แชร์

Bab 3: Rasa Kalah Sebelum Bertanding

ผู้เขียน: Denami
last update วันที่เผยแพร่: 2026-06-12 17:04:42

Awalnya, Meilin mengira interogasi dingin dari ibunya hanya akan berlangsung di kantin rumah sakit yang bising dan penuh sesak. Namun, dugaan itu meleset. Langkah kaki sang ibu yang tegap justru membawanya terus berjalan melewati koridor utama menuju lobi.

Meilin menatap beberapa mobil yang baru menurunkan pasien dan keluarganya. Terlihat nenek tua dan ibunya masih berbincang dalam menjelaskan beberapa pantangan makanan yang tidak boleh dikonsumsi nenek itu sebagai pasien.

Diabaikan begitu saja, pikiran Meilin perlahan melayang. Suasana senyap ini melempar ingatannya kembali ke masa-masa sekolah menengah—pada hari di mana Yiran tiba-tiba mendekatinya saat jam istirahat dan menjatuhkan sebuah pengakuan yang seketika meruntuhkan dunianya.

"Meilin, sepertinya aku menyukai pria yang kamu kenalkan di kafe kemarin," ucap Yiran dengan nada ringan, penuh letupan kasmaran khas remaja.

Meilin yang saat itu sedang membuka kotak bekalnya, hanya bisa mengangkat kepala perlahan. "Siapa?" tanya Meilin, mencoba menahan getaran di suaranya. "Maksudmu... Yichen?"

Yiran mengangguk cepat dengan mata berbinar malu-malu. Pada detik itulah, dada Meilin terasa sesak seolah pasokan oksigen di sekitarnya mendadak lenyap. Jauh sebelum Yiran menyadari keberadaan pria itu, Meilin sudah lebih dulu menyimpan rasa pada Lu Yichen. Mereka telah mengenal satu sama lain sejak kecil. Meilin merekam dengan jelas setiap detail kebaikan Yichen; saat pria itu diam-diam memberinya es krim, memayunginya di tengah hujan deras, hingga kebiasaan unik Yichen yang selalu memesan minuman favorit Meilin tanpa perlu bertanya lagi.

Namun bagi Meilin yang pemalu, perasaan itu terlalu berharga dan rapuh untuk diucapkan. Ditambah lagi, ia sudah terlalu terbiasa mengalah.

"Apa aku boleh minta nomor ponselnya?" tanya Yiran penuh harap.

Meilin menatap wajah cantik sahabatnya selama beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk pelan sambil memaksakan senyum, meski ujung jari-jarinya mulai terasa sedingin es. "Tentu," jawabnya, mengabaikan jeritan hatinya yang memohon untuk berkata jangan.

"Apa saja kesukaan dan hobinya?" serang Yiran lagi dengan antusias.

Seperti orang bodoh yang dengan sukarela melukai dirinya sendiri, Meilin mulai membeberkan segala hal tentang Yichen. Ia menceritakan makanan favorit pria itu, kebiasaannya membaca novel thriller di tengah malam, hingga cara unik Yichen tersenyum tipis saat sedang gugup. Meilin menghafal semuanya di luar kepala, karena selama bertahun-tahun, hanya Yichen yang selalu menjadi pusat semestanya.

Hingga suatu hari, benteng pertahanan Meilin benar-benar runtuh. Ia melihat Yiran dan Yichen berjalan beriringan. Tangan keduanya bertautan sangat erat, sementara senyuman di wajah Yiran memancarkan kebahagiaan yang sempurna. Saat itu, Meilin merasa seperti dihantam petir di siang bolong. Namun, seperti yang selalu ia lakukan, Meilin hanya tersenyum manis di atas lukanya sendiri.

Sejak hari itu, Meilin mengubur perasaannya dalam-dalam. Ia terus meyakinkan dirinya sendiri bahwa Yiran jauh lebih cocok bersanding dengan Yichen. Pria mana yang akan memilih gadis biasa seperti dirinya jika ada sosok sesempurna Yiran di sisinya?

Bahkan sekarang, di usianya yang sudah menginjak 26 tahun, Meilin masih sering merasa minder. Yiran memiliki tinggi hampir 165 sentimeter dengan tubuh ramping bak model majalah, serta aura percaya diri tinggi yang mampu menyedot perhatian ke mana pun ia melangkah. Sementara Meilin hanya memiliki tinggi sekitar 158 sentimeter. Sebenarnya proporsi tubuhnya terbilang manis dengan pinggang ramping, kulit putih bersih, dan sepasang mata bulat bening yang memberikan kesan lembut. Namun, karena sejak kecil selalu berdiri di antara Yiran dan kedua kakak laki-lakinya yang bertubuh menjulang, Meilin terbiasa merasa dirinya kecil dan tidak berarti.

Ia tidak pernah menyadari bahwa justru kesederhanaan itulah yang memancarkan kecantikan yang hangat—jenis kecantikan yang tidak memukau dalam sekali lihat seperti Yiran, melainkan tipe yang perlahan membuat orang ingin terus memandang. Sayangnya, Meilin terlalu buta untuk menyadari hal itu karena tumbuh di dalam keluarga yang terlalu hebat untuk dikejar.

Kakak pertamanya adalah seorang jenius pemenang debat internasional, sedangkan kakak keduanya adalah atlet berbakat dengan belasan piala. Jika Meilin ingin menonjol, ia bahkan tidak tahu harus mulai dari bidang apa.

Pada akhirnya, Meilin memilih hidup dengan cara menerima. Menerima bahwa dirinya biasa-biasa saja, termasuk dalam urusan cinta. Di hadapan Yiran, ia selalu merasa kalah sebelum bertanding.

Cklek.

Lamunan panjang Meilin mendadak buyar saat ada mobil sedan berwarna hitam berhenti di depan mereka. Dan sopir itu mulai membuka pintu untuk mereka.

Di sinilah interogasi yang sebenarnya akan dimulai. Meilin menatap bangunan mewah di depannya dengan firasat buruk yang semakin pekat, tanpa tahu bahwa di dalam ruangan VVIP restoran tersebut, sesosok pria berkuasa sudah menunggu untuk menjatuhkan kesepakatan yang akan mengubah takdir hidupnya.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Malam Tak Terduga dengan Boss Dingin   Bab 70 : Kegelisahan Pagi Hari

    Pagi itu, suasana restoran utama di Bay Resort terasa cukup ramai dan bising oleh hilir mudik orang-orang. Beberapa tamu hotel sudah memenuhi area prasmanan yang luas, sembari menikmati panorama laut lepas yang biru jernih dari balik jendela kaca besar berukuran raksasa. Namun, di salah satu sudut ruangan yang agak terisolasi oleh tanaman hias, atmosfernya justru terasa jauh lebih tenang, kaku, dan formal. Hanzhen duduk tegap di samping Meilin, sesekali menyesap kopi hitam pekatnya tanpa gula sembari fokus membaca beberapa dokumen kerja penting di layar tablet pribadi.Melihat suaminya yang terlampau sibuk dan mengabaikan asupan gizinya sendiri sejak subuh, Meilin dengan telaten mengambilkan beberapa hidangan sehat ke atas piring porselen pria itu. Beberapa manajer eksekutif hotel sebenarnya sempat mencoba melangkah mendekat untuk memberikan laporan keuangan dadakan, namun Sekretaris Chen yang berdiri siaga tidak jauh dari sana langsung menghadang pergerakan mereka dengan sangat halu

  • Malam Tak Terduga dengan Boss Dingin   Bab 69 : Kepanikan di Tepi Pantai

    Meilin hanya menatap garis matahari yang perlahan tenggelam di balik cakrawala laut dengan tatapan kosong. Langit sore di Bay Resort itu begitu memukau; perpaduan gradasi warna jingga, merah muda, dan keemasan memantul indah di atas permukaan air laut yang tenang. Namun, sangat kontras dengan keindahan alam yang disuguhkan tersebut, isi pikiran Meilin justru terasa kian penuh, kalut, dan menyesakkan dada. Untaian kalimat manipulatif dan beracun dari Yiran tadi pagi terus berputar laksana kaset rusak di dalam kepalanya, melahirkan riak kegelisahan baru yang tak kunjung surut. Tiba-tiba, sepasang lengan kekar yang hangat melingkar pelan di sekeliling pinggang mungilnya. Hanzhen memeluknya erat dari belakang, menenggelamkan wajahnya di antara helai rambut Meilin. Seperti biasa, pria itu melakukan kontak fisik yang intim itu tanpa banyak bicara, tanpa ada rentetan pertanyaan interogasi yang melelahkan. Ia hanya diam mendekap tubuh mungil Meilin sembari ikut melempar pandang ke arah matah

  • Malam Tak Terduga dengan Boss Dingin   Bab 68 : Jejak yang Tertinggal

    Untaian kalimat manipulatif dari Yiran saat sarapan pagi tadi terus bergaung bising di kepala Meilin. Setiap untai katanya sengaja ditinggalkan untuk mengusik ketenangannya selama berada di Bay Resort ini. “Semakin posesif seorang pria, semakin rapi pula caranya menyembunyikan sesuatu di belakangmu.” Kalimat beracun itu sukses melahirkan riak kegelisahan yang membuat ulu hati Meilin terasa teramat tidak nyaman sepanjang hari. Di belahan tempat lain, Lee Hanzhen sendiri baru menyadari satu hal yang luput dari pengawasannya selama ini. Yiran ternyata telah dipindahkan ke divisi pemasaran Bay Resort semenjak beberapa minggu lalu atas rekomendasi manajer regional. Dan hal yang jauh lebih mengejutkannya lagi, wanita itulah yang memimpin presentasi utama untuk proyek besar pengembangan kawasan resort hari itu. Hanzhen duduk tegap di ruang rapat eksekutif dengan tatapan datar yang dingin, memperhatikan layar proyektor besar di depan. Yiran berdiri anggun dalam balutan setelan formal merah

  • Malam Tak Terduga dengan Boss Dingin   Bab 67 : Racun Keraguan

    “Boleh aku duduk di sini?” tanya Yiran sembari mengulas senyum tipis yang penuh percaya diri. “Tentu,” jawab Meilin pelan, mencoba sekuat tenaga menekan gemuruh canggung dan tidak nyaman yang mendadak bergejolak di dalam dadanya. Yiran pun mendudukkan diri dengan gerakan yang teramat anggun di kursi kosong sebelah meja mereka. Aroma parfum mewahnya yang berwangi lembut namun pekat seketika tercium samar, mengusik atmosfer hangat meja sarapan mereka pagi ini. Di kejauhan, beberapa dokter residen muda di meja lain tampak diam-diam mulai melirik ke arah mereka dengan raut penuh rasa penasaran yang besar. “Aku baru tahu kamu dimutasi ke kantor cabang resort ini,” kata Yuwen sembari menyandarkan tubuh tegapnya ke sandaran kursi, menatap tajam ke arah wajah Yiran dengan pandangan yang teramat datar. “Iya,” Yiran mengangguk santai, merapikan letak setelan kantor merah tuanya yang tampak mahal. “Kata pihak pimpinan kami di kantor pusat, peluang karier di kawasan resort Selatan ini jauh l

  • Malam Tak Terduga dengan Boss Dingin   Bab 66 : Tamu di Meja Sarapan

    Semenjak Meilin mulai sering menemani berbagai aktivitas dinas Hanzhen, Sekretaris Chen menyadari satu perubahan yang sangat mencolok pada diri atasannya. Suasana hati sang CEO kini jauh lebih stabil. Setidaknya sekarang, jajaran manajer tidak lagi keluar dari ruang rapat dengan wajah pucat pasi hanya karena salah mencetak ukuran huruf proposal atau keliru menyusun urutan presentasi. Hanzhen memang tetaplah pria yang dingin, sulit ditebak, dan memiliki tatapan tajam yang bisa membuat seisi ruangan seketika sunyi senyap dalam hitungan detik. Namun, emosinya kini jauh lebih terkendali. Bagi Chen, Hanzhen mulai terlihat lebih "manusiawi". Bahkan, kebutuhan pribadi sang CEO tidak lagi serumit dan se-melelahkan dulu. Jika dulu memilih kopi saja bisa berubah menjadi perdebatan kecil karena rasa yang dianggap kurang konsisten, sekarang Hanzhen selalu menghabiskan kopi yang disiapkan langsung oleh Meilin tanpa banyak komentar. Keluhan vertigonya pun mulai jarang terdengar karena Hanzhen mula

  • Malam Tak Terduga dengan Boss Dingin   bab 65 : Riak di Bay Resort

    Meilin yang mulai terbiasa menemani berbagai aktivitas dinas Hanzhen juga mulai menikmati peran barunya tersebut dengan hati yang jauh lebih lapang. Awalnya, ia sering kali didera rasa kewalahan yang luar biasa setiap kali mendampingi pria itu di lapangan. Setiap kali Hanzhen menapakkan kaki di lobi gedung perusahaan, jajaran manajer senior dan eksekutif papan atas sudah berbaris rapi menunggunya hanya untuk menyerahkan tumpukan dokumen, memberikan laporan darurat, atau sekadar berjalan beriringan meminta tanda tangan persetujuan. Langkah kaki Hanzhen yang selalu cepat, panjang, dan tegas, membuat Meilin di awal kebiasaan baru mereka hampir harus setengah berlari hingga napasnya terengah-engah hanya untuk menyamai ritme jalan suaminya.Namun lama-kelamaan, Hanzhen mulai menyadari keterbatasan fisik sang istri dan secara sadar menyesuaikan diri dengan keberadaan wanita itu di sisinya. Pria itu akan sengaja memperlambat tempo langkahnya, atau bahkan berhenti bergerak sejenak dan menol

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status