MasukLangkah kaki Bima dan Alvin cuma sia-sia, gemanya di sepanjang koridor kaca terminal keberangkatan tertelan mentah-mentah oleh deru mesin turbin yang kini menderu kencang di luar. Napas mereka memburu, paru-paru seperti terbakar. Tapi tak ada gunanya. Mereka tiba di depan jendela besar tepat saat Airbus dengan logo biru itu mulai bergerak menjauh dari garbarata, melaju pelan tapi pasti di landasan. Sebuah pengingat brutal bahwa waktu sudah habis.
Bima memukul kaca tebal itu dengan kepa
Ruang tengah kediaman utama keluarga Adnyana yang biasanya dipenuhi oleh gemuruh percakapan ringan dan tawa santai, kini diselimuti keheningan yang menyesakkan, menyerupai ruang interogasi alih-alih pusat keramahan sebuah rumah megah. Furnitur mewah, ukiran-ukiran antik, serta peninggalan seni bernilai tinggi di sekelilingnya seolah turut menahan napas, terpaku pada ketegangan yang mendominasi. Di antara mereka, Tuan Besar dan Nyonya Besar, bersama Puan Adnyana dan Tuan Muda Alvin Mahawira, menghadapi Tuan Bima Adnyana, Dokter Asri Adnyana, dan sang menantu yang kini menjadi fokus perdebatan, Lidya. Wajah Nyonya Kanaya Mahawira dan Dokter Asri Adnyana memerah padam, napas mereka memburu, indikasi jelas dari badai emosi yang baru saja dilepaskan oleh penjelasan panjang lebar dari Alvin dan Bima mengenai kesepakatan “damai” yang mereka bawa pulang dari Budapest.Konsep yang diusung oleh para pengacara andal itu terdengar bagaikan heregistrasi tatanan sosial yang telah dipegang teguh ber
Lantai keramik bandara yang dingin membisu, menjadi saksi bisu pertemuan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Gabriel Wisesa dan istrinya, Riana Irwanto Wisesa, melangkah terburu-buru melintasi hall kedatangan, wajah mereka pucat pasi dan hancur lebur oleh kecemasan. Setiap langkah terasa berat, seolah menarik beban seribu ton. Tujuan mereka jelas: penerbangan tercepat menuju Budapest, untuk menjemput Darren, putra mereka. Kabar dari Kevin, adik ipar Riana, beberapa jam yang lalu telah mengoyak ketenangan mereka.Kevin menceritakan segalanya, detail demi detail yang terasa menusuk jantung. Darren, putra tunggal Gabriel yang selalu dibangga-banggakan, terluka parah. Perutnya robek akibat perkelahian di kelab malam. Stok darah di rumah sakit Budapest kritis, dan pada detik-detik genting, di tengah ketiadaan donor yang cocok, musuh bebuyutan mereka, Bima Adnyana, dengan tanpa ragu telah mendonorkan nyawanya. Darahnya. Gabriel dan Riana bagai dihantam godam raksasa. Fakta itu membuyar
Deru mesin jet pribadi yang membawa mereka pulang ke Jakarta terdengar stabil, seolah ikut menenangkan pikiran, namun tidak dengan suasana di dalam kabin mewah itu. Di tengah ruangan, Aradea Karna dan Bramantya Dharma duduk berhadapan langsung dengan dua klien mereka yang entah kenapa ego dan emosinya setinggi langit — atau mungkin setinggi awan yang sekarang sedang mereka terobos. Ketegangan memenuhi udara, jauh lebih padat dari tekanan kabin."Poliamori??" Alvin menumpahkan kekesalannya, mengerutkan dahi dalam-dalam sampai garis-garis samar terlihat di antara alisnya. Matanya yang kelelahan menatap tajam Aradea, seolah pengacaranya itu baru saja menyarankan mereka semua memakai toga pink ke pengadilan. "Apa kau sudah kehilangan akal sehatmu, Dea? Kita di Budapest untuk urusan keselamatan Lidya dan malah berakhir dengan saran gila seperti ini?"Aradea mencoba tetap tenang. Dengan gerakan anggun yang biasa, ia memperbaiki letak kacamatanya, bola matanya yang hitam legam bertemu tatap
Fajar menyingsing di atas Budapest, membias warna keemasan ke hamparan salju yang menyelimuti kota. Cahaya dingin, namun begitu terang, menembus kaca jendela kantor pusat kepolisian Hungaria, menerangi sel tahanan di lantai bawah. Di sana, Dr. Surya duduk bersandar di dinding semen yang lembap, tatapannya kosong, terpaku pada ubin abu-abu di hadapannya. Ia resmi menjadi tahanan. Kepergiannya ke Eropa, rencana jahatnya, semua berakhir begitu saja di tempat yang paling tidak pernah ia duga.Koordinasi cepat antara Bramantya Dharma, agen interpol yang selama ini bekerja di balik layar bersama Kevin, serta kepolisian setempat, telah menutup rapat setiap celah pelarian bagi Surya. Proses ekstradisi segera diatur. Pengkhianatannya terhadap profesi medis, serangkaian tindakan kriminal yang disamarkannya di bawah jubah dokter, kini telah mencapai garis finis di benua lain, jauh dari Jakarta dan jejak kekejaman yang telah ia tanam.Sementara itu, di bangsal perawatan intensif Szent Imre Hospit
Di tengah desiran angin malam Budapest yang dingin, suasana di luar rumah sakit masih sepanas api yang melahap dendam. Surya, dalam usahanya yang kalut untuk melarikan diri, mengambil rute yang paling tidak terpikirkan: jalur tikus di balik gudang mesin rumah sakit. Lorong sempit dan gelap itu berbau oli dan besi, menjadi saksi bisu kepanikannya yang melampaui batas. Ia bergerak cepat, yakin bisa lolos dari pengawasan yang ia duga terfokus di lobi utama. Tapi dia lupa, ini Eropa, dan orang yang mengejarnya bukan sembarang orang. Bramantya Dharma telah berpikir satu langkah di depannya. Sejak awal Bramantya sudah berkoordinasi dengan kepolisian Budapest, memastikan setiap akses keluar rumah sakit – sekecil apa pun – tertutup rapat."Monitor semua pintu belakang dan jalur servis," suara Bramantya terdengar tegas melalui earpiece Komandan László, kepala regu kepolisian yang bertanggung jawab. "Ada pintu darurat di ujung lorong sebelah tenggara, dekat ruang sterilisasi. Itu mungkin target
Lampu indikator di ruang operasi Szent Imre itu merah menyala, bikin siapa pun yang lihat langsung tahu, ini situasi gawat darurat. Di atas meja bedah, Darren tergeletak pucat pasi, terus-menerus kehilangan cairan kehidupannya yang berharga. Suara monitor jantung di sudut ruangan berbunyi bip pendek dan cepat, seperti detak jam yang menghitung mundur, menandakan tekanan darahnya terus merosot tajam. Parahnya, di dalam ruangan ini, setiap suara monitor seakan menjadi gema ketegangan yang menindih, membuat udara terasa sesak dan berat."Sialan! Tekanan sistoliknya di bawah 60!" Alvin, kepala tim bedah, berseru lantang. Jemarinya sibuk menahan laju perdarahan yang membanjiri area aorta abdominalis Darren. Wajahnya keras, fokus, tapi sorot matanya jelas menunjukkan kecemasan yang membayangi. "Mana kantong darah tambahan?! Kita butuh O-negatif sekarang juga!"Seorang perawat muda, Dinda, buru-buru berlari masuk, napasnya tersengal-sengal dan wajahnya pucat pasi seperti kert







