Share

Bab 136

Author: Joker Sarjana
last update publish date: 2026-10-19 21:24:09
Hartono, atau sosok yang memakai tubuhnya, memutar leher sampai berbunyi. Mata ungunya menyapu semua orang di lapangan.

"Ramai juga," katanya santai. "Padahal aku cuma mau lewat."

"Lewat ke mana?" tanya Maman sambil berdiri di depan Ririn.

"Ke bawah panti. Ke pintu." Ia menunjuk reruntuhan bangunan di seberang jalan. "Ki Dasar yang lembek itu memilih jadi teman. Aku tidak. Aku dibuat untuk menjaga pintu, dan aku benci setiap detiknya."

"Jadi kamu mau membukanya?"

"Mau melihat apa yang
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Maman, Kamu Sungguh Hebat!   Bab 138

    Maman membaca ulang pesan itu. Ririn ikut menunduk di sebelahnya."Dia nyebut nama Bayu," kata Ririn. "Padahal kamu baru tahu nama itu dua hari lalu.""Berarti dia tahu kejadian di bawah panti.""Atau dia memang bagian dari kejadian itu."Rudi berdiri sambil membawa nampan kosong. "Kalian bisik-bisik soal apa? Soal bakso? Kalau ada komplain, sampaikan langsung ke koki.""Bukan soal bakso, Rud." Maman menyodorkan ponselnya.Rudi membaca pesan itu, lalu melihat fotonya. Wajahnya langsung berubah. "K.S? Itu inisial cincin yang bikin kita naik gunung?""Iya.""Bukannya orangnya udah ditelan pilar?""Itu juga yang mau kita cari tahu."Lisa mengambil ponsel itu dan melacak nomornya dengan laptop cadangan. Ia mengetik cepat sambil menggigit bibir. Sepuluh menit kemudian, ia mengangkat wajah."Nomornya terdaftar atas nama Pak Kades Sukamati.""Kades yang anaknya Karta?" tanya Ririn."Iya. Dan lokasi ponselnya sekarang ada di desa itu."Rudi menjatuhkan nampannya. "Balik ke desa kuntilanak? Ak

  • Maman, Kamu Sungguh Hebat!   Bab 137

    Maman berdiri kaku. Tangannya masih terangkat setengah, seperti baru akan memeluk."Bu," katanya pelan. "Ini aku. Bayu."Laras mengerutkan dahi, berusaha keras mengingat. "Bayu... nama itu rasanya kukenal. Tapi aku nggak bisa ingat wajah kamu. Maaf, Nak.""Nggak apa-apa.""Kamu kelihatan sedih.""Aku cuma capek, Bu."Surya mendekat dan menyentuh bahu istrinya. "Laras, kamu ingat aku?"Laras menoleh. Matanya langsung hangat. "Surya. Tentu saja.""Dan Raka?""Raka juga." Ia menatap Raka sambil tersenyum. "Kamu tinggi sekali sekarang.""Terus yang ini siapa, Bu?" tanya Raka sambil menunjuk Maman. Suaranya bergetar.Laras menatap Maman lama. Ada sesuatu di wajahnya, tapi ingatannya tidak mau muncul. "Aku cuma ingat... waktu itu aku hamil lagi. Anakku yang kedua. Tapi aku nggak ingat dia lahir.""Yang kedua itu Sari," kata Surya pelan.Sari melangkah maju sambil memeluk boneka kelinci kosong. "Ibu ingat Sari?""Ibu kenal kamu karena Mimi," jawab Laras sambil mengelus rambutnya. "Kamu hanga

  • Maman, Kamu Sungguh Hebat!   Bab 136

    Hartono, atau sosok yang memakai tubuhnya, memutar leher sampai berbunyi. Mata ungunya menyapu semua orang di lapangan. "Ramai juga," katanya santai. "Padahal aku cuma mau lewat." "Lewat ke mana?" tanya Maman sambil berdiri di depan Ririn. "Ke bawah panti. Ke pintu." Ia menunjuk reruntuhan bangunan di seberang jalan. "Ki Dasar yang lembek itu memilih jadi teman. Aku tidak. Aku dibuat untuk menjaga pintu, dan aku benci setiap detiknya." "Jadi kamu mau membukanya?" "Mau melihat apa yang selama ini kujaga. Itu saja." "Dan kalau terbuka, dunia ini kena," sahut Surya dingin. "Itu bukan masalahku." Rudi, yang masih berlutut sambil memegangi leher, mengangkat tangan lemah. "Permisi. Boleh nanya?" "Diam, Rud," bisik Lisa. "Aku cuma mau tahu, kamu punya nama nggak? Soalnya dari tadi aku manggil kamu 'yang bukan Ki Dasar', capek juga." Sosok itu menoleh padanya. "Mereka menyebutku Si Penolak." "Kedengarannya kayak orang yang sering ditolak lamarannya." Ririn menahan taw

  • Maman, Kamu Sungguh Hebat!   Bab 135

    "Sari! Sar, bangun!" Raka mengguncang bahu gadis kecil itu pelan-pelan. Tidak ada reaksi. Napasnya sangat tipis. Maman berlutut dan memeriksa nadinya. "Masih ada. Tapi lemah banget." "Eyang!" Ia memegang dadanya. "Ada cara?" *Ada,* jawab Eyang. *Tapi kamu nggak akan suka.* *Aku nggak peduli suka atau nggak. Bilang!* *Rajah putih itu kosong. Dia butuh sesuatu untuk mengisi, dan sesuatu itu harus sama jenisnya dengan yang menyegel.* *Maksudnya?* *Penjaga. Ki Dasar dulu dibuat jadi penjaga pintu. Kalau dia sekarang mau jadi teman, pintunya butuh penjaga baru. Kalau tidak, pintunya terbuka.* *Siapa yang jadi penjaga?* Eyang diam sebentar. *Aku.* Maman terdiam. *Apa?* *Aku sudah ratusan tahun hidup di tubuh keturunanku. Aku sudah terlalu lama. Dan aku berutang janji pada makhluk itu.* *Kalau Eyang pergi, Eyang nggak akan ada lagi di kepalaku?* *Betul.* *Eyang nggak boleh...* *Bayu.* Suara Eyang terdengar lembut. *Selama ini kamu merasa aku cuma mengganggu. Ta

  • Maman, Kamu Sungguh Hebat!   Bab 134

    "Nggak," kata Maman cepat. "Nggak ada yang tidur selamanya." Sari menatapnya. "Kak Bayu, aku cuma bilang apa yang Mimi bilang." "Mimi itu boneka, Sar." "Mimi itu Ibu." Sari mengangkat boneka kelinci biru itu dan menatap Laras. "Ibu juga lihat, kan?" Laras berlutut dan memegang telinga boneka yang putus sebelah. Tangannya gemetar. "Ibu yang jahit boneka ini. Dua puluh tahun lalu, sebelum kebakaran. Ibu nggak sempat kasih ke kamu." "Ibu nyimpen jiwa Ibu di boneka itu?" tanya Raka. "Bukan Ibu yang sengaja." Laras menggeleng. "Waktu Ki Dasar mulai menarikku, bagian dari diriku masuk ke satu-satunya benda yang kupegang. Boneka itu." "Dan boneka itu ditemukan di depan gerbang panti bersama Sari," gumam Surya. "Karena Sari memang dilahirkan setelah itu," lanjut Laras pelan. "Aku nggak tahu bagaimana. Mungkin anak ini lahir dari sisa kekuatan yang nggak bisa dipakai Ki Dasar." Hartono yang berdiri di pojok ruangan menunduk. "Aku tahu soal ini." Semua menoleh. "Aku tahu La

  • Maman, Kamu Sungguh Hebat!   Bab 133

    "Berhenti di situ, Rud!" bentak Ririn sambil menghadang. Rudi yang bukan Rudi menoleh santai. "Minggir, Nak. Aku nggak mau melukai istri pembawa rajah. Belum." "Kalau mau ke anak-anak, lewati aku dulu." "Dengan pisau kecil itu?" "Dengan apa pun yang ada." Ia terkekeh. Matanya yang ungu bergeser ke Lisa, Dina, dan Bu Ratmi, yang sudah berdiri merentangkan tangan di depan anak-anak panti. "Bu Ratmi, minggir," kata Ki Dasar lewat mulut Rudi. "Tubuh tuamu nggak akan tahan." "Saya sudah dua puluh tahun jaga anak-anak ini," jawab Bu Ratmi, suaranya gemetar tapi tegas. "Kamu harus lewati saya dulu." "Lucu. Semua orang bilang begitu." Ia mengangkat tangan. Garis hitam di lengannya berdenyut, dan angin kencang menghantam Ririn sampai terpental dua meter. Ririn jatuh berguling dan pisaunya terlepas. "Ririn!" Dina berlari membantunya. "Aku nggak apa-apa!" Ririn bangkit sambil memegangi bahunya yang masih sakit. "Lisa! Ada ide?" "Alat pemindai mati!" teriak Lisa. "Tapi kabe

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status