LOGIN
Melihat pemandangan itu, mata Riko memerah. Dia berteriak histeris ingin melawan, tetapi salah satu dari mereka segera menyumpal mulutnya dengan kain. Riko menatapku dengan sorot mata yang penuh keputusasaan.Saat itulah aku menyadari sesuatu. Video yang ditunjukkan Toni tadi terasa ganjil. Wajah Riko di video itu tampak sangat merah merona. Jangan-jangan, itu adalah igauan Riko saat dia sedang mabuk berat?Belum sempat aku berpikir lebih jauh, Toni sudah menempel rapat di belakangku. Ini adalah kejahatan! Ini adalah tindak kriminal!...Dua jam kemudian, pria-pria itu tampak puas. Mereka duduk di sudut ruangan sambil merokok dan bermain kartu. Ruangan menjadi pengap oleh asap rokok. Aku gemetar hebat di atas tempat tidur, menatap mereka dengan gigi gemeletuk, ingin melakukan sesuatu untuk membalas dendam.Namun, Riko memberi isyarat padaku dengan menggelengkan kepalanya dengan cemas. Dia tidak ingin aku melakukan hal bodoh yang membahayakan nyawaku. Aku menggigit bibir, setetes
"Ckck, nggak salah lagi, istri Riko memang sangat putih. Tubuh berlekuk ini benar-benar menggoda. Toni, bagaimana rasanya tadi? Enak, nggak?" "Sekarang giliran kami. Cantik, suamimu itu memang bukan manusia. Dia berutang banyak pada kami di meja judi, jadi sekarang saatnya kami menagih bunganya.""Kudengar kamu ini sangat liar dan gairahmu nggak pernah terpuaskan. Hari ini ada kami di sini, dijamin kamu akan merasa 'kenyang' sekenyang-kenyangnya!"Sambil melontarkan kata-kata kotor itu, tangan-tangan mereka mulai menjamahku. Tangan-tangan besar yang panas itu kini hinggap di sekujur tubuhku. Aku berada dalam kondisi nyaris tanpa busana, menghadapi tatapan liar pria-pria yang haus seperti serigala."Kalian, apa yang kalian lakukan? Cepat pergi, atau aku akan lapor polisi! Aku akan lapor polisi!" teriakku histeris, berusaha melepaskan diri dan menakut-nakuti mereka."Haha, lapor polisi? Lebih baik simpan tenagamu. Tadi kamu melakukannya dengan Toni atas dasar suka sama suka, ‘kan? Lag
Aku sempat mengira Toni akan segera meledak dalam nafsu, menghempaskanku ke tempat tidur, dan merobek pakaianku untuk menyatukan tubuh lembutku dengan tubuhnya yang keras. Namun, di luar dugaan, dia justru mulai menjelaskan sesuatu.Saat aku masih dalam kebingungan, Toni menunjukkan layar ponselnya tepat di depan mataku. Di sana terlihat rekaman video sebuah ruangan tempat orang-orang sedang bermain kartu. Di dalam video itu, suamiku tampak baru saja kalah, wajahnya penuh kegundahan.Dia membanting kartu di tangannya ke lantai dengan kasar."Sudah! Aku nggak mau main lagi!""Enak saja mau pergi! Mana ada urusan semudah itu? Paling nggak, bayar dulu uang saat kamu kalah itu!" sahut orang-orang dalam video yang mulai mengeroyok suamiku dengan teriakan. Sepertinya, suamiku berutang lagi.Mengingat suamiku yang berkali-kali kembali ke kamar, bahkan sampai membangunkanku demi meminta transfer uang jutaan, jantungku seakan meledak. Toni menggelengkan kepalanya pelan."Kak, semua ini kare
Riko pergi dengan terburu-buru. Pintu tertutup dengan suara dentuman keras.Tepat saat aku merasa tidak akan bisa lolos kali ini dan akan semakin terperosok ke dalam lembah dosa, Toni keluar dari lemari. Namun, dia tidak langsung menerjangku. Dia malah mengerutkan kening sambil menggertakkan gigi."Kak, perutku tiba-tiba sakit sekali. Aku ke kamar mandi sebentar, tunggu aku di sini dan jangan coba-coba pergi. Kak, aku sudah menargetkanmu, aku harus benar-benar masuk! Hehe."Dia terkekeh, meski keningnya makin berkerut menahan sakit. Melihatnya masuk ke kamar mandi, aku tahu ini adalah kesempatan emas untuk kabur dari Toni. Aku segera melompat dari tempat tidur, menanggalkan gaun tidurku, berganti pakaian biasa, dan langsung melesat keluar.Ini kesempatan langka. Setelah logikaku kembali, aku sadar tidak boleh melakukan hal yang mengkhianati suamiku.Setelah menutup pintu kamar, aku baru bisa bernapas lega. Aku berjalan menyusuri koridor kapal pesiar itu selangkah demi selangkah.
Namun, aku tidak bisa berpikir terlalu jauh karena di koridor sana, selain terjadi keributan, orang-orang itu mulai menyeret Riko. "Sudahlah Riko, kita semua sudah saling tahu. Mau main-main apa lagi? Kurang berapa, tinggal bayar saja. Kamu nggak mau minta uang pada istrimu, apa ini tandanya kamu memang sengaja nggak mau bayar?"Mendengar hal itu, Riko mendengus marah. "Pendi si Muka Bopeng! Kalau kamu berani bicara kotor lagi soal istriku, aku nggak akan melepaskanmu!""Oke. Biarkan aku masuk sendiri, kalian tunggu di pintu. Aku ini rekan kerja kalian, mau lari ke mana memangnya?"Orang-orang itu tidak berkata apa-apa lagi.Saat Riko berbicara, Toni yang tadi kudorong, segera mengubah ekspresinya menjadi manis dan menatapku."Kak, tenang saja. Aku sudah bilang, aku cuma mau memuaskan kesepianmu. Aku nggak akan mengganggu rumah tanggamu. Sekarang aku akan sembunyi."Dia berkata sambil tersenyum nakal, matanya memandangi lekuk tubuhku yang menonjol. Dia sempat meraba dan bergesekan di
Dia memang bilang hanya ingin bergesek-gesek tanpa masuk, tetapi aku bisa merasakan begitu tubuh Toni menempel, dia langsung melancarkan aksinya. Dia seperti pria yang sudah lama menahan dahaga, mustahil baginya untuk menahan diri.Benar saja, tenaganya sangat besar. Seolah-olah dia ingin meremukkan dan menyatukan seluruh tubuhku ke dalam pelukannya."Ka-kamu sedang apa? Toni, bukannya kamu bilang ... kamu nggak akan melakukan hal itu padaku? Kamu bilang hanya ingin bergesek-gesek saja, ‘kan?"Aku sendiri tidak tahu, apakah dalam hatiku ini benar-benar ada gairah yang mendamba atau justru rasa takut. Namun, rangsangan itu nyata adanya. Saat mengucapkan kata-kata itu, tubuhku malah meliuk-liuk gelisah. Seolah-olah aku pun tidak ingin Toni hanya berhenti pada tahap "bergesekan" saja.Mendengar ucapanku, Toni menahanku dan membantah."Kak, sungguh, aku serius. Aku cuma mau gesek-gesek saja, nggak akan kumasukkan.""Kamu ... kamu bohong. Apa yang sedang kamu lakukan sekarang?"Jelas sek







