Compartir

Bab 4: Jamuan yang Janggal

Autor: Denami
last update Fecha de publicación: 2026-07-11 18:29:10

Mobil hitam mewah itu melaju membelah jalanan, meninggalkan pusat kota yang bising dengan pergerakan yang teramat tenang. Meilin yang perlahan tersadar dari lamunan masa lalunya, mulai mengedarkan pandangan ke sekeliling kabin mobil. Ibunya duduk di kursi penumpang belakang, bersebelahan dengan nenek tua itu. Sementara itu, asisten sang Nenek fokus memegang kemudi di depan, tepat di samping Meilin yang duduk diam di kursi penumpang baris pertama.

Merasa arah jalan ini sudah melenceng jauh dari kantin rumah sakit, Meilin perlahan menoleh ke belakang dengan raut bingung. “Ibu… sebenarnya kita mau ke mana?”

Ibunya tidak langsung menjawab. Nenek tua itu hanya duduk tegap dengan keanggunan yang kaku, membiarkan keheningan menguasai kabin mobil selama beberapa saat, sebelum akhirnya nenek tua yang sejak tadi mengamatinya diam-diam membuka suara.

Nenek itu tampak begitu sepuh dan rapuh. Namun, entah kenapa, aura otoritas yang dipancarkannya justru membuat Meilin mendadak gugup. Tatapan matanya yang dilapisi kerutan usia itu terasa begitu tajam, penuh wibawa, dan seolah-olah sanggup menguliti isi kepala orang lain dalam sekali lihat.

“Dokter Gu sering bercerita banyak tentangmu,” ucap nenek tua itu tiba-tiba. Sepasang bibirnya menyunggingkan senyum tipis yang sarat arti. “Kau suka membaca, Meilin?”

Meilin sedikit terkejut karena namanya tiba-tiba disebut oleh sosok asing terpandang ini. “Ah, iya. Lumayan, Nyonya.”

“Genre favoritmu apa?”

“Psikologi dan novel romansa,” jawab Meilin jujur, meremas jemarinya di atas pangkuan.

Nenek itu mengangguk pelan, menggumamkan suara persetujuan yang terdengar misterius di telinga Meilin.

Setelah pertanyaan pembuka itu, rentetan interogasi mulai berdatangan satu demi satu bagai senapan mesin. Mulai dari makanan favorit, hobi, kebiasaan sehari-hari, hingga pandangan hidup Meilin tentang masa depan. Awalnya, Meilin menjawab dengan santai dan sesopan mungkin. Namun lama-kelamaan, instingnya sebagai seorang psikolog mulai berbisik gelisah. Ia tidak sedang melakukan obrolan santai, melainkan sedang diwawancarai secara sepihak. Dan yang lebih aneh, ibunya hanya diam seribu bahasa, membiarkan interogasi terselubung itu terjadi.

Mobil akhirnya berhenti di depan sebuah restoran tradisional yang sangat eksklusif. Bangunannya mengusung arsitektur klasik yang megah, dikelilingi halaman taman luas dan kolam ikan koi yang indah. Begitu mereka turun, beberapa pelayan berseragam rapi langsung membungkuk hormat penuh takzim, menuntun mereka menuju ruangan privat di bagian paling dalam restoran.

Suasana di dalam ruangan VVIP itu terlampau tenang, menyisakan suara gemericik air dari kolam di luar jendela besar yang justru membuat atmosfer terasa semakin janggal bagi Meilin.

“Panggil saya Nenek saja,” ucap wanita tua itu memecah kecanggungan begitu mereka duduk mengelilingi meja makan kayu jati yang besar.

Meilin tertegun. Di dalam benaknya, ingatan tentang sang ayah langsung berputar. Ayah Meilin adalah kepala firma hukum utama yang mengurus seluruh legalitas perusahaan raksasa milik keluarga wanita tua ini. Meilin tahu siapa Nenek ini—dia adalah komisaris utama pemegang kendali takhta tertinggi korporasi raksasa tersebut. Namun, Meilin tidak menyangka bahwa hubungan kemitraan ayah mereka sedekat itu hingga sang Komisaris memintanya memanggil dengan sebutan seakrab 'Nenek'.

Meilin hanya bisa tersenyum sopan walau isi kepalanya dipenuhi tanda tanya besar. Di seberang meja, sang Ibu menunjukkan binar kepuasan yang tidak bisa disembunyikan melihat kedekatan Meilin dan sang Nenek.

"Meilin, pilihlah beberapa menu makanan yang kamu sukai," kata Nenek dengan ramah sembari menyodorkan buku menu bersampul kulit beludru.

"Saya pesan tumis daging lada hitam, sup tahu, dan sup ayam," ucap Meilin pada pelayan restoran yang berdiri sigap di sampingnya. Setelah Nenek dan ibunya ikut menyampaikan hidangan yang mereka inginkan, pelayan tersebut dengan cekatan menyiapkan tiga set peralatan makan di atas meja.

Namun tepat sebelum pelayan itu mundur, Nenek memberikan instruksi tambahan yang seketika membuat tubuh Meilin menegang.

"Tambahkan dua set peralatan makan lagi ke atas meja."

"Baik, Nyonya," jawab pramusaji itu patuh lalu membungkuk pergi.

Meilin menatap jam tangannya dengan gelisah yang kian memuncak. Instruksi barusan menjelaskan satu hal: jamuan makan siang ini akan membutuhkan waktu yang jauh lebih lama karena akan ada dua orang asing lagi yang hadir bergabung dengan mereka. Padahal, dua jam lagi ia sudah memiliki janji krusial dengan stasiun TV nasional untuk pengambilan rekaman acara “Sharing dengan Psikolog Kita”, di mana kali ini Meilin yang dipercaya menjadi narasumber utama.

"Meilin, apakah kamu sudah mempunyai kekasih?" tanya Nenek tiba-tiba, suaranya yang tenang seketika membuyarkan seluruh kalkulasi waktu di lamunan Meilin.

Meilin tersentak, wajahnya mendadak merona tipis. Ia tersenyum canggung sebelum menjawab dengan suara pelan yang malu-malu, "Belum, Nenek."

"Semoga sebentar lagi kamu akan bertemu jodoh yang paling sesuai untukmu," sahut Nenek, matanya berkilat penuh teka-teki.

"Semoga," jawab Meilin lirih. Doa itu terucap teramat tulus dari dalam lubuk hatinya.

"Memangnya, bagaimana kriteria pria idamanmu?" desak Nenek lagi, menopang dagunya tertarik.

Meilin tidak segera menjawab. Pikirannya secara otomatis langsung jatuh pada sosok hangat berjas dokter putih yang tadi siang menemaninya di koridor rumah sakit. Lu Yichen.

"Seseorang yang dewasa, bertanggung jawab, dan mandiri," jawab Meilin pelan, mendeskripsikan seluruh sifat Yichen yang selama ini ia puja dalam diam.

"Aku sangat senang mendengarnya," sahut Nenek dengan nada puas yang terasa janggal. Meilin tidak memahami maksud di balik kelegaan suara wanita tua itu, sehingga ia hanya bisa membalasnya dengan senyuman tipis yang kikuk.

Sampai akhirnya, Nenek melontarkan satu pertanyaan pamungkas yang menghancurkan seluruh pertahanan ketenangannya.

"Apakah... saat ini sudah ada pria yang kamu sukai, Meilin?"

Uhuk!

Meilin langsung tersedak air liurnya sendiri mendengar pertanyaan yang terlampau tepat sasaran tersebut. Wajahnya memerah padam seketika. Dengan panik, ia refleks menggelengkan kepalanya dengan cepat untuk menyangkal, sembari berusaha keras meredam batuk akibat efek tersedak yang menyiksa dadanya. Di tengah kepanikannya, pintu geser ruangan privat itu perlahan terbuka dari luar, bersiap menampilkan dua sosok yang telah dinanti.

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Malam Tak Terduga dengan Boss Dingin   Bab 59 : Retakan Komitmen

    Lorong berkarpet tebal di lantai teratas hotel mewah itu mendadak kehilangan suhunya secara drastis, menyisakan hawa dingin yang menusuk tulang. Lee Hanzhen berdiri mematung dengan tatapan mata elang yang menggelap sempurna, memancarkan kilat berbahaya. Kalimat yang baru saja meluncur dari bibir Yiran terasa laksana sebuah hantaman palu godam yang menghancurkan telak seluruh harga diri, ego, dan martabat tingginya sebagai seorang pria terhormat.“Meilin... dialah orang pertama yang menceritakan bahwa pernikahan kalian hanyalah selembar kertas kontrak bisnis yang dingin.”Kata-kata provokasi itu terus bergaung bising di dalam kepala Hanzhen, membakar habis seluruh sisa kehangatan dan kedamaian yang sempat singgah di dadanya sejak pagi tadi. Ingatan manis tentang bagaimana Meilin menyiapkan tas baju dinasnya dengan perhatian, kecupan hangat penuh kerinduan yang ia tinggalkan di kening istrinya sebelum berangkat, hingga melodi piano romantis malam lalu—semuanya mendadak terasa laksana

  • Malam Tak Terduga dengan Boss Dingin   Bab 58 : Langkah di Luar Rencana

    Matahari sudah tenggelam sepenuhnya di ufuk barat ketika Hanzhen melangkah keluar dari ruang konferensi hotel bintang lima di Kota Timur. Perjalanan dinas dua hari ini benar-benar telah menguras seluruh sisa energi di dalam tubuhnya. Meskipun rapat koordinasi dengan para investor lokal berjalan sangat mulus tanpa kendala, denyut halus yang berulang di pelipisnya menandakan bahwa kondisi fisiknya belum pulih benar dari serangan vertigo yang menyiksa tempo hari.Pria tegap itu berjalan dengan tenang namun berwibawa menyusuri lorong panjang berkarpet tebal menuju lift khusus, diikuti oleh Chen yang sibuk mencatat beberapa poin penting hasil rapat di layar tabletnya."Pak Lee,” panggil Chen dengan suara pelan setelah mereka berdua masuk ke dalam lift pribadi yang kedap suara. “Seluruh agenda penting untuk hari ini sudah selesai dengan baik. Jadwal Anda berikutnya adalah makan malam semi-formal dengan kepala dinas pariwisata nanti malam. Setelah ini, Anda bisa langsung beristirahat di pen

  • Malam Tak Terduga dengan Boss Dingin   Bab 57 : Topeng yang Retak

    Langkah kaki Meilin terdengar mantap namun terasa sangat berat saat memasuki area lobi anak perusahaan Tianyu Enterprise Group bagian resort pagi itu. Di sinilah Yiran sekarang ditempatkan dan diasingkan setelah dimutasi secara sepihak oleh Hanzhen beberapa waktu lalu. Meilin sengaja tidak menghubungi wanita itu terlebih dahulu; ia sengaja datang tanpa peringatan tertulis karena tidak ingin memberikan celah atau waktu sepeser pun bagi Yiran untuk menyusun skenario kebohongan yang baru.Begitu pintu kaca ruang kerja divisi pemasaran dibuka perlahan, tatapan mata Meilin langsung bergerak cepat mengunci sosok Yiran yang sedang sibuk memeriksa beberapa berkas laporan di atas mejanya. Sadar ada seseorang yang berdiri mematung di ambang pintu masuk, Yiran mendongakkan kepalanya. Detik ketika sepasang matanya menangkap wajah Meilin, ekspresi terkejut yang nyata sempat melintas sekilas di wajahnya sebelum dengan sangat cepat digantikan oleh ulas senyuman manis artifisial yang biasa ia gunak

  • Malam Tak Terduga dengan Boss Dingin   Bab 56 : Serpihan Masa Lalu

    Kata-kata Junhao malam itu laksana hantaman badai yang memporak-porandakan seluruh ketenangan di dalam dada Meilin. Yiran. Nama sahabat yang paling ia percayai sejak masa kuliah, sosok yang dulunya selalu berbagi tawa dan rahasia dengannya, kini menjelma menjadi sosok asing yang mengerikan di dalam benaknya. Kenyataan pahit ini mencabik-cabik sudut hatinya yang terdalam.Malam semakin larut ketika Meilin memutuskan untuk merebahkan diri di atas ranjang kamar tidurnya. Suasana kamar yang familier dengan aroma kayu pinus yang meneduhkan ini biasanya selalu berhasil membuatnya tertidur lelap dalam hitungan menit. Namun malam ini, sepasang matanya enggan terpejam sedikit pun. Pikirannya melayang jauh menembus kegelapan malam, menarik paksa ingatan Meilin pada beberapa hari yang lalu-hari di mana badai kecemburuan Hanzhen pertama kali pecah berkeping-keping.Malam ini, suaminya tidak pulang, namun ia pun gelisah, sehingga ia memutuskan untuk menghunginya."Hallo" kata suara Hanzhen di seb

  • Malam Tak Terduga dengan Boss Dingin   Bab 55 : Peringatan di Meja Makan

    Meilin tiba di depan rumah kediaman keluarganya yang asri tepat ketika semburat langit senja mulai berubah gelap keunguan. Di tangan kanannya, ia mencengkeram erat sebuah kotak kue tart kecil dengan hiasan lapisan cokelat Belgia yang sederhana, sementara tangan kirinya membawa sebuah kotak hadiah jam tangan mewah yang sudah ia pilih khusus untuk sang kakak.Begitu daun pintu rumah kayu itu terbuka, aroma harum masakan rumahan yang sangat akrab langsung menyergap hangat indra penciumannya. Aroma bumbu dapur buatan sang ibu yang selalu berhasil membuat hati Meilin yang belakangan ini dipenuhi kecemasan mendadak terasa begitu damai dan tenang. Belum sempat ia melangkah masuk lebih jauh menembus ruang tamu, suara bariton Yuwen sudah terdengar menggelegar riang dari arah ruang tengah. “Wah, adik perempuan tersayangku akhirnya datang juga!”Pria tegap itu langsung berjalan mendekat dengan ulasan senyum lebar khasnya yang menjengkelkan namun dirindukan. Tatapan matanya langsung tertuju luru

  • Malam Tak Terduga dengan Boss Dingin   Bab 54 : Aroma Rumah

    Kelopak mata Meilin bergerak gelisah sebelum akhirnya perlahan terbuka. Hal pertama yang tertangkap oleh indra penglihatannya adalah pendar samar cahaya matahari pagi yang menyusup malu-malu melalui celah tirai kamar utama yang megah.Namun, kesadarannya tidak pulih dengan instan. Selama beberapa detik, otak Meilin mendadak kosong, mencoba mencerna di mana ia berada. Ketika rasa hangat yang teramat asing menyergap permukaan kulitnya, Meilin tersentak kecil di dalam hati. Ia tersadar, sebuah lengan kekar yang kokoh sedang melingkar posesif di sekeliling pinggangnya, sementara embusan napas yang teratur terasa begitu dekat menyapu tengkuknya. Hanzhen masih memeluknya erat dari belakang.Seketika itu juga, pasokan udara di paru-parunya seolah tersendat. Ingatan tentang melodi piano semalam, ciuman impulsif yang ia mulai sendiri di ruang tengah, hingga bagaimana Hanzhen menggendongnya menaiki tangga mendadak berputar laksana rol film di kepalanya. Pipi Meilin instan memanas, rona merah me

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status