Share

Bab 5: Benteng yang Retak

Author: Denami
last update publish date: 2026-06-12 21:03:29

Drrrt.. drrt...

Gawai di atas meja marmer itu bergetar, memotong keheningan di sela-sela paparan presentasi direktur keuangan. Hanzhen melirik layar. Nama 'Nenek' tertera di sana. Tanpa ragu, pria itu langsung mengangkatnya, mengabaikan belasan pasang mata jajaran direksi yang seketika membeku.

"Hanzhen..." Suara di seberang telepon terdengar agak lemah, diiringi sayup-sayup suara bising khas koridor rumah sakit. "Nenek sedang di rumah sakit. Tapi kamu jangan khawatir, ya—"

"Nenek di rumah sakit mana?" potong Hanzhen cepat. Nada suaranya meninggi, sarat akan tuntutan. Rasa khawatir langsung mencengkeram dadanya seperti cakar besi.

"Hanya pemeriksaan rutin, Hanzhen, Nenek tidak apa-apa—"

Hanzhen tidak mendengarkan kelanjutannya. Pikirannya sudah telanjur dipenuhi skenario terburuk. Ia menjauhkan gawai itu dari telinga, lalu menatap tajam jajaran direksi. "Rapat ini kita lanjutkan besok."

Ruangan seketika riuh oleh kasak-kusuk. Seorang direktur senior memberanikan diri untuk protes. "Tapi Pak Lee, investor dari Jerman menunggu laporan audit ini sore ini juga. Jika kita tunda sekarang, taruhannya adalah kredibilitas perusahaan."

"Saya billing besok, ya besok," potong Hanzhen. Suaranya tidak keras, namun dingin dan mutlak, jenis suara yang tidak menerima bantahan apa pun.

Ia mengabaikan semua protes di belakangnya. Dengan langkah lebar, Hanzhen berjalan keluar ruangan. Sekretaris setianya yang sudah paham tabiat sang bos langsung menyusul dari belakang dengan langkah seribu.

"Kita ke rumah sakit. Sekarang," perintah Hanzhen pendek begitu mereka tiba di lorong lift.

Sembari menunggu lift turun, Hanzhen menyandarkan kepalanya ke dinding kaca, menatap rintik hujan yang mulai membasahi kota.

Pintu masa lalu di kepalanya mendadak terbuka, menariknya kembali pada alasan mengapa wanita tua itu begitu berarti bagi hidupnya.

Jauh sebelum tatapannya berubah sedingin es, Hanzhen adalah anak yang ceria. Ia tumbuh dalam keluarga yang hangat, harmonis, dan dipenuhi tawa renyah setiap makan malam. Namun, kekayaan luar biasa keluarga tidak membuat ayahnya membiarkan Hanzhen bermanja-manja.

“Ayah, aku masih remaja!” keluh Hanzhen suatu sore di dalam mobil, wajahnya ditekuk kesal setelah dipaksa menghadiri rapat direksi selama empat jam. “Teman-temanku sedang merayakan kemenangan tim basket, dan aku malah harus membaca grafik saham.”

Ayahnya tidak marah. Pria itu hanya menatapnya dari kaca spion tengah. “Suatu hari nanti, semua ini akan jadi tanggung jawabmu, Hanzhen.”

Hanzhen tidak pernah membayangkan bahwa kalimat itu bukanlah sekadar nasihat, melainkan sebuah ramalan yang datang terlalu cepat. Beberapa minggu setelah ia menyelesaikan kuliah di usia dua puluh dua tahun, kecelakaan tol merenggut kedua orang tuanya sekaligus.

Kabar itu meruntuhkan dunia Hanzhen. Rumah mewah mereka mendadak berubah menjadi kastel tua yang kosong, dingin, dan asing. Namun, dunia bisnis tidak mengenal kata berduka. Belum genap satu bulan, para kerabat dan direktur senior mulai berdatangan dengan topeng simpati, mencoba memanipulasi saham dan menjebaknya demi keuntungan pribadi.

Sebagai pimpinan baru yang minim pengalaman, Hanzhen mencoba mendengarkan semua suara. Namun, perusahaan justru mencatat kerugian besar.

“Anak muda tetaplah anak muda,” cemooh seorang direktur senior dalam rapat tertutup yang sengaja dibocorkan ke media. “Dia tidak akan pernah mampu menggantikan ayahnya. Perusahaan ini tinggal menunggu waktu untuk runtuh.”

Kalimat itu menjelma menjadi hantu yang mengejarnya. Pada malam kelam saat Hanzhen duduk sendirian dengan tubuh gemetar dirayapi rasa takut, pintu ruang kerjanya terbuka. Neneknya melangkah masuk.

Wanita tua itu tidak menceramahinya tentang teori bisnis. Ia hanya menyodorkan secangkir teh hangat dan menggenggam jemari Hanzhen yang dingin.

“Hanzhen...” suara nenek terdengar lembut namun penuh keyakinan. “Hidup tidak akan pernah memberimu jawaban yang pasti. Jadi, pilihlah keputusan sesuai hatimu sendiri. Dan apa pun yang terjadi nanti, Nenek akan selalu berdiri di belakangmu.”

Kalimat sederhana itu memicu kembali percikan api yang sempat padam. Sejak malam itu, Hanzhen berhenti menjadi anak laki-laki yang ragu-ragu. Ia belajar menelan rasa sakit dan membaca kebohongan di balik senyuman manis para kolega.

Tahun demi tahun berlalu, menempa mentalnya hingga sekeras baja. Kini, di usia tiga puluh lima tahun, Lee Hanzhen telah bermutasi menjadi sosok yang ditakuti di dunia bisnis. Orang-orang menjulukinya arogan, dingin, dan manusia tanpa emosi.

Namun, mereka salah. Di balik benteng tinggi itu, ia hanyalah seorang anak laki-laki yang dipaksa dewasa oleh keadaan, yang saat ini sedang ketakutan kehilangan satu-satunya harta berharga yang tersisa.

Ting! Pintu lift terbuka di lantai basement.

"Mobil sudah siap, Pak," ucap sekretarisnya seraya membukakan pintu kursi belakang.

Hanzhen masuk ke dalam mobil dengan rahang mengeras. "Ngebut," ujarnya dingin. "Kita tidak boleh terlambat semenit pun."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Malam Tak Terduga dengan Boss Dingin   Bab 63 : Jadwal Hari Senin

    Meilin seolah menemukan kembali sumbu semangat hidupnya yang sempat padam. Ia mencoba mengikuti saran praktis dari kakaknya untuk menyibukkan diri di dalam rumah. Pagi-pagi sekali, ketika embun masih membasahi dedaunan, sosok mungilnya sudah menyibukkan diri di area dapur bersih yang luas dan bernuansa modern. Jari-jemarinya yang lentik bergerak lincah menyiapkan menu sarapan khusus untuk Hanzhen sebelum suaminya itu berangkat ke kantor. Kali ini, ia memilih untuk memasak semangkuk bubur ayam hangat dengan taburan cakwe renyah dan irisan daun bawang yang segar.Para pelayan rumah tangga pun perlahan-lahan mulai menyesuaikan diri dengan perubahan kebiasaan baru semenjak kehadiran Meilin. Rumah besar yang dulunya terasa sangat kaku, formal, dan senyap laksana hotel berbintang, kini perlahan-lahan mulai terasa jauh lebih hidup dan hangat. Area dapur utama hampir setiap hari selalu dipenuhi oleh aroma harum masakan yang menggugah selera, berpadu apik dengan suara langkah-langkah kecil M

  • Malam Tak Terduga dengan Boss Dingin   Bab 62 : Kesibukan Baru

    Meilin menyampaikan kepada salah satu kepala pelayan di rumah bahwa ia ingin disiapkan sopir siang ini, dengan alasan ingin keluar mencari makan siang bersama kakak kandungnya, Yuwen. Namun, Meilin tahu betul bahwa permintaan sederhana itu bukan sekadar instruksi operasional biasa di rumah ini. Secara tidak langsung, ia sadar dirinya sedang meminta izin tertulis kepada Hanzhen. Ia sangat yakin bahwa para pelayan yang bekerja di sini pasti akan segera melaporkan setiap gerak-gerik dan langkah kakinya kepada pria itu melalui Sekretaris Chen.Dan benar saja dugaan Meilin, tidak lama setelah pesan itu disampaikan, sebuah sedan hitam mewah beserta sopir pribadi sudah bersiap rapi di area lobi depan mansion. Artinya, Hanzhen memberikan izin baginya untuk keluar rumah siang ini. Entah kenapa, hal kecil yang transaksional itu justru membuat hati Meilin yang sempat didera kepanikan luar biasa terasa sedikit lebih lega. Paling tidak, Hanzhen tidak benar-benar berniat mengurungnya laksana seor

  • Malam Tak Terduga dengan Boss Dingin   Bab 61 : Burung di Sangkar Emas

    Pada dasarnya, rumah sakit pusat tempat Meilin mengabdi selama ini memang bukan instansi medis biasa. Rumah sakit tersebut merupakan salah satu aset besar milik keluarga besar dari pihak ibunya. Hampir seluruh anggota keluarga besarnya berkecimpung di dunia medis; ada yang menjadi dokter spesialis bedah ternama, profesor kedokteran, hingga menduduki kursi jajaran direksi. Bahkan, beberapa di antaranya memiliki saham kepemilikan yang cukup besar di sana, termasuk ibu Meilin sendiri.Karena latar belakang itulah, ketika Hanzhen menjatuhkan titah mutlak untuk melarang Meilin bekerja, keputusan itu dieksekusi dengan sangat rapi tanpa celah sedikit pun. Pria itu langsung menggunakan seluruh jaringan pengaruhnya untuk berkoordinasi dengan Direktur Utama rumah sakit, yang tidak lain adalah paman kandung Meilin sendiri.Pagi itu, sebuah pesan singkat masuk ke ponsel Meilin saat ia baru saja mendudukkan diri di tepi ranjang dengan benak yang masih teramat kusut pascakonfrontasi dini hari.—Mei

  • Malam Tak Terduga dengan Boss Dingin   Bab 60 : Sangkar yang Terkunci

    Jarum jam sudah menunjuk tepat ke angka sebelas malam ketika sedan hitam mewah itu akhirnya memasuki pelataran halaman rumah utama keluarga Lee. Suasana di sekitar rumah besar itu tampak sunyi senyap, diselimuti oleh kegelapan malam yang teramat pekat dan dingin.Begitu roda mobil berhenti sempurna di area carport, Hanzhen langsung membuka pintu, turun dengan gerakan cepat, dan melangkah masuk ke dalam rumah tanpa menunggu Sekretaris Chen yang berada di belakangnya. Langkah kakinya yang berat dan dipenuhi gelora amarah yang terpendam berdentum berat di sepanjang lantai marmer koridor, langsung menuju ke arah tangga lantai dua.Brak!Pintu kayu mahoni kamar utama didorong terbuka lebar dengan satu sentakan kasar, seketika mengejutkan Meilin yang saat itu sedang tertidur lelap. Wanita itu langsung terduduk tegap di atas ranjang dengan jantung yang berdebar kencang akibat serangan kepanikan instan yang menyerang sistem sarafnya. Di bawah pendar temaram lampu tidur yang kuning redup, ia

  • Malam Tak Terduga dengan Boss Dingin   Bab 59 : Retakan Komitmen

    Lorong berkarpet tebal di lantai teratas hotel mewah itu mendadak kehilangan suhunya secara drastis, menyisakan hawa dingin yang menusuk tulang. Lee Hanzhen berdiri mematung dengan tatapan mata elang yang menggelap sempurna, memancarkan kilat berbahaya. Kalimat yang baru saja meluncur dari bibir Yiran terasa laksana sebuah hantaman palu godam yang menghancurkan telak seluruh harga diri, ego, dan martabat tingginya sebagai seorang pria terhormat.“Meilin... dialah orang pertama yang menceritakan bahwa pernikahan kalian hanyalah selembar kertas kontrak bisnis yang dingin.”Kata-kata provokasi itu terus bergaung bising di dalam kepala Hanzhen, membakar habis seluruh sisa kehangatan dan kedamaian yang sempat singgah di dadanya sejak pagi tadi. Ingatan manis tentang bagaimana Meilin menyiapkan tas baju dinasnya dengan perhatian, kecupan hangat penuh kerinduan yang ia tinggalkan di kening istrinya sebelum berangkat, hingga melodi piano romantis malam lalu—semuanya mendadak terasa laksana

  • Malam Tak Terduga dengan Boss Dingin   Bab 58 : Langkah di Luar Rencana

    Matahari sudah tenggelam sepenuhnya di ufuk barat ketika Hanzhen melangkah keluar dari ruang konferensi hotel bintang lima di Kota Timur. Perjalanan dinas dua hari ini benar-benar telah menguras seluruh sisa energi di dalam tubuhnya. Meskipun rapat koordinasi dengan para investor lokal berjalan sangat mulus tanpa kendala, denyut halus yang berulang di pelipisnya menandakan bahwa kondisi fisiknya belum pulih benar dari serangan vertigo yang menyiksa tempo hari.Pria tegap itu berjalan dengan tenang namun berwibawa menyusuri lorong panjang berkarpet tebal menuju lift khusus, diikuti oleh Chen yang sibuk mencatat beberapa poin penting hasil rapat di layar tabletnya."Pak Lee,” panggil Chen dengan suara pelan setelah mereka berdua masuk ke dalam lift pribadi yang kedap suara. “Seluruh agenda penting untuk hari ini sudah selesai dengan baik. Jadwal Anda berikutnya adalah makan malam semi-formal dengan kepala dinas pariwisata nanti malam. Setelah ini, Anda bisa langsung beristirahat di pen

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status