Share

Malam Tahun Baru yang Liar di Kapal Pesiar
Malam Tahun Baru yang Liar di Kapal Pesiar
Author: Star Harvest

Bab 1

Author: Star Harvest
"Sayang, tenagamu sudah pulih? Bagus deh! Aku masih mau sekali lagi ...."

Melihat pintu yang tak terkunci didorong terbuka, kupikir suamiku yang tadi ketakutan karena ulahku akhirnya kembali untuk meniduriku lagi.

Aku segera turun dari tempat tidur, wajahku merona merah karena gairah yang sudah tak tertahankan, lalu aku berhambur ke arahnya.

Melihat sosok suami yang berdiri diam membisu di balik kegelapan pintu, aku memejamkan mata, dan memeluknya erat untuk memancing gairahnya.

"Sayang, kamu harus mengerti aku. Kamu itu pelaut, jarang-jarang bisa pulang liburan Tahun Baru bersamaku. Aku memang suka melakukan itu, jadi wajar saja kalau aku minta lebih sering. Jangan takut, kalau nanti kamu merasa nggak sanggup lagi, kamu bisa minum obat ...."

Wajahku terasa panas. Aku sadar kata-kataku ini sangat tidak tahu malu, tetapi saat ini, seluruh tubuhku terasa membara dan gatal yang luar biasa. Aku tidak peduli lagi pada harga diri.

Selama Riko melaut, entah sudah berapa banyak malam kulewati dalam kesepian. Sekarang dia sudah kembali, tentu saja aku ingin dia memuaskanku sepuas mungkin.

Sebenarnya Riko juga ingin menemaniku. Dia memanfaatkan liburannya untuk membawaku bersantai di atas kapal pesiar romantis khusus edisi Tahun Baru ini.

Namun, setelah aku "minta" beberapa kali, dia malah ketakutan. Tadi dia bahkan buru-buru berpakaian dan pergi keluar. Untunglah dia cepat kembali.

Mendengar ucapanku, suamiku tidak menjawab. Namun, tangannya mulai bergerak. Seperti seorang perjaka yang amatir, tangan besarnya gemetar saat mulai meraba dan menjelajahi tubuhku.

Sentuhan yang terasa kikuk tapi seolah sedang mencari rahasia di balik lekuk tubuhku itu, membuat kulit kepalaku kesemutan sekaligus sangat bergairah.

Rasa gatal di sekujur tubuh menyerang lagi. Aku memutar tubuhku. Aku tahu suamiku suka meraba bagian belakangku. Jadi aku dengan liar menyodorkan bokongku ke arahnya untuk menyambut sentuhannya, bahkan hingga mendesah kenikmatan.

Desahan itu memicu gairahnya. Riko memelukku dengan kuat.

Saat itulah aku menyadari ada yang tidak beres. Setelah tubuh kami menempel rapat, aku tahu persis kelamin Riko. Biarpun dia sedang bersemangat, kelaminnya tetap saja seperti "tombak perak berujung lilin", kecil dan lemah.

Sedangkan pria ini ... sangat berbeda. Tubuhnya begitu perkasa, hingga membuatku gemetar hebat.

"Ckck Kak, bagian belakangmu berisi sekali. Rasanya nyaman sekali dipegang. Kamu sengaja menggoyangkannya supaya bergesekan denganku, ya? Kak, kamu lagi kepengin banget, ‘kan?"

Pria di belakangku ini tidak hanya gagah, tapi suaranya jauh lebih muda daripada Riko.

Mendengar suaranya, raut wajahku berubah drastis. Dia bukan suamiku! Dia adalah tetangga kamar sebelah, seorang mahasiswa bernama Toni yang baru beberapa kali kutemui.

Aku dan Riko terus mengurung diri di kamar pesiar dan jarang keluar.

Aku mengenal Toni karena tiket kapal pesiar yang didapat Riko adalah tiket tunjangan perusahaan yang letak kamarnya berurutan.

Toni adalah adik dari rekan kerja Riko, yang juga ikut dalam perjalanan romantis Tahun Baru ini.

"Toni ... cepat lepaskan aku. Kupikir Riko sudah kembali. Aku nggak tahu kalau itu kamu, kalau tahu, aku nggak akan begini."

Setelah menyadari itu adalah Toni, wajahku memerah padam. Aku merasa sangat malu dan berusaha melepaskan diri.

Namun, kedua tangan Toni memelukku terlalu erat. Dia bahkan meremas bagian sensitif di belakangku dengan kuat.

Kulit kepalaku terasa kesemutan, tubuhku lemas tak bertenaga, nyaris tak sanggup berdiri.

Toni memelukku semakin erat.

Karena tubuh perkasa Toni menempel begitu rapat, wajahku semakin memerah dan suhu tubuhku semakin panas.

"Kak, aku tahu kamu salah orang. Tapi memangnya kenapa? Aku lihat sendiri Kak Riko pergi tadi. Lihat betapa panasnya tubuhmu, kamu pasti kesepian sekali. Karena Kak Riko nggak ada, lebih baik biar aku saja yang membantumu."

Toni tidak melepaskanku. Sambil memelukku, dia menyandarkan dagunya di bahuku.

Pipinya menempel di pipiku. Wajahku terasa terbakar, dan sentuhannya membuatku merasa seolah akan meledak!

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Malam Tahun Baru yang Liar di Kapal Pesiar   Bab 9

    Melihat pemandangan itu, mata Riko memerah. Dia berteriak histeris ingin melawan, tetapi salah satu dari mereka segera menyumpal mulutnya dengan kain. Riko menatapku dengan sorot mata yang penuh keputusasaan.Saat itulah aku menyadari sesuatu. Video yang ditunjukkan Toni tadi terasa ganjil. Wajah Riko di video itu tampak sangat merah merona. Jangan-jangan, itu adalah igauan Riko saat dia sedang mabuk berat?Belum sempat aku berpikir lebih jauh, Toni sudah menempel rapat di belakangku. Ini adalah kejahatan! Ini adalah tindak kriminal!...Dua jam kemudian, pria-pria itu tampak puas. Mereka duduk di sudut ruangan sambil merokok dan bermain kartu. Ruangan menjadi pengap oleh asap rokok. Aku gemetar hebat di atas tempat tidur, menatap mereka dengan gigi gemeletuk, ingin melakukan sesuatu untuk membalas dendam.Namun, Riko memberi isyarat padaku dengan menggelengkan kepalanya dengan cemas. Dia tidak ingin aku melakukan hal bodoh yang membahayakan nyawaku. Aku menggigit bibir, setetes

  • Malam Tahun Baru yang Liar di Kapal Pesiar   Bab 8

    "Ckck, nggak salah lagi, istri Riko memang sangat putih. Tubuh berlekuk ini benar-benar menggoda. Toni, bagaimana rasanya tadi? Enak, nggak?" "Sekarang giliran kami. Cantik, suamimu itu memang bukan manusia. Dia berutang banyak pada kami di meja judi, jadi sekarang saatnya kami menagih bunganya.""Kudengar kamu ini sangat liar dan gairahmu nggak pernah terpuaskan. Hari ini ada kami di sini, dijamin kamu akan merasa 'kenyang' sekenyang-kenyangnya!"Sambil melontarkan kata-kata kotor itu, tangan-tangan mereka mulai menjamahku. Tangan-tangan besar yang panas itu kini hinggap di sekujur tubuhku. Aku berada dalam kondisi nyaris tanpa busana, menghadapi tatapan liar pria-pria yang haus seperti serigala."Kalian, apa yang kalian lakukan? Cepat pergi, atau aku akan lapor polisi! Aku akan lapor polisi!" teriakku histeris, berusaha melepaskan diri dan menakut-nakuti mereka."Haha, lapor polisi? Lebih baik simpan tenagamu. Tadi kamu melakukannya dengan Toni atas dasar suka sama suka, ‘kan? Lag

  • Malam Tahun Baru yang Liar di Kapal Pesiar   Bab 7

    Aku sempat mengira Toni akan segera meledak dalam nafsu, menghempaskanku ke tempat tidur, dan merobek pakaianku untuk menyatukan tubuh lembutku dengan tubuhnya yang keras. Namun, di luar dugaan, dia justru mulai menjelaskan sesuatu.Saat aku masih dalam kebingungan, Toni menunjukkan layar ponselnya tepat di depan mataku. Di sana terlihat rekaman video sebuah ruangan tempat orang-orang sedang bermain kartu. Di dalam video itu, suamiku tampak baru saja kalah, wajahnya penuh kegundahan.Dia membanting kartu di tangannya ke lantai dengan kasar."Sudah! Aku nggak mau main lagi!""Enak saja mau pergi! Mana ada urusan semudah itu? Paling nggak, bayar dulu uang saat kamu kalah itu!" sahut orang-orang dalam video yang mulai mengeroyok suamiku dengan teriakan. Sepertinya, suamiku berutang lagi.Mengingat suamiku yang berkali-kali kembali ke kamar, bahkan sampai membangunkanku demi meminta transfer uang jutaan, jantungku seakan meledak. Toni menggelengkan kepalanya pelan."Kak, semua ini kare

  • Malam Tahun Baru yang Liar di Kapal Pesiar   Bab 6

    Riko pergi dengan terburu-buru. Pintu tertutup dengan suara dentuman keras.Tepat saat aku merasa tidak akan bisa lolos kali ini dan akan semakin terperosok ke dalam lembah dosa, Toni keluar dari lemari. Namun, dia tidak langsung menerjangku. Dia malah mengerutkan kening sambil menggertakkan gigi."Kak, perutku tiba-tiba sakit sekali. Aku ke kamar mandi sebentar, tunggu aku di sini dan jangan coba-coba pergi. Kak, aku sudah menargetkanmu, aku harus benar-benar masuk! Hehe."Dia terkekeh, meski keningnya makin berkerut menahan sakit. Melihatnya masuk ke kamar mandi, aku tahu ini adalah kesempatan emas untuk kabur dari Toni. Aku segera melompat dari tempat tidur, menanggalkan gaun tidurku, berganti pakaian biasa, dan langsung melesat keluar.Ini kesempatan langka. Setelah logikaku kembali, aku sadar tidak boleh melakukan hal yang mengkhianati suamiku.Setelah menutup pintu kamar, aku baru bisa bernapas lega. Aku berjalan menyusuri koridor kapal pesiar itu selangkah demi selangkah.

  • Malam Tahun Baru yang Liar di Kapal Pesiar   Bab 5

    Namun, aku tidak bisa berpikir terlalu jauh karena di koridor sana, selain terjadi keributan, orang-orang itu mulai menyeret Riko. "Sudahlah Riko, kita semua sudah saling tahu. Mau main-main apa lagi? Kurang berapa, tinggal bayar saja. Kamu nggak mau minta uang pada istrimu, apa ini tandanya kamu memang sengaja nggak mau bayar?"Mendengar hal itu, Riko mendengus marah. "Pendi si Muka Bopeng! Kalau kamu berani bicara kotor lagi soal istriku, aku nggak akan melepaskanmu!""Oke. Biarkan aku masuk sendiri, kalian tunggu di pintu. Aku ini rekan kerja kalian, mau lari ke mana memangnya?"Orang-orang itu tidak berkata apa-apa lagi.Saat Riko berbicara, Toni yang tadi kudorong, segera mengubah ekspresinya menjadi manis dan menatapku."Kak, tenang saja. Aku sudah bilang, aku cuma mau memuaskan kesepianmu. Aku nggak akan mengganggu rumah tanggamu. Sekarang aku akan sembunyi."Dia berkata sambil tersenyum nakal, matanya memandangi lekuk tubuhku yang menonjol. Dia sempat meraba dan bergesekan di

  • Malam Tahun Baru yang Liar di Kapal Pesiar   Bab 4

    Dia memang bilang hanya ingin bergesek-gesek tanpa masuk, tetapi aku bisa merasakan begitu tubuh Toni menempel, dia langsung melancarkan aksinya. Dia seperti pria yang sudah lama menahan dahaga, mustahil baginya untuk menahan diri.Benar saja, tenaganya sangat besar. Seolah-olah dia ingin meremukkan dan menyatukan seluruh tubuhku ke dalam pelukannya."Ka-kamu sedang apa? Toni, bukannya kamu bilang ... kamu nggak akan melakukan hal itu padaku? Kamu bilang hanya ingin bergesek-gesek saja, ‘kan?"Aku sendiri tidak tahu, apakah dalam hatiku ini benar-benar ada gairah yang mendamba atau justru rasa takut. Namun, rangsangan itu nyata adanya. Saat mengucapkan kata-kata itu, tubuhku malah meliuk-liuk gelisah. Seolah-olah aku pun tidak ingin Toni hanya berhenti pada tahap "bergesekan" saja.Mendengar ucapanku, Toni menahanku dan membantah."Kak, sungguh, aku serius. Aku cuma mau gesek-gesek saja, nggak akan kumasukkan.""Kamu ... kamu bohong. Apa yang sedang kamu lakukan sekarang?"Jelas sek

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status