup lemah sehingga masih diminta untuk tetap beristirahat di rumah sakit. Dokter juga masih harus memeriksa kakinya pasca amputasi. Gadis itu duduk di tempat tidur seraya menatap keluar jendela.Teo berjalan masuk ke dalam Setelah dia membeli makanan yang diinginkan putrinya. Kanaya ingin sekali makan buah anggur katanya. Jadi pria itu sengaja keluar untuk membeli anggur yang diinginkan oleh Kanaya."Papa sengaja beli banyak nih supaya kamu banyak makannya." Teo katakan membuka bungkus anggur dan memberikan kepada Kanaya."Makasih Pa." Hal itu membuat Kanaya cukup merasa bersalah karena selama ini Dia jarang sekali memberikan perhatian kepada sang ayah.Teo duduk di samping Kanaya dengan senyum menatap Putri kesayangannya itu. "Kamu mau apa lagi? Biar nanti papa beli. Supaya kamu sehat, bayi dalam perut kamu juga sehat selalu." Teo sudah bisa menerima kenyataan bahwa Sang Putri hamil, meskipun dia juga belum mau untuk menemui Deff

  • Malam Pertama Perjaka dan Janda Muda   delapan puluh dua

    Rei dan Yogi kini berada di sekolah Bebe. Keduanya berada di sana setelah mendapat panggilan telepon dari wali kelas putrinya."Strawberry tadi bertengkar sama Anin, mereka adu mulut sampai akhirnya pukul-pukulan dan dua-duanya sama-sama nangis. Jadi dua-duanya dapat hukuman yang sama ya Bu, akan diliburkan selama 1 minggu. Tapi harus tetap mengerjakan tugas di rumah dan juga hukumannya harus tetap dijalankan." Itu adalah pesan dari wali kelas.Rei kemudian pulang tidak ada kata-kata yang keluar dari bibir wanita itu. dia duduk di depan di samping Yogi, sementara putrinya duduk di belakang masih sambil sesekali sesenggukan akibat menangis tadi. Yogi sendiri kebingungan bagaimana dia harus bersikap, karena tak tahu masalah apa yang sebenarnya terjadi. Tadi dia menunggu di luar, karena Rei yang tak mengizinkannya untuk masuk.Setelah sampai di rumah mereka bertiga segera masuk ke dalam rumah. Bebe kemudian duduk di ruang tengah, dia sudah tahu kalau sang ibu akan menghukumnya. Gadis k

  • Malam Pertama Perjaka dan Janda Muda   delapan puluh satu

    Pagi ini Rei terbangun, kemudian berjalan menuju dapur. Kelelahan, setelah semalam menghabiskan malam tanpa henti bersama Yogi. Padahal, katanya hanya ingin menemani, tapi semalaman tak berhenti beradu. Ia terkejut ketika mendapati Yogi yang berdiri di dapur memasak, sudah mengenakan kemeja yang dibawakan oleh sopirnya malam tadi. "Morning love," sapa Yogi. Rei berjalan mendekat, "ada yang butuh dibantu Mas?""Nope, enggak perlu ini udah mau selesai." Yogi menjawab lalu memeluk Rei dan mengecup bibir kekasihnya itu singkat. Rei memerhatikan, "kamu masak apa mas?""Aku tadi masak yang ada di lemari es kamu. Ada garlic chicken, sama mashed potato." Yogi memamerkan kemampuan memasaknya. ya, meskipun dia memang sejak dulu memiliki pelayan, tapi Yogi pernah tinggal sendiri saat menjalani pendidikan yang waktu di luar negeri. "Kamu pintar masak sih, biasanya aku mentok masak nasi goreng aja buat Bebe." "Aku tadinya mau masak nasi goreng, tapi aku pengen yang beda biar anak kita ngga

  • Malam Pertama Perjaka dan Janda Muda   delapan puluh

    Clarissa dan juga Satrio masih berada di kamar rawat Deff. Masih heran dengan pemikiran sahabatnya yang satu itu."Jadi lo mau ninggalin kanaya?" Clarissa bertanya, dia heran dengan penuturan Deff yang mengatakan kalau ingin memperjuangkan Rei sekali lagi."Bagaimanapun Strawberry itu anak gue dan gue juga mau mendapatkan hak gue sebagai seorang ayah." Deff katakan itu dengan tegas."Tapi bukannya anak dalam kandungan Kanaya itu juga anak lo ya Deff?" Satrio bertanya.Deff terdiam sejenak sebelum akhirnya dia menjawab pertanyaan Satrio. "Gue nggak tahu lah siapa tahu aja Kanaya main juga sama orang lain."Clarissa yang mendengar perkataan sahabatnya itu menjadi kesal sekali. Dia kemudian dengan keras memukul kaki Deff. Apa yang dilakukan Gadis itu membuat Deff memekik dengan keras."Sakit Clar!""Gue nggak nyangka lo bisa ngomong kayak gitu. Selama ini kan lo pacaran sama Kanaya. Kalian udah sama-sama 7 tahun, wajar kalau tiba-tiba aja kalau kebobolan kayak gitu. Dan lo sekarang bisa

  • Malam Pertama Perjaka dan Janda Muda   tujuh puluh sembilan

    Yogi duduk menunggu di kamar Rei saat kekasihnya itu sedang menidurkan Bebe. Dia sudah tak sabar, bingung sendiri juga kenapa mendadak jadi selalu ingin menghabiskan waktu di ranjang dengan Rei. Sedikit melihat saja jadi gila sendiri. Lama menunggu dari tadi, Bebe sempat menolah untuk tidur karena masih banyak tugas katanya. Untung Rei berhasil membujuk, putrinya menurut akhirnya dan minta di keloni sementara Rei meminta ia menunggu di kamar. Pintu terbuka, menunjukkan Rei yang tersenyum, lalu mengunci pintu sebelum berjalan mendekat dan duduk di samping Yogi. Dengan lembut membelai wajah Yogi."Lama nunggu ya," katanya. "It's okay," sahut Yogi menggenggam tangan Rei dan mengecupnya kemudian. Rei menatap Yogi, yang kini tengah menatap tangannya sambil mengusap-ngusap perlahan. Yogi merasa diperhatikan, ia lalu mengarahkan pandangan pada Rei. "Kenapa ngeliatin aku kayak gitu?" "Kamu... Disaat bisa memilih Perempuan yang lebih baik—""Kamu yang terbaik," sahut Yogi memotong ucapan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status