Share

Bab 4 Penyesalan Yang Beku

Author: Alexa Ayang
last update Last Updated: 2025-09-19 15:18:09

Bima menghela napas dalam-dalam, menahan beban yang tiba-tiba memberatinya. Ia memandang punggung Lidia yang perlahan menjauh, menuju lift. Gadis itu menghilang di balik pintu baja, meninggalkan Bima sendiri dalam kesunyian koridor. Ia memejamkan mata sesaat, benaknya dipenuhi penyesalan. "Astaga, mengapa aku harus mabuk malam itu? Maafkan aku, Lidia," gumamnya dalam hati, menyesali peristiwa yang kini tak dapat ditarik kembali. Ia menata kembali tumpukan berkas dan buku medis di mejanya dengan gerakan robotis, pikirannya masih jauh mengembara.

Saat Bima melangkah pergi, menyusuri koridor rumah sakit dan berbelok menuju ruang jaga, ia masih samar-samar mendengar suara Kevin yang terdengar mencoba membujuk Lidia dari balik sebuah pintu. Kevin tampak sungguh-sungguh meminta Lidia untuk memberinya kesempatan lagi, memperbaiki segala kesalahpahaman yang terjadi di antara mereka. Suara Bima sendiri menghela napas, hatinya diliputi kegalauan yang mendalam. Ia berketetapan kuat untuk melupakan seluruh peristiwa di malam yang menyesatkan itu, sebuah resolusi yang ironisnya semakin memperjelas betapa gadis itu benar-benar telah menyentuh titik paling rawan di dalam hatinya, sebuah tempat yang selama ini ia kira terbuat dari batu.

Tiba-tiba, suara ramah Dr. Alvin memecah lamunannya. "Dr. Bima, kita ada operasi pengangkatan tumor hari ini, bukan? Apakah Anda baik-baik saja? Sepertinya Anda terlihat cukup lelah," ujarnya sambil menatap Bima dengan sorot mata yang penuh perhatian.

Bima menarik napas, berusaha menampilkan ekspresi setenang mungkin. "Aku baik-baik saja, Vin. Terima kasih atas perhatianmu. Siapkan saja segalanya; kemungkinan besar akan membutuhkan waktu sekitar empat jam maraton di meja operasi."

Dokter Alvin tersenyum tipis, memahami determinasi rekannya, lalu menepuk pundak Bima dengan gestur persahabatan. Ia sempat melirik ke arah Lidia yang baru saja keluar dari sebuah ruangan, dan secara kebetulan pandangan mereka bertemu sesaat. Sekilas, terbersit rasa bersalah dalam diri Bima ketika teringat interaksinya dengan Lidia. Namun, keangkuhan yang melekat pada profesinya, atau mungkin juga pada dirinya, memaksanya untuk segera menyembunyikan sisi lemahnya itu. Ekspresi wajahnya kembali tegak, tanpa cela.

Di sisi lain rumah sakit, Dr. Surya baru saja menyelesaikan praktik sorenya. Saat ia melintasi lorong, pandangannya tanpa sengaja menangkap sosok Dr. Bima yang baru saja selesai berdialog dengan Dr. Alvin. Sontak, rona ceria yang semula menghiasi wajah Dr. Surya menguap begitu saja, berganti menjadi ekspresi dingin yang tegas. Perubahan mendadak ini tidak luput dari pengamatan Perawat Esti dan Perawat Rido yang kebetulan berada di dekatnya.

"Aku sungguh bertanya-tanya, apa ia sesempurna itu ya sebagai manusia, tanpa celah sedikit pun dan tanpa titik lemah, sehingga bisa seenaknya menunjuk jari pada kesalahan setiap orang?" gumam Surya dalam hati, nada sindiran menyertai pemikirannya.

Perawat Esti memandang Surya dengan tatapan yang sedikit berbeda dari biasanya, sarat dengan simpati sekaligus pemahaman. "Dokter masih sakit hati ya dengan Dokter Bima? Memang beliau sangat disiplin dalam menegakkan etika dan peraturan rumah sakit. Itu sebabnya rumah sakit ini berhasil selamat dari kebangkrutan, setelah melalui masa-masa sulit, tapi ya... tak bisa dipungkiri bahwa banyak orang juga yang kemudian tersingkir karenanya."

Surya mendengus pelan, raut kekesalan tak mampu disembunyikannya. "Aku hanya tidak menyukai caranya ikut campur dalam urusan pribadi orang lain, Esti. Lagipula, aku dan Debbi juga tidak berkencan pada jam kerja, bukan?" Ia berujar, mencoba membela diri atas hukuman skorsing yang pernah diterimanya.

Perawat Esti hanya mampu terdiam, mengangguk kecil sebagai respons atas keberatan Surya yang tampak jelas tertulis di wajahnya. Sementara itu, Rido hanya bisa menghela napas panjang. Bagi Rido, keputusan skorsing yang dijatuhkan pada dr. Surya, meskipun pahit, sejatinya merupakan konsekuensi logis dari tindakan yang melanggar etika profesional. Ia menyadari bahwa kebijakan yang diberlakukan dr. Bima, walau tegas, adalah esensial untuk menjaga kredibilitas dan stabilitas institusi medis tersebut.

Surya, yang tidak peduli dengan reaksi Rido, melanjutkan ocehannya dengan nada sinis. "Yah... seolah-olah dia itu tidak pernah jatuh cinta saja. Atau jangan-jangan hatinya memang terbuat dari es yang dingin membatu?" Ia bergumam penuh kejengkelan, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada rekan-rekannya.

Tepat pada saat itu, Dr. Rukmana datang menghampiri mereka. Sebuah senyum tersungging di bibirnya ketika ia menepuk bahu Surya. "Nah, itu sebabnya besok, kau harus mendukungku untuk menjadi penggantinya," ucap Dr. Rukmana dengan suara berbisik, menyiratkan adanya sebuah konspirasi kecil.

"Wah, itu sudah pasti, Rukma! Kau pasti akan menjadi pimpinan yang jauh lebih manusiawi dibandingkan Bima," balas Surya cepat, bersemangat menerima ajakan Dr. Rukmana. Mereka lantas melakukan salam tinju khas, sebuah tanda solidaritas dan kesepahaman di antara keduanya. Perawat Rido hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya perlahan, menyaksikan drama politik rumah sakit yang tak berkesudahan di hadapannya.

Tepat saat itu, ponsel Dr. Rukmana bergetar. Sebuah pesan masuk, dan saat ia membacanya, seringai licik tersungging di bibirnya. Ia melirik Surya, matanya menyala penuh kemenangan. "Bersiaplah, Surya," bisiknya, nadanya dingin dan penuh perhitungan. "Fakta-fakta baru akan terungkap, dan topeng kesempurnaan Dr. Bima sebentar lagi akan jatuh, lebih cepat dari yang kita bayangkan."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Malam Terlarang Bersama Dokter Pembimbingku   Bab 232: Langkah Pertama di Koridor Eksekutif

    Kantor para spesialis adalah tempat di mana ketenangan mutlak adalah hukum. Di lorong ini, biasanya hanya ada langkah kaki terukur dan suara kertas-kertas yang diseret pelan. Itulah mengapa rencana Wulan terbilang cukup nekat. Wulan tahu bahwa mendekati Dokter Darren Wisesa, Spesialis Urologi yang reputasinya sangat terkemuka sekaligus sosok yang dikenal dingin, terukur, dan memiliki tembok pertahanan yang menjulang tinggi, tidak bisa dilakukan dengan cara yang sama seperti menghadapi residen atau staf rumah sakit biasa. Ia perlu sesuatu yang bisa memecah ketenangan, mengoyak kerapian yang begitu dijunjung tinggi oleh Dokter Darren.Hasil "riset" singkat Wulan yang diam-diam ia lakukan beberapa hari terakhir – entah itu dari desas-desus perawat atau pengamatan kecil – menunjukkan bahwa Dokter Darren adalah pribadi yang menyukai keteraturan, kesempurnaan, dan efisiensi di atas segalanya. Ruangannya selalu rapi, dokumennya tersusun sesuai abjad, dan bahkan jas putih

  • Malam Terlarang Bersama Dokter Pembimbingku   Bab 231: Strategi Cantik Sang Kembar

    Ruang istirahat residen sore itu terasa pengap, bukan karena kurangnya ventilasi, tapi oleh kemarahan yang meluap-luap dari dua penghuninya. Wulan duduk dengan wajah ditekuk dalam-dalam, jari-jemarinya menggenggam erat sebuah pena, seolah siap mematahkan benda malang itu kapan saja. Di sebelahnya, Riris tak kalah muram, bibirnya mengerucut membentuk garis tipis penuh kejengkelan, matanya berkaca-kaca menahan luapan emosi yang siap tumpah. Keduanya baru saja menerima tamparan keras dari kenyataan: mantan kekasih mereka, Vito dan Gerald, ternyata adalah pion dalam permainan kotor para senior, bukan pria yang bisa dipercaya. Rasa dikhianati dan dipermalukan membuat mereka merasa perlu melakukan sesuatu, lebih dari sekadar memutuskan hubungan yang sudah pasti berakhir itu.“Aku nggak percaya. Gimana bisa Vito jadi sebajingan itu?” gumam Wulan, suaranya parau menahan amarah. "Kita ini bodoh banget, ya? Terperangkap dalam jaring-jaring mereka yang murahan."Riris

  • Malam Terlarang Bersama Dokter Pembimbingku   Bab 230: Retaknya Barisan Setia

    Kantin belakang Rumah Sakit Cendikia Medika adalah tempat paling nyaman kalau kamu ingin menyendiri, atau paling tidak, merasa sendirian. Malam ini, seolah sengaja ikut sunyi, lampu-lampu di sana juga tampak meredup, hanya menyisakan beberapa cahaya remang-remang yang menerangi deretan meja dan kursi. Tapi bukan kesunyian itu yang dicari tiga residen bedah yang duduk di salah satu sudut, wajah mereka lebih tegang daripada benang operasi yang ditarik maksimal.Kaiden baru saja menurunkan ponselnya, raut wajahnya makin kusut seperti sarung bantal yang belum disetrika selama seminggu. Kevin, yang masih dalam tahap pemulihan pasca-pembedahan ringan gara-gara 'kejadian itu', barusan menelepon dari kamarnya, menagih laporan dan sedikit banyak mengeluh soal strateginya yang meleset jauh."Gila, sumpah deh, gila," Kaiden mengeluh sambil mengusap wajahnya kasar, tangannya lalu meremas punggung leher. "Jebakan yang kita buat tempo hari malah jadi senjata makan tuan, Bro. Kevin bilang rencananya

  • Malam Terlarang Bersama Dokter Pembimbingku   Bab 229: Aroma yang Tertinggal

    Puncak malam itu seperti menelan segala cerita dan menyembunyikannya di balik selimut kabut yang pekat. Udara dingin merayap masuk ke celah-celah mobil, seolah ingin ikut merasakan ketegangan yang menggantung di dalamnya. Turun dari puncak menuju kota, suasana dalam masing-masing mobil terasa sangat mencekam. Lampu jalan yang remang-remang sesekali menembus tirai putih itu, tapi tak cukup terang untuk menerangi kekalutan pikiran setiap orang yang terlibat dalam drama di villa tadi. Ketegangan yang tak terucap, seperti kabut itu, mengaburkan segalanya.Di mobil keluarga Mahawira, Toyota Land Cruiser hitam yang senyap, Nana Lidwina sesekali melirik Alvin yang duduk di kursi pengemudi. Jemari Alvin terlihat kencang meremas kemudi, seperti menahan beban yang berat. Raut wajahnya tegang, alisnya bertaut, dan matanya terus-menerus melirik kaca spion tengah, seolah ingin memastikan mobil Bima yang membawa Lidya. Gerak-gerik Alvin bukan seperti pria yang baru saja membahas masalah serius soal

  • Malam Terlarang Bersama Dokter Pembimbingku   Bab 228: Sisi Gelap Kesetiaan

    Di dalam villa yang sunyi, di antara rintik gerimis yang membasahi jendela kaca dan selubung kabut yang merangkul lereng Puncak, waktu seakan membeku dalam kehampaan yang ironis. Alvin dan Lidya, tak terpisahkan dalam dekapan momen yang membebaskan, tenggelam dalam ciuman yang membara. Bukan sekadar sentuhan bibir, melainkan pelepasan segala rindu yang tertimbun, rahasia yang terbelenggu, dan kerentanan yang akhirnya diizinkan untuk terungkap. Sensasi hangat nan memabukkan itu menjadi titik kulminasi dari pengakuan yang pahit, namun jujur, yang baru saja mereka bagi. Dalam kebisuan yang disela oleh deru napas yang memburu, ikatan yang telah lama tertunda seintens itu kini mendapatkan jedanya.Namun, kedamaian fana itu hancur berantakan dalam sekejap. Tiba-tiba, suara deru mesin mobil yang semakin mendekat dari halaman depan villa merobek kesunyian. Deruman berat itu bergeser dari samar-samar menjadi kian nyata, seolah mendekap mereka dalam kepanikan yang terpaksa.Lidy

  • Malam Terlarang Bersama Dokter Pembimbingku   Bab 227: Kebenaran di Balik Kabut Puncak

    Gejolak di dada Alvin rasanya sudah tidak bisa lagi ia tahan. Setiap embusan napas Lidya yang lewat di dekatnya seperti jeritan yang memanggil nama masa lalu, nama yang selama ini mati-matian ia kubur dalam-dalam. Melihat Lidya melangkah santai menuju kasir di supermarket itu, seolah semua baik-baik saja, memicu sesuatu dalam dirinya. Cukup sudah. Drama ini harus segera diakhiri. Bukan begini caranya hidup disiksa, memendam semuanya sendiri.Tanpa pikir panjang, Alvin langsung menyambar langkah Lidya. Gerakannya cepat, sigap, dan penuh determinasi. "Lidya!" panggilnya, suaranya tercekat oleh emosi yang membuncah.Lidya berbalik, raut terkejut jelas terukir di wajahnya. Sebelum sempat mengucapkan sepatah kata pun, Alvin sudah mencengkeram lengannya dengan sedikit paksa—tidak menyakiti, tapi cukup untuk mengirim pesan agar Lidya tak lagi melawan. Ia menarik Lidya, membawanya dengan cepat keluar dari keramaian supermarket, melewati lorong-lorong mal yang padat, dan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status