MasukLidia tergopoh-gopoh memasuki aula kuliah praktik, sepuluh menit lebih lambat dari jadwal yang ditetapkan Dr. Bima. Napasnya terengah, rambutnya masih acak-acakan sehabis bangun tidur – atau lebih tepatnya, bangun dari kasur seseorang yang tidak seharusnya ia tiduri. Wajahnya lesu, kulit pucat, dan bibirnya sedikit bengkak, seperti orang habis begadang berat. Entah dari mana datangnya bau alkohol samar yang masih menempel di jaket praktiknya. Ini benar-benar "muka bantal" dalam level ekstrem.
Kevin, yang sudah rapi duduk di barisan paling depan, langsung menoleh saat merasakan keributan kecil di ambang pintu. Raut khawatir kentara di wajah tampannya begitu matanya menangkap sosok Lidia. Di sisi lain, Dr. Riris dan Viska yang duduk berdekatan di baris kedua tampak cekikikan geli, melirik Lidia yang berusaha seprofesional mungkin tapi jelas sekali terlihat kacau balau. Mereka pasti tahu Lidia "hilang" semalam.
Kevin bangkit dari kursinya, sedikit berlari kecil menghampiri Lidia yang baru saja duduk di baris paling belakang, jauh dari sorotan Dr. Bima yang sedang berbicara di depan.
"Ke mana saja kau? Aku mencarimu semalaman!" bisik Kevin dengan nada khawatir sekaligus kesal.
Lidia menoleh sekilas, tatapan matanya tajam dan penuh lelah. Rasanya ingin menimpuk Kevin dengan tumpukan buku tebal yang ia pegang. Menurutnya, Kevin-lah sumber utama semua kekacauan dan tragedi hari ini. Ia seolah ingin berkata, Kalau saja kau tidak menghubungiku semalam, kalau saja kita tidak bertengkar, aku tidak akan berakhir mabuk di pelukan Bima!"Bukan urusanmu," jawab Lidia acuh tak acuh, tanpa berniat menjelaskan apa pun. Nada suaranya dingin dan jengkel.
Kevin memutar bola mata, memasang wajah yang jelas menunjukkan kekesalannya. "Jelas urusanku! Kau masih pacarku!"Pembicaraan mereka, meski berbisik, sepertinya berhasil menarik perhatian sang dosen praktik. Dr. Bima menghentikan penjelasannya tentang teknik steril dengan alis terangkat dan tatapan setajam elang. Seluruh pasang mata di ruangan itu sontak mengarah ke sumber suara bisikan yang kini senyap. Kevin menelan ludah, baru sadar betapa bahayanya situasi ini.
"Hmm… bisakah kau membantuku, Dr. Kevin, daripada membuat insiden yang tidak relevan dengan kuliah kita hari ini?" Dr. Bima menegur dengan suara rendah dan dingin yang membuat seluruh tulang punggung Kevin menegang.
Kevin segera mengangguk, kembali ke tempat duduknya tanpa suara, malu bukan kepalang.Tatapan Dr. Bima beralih pada Lidia. Sebuah seringai tipis, seolah menyimpan makna tersembunyi, terukir di bibirnya. Seringai yang hanya Lidia yang mengerti arti dibaliknya, membuat seluruh syaraf Lidia mendadak menegang. Perutnya sedikit bergejolak. Apakah ini balas dendam? Atau ejekan terselubung?
"Dan kau, Nona Lidia," lanjut Dr. Bima, nadanya kini sedikit lebih tajam, "selesai kuliah ada tugas tambahan dari saya karena kau terlambat datang."
Lidia mendesah pelan, tapi segera menyembunyikannya. Dalam hatinya, ia sudah menduga hal ini. Tentu saja, Dr. Bima tidak akan pernah melewatkan kesempatan emas seperti ini untuk menimpuknya. "Baik, Dokter," jawabnya lirih, memaksa bibirnya untuk tidak mengerucut protes.Dr. Bima kemudian melanjutkan khotbahnya yang ia namakan "kode keras profesi", pandangannya mengitari seisi ruangan tapi selalu berhenti di mata Lidia. "Ingat, saat di ruang operasi, keselamatan pasien adalah yang utama. Jadi, aku paling tidak suka ada hubungan cinta di antara sejawat, apalagi kalau pertengkaran pribadi dibawa ke ruang operasi. Itu tidak relevan! Fokusmu hanyalah keselamatan, keamanan, dan kenyamanan pasien. Itu kode keras dalam profesi kita!"
Lidia menelan ludah. Hatinya seperti dirobek antara ingin tertawa dan ingin menangis. Khotbah tentang kode etik dan profesionalisme? Dokter ini sungguh punya selera humor yang gelap! Lidia mendongak, matanya bertemu tatap dengan Dr. Bima. Sebuah ironi yang pahit sekali. Dr. Bima bicara tentang etika, sementara hanya beberapa jam yang lalu, ia dan Dr. Bima berbaring seranjang, sama-sama mabuk dan tanpa etika, tanpa batas, tanpa... apa-apa.
Begitu kuliah praktik selesai, semua mahasiswa bergegas membereskan barang-barang mereka, ingin segera lepas dari aura dingin Dr. Bima. Lidia melakukan hal yang sama, tapi sebelum sempat berdiri, sebuah isyarat kepala dari sang dokter menghentikannya. Dr. Bima duduk di tepi meja presentasi, tatapannya menyuruh Lidia untuk tetap di tempatnya. Perlahan, satu per satu, mahasiswa keluar hingga hanya tersisa Lidia dan Dr. Bima. Atmosfer tiba-tiba terasa tebal, mencekik.
Dr. Bima menunggu sampai pintu benar-benar tertutup sebelum suaranya memecah keheningan, dingin menusuk. "Apakah ada yang lucu dengan kuliahku, Nona Lidia?"
Lidia terkejut. Apakah ekspresinya selama kuliah sebegitu jelas? Ia menggeleng cepat. "Tidak, Dokter." "Lalu, kenapa kau tersenyum saat aku menjelaskan kode etik?" suara Dr. Bima tajam, bahkan lebih dari biasanya. Lidia merasakan aliran darahnya berdesir kencang. Wajahnya sedikit pucat, dan rasa mual samar yang ia rasakan sepanjang pagi kini memuncak. "Saya tidak menertawakan itu, Dokter. Saya hanya teringat hal yang lain," ia mencoba menjelaskan, suaranya tercekat.Sebuah jeda singkat menyelimuti mereka, terasa seperti jurang tak berdasar. Dr. Bima bangkit, berjalan mendekat, kedua tangannya tersembunyi di saku jas dokter miliknya. Auranya mengancam, tetapi ada sentuhan keintiman yang membuat Lidia bergidik.
"Teringat semalam, Nona Lidia?" ucap Dr. Bima pelan, nyaris berbisik, tapi menusuk sampai ke tulang. Senyum dingin terukir di bibirnya. "Bagaimana kau menjerit nyaman di pelukanku? Sehingga kau tertawa pagi ini ketika aku menjelaskan kode etik? Aku juga manusia, Nona Lidia. Aku bisa khilaf. Dan kuharap apa yang terjadi semalam hanya akan berhenti di kamu dan aku. Atau kau akan mendapatkan kesulitan yang lebih jauh." Ia mengakhiri kalimatnya dengan nada peringatan yang membuat seluruh nyali Lidia ciut, namun pada saat yang sama, amarahnya meluap.
Lidia menatapnya nyalang, kekesalannya tidak bisa disembunyikan lagi. Suaranya terdengar kementus, berusaha tampil setenang mungkin walau di dalam hatinya sudah bergemuruh hebat. "Dokter tidak perlu khawatir. Saya juga tidak mungkin membuka aib sendiri."
Angin malam di Semarang Atas terasa lebih menggigit daripada biasanya, menerpa melalui celah jendela kamar Kevin yang terbuka sebagian. Aroma melati dari kebun tetangga bercampur dengan hembusan udara dingin, seolah turut menyampaikan pertanda buruk. Kevin menekan tombol merah pada ponselnya, memutuskan sambungan telepon dengan dahi berkerut dalam. Berita yang baru saja ia terima, mengalir melalui kanal internal medis yang biasanya steril dari hiruk-pikuk skandal, sungguh mengguncang jiwanya.Penangkapan Kanaya Mahawira di sebuah vila mewah di Puncak, atas tuduhan percobaan pembunuhan, dan kemunculan tiba-tiba kakeknya, Rafael Irwanto, di hadapan publik Jakarta, sudah menjadi tajuk utama yang paling mencolok. Informasi tersebut menyebar dengan kecepatan yang mengerikan, berpotensi meruntuhkan pilar-pilar Cendekia Medika yang selama ini dianggap tak tergoyahkan. Kevin menarik napas panjang, paru-parunya terasa sesak oleh beban informasi yang harus segera ia sampaikan. Ia harus memberit
Berita penangkapan Kanaya Mahawira di Puncak menyebar laksana kobaran api di atas bensin, melalap fondasi yang rapuh. Pagi yang muram itu, bursa saham Jakarta terguncang hebat; nilai saham Mahawira Group di Cendekia Medika anjlok mencapai titik terendah dalam satu dekade terakhir. Di koridor-koridor rumah sakit yang dulunya megah, bisik-bisik mengenai status "anak haram" Alvin Mahawira mulai menjadi konsumsi publik, meruntuhkan martabat luhur yang selama ini dijunjung tinggi oleh dinasti Mahawira. Gelombang desas-desus itu, bagaikan racun yang perlahan menggerogoti, mulai meresapi setiap sendi operasional, mengancam kestabilan institusi medis kebanggaan itu.Di ruang rapat utama Cendekia Medika, atmosfer tegang mencengkeram. Aura kekuasaan berbenturan dengan duka dan kemarahan. Bima Adnyana berdiri tegak di ujung meja marmer panjang, dengan wajah yang mengeras, urat di pelipisnya menonjol pertanda emosi yang memuncak. Di sampingnya, dr. Asri, dengan tatapan kosong dan mata sembab, men
Puncak adalah lokasi yang dipilih oleh mereka yang mendambakan ketenangan, sebuah oasis terpencil yang berjanji melepaskan hiruk pikuk kehidupan kota. Namun, malam itu, kemegahan ilusi tersebut runtuh di salah satu vila megah tertinggi, di balik kabut tebal yang menyelimuti kediaman tua milik keluarga Mahawira. Udara dingin, pekat, menusuk hingga ke relung tulang, seolah menjadi prelud dari ketegangan yang menyesakkan di dalamnya. Jam dinding kuno yang berdiri tegak di sudut ruang tamu berdenting lemah, memecah kesunyian yang membeku.Kanaya Mahawira duduk anggun namun dengan aura yang mencekam di hadapan dr. Raditya, sosok yang wajahnya tersenyum tipis namun penuh perhitungan. Cahaya temaram dari lampu gantung bergaya klasik di langit-langit seolah tak cukup untuk mengusir bayangan-bayangan gelap yang menari di sudut ruangan. Sebuah botol anggur Burgundy nan mahal, terukir indah dengan detail rumit, serta dua gelas kristal nan jernih telah tersaji rapi di atas meja marmer, mencermink
Sementara itu di belahan kota Jakarta yang berbeda, dalam keheningan mencekam kediaman megah keluarga Mahawira, Kanaya Mahawira berdiri terpaku di balik jendela kamarnya. Kaca temaram memantulkan bayangan samar dirinya yang gelisah. Malam telah merayap, menelan cahaya senja, dan kegelapan di luar terasa makin pekat. Ia menatap lekat sebuah mobil sedan hitam yang terparkir tak jauh dari gerbang utama rumahnya. Tiga jam sudah mobil itu bergeming di sana, seperti predator yang sabar menanti mangsanya."Mereka sudah di sini," bisik Kanaya, jemarinya mencengkeram erat gorden beludru, buku-buku jarinya memutih. Tangannya gemetar hebat, sebuah tanda ketakutan yang kian mendalam. "Itu... pasti orang-orang Bima."Matanya memicing, berusaha menembus kegelapan, seolah dapat melihat sosok-sosok yang bersembunyi di balik kaca gelap mobil tersebut. "Dia... dia sudah mulai mengawasiku. Raditya pasti sudah berbicara dengannya, atau Bima sudah berhasil menemukan jejak di Semarang, melacak transaksi an
Darren Wisesa menatap adiknya dengan tatapan yang dingin membeku, serupa kepingan es di puncak pegunungan. Ruangan kantor pribadinya yang biasanya megah terasa kian menyesakkan, terpenuhi oleh beratnya rahasia yang baru saja tersingkap, mengancam untuk menodai kehormatan trah Wisesa. Sebagai nahkoda yang kini memimpin bahtera keluarga Wisesa, Darren memahami betul dilema pelik yang tengah ia hadapi.Dendam kesumat terhadap Surya Baskara, yang dahulu pernah mencoba menjatuhkan imperiumnya, adalah kepuasan pribadi yang tak terlukiskan. Namun, membiarkan garis keturunan mereka terpuruk dalam jurang skandal pembunuhan, dengan tudingan yang dilekatkan pada anggota keluarga, adalah tindakan bunuh diri bagi citra dan kelangsungan bisnis mereka. Keputusan harus diambil, dan konsekuensinya terasa berat."Baik, Kevin. Aku akan menggunakan seluruh jaringan hukum keluarga Wisesa yang kita miliki untuk melunakkan posisi Surya Baskara," ucap Darren, suaranya berat, serupa racun pahit yang terpaksa
Malam itu, di dalam ruang kerja pribadi dr. Darren Wisesa yang didesain untuk menyerap segala bentuk kebisingan eksternal, namun kini justru dipenuhi oleh bisikan mengerikan dari kebenaran yang tak terduga, suasana terasa begitu mencekam.Meja kerja mahogani nan mewah itu, tempat ia biasa menyelesaikan transaksi-transaksi bernilai jutaan dolar dengan ketenangan absolut, kini menjadi saksi bisu atas goncangan batin yang tengah melandanya. Darren menatap adiknya, Kevin, dengan tatapan tajam dan penuh ketidaksenangan. Di atas meja, Kevin baru saja meletakkan salinan dokumen yang ia dapatkan dari Raditya, sebuah salinan yang bobotnya kini terasa jauh lebih berat daripada lembaran-lembaran kertas finansial."Kau memintaku untuk membantu Surya Baskara? Kau gila, Kevin?" desis Darren, suaranya rendah namun dipenuhi amarah yang membara. "Pria itu sudah hampir menghancurkan kita di Budapest. Dia pantas membusuk di penjara selamanya atas apa yang ia lakukan. Dan sekarang kau dengan lancang memi







