MasukDi dalam ruangan, Deff sudah memberitahu Yogi mengenai video yang dia buat bukan hanya video, tetapi dia juga memberitahu foto-foto untuk poster mereka."Semua ini sudah saya perbaiki sesuai dengan permintaan Pak yogi yang terakhir kali. Pemilihan warna dari poster dan juga video juga sudah disesuaikan dengan warna asli dari produk." Deff menjelaskan.Yogi memeriksa semua, video, poster, dan selebaran yang sudah dibuat oleh tim. Dia menganggukan kepalanya karena merasa cukup puas dengan hasil yang sudah jadi. Tak mungkin juga saat ini dia protes, karena waktunya sudah sangat mepet, bahkan tidak bisa lagi mundur karena hari ini adalah launching perdana."Bagus, saya suka. Saya lebih suka warna yang benar-benar real sesuai dengan foto dan pengambilan gambar. Jadi tolong dipastikan lagi, setiap kalian mengerjakan sesuatu sama warnanya harus sesuai dengan aslinya. Mengerti?" Deff menatap ke arah Rei tanpa mengalihkan matanya. Dia seolah tersihir dan terpesona dengan mantan istrinya itu.
Pagi ini Rei terbangun dengan perasaan gelisah, semalam mendapatkan foto dari Milo dan jujur saja itu membuat ia merasa cemburu. Dia jadi merasa tak percaya diri, apalagi ketika melihat Clarissa begitu cantik.Padahal pagi ini dia akan bertemu dengan Yogi, Yogi berniat untuk menjemput karena ada pertemuan yang harus Rei lakukan di perusahaan. Dia harus melihat kembali hasil jadi dari pemotretan yang dilakukannya beberapa waktu yang lalu. Dan juga akan melakukan konferensi pers. "Hari ini kamu ada acara nak?" Ratih bertanya ketika melihat putrinya yang sudah rapi di meja makan."Iya Mi, Hari ini aku mau ke perusahaan. mau lihat hasil yang jadi kemarin terus sorenya mau ada konferensi pers. Tentang launching dari produk terbaru." Rei menjawab. Pagi-pagi tadi putrinya sudah berangkat diantarkan oleh sopir. Kini menyisakan Rei yang harus sarapan, bersama kedua orang tuanya. Bram menatap ke arah Rei. "Aduh, Papi nggak nyangka kalau punya anak yang bakal jadi seleb kayak gini."Rei hanya
Yogi dalam perjalan pulang, hari ini menyenangkan untuknya. Ia mengendarai mobil, masuk ke dalam rumah. Berjalan masuk ke dalwm rumah setelah memarkirkan mobil. Terkejut, karena melihat seseorang yang tengah menunggu. "Clarissa?" Yogi menyapa sambil berjalan mendekat. Gadis itu berdiri kemudian tersenyum menatap ke arah Yogi. "Mas Yogi? Baru pulang ya?""Iya, aku baru aja pulang. Kamu kenapa tumben banget ke sini?" Yogi kini berdiri berhadapan dengan Clarissa. Sejujurnya dia benar-benar bingung mengapa tiba-tiba sekali Clarissa datang ke rumahnya?"Aku mau ngobrol sama Mas Yogi, boleh nggak kita keluar sebentar?" Clarissa meminta izin sambil menatap jam di tangannya. "Ini masih jam 08.00 malam kan? Masih bisa kan keluar sebentar?"Yogi terdiam dan berpikir sejenak. Ini sudah jam delapan malam lebih tiga puluh delapan menit lebih tepatnya. "Emangnya kamu mau ngomong apa?""Aku mau ada rencana bikin skincare gitu, dan aku mau kerjasama sama Mas Yogi. Sama perusahaan kiss Miss."Ini a
Makan malam bersama di rumah Rei. Ada Jun, Indi, kedua orang tua Rei, Strawberry, Rei dan tentu saja juga Yogi. Rei dan Yogi duduk bersebelahan. Keduanya sedikit canggung setelah kejadian tadi. Obrolan terjadi seperti biasa Karena yang lain tidak tahu apa masalah yang terjadi.Hanya Ratih saja yang sejak tadi mencoba menahan senyum. Karena ia tahu apa yang terjadi di antara keduanya sebelum makan malam saat ini.Setelah makan malam Yogi memutuskan untuk pulang. Tentu saja dia harus segera kembali ke rumah karena besok akan bekerja. Lagi pula, hari ini dia benar-benar sembuh. Kondisi tubuhnya menjadi lebih fit, padahal pagi tadi demam tinggi."Kamu mau nganterin aku dulu nggak Mas?" Rei meminta."Sure, kamu mau aku anterin ke mana?*"Mau nganterin ASI aku. Mau ke rumah indah, sekarang kan jaraknya agak lumayan jauh. Kamu tahu kan, aku belum bisa naik kendaraan."Tentu saja Yogi bersedia. "Boleh sayang, kamu kalau mau ke mana-mana kabarin aku aja. Kalaupun aku nggak bisa, aku bisa mint
Deff berjalan keluar mobil menghampiri Kanaya yang berdiri di sebuah rumah menunggu dirinya. Memang sudah berjanji untuk menjemput kekasihnya itu. Raut wajah Deff sedikit tidak bersahabat, karena jujur saja merasa tak nyaman untuk bertemu dengan ayah dari Kanaya.Gadis itu dengan sumringah menyambut Deff. "ayo masuk, Papa dari tadi udah nanyain kamu."Deff hanya menganggukkan kepalanya sambil mengikuti berjalan masuk. Di sana ada seorang pria tua yang duduk di sebuah sofa sambil membaca sebuah majalah bisnis lawas. Ketika masuk Deff mendapat tatapan tak bersahabat. "Selamat siang Om." Deff menyapa tidak mendapat balasan hanya sebuah angkutan kepala. "Pa, ini dia udah datang. Papa tadi katanya mau ngomong sesuatu."Kanaya mengingatkan. Gadis itu duduk di samping sang ayah.Pria tua itu, kemudian meletakkan majalah dan melepas kacamata. "Papa cuman penasaran Sampai kapan kalian mau ada dalam hubungan seperti ini? Bukan seharusnya kalian tuh sudah menikah, kalian pacaran itu sudah lama
"Ohh," desah terdengar dari bibir ketika ia mulai merasakan sensasi merambat akibat perlakuan Yogi pada tubuhnya.Pria itu semakin gila, membuat ruangan yang tadinya dingin seketika saja menjadi panas dan meriah akibat perbuatannya. Keduanya rebah, bahkan tak ada satu helai lagi yang menempel di tubuh mereka.Deru nafas memenuhi ruangan, tidak beraturan. Bergerak seiring dengan detak jantung yang semakin cepat membawa hasrat menggebu dan sensual. Keduanya terdiam saat mata mereka bertaut, kerongkongan Rei seketika saja mengering. Jujur, dia butuh disentuh, hasratnya menuntut kegiatan yang jelas lama tak ia dapatkan. Meskipun kala itu memang melakukan dengan Yogi, keduanya dalam keadaan mabuk sehingga tak bisa saling menikmati."M-mas." Kelu, itu yang dirasakan lidah Rei saat ini. Sementara Yogi terpaku menatap tubuh di hadapannya, buat ia telan saliva. Menginginkan dengan menggebu, terutama bagian manis kesukaannya. Ingin ia habis sendiri kanan dan kiri. Yogi tak berkata-kata selain
Om Yogi!Om Yogi!Om Yogi!Ya ampun suara siapa sih ini? pagi-pagi gini teriak-teriak? Kayak suaranya Rama sama Ryan. Yogi membatin dalam hatinya. Ini masih terlalu pagi untuk dia membuka mata dan bangun. Sementara suara bising di kamar itu mengganggu tidurnya malam ini. Tiba-tiba saja dia membuka
"Tante," kata Yogi. "Halo?" Sapa Bebe. Tak ada jawaban dari balik telepon sampai kemudian strawberry mencoba memanggil sekali lagi. "Halo?""Halo siapa ini?" tanya Yura."Ini Bebe," jawab Bebe. "Bebe?" Dapat pertanyaan seperti itu Bebe menganggukkan kepalanya tanpa jawaban."Ini siapanya Yogi ya
Yogi dalam perjalanan ke kantor setelah mengantar Rei kembali ke rumah. Sambil memasukkan satu tangan ke dalam kantong celana, ia berjalan di lorong. Sesekali menganggukkan kepalanya untuk membalas apaan dari karyawan. Yogi memang cukup ramah, meskipun menjawab dengan tanpa senyuman.Perusahaan mak
Yogi tiba di depan pagar sekolah Bebe, pria itu berdiri di depan mobil sambil menunggu. Hal itu menyebabkan banyak yang memerhatikannya. Wajah yang tampan, tatapan yang tajam dan dingin, pakaian yang dikenakan. Menjadi daya tarik.Sementara Bebe kini baru saja ke luar dari kelas. Hari ini pulang se







