LOGINDrrrt.. drrt...
Gawai di atas meja marmer itu bergetar, memotong keheningan di sela-sela paparan presentasi direktur keuangan. Hanzhen melirik layar. Nama 'Nenek' tertera di sana. Tanpa ragu, pria itu langsung mengangkatnya, mengabaikan belasan pasang mata jajaran direksi yang seketika membeku. "Hanzhen..." Suara di seberang telepon terdengar agak lemah, diiringi sayup-sayup suara bising khas koridor rumah sakit. "Nenek sedang di rumah sakit. Tapi kamu jangan khawatir, ya—" "Nenek di rumah sakit mana?" potong Hanzhen cepat. Nada suaranya meninggi, sarat akan tuntutan. Rasa khawatir langsung mencengkeram dadanya seperti cakar besi. "Hanya pemeriksaan rutin, Hanzhen, Nenek tidak apa-apa—" Hanzhen tidak mendengarkan kelanjutannya. Pikirannya sudah telanjur dipenuhi skenario terburuk. Ia menjauhkan gawai itu dari telinga, lalu menatap tajam jajaran direksi. "Rapat ini kita lanjutkan besok." Ruangan seketika riuh oleh kasak-kusuk. Seorang direktur senior memberanikan diri untuk protes. "Tapi Pak Lee, investor dari Jerman menunggu laporan audit ini sore ini juga. Jika kita tunda sekarang, taruhannya adalah kredibilitas perusahaan." "Saya billing besok, ya besok," potong Hanzhen. Suaranya tidak keras, namun dingin dan mutlak, jenis suara yang tidak menerima bantahan apa pun. Ia mengabaikan semua protes di belakangnya. Dengan langkah lebar, Hanzhen berjalan keluar ruangan. Sekretaris setianya yang sudah paham tabiat sang bos langsung menyusul dari belakang dengan langkah seribu. "Kita ke rumah sakit. Sekarang," perintah Hanzhen pendek begitu mereka tiba di lorong lift. Sembari menunggu lift turun, Hanzhen menyandarkan kepalanya ke dinding kaca, menatap rintik hujan yang mulai membasahi kota. Pintu masa lalu di kepalanya mendadak terbuka, menariknya kembali pada alasan mengapa wanita tua itu begitu berarti bagi hidupnya. Jauh sebelum tatapannya berubah sedingin es, Hanzhen adalah anak yang ceria. Ia tumbuh dalam keluarga yang hangat, harmonis, dan dipenuhi tawa renyah setiap makan malam. Namun, kekayaan luar biasa keluarga tidak membuat ayahnya membiarkan Hanzhen bermanja-manja. “Ayah, aku masih remaja!” keluh Hanzhen suatu sore di dalam mobil, wajahnya ditekuk kesal setelah dipaksa menghadiri rapat direksi selama empat jam. “Teman-temanku sedang merayakan kemenangan tim basket, dan aku malah harus membaca grafik saham.” Ayahnya tidak marah. Pria itu hanya menatapnya dari kaca spion tengah. “Suatu hari nanti, semua ini akan jadi tanggung jawabmu, Hanzhen.” Hanzhen tidak pernah membayangkan bahwa kalimat itu bukanlah sekadar nasihat, melainkan sebuah ramalan yang datang terlalu cepat. Beberapa minggu setelah ia menyelesaikan kuliah di usia dua puluh dua tahun, kecelakaan tol merenggut kedua orang tuanya sekaligus. Kabar itu meruntuhkan dunia Hanzhen. Rumah mewah mereka mendadak berubah menjadi kastel tua yang kosong, dingin, dan asing. Namun, dunia bisnis tidak mengenal kata berduka. Belum genap satu bulan, para kerabat dan direktur senior mulai berdatangan dengan topeng simpati, mencoba memanipulasi saham dan menjebaknya demi keuntungan pribadi. Sebagai pimpinan baru yang minim pengalaman, Hanzhen mencoba mendengarkan semua suara. Namun, perusahaan justru mencatat kerugian besar. “Anak muda tetaplah anak muda,” cemooh seorang direktur senior dalam rapat tertutup yang sengaja dibocorkan ke media. “Dia tidak akan pernah mampu menggantikan ayahnya. Perusahaan ini tinggal menunggu waktu untuk runtuh.” Kalimat itu menjelma menjadi hantu yang mengejarnya. Pada malam kelam saat Hanzhen duduk sendirian dengan tubuh gemetar dirayapi rasa takut, pintu ruang kerjanya terbuka. Neneknya melangkah masuk. Wanita tua itu tidak menceramahinya tentang teori bisnis. Ia hanya menyodorkan secangkir teh hangat dan menggenggam jemari Hanzhen yang dingin. “Hanzhen...” suara nenek terdengar lembut namun penuh keyakinan. “Hidup tidak akan pernah memberimu jawaban yang pasti. Jadi, pilihlah keputusan sesuai hatimu sendiri. Dan apa pun yang terjadi nanti, Nenek akan selalu berdiri di belakangmu.” Kalimat sederhana itu memicu kembali percikan api yang sempat padam. Sejak malam itu, Hanzhen berhenti menjadi anak laki-laki yang ragu-ragu. Ia belajar menelan rasa sakit dan membaca kebohongan di balik senyuman manis para kolega. Tahun demi tahun berlalu, menempa mentalnya hingga sekeras baja. Kini, di usia tiga puluh lima tahun, Lee Hanzhen telah bermutasi menjadi sosok yang ditakuti di dunia bisnis. Orang-orang menjulukinya arogan, dingin, dan manusia tanpa emosi. Namun, mereka salah. Di balik benteng tinggi itu, ia hanyalah seorang anak laki-laki yang dipaksa dewasa oleh keadaan, yang saat ini sedang ketakutan kehilangan satu-satunya harta berharga yang tersisa. Ting! Pintu lift terbuka di lantai basement. "Mobil sudah siap, Pak," ucap sekretarisnya seraya membukakan pintu kursi belakang. Hanzhen masuk ke dalam mobil dengan rahang mengeras. "Ngebut," ujarnya dingin. "Kita tidak boleh terlambat semenit pun."Pagi itu, suasana restoran utama di Bay Resort terasa cukup ramai dan bising oleh hilir mudik orang-orang. Beberapa tamu hotel sudah memenuhi area prasmanan yang luas, sembari menikmati panorama laut lepas yang biru jernih dari balik jendela kaca besar berukuran raksasa. Namun, di salah satu sudut ruangan yang agak terisolasi oleh tanaman hias, atmosfernya justru terasa jauh lebih tenang, kaku, dan formal. Hanzhen duduk tegap di samping Meilin, sesekali menyesap kopi hitam pekatnya tanpa gula sembari fokus membaca beberapa dokumen kerja penting di layar tablet pribadi.Melihat suaminya yang terlampau sibuk dan mengabaikan asupan gizinya sendiri sejak subuh, Meilin dengan telaten mengambilkan beberapa hidangan sehat ke atas piring porselen pria itu. Beberapa manajer eksekutif hotel sebenarnya sempat mencoba melangkah mendekat untuk memberikan laporan keuangan dadakan, namun Sekretaris Chen yang berdiri siaga tidak jauh dari sana langsung menghadang pergerakan mereka dengan sangat halu
Meilin hanya menatap garis matahari yang perlahan tenggelam di balik cakrawala laut dengan tatapan kosong. Langit sore di Bay Resort itu begitu memukau; perpaduan gradasi warna jingga, merah muda, dan keemasan memantul indah di atas permukaan air laut yang tenang. Namun, sangat kontras dengan keindahan alam yang disuguhkan tersebut, isi pikiran Meilin justru terasa kian penuh, kalut, dan menyesakkan dada. Untaian kalimat manipulatif dan beracun dari Yiran tadi pagi terus berputar laksana kaset rusak di dalam kepalanya, melahirkan riak kegelisahan baru yang tak kunjung surut. Tiba-tiba, sepasang lengan kekar yang hangat melingkar pelan di sekeliling pinggang mungilnya. Hanzhen memeluknya erat dari belakang, menenggelamkan wajahnya di antara helai rambut Meilin. Seperti biasa, pria itu melakukan kontak fisik yang intim itu tanpa banyak bicara, tanpa ada rentetan pertanyaan interogasi yang melelahkan. Ia hanya diam mendekap tubuh mungil Meilin sembari ikut melempar pandang ke arah matah
Untaian kalimat manipulatif dari Yiran saat sarapan pagi tadi terus bergaung bising di kepala Meilin. Setiap untai katanya sengaja ditinggalkan untuk mengusik ketenangannya selama berada di Bay Resort ini. “Semakin posesif seorang pria, semakin rapi pula caranya menyembunyikan sesuatu di belakangmu.” Kalimat beracun itu sukses melahirkan riak kegelisahan yang membuat ulu hati Meilin terasa teramat tidak nyaman sepanjang hari. Di belahan tempat lain, Lee Hanzhen sendiri baru menyadari satu hal yang luput dari pengawasannya selama ini. Yiran ternyata telah dipindahkan ke divisi pemasaran Bay Resort semenjak beberapa minggu lalu atas rekomendasi manajer regional. Dan hal yang jauh lebih mengejutkannya lagi, wanita itulah yang memimpin presentasi utama untuk proyek besar pengembangan kawasan resort hari itu. Hanzhen duduk tegap di ruang rapat eksekutif dengan tatapan datar yang dingin, memperhatikan layar proyektor besar di depan. Yiran berdiri anggun dalam balutan setelan formal merah
“Boleh aku duduk di sini?” tanya Yiran sembari mengulas senyum tipis yang penuh percaya diri. “Tentu,” jawab Meilin pelan, mencoba sekuat tenaga menekan gemuruh canggung dan tidak nyaman yang mendadak bergejolak di dalam dadanya. Yiran pun mendudukkan diri dengan gerakan yang teramat anggun di kursi kosong sebelah meja mereka. Aroma parfum mewahnya yang berwangi lembut namun pekat seketika tercium samar, mengusik atmosfer hangat meja sarapan mereka pagi ini. Di kejauhan, beberapa dokter residen muda di meja lain tampak diam-diam mulai melirik ke arah mereka dengan raut penuh rasa penasaran yang besar. “Aku baru tahu kamu dimutasi ke kantor cabang resort ini,” kata Yuwen sembari menyandarkan tubuh tegapnya ke sandaran kursi, menatap tajam ke arah wajah Yiran dengan pandangan yang teramat datar. “Iya,” Yiran mengangguk santai, merapikan letak setelan kantor merah tuanya yang tampak mahal. “Kata pihak pimpinan kami di kantor pusat, peluang karier di kawasan resort Selatan ini jauh l
Semenjak Meilin mulai sering menemani berbagai aktivitas dinas Hanzhen, Sekretaris Chen menyadari satu perubahan yang sangat mencolok pada diri atasannya. Suasana hati sang CEO kini jauh lebih stabil. Setidaknya sekarang, jajaran manajer tidak lagi keluar dari ruang rapat dengan wajah pucat pasi hanya karena salah mencetak ukuran huruf proposal atau keliru menyusun urutan presentasi. Hanzhen memang tetaplah pria yang dingin, sulit ditebak, dan memiliki tatapan tajam yang bisa membuat seisi ruangan seketika sunyi senyap dalam hitungan detik. Namun, emosinya kini jauh lebih terkendali. Bagi Chen, Hanzhen mulai terlihat lebih "manusiawi". Bahkan, kebutuhan pribadi sang CEO tidak lagi serumit dan se-melelahkan dulu. Jika dulu memilih kopi saja bisa berubah menjadi perdebatan kecil karena rasa yang dianggap kurang konsisten, sekarang Hanzhen selalu menghabiskan kopi yang disiapkan langsung oleh Meilin tanpa banyak komentar. Keluhan vertigonya pun mulai jarang terdengar karena Hanzhen mula
Meilin yang mulai terbiasa menemani berbagai aktivitas dinas Hanzhen juga mulai menikmati peran barunya tersebut dengan hati yang jauh lebih lapang. Awalnya, ia sering kali didera rasa kewalahan yang luar biasa setiap kali mendampingi pria itu di lapangan. Setiap kali Hanzhen menapakkan kaki di lobi gedung perusahaan, jajaran manajer senior dan eksekutif papan atas sudah berbaris rapi menunggunya hanya untuk menyerahkan tumpukan dokumen, memberikan laporan darurat, atau sekadar berjalan beriringan meminta tanda tangan persetujuan. Langkah kaki Hanzhen yang selalu cepat, panjang, dan tegas, membuat Meilin di awal kebiasaan baru mereka hampir harus setengah berlari hingga napasnya terengah-engah hanya untuk menyamai ritme jalan suaminya.Namun lama-kelamaan, Hanzhen mulai menyadari keterbatasan fisik sang istri dan secara sadar menyesuaikan diri dengan keberadaan wanita itu di sisinya. Pria itu akan sengaja memperlambat tempo langkahnya, atau bahkan berhenti bergerak sejenak dan menol







