Share

Bab 42 Peringatan Pada Lawan

Penulis: Alexa Ayang
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-17 18:16:58

Siang itu, hawa panas bulan April seolah ikut masuk ke dalam ruang kerja Alvin. AC di sana sudah menyala maksimal, tapi keringat tipis masih sempat muncul di keningnya. Dia sedang meninjau beberapa dokumen akreditasi, melacak detail kecil yang bisa jadi masalah besar di masa depan. Angka-angka dan persentase di layarnya membentuk pola rumit yang entah kenapa malah membuat matanya cepat lelah. Belum lagi tekanan untuk selalu mempertahankan status "terbaik" yang disandang rumah sakit ini bertahun-tahun lamanya.

Pintu ruang kerjanya yang elegan itu tiba-tiba terbuka, menampilkan sosok dr. Rukmana yang berdiri di ambang pintu, aura dinginnya terasa kontras dengan cuaca di luar. Rukmana selalu begitu, kalem tapi menyimpan sesuatu. Alvin mengulas senyum simetris yang sudah terlatih.

"Aahh, dr. Rukmana, silakan masuk. Mari duduk, mau minum apa? Kopi, teh, atau air putih dingin mungkin?" tanya Alvin, mencoba membuat suasana lebih santai sambil sedikit mendorong tumpukan dokumen agar mejanya t
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Malam Terlarang Bersama Dokter Pembimbingku   Bab 234: Kejujuran yang Dingin

    Rumah besar keluarga Mahawira terasa sunyi sore itu. Kicauan burung-burung yang biasanya bersahutan dari pepohonan rindang di halaman kini seolah enggan terdengar, digantikan oleh keheningan yang menyesakkan. Kanaya tidak ada di rumah, katanya ada pertemuan penting mendadak. Hal itu menyisakan Alvin dan Nana Lidwina dalam keheningan yang super canggung. Udara terasa tebal dan dingin, seolah-olah mereka terjebak dalam ruang hampa emosi.Sejak insiden singkat nan penuh ketegangan di Puncak waktu itu, Nana merasa jarak antara dirinya dan Alvin justru semakin lebar, melebar seperti jurang yang menganga. Alvin memang selalu memperlakukannya dengan sopan santun yang sempurna—pintu mobil selalu dibukakan, pujian ringan sesekali dilemparkan untuk pakaiannya, atau senyuman tipis sekadar basa-basi. Namun, itu semua terasa hambar, dingin sedingin es. Setiap kali mata mereka bertatapan, Nana hanya melihat kehampaan di sana, tidak ada gairah, tidak ada percikan, apalagi gejolak yang seharusnya ada

  • Malam Terlarang Bersama Dokter Pembimbingku   Bab 233 Duri di mata Kevin

    Kevin Abimanyu Wisesa berdiri seperti patung cadas di lobi utama Cendikia Medika. Tangannya mengepal erat di saku jasnya yang sudah lecek, mencengkeram kain seolah itu leher musuh bebuyutannya. Sejak lima menit lalu, pandangannya tertuju pada satu titik di luar pintu putar rumah sakit, menyaksikan sebuah drama romantis yang baginya terasa seperti film horor tanpa akhir. Dadanya serasa dibakar, bukan oleh gerd akut, tapi oleh rasa panas yang membuncah dari ulu hati hingga tenggorokannya."Cih," desisnya tanpa suara, giginya bergemeletuk.Sebuah mobil sport hitam, yang baru beberapa bulan ini kerap jadi pusat perhatian di area parkir khusus staf, baru saja berhenti mulus. Bukan, bukan mobilnya sendiri, apalagi mobil Surya. Itu mobil dokter Leo Bima Adnyana , sialan. Sosok tinggi itu turun, tampak seperti biasa – rapi, tenang, dan… menyebalkan. Tapi kali ini ada yang berbeda. Bima tidak langsung masuk seperti terburu-buru oleh jadwal bedah genting. Tidak, dia berjalan memutar. Dan Kevin

  • Malam Terlarang Bersama Dokter Pembimbingku   Bab 232: Langkah Pertama di Koridor Eksekutif

    Kantor para spesialis adalah tempat di mana ketenangan mutlak adalah hukum. Di lorong ini, biasanya hanya ada langkah kaki terukur dan suara kertas-kertas yang diseret pelan. Itulah mengapa rencana Wulan terbilang cukup nekat. Wulan tahu bahwa mendekati Dokter Darren Wisesa, Spesialis Urologi yang reputasinya sangat terkemuka sekaligus sosok yang dikenal dingin, terukur, dan memiliki tembok pertahanan yang menjulang tinggi, tidak bisa dilakukan dengan cara yang sama seperti menghadapi residen atau staf rumah sakit biasa. Ia perlu sesuatu yang bisa memecah ketenangan, mengoyak kerapian yang begitu dijunjung tinggi oleh Dokter Darren.Hasil "riset" singkat Wulan yang diam-diam ia lakukan beberapa hari terakhir – entah itu dari desas-desus perawat atau pengamatan kecil – menunjukkan bahwa Dokter Darren adalah pribadi yang menyukai keteraturan, kesempurnaan, dan efisiensi di atas segalanya. Ruangannya selalu rapi, dokumennya tersusun sesuai abjad, dan bahkan jas putih

  • Malam Terlarang Bersama Dokter Pembimbingku   Bab 231: Strategi Cantik Sang Kembar

    Ruang istirahat residen sore itu terasa pengap, bukan karena kurangnya ventilasi, tapi oleh kemarahan yang meluap-luap dari dua penghuninya. Wulan duduk dengan wajah ditekuk dalam-dalam, jari-jemarinya menggenggam erat sebuah pena, seolah siap mematahkan benda malang itu kapan saja. Di sebelahnya, Riris tak kalah muram, bibirnya mengerucut membentuk garis tipis penuh kejengkelan, matanya berkaca-kaca menahan luapan emosi yang siap tumpah. Keduanya baru saja menerima tamparan keras dari kenyataan: mantan kekasih mereka, Vito dan Gerald, ternyata adalah pion dalam permainan kotor para senior, bukan pria yang bisa dipercaya. Rasa dikhianati dan dipermalukan membuat mereka merasa perlu melakukan sesuatu, lebih dari sekadar memutuskan hubungan yang sudah pasti berakhir itu.“Aku nggak percaya. Gimana bisa Vito jadi sebajingan itu?” gumam Wulan, suaranya parau menahan amarah. "Kita ini bodoh banget, ya? Terperangkap dalam jaring-jaring mereka yang murahan."Riris

  • Malam Terlarang Bersama Dokter Pembimbingku   Bab 230: Retaknya Barisan Setia

    Kantin belakang Rumah Sakit Cendikia Medika adalah tempat paling nyaman kalau kamu ingin menyendiri, atau paling tidak, merasa sendirian. Malam ini, seolah sengaja ikut sunyi, lampu-lampu di sana juga tampak meredup, hanya menyisakan beberapa cahaya remang-remang yang menerangi deretan meja dan kursi. Tapi bukan kesunyian itu yang dicari tiga residen bedah yang duduk di salah satu sudut, wajah mereka lebih tegang daripada benang operasi yang ditarik maksimal.Kaiden baru saja menurunkan ponselnya, raut wajahnya makin kusut seperti sarung bantal yang belum disetrika selama seminggu. Kevin, yang masih dalam tahap pemulihan pasca-pembedahan ringan gara-gara 'kejadian itu', barusan menelepon dari kamarnya, menagih laporan dan sedikit banyak mengeluh soal strateginya yang meleset jauh."Gila, sumpah deh, gila," Kaiden mengeluh sambil mengusap wajahnya kasar, tangannya lalu meremas punggung leher. "Jebakan yang kita buat tempo hari malah jadi senjata makan tuan, Bro. Kevin bilang rencananya

  • Malam Terlarang Bersama Dokter Pembimbingku   Bab 229: Aroma yang Tertinggal

    Puncak malam itu seperti menelan segala cerita dan menyembunyikannya di balik selimut kabut yang pekat. Udara dingin merayap masuk ke celah-celah mobil, seolah ingin ikut merasakan ketegangan yang menggantung di dalamnya. Turun dari puncak menuju kota, suasana dalam masing-masing mobil terasa sangat mencekam. Lampu jalan yang remang-remang sesekali menembus tirai putih itu, tapi tak cukup terang untuk menerangi kekalutan pikiran setiap orang yang terlibat dalam drama di villa tadi. Ketegangan yang tak terucap, seperti kabut itu, mengaburkan segalanya.Di mobil keluarga Mahawira, Toyota Land Cruiser hitam yang senyap, Nana Lidwina sesekali melirik Alvin yang duduk di kursi pengemudi. Jemari Alvin terlihat kencang meremas kemudi, seperti menahan beban yang berat. Raut wajahnya tegang, alisnya bertaut, dan matanya terus-menerus melirik kaca spion tengah, seolah ingin memastikan mobil Bima yang membawa Lidya. Gerak-gerik Alvin bukan seperti pria yang baru saja membahas masalah serius soal

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status