Share

Bab 2 Kengerian Di Pagi Hari

Author: Alexa Ayang
last update Last Updated: 2025-09-19 13:20:25

Kepala Lidia pusing banget, rasanya kayak habis dipukuli berkali-kali sama preman terminal. Ia membuka mata perlahan, tapi sinar matahari yang menusuk lewat jendela panorama bikin ia langsung meringis. Langit-langit mewah, selimut satin licin, dan bantal-bantal empuk yang masih kusut. Ini… di mana sih? Otaknya butuh waktu lama untuk menyinkronkan data antara mata dan memori. Hotel mewah? Kayaknya ia nggak pernah deh masuk tempat kayak gini sendirian. Apalagi sampai menginap.

Pakaiannya sendiri sudah entah kemana, mungkin tergeletak di lantai dekat ranjang sana, bersama harapan dan cita-citanya yang remuk. Ia cuma pakai bra dan celana dalam. Aduh, kok bisa?

Kemudian, tangan kekar itu melingkar erat di pinggangnya, membuat napasnya tertahan. Jantung Lidia langsung berpacu di kecepatan maksimal. Aroma parfum Tom Ford mahal yang menusuk hidung membuat tengkuknya meremang. Suara dengkuran halus dan hembusan napas hangat di punggung telanjangnya? Astaga, dia nggak sendirian! Kepalanya langsung berputar, memikirkan semalam. Tapi semua buram, dipenuhi kabut alkohol dan suara musik yang bising. Kenapa dia harus minum sampai segila itu sih?

Pelan-pelan, Lidia memberanikan diri. Tangannya gemetar saat berusaha memindahkan lengan kekar yang melingkar itu. Berat banget. Aroma Tom Ford semakin tajam saat ia mencoba menggeser tubuh berat di belakangnya. Keringat dingin mulai membanjiri punggungnya. Sumpah, kalau ini sampai cowok asing… Ya ampun! Matanya mengerjap, fokusnya terpaku pada pria yang masih terlelap itu. Dan kemudian, dia melihat wajahnya. Wajah yang sangat familier. Wajah yang biasa dia lihat tiap hari di rumah sakit.

Mata Lidia langsung membelalak sebesar bola tenis. Leo Bima Adnyana. Dokter Bima! Dokter tampan berprestasi sekaligus pimpinan di rumah sakit tempat ia magang dan, yang paling penting, pembimbing kliniknya sendiri. Seketika, rasa mual memenuhi kerongkongannya. "Waduuuhh, mati aku!" bisiknya tanpa suara, jantungnya melompat-lompat seperti habis maraton. "Kenapa bisa jadi begini sih?" Kepalanya auto pusing tujuh keliling.

Tangannya bergerak otomatis, menggapai bajunya yang tadi disebut tergeletak menyedihkan di lantai. Celana jeans, kaus, jaket… Sumpah serapah internal berhamburan dalam otaknya. Ia buru-buru memakai semua, mencoba seminimal mungkin menimbulkan suara. Gerakannya canggung dan kaku. Ini seperti melarikan diri dari tempat kejadian perkara, dan Lidia merasa dirinya adalah tersangka utama. Setelah berpakaian lengkap, tanpa ba-bi-bu, Lidia segera keluar dari kamar hotel ini. Pelan-pelan. Sangat pelan. Jari-jemarinya yang basah karena keringat berjuang membuka kunci pintu kamar. Berhasil.

Sebuah senyum kecil, penuh kepuasan, terlihat di wajah tampan Dokter Bima yang masih terlelap pulas. Senyum itu entah kenapa justru membuat Lidia makin muak. Dia melangkah lagi, tinggal satu langkah lagi untuk keluar dari neraka kecil ini, saat tiba-tiba… sebuah tangan kokoh menjangkau dan menggenggam pergelangan tangannya. Langkah Lidia terhenti.

"Tunggu." Suara beratnya terdengar bagai guntur di telinga Lidia. Bass yang familiar, yang biasanya dipakai Dokter Bima untuk memberi perintah di ruang bedah.

Tubuh Lidia membeku, tak bisa bergerak seinci pun. Panik luar biasa langsung menyergap. Kepalanya kosong. Habislah aku! "Kau mau ke mana nona…" kata Dokter Bima lagi, suaranya pelan dan mengancam, seolah sengaja dipermainkan. Tapi kalimatnya terpotong, diganti dengan tawa geli yang kering saat matanya akhirnya fokus. Tatapan Dokter Bima menelusuri Lidia dari ujung rambut sampai kaki. Sebuah seringai tipis muncul di bibirnya. Dia baru sadar.

"Lidia?" Senyumnya merekah, jauh lebih lebar kali ini, penuh misteri yang mengerikan bagi Lidia. Seolah dia baru menemukan harta karun tersembunyi.

Lidia menelan ludah paksa, tenggorokannya kering kerontang. Kakinya terasa lemas, lututnya nyaris bergetar. "Ya, Dokter Bima," jawabnya terbata-bata, nyaris tidak terdengar. Ini lebih mirip bisikan putus asa.

Dokter Bima berdiri dari ranjang, masih tanpa sehelai benang pun, tubuh atletisnya terlihat begitu sempurna. Tapi Lidia terlalu ngeri untuk kagum. "Sebuah kejutan yang menyenangkan," ujarnya, langkahnya mendekat, matanya menatap Lidia dengan intensitas yang sukses membuat setiap saraf di tubuh Lidia beku. Otaknya error, nggak bisa mikir apa-apa lagi.

Dia mengulurkan tangannya, menyentuh dagu Lidia pelan, mengangkatnya agar tatapan mereka bertemu. Mata hitam Dokter Bima menusuk, mencari-cari. "Ini akan jadi rahasia kecil kita. Oke?" ucapnya dengan suara yang diatur agar terdengar menenangkan, namun bagi Lidia, itu lebih seperti ancaman telanjang.

Lidia cuma bisa mengangguk kecil, sama sekali nggak sanggup mengucapkan sepatah kata pun. Mulutnya terasa terkunci. Dokter Bima, masih dengan santainya, mulai mengambil pakaiannya yang tersebar di lantai, celana dan kemejanya. Ia mengenakan semuanya di depan Lidia tanpa rasa malu sedikit pun. Lidia segera mengalihkan pandangan, wajahnya memerah padam. Semalam, karena pengaruh alkohol, rasa malu itu entah kemana. Sekarang, saat semua kesadaran kembali menyerang, wajahnya benar-benar pucat, bergantian dengan merah tomat karena rasa malunya luar biasa.

"Mau sarapan?" tanya Dokter Bima sambil berjalan ke arahnya lagi, kali ini tangan hangatnya mendarat di bahu Lidia.

Seketika Lidia merasa lemas dan nyaris jatuh terduduk. Ia menggeleng keras, seolah makanan adalah hal paling menjijikkan di dunia. Dokter Bima menaikkan sebelah alisnya, seringai masih bermain di bibir. "Baiklah kalau begitu. Hari ini kuliahku pukul sepuluh pagi. Jangan sampai terlambat, Dokter Lidia," katanya, penekanan di bagian "Dokter Lidia" itu membuat Lidia merasa semakin terpojok. Suara peringatan itu terngiang-ngiang di kepalanya, menimbang ancaman besar untuk masa depannya jika ia berani tidak mematuhinya. Ini seperti mimpi buruk yang jadi nyata.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Malam Terlarang Bersama Dokter Pembimbingku   Bab 321: Di Antara Reruntuhan Ego

    Angin malam di Semarang Atas terasa lebih menggigit daripada biasanya, menerpa melalui celah jendela kamar Kevin yang terbuka sebagian. Aroma melati dari kebun tetangga bercampur dengan hembusan udara dingin, seolah turut menyampaikan pertanda buruk. Kevin menekan tombol merah pada ponselnya, memutuskan sambungan telepon dengan dahi berkerut dalam. Berita yang baru saja ia terima, mengalir melalui kanal internal medis yang biasanya steril dari hiruk-pikuk skandal, sungguh mengguncang jiwanya.Penangkapan Kanaya Mahawira di sebuah vila mewah di Puncak, atas tuduhan percobaan pembunuhan, dan kemunculan tiba-tiba kakeknya, Rafael Irwanto, di hadapan publik Jakarta, sudah menjadi tajuk utama yang paling mencolok. Informasi tersebut menyebar dengan kecepatan yang mengerikan, berpotensi meruntuhkan pilar-pilar Cendekia Medika yang selama ini dianggap tak tergoyahkan. Kevin menarik napas panjang, paru-parunya terasa sesak oleh beban informasi yang harus segera ia sampaikan. Ia harus memberit

  • Malam Terlarang Bersama Dokter Pembimbingku   Bab 320: Perisai Hukum dan Luka Lama

    Berita penangkapan Kanaya Mahawira di Puncak menyebar laksana kobaran api di atas bensin, melalap fondasi yang rapuh. Pagi yang muram itu, bursa saham Jakarta terguncang hebat; nilai saham Mahawira Group di Cendekia Medika anjlok mencapai titik terendah dalam satu dekade terakhir. Di koridor-koridor rumah sakit yang dulunya megah, bisik-bisik mengenai status "anak haram" Alvin Mahawira mulai menjadi konsumsi publik, meruntuhkan martabat luhur yang selama ini dijunjung tinggi oleh dinasti Mahawira. Gelombang desas-desus itu, bagaikan racun yang perlahan menggerogoti, mulai meresapi setiap sendi operasional, mengancam kestabilan institusi medis kebanggaan itu.Di ruang rapat utama Cendekia Medika, atmosfer tegang mencengkeram. Aura kekuasaan berbenturan dengan duka dan kemarahan. Bima Adnyana berdiri tegak di ujung meja marmer panjang, dengan wajah yang mengeras, urat di pelipisnya menonjol pertanda emosi yang memuncak. Di sampingnya, dr. Asri, dengan tatapan kosong dan mata sembab, men

  • Malam Terlarang Bersama Dokter Pembimbingku   Bab 319: Tragedi di Balik Kabut Puncak

    Puncak adalah lokasi yang dipilih oleh mereka yang mendambakan ketenangan, sebuah oasis terpencil yang berjanji melepaskan hiruk pikuk kehidupan kota. Namun, malam itu, kemegahan ilusi tersebut runtuh di salah satu vila megah tertinggi, di balik kabut tebal yang menyelimuti kediaman tua milik keluarga Mahawira. Udara dingin, pekat, menusuk hingga ke relung tulang, seolah menjadi prelud dari ketegangan yang menyesakkan di dalamnya. Jam dinding kuno yang berdiri tegak di sudut ruang tamu berdenting lemah, memecah kesunyian yang membeku.Kanaya Mahawira duduk anggun namun dengan aura yang mencekam di hadapan dr. Raditya, sosok yang wajahnya tersenyum tipis namun penuh perhitungan. Cahaya temaram dari lampu gantung bergaya klasik di langit-langit seolah tak cukup untuk mengusir bayangan-bayangan gelap yang menari di sudut ruangan. Sebuah botol anggur Burgundy nan mahal, terukir indah dengan detail rumit, serta dua gelas kristal nan jernih telah tersaji rapi di atas meja marmer, mencermink

  • Malam Terlarang Bersama Dokter Pembimbingku   Bab 318 Rencana Lain Kanaya

    Sementara itu di belahan kota Jakarta yang berbeda, dalam keheningan mencekam kediaman megah keluarga Mahawira, Kanaya Mahawira berdiri terpaku di balik jendela kamarnya. Kaca temaram memantulkan bayangan samar dirinya yang gelisah. Malam telah merayap, menelan cahaya senja, dan kegelapan di luar terasa makin pekat. Ia menatap lekat sebuah mobil sedan hitam yang terparkir tak jauh dari gerbang utama rumahnya. Tiga jam sudah mobil itu bergeming di sana, seperti predator yang sabar menanti mangsanya."Mereka sudah di sini," bisik Kanaya, jemarinya mencengkeram erat gorden beludru, buku-buku jarinya memutih. Tangannya gemetar hebat, sebuah tanda ketakutan yang kian mendalam. "Itu... pasti orang-orang Bima."Matanya memicing, berusaha menembus kegelapan, seolah dapat melihat sosok-sosok yang bersembunyi di balik kaca gelap mobil tersebut. "Dia... dia sudah mulai mengawasiku. Raditya pasti sudah berbicara dengannya, atau Bima sudah berhasil menemukan jejak di Semarang, melacak transaksi an

  • Malam Terlarang Bersama Dokter Pembimbingku   Bab 317: Syarat Sang Kakak dan Langkah Nekat Kanaya

    Darren Wisesa menatap adiknya dengan tatapan yang dingin membeku, serupa kepingan es di puncak pegunungan. Ruangan kantor pribadinya yang biasanya megah terasa kian menyesakkan, terpenuhi oleh beratnya rahasia yang baru saja tersingkap, mengancam untuk menodai kehormatan trah Wisesa. Sebagai nahkoda yang kini memimpin bahtera keluarga Wisesa, Darren memahami betul dilema pelik yang tengah ia hadapi.Dendam kesumat terhadap Surya Baskara, yang dahulu pernah mencoba menjatuhkan imperiumnya, adalah kepuasan pribadi yang tak terlukiskan. Namun, membiarkan garis keturunan mereka terpuruk dalam jurang skandal pembunuhan, dengan tudingan yang dilekatkan pada anggota keluarga, adalah tindakan bunuh diri bagi citra dan kelangsungan bisnis mereka. Keputusan harus diambil, dan konsekuensinya terasa berat."Baik, Kevin. Aku akan menggunakan seluruh jaringan hukum keluarga Wisesa yang kita miliki untuk melunakkan posisi Surya Baskara," ucap Darren, suaranya berat, serupa racun pahit yang terpaksa

  • Malam Terlarang Bersama Dokter Pembimbingku   Bab 315: Pengakuan Berdarah dan Jejak yang Tertinggal

    Malam itu, di dalam ruang kerja pribadi dr. Darren Wisesa yang didesain untuk menyerap segala bentuk kebisingan eksternal, namun kini justru dipenuhi oleh bisikan mengerikan dari kebenaran yang tak terduga, suasana terasa begitu mencekam.Meja kerja mahogani nan mewah itu, tempat ia biasa menyelesaikan transaksi-transaksi bernilai jutaan dolar dengan ketenangan absolut, kini menjadi saksi bisu atas goncangan batin yang tengah melandanya. Darren menatap adiknya, Kevin, dengan tatapan tajam dan penuh ketidaksenangan. Di atas meja, Kevin baru saja meletakkan salinan dokumen yang ia dapatkan dari Raditya, sebuah salinan yang bobotnya kini terasa jauh lebih berat daripada lembaran-lembaran kertas finansial."Kau memintaku untuk membantu Surya Baskara? Kau gila, Kevin?" desis Darren, suaranya rendah namun dipenuhi amarah yang membara. "Pria itu sudah hampir menghancurkan kita di Budapest. Dia pantas membusuk di penjara selamanya atas apa yang ia lakukan. Dan sekarang kau dengan lancang memi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status