LOGIN
"Nyoman..ayo kita segera pulang! sebentar lagi matahari akan terbenam." teriak seorang pemuda dengan melambaikan tangan dan melihat ke arah atas sebuah pohon bambu yang besar.
"Tunggu sebentar. Aku ingin mencoba mencari monyet yang kemarin." balas pemuda yang berada di atas pohon bambu tersebut. "ahh.. dasar monyet! nanti aku dimarahi ibuku lagi jika pulang terlalu lama." Ucap pemuda yang berada dibawah dengan kesal mendengar jawaban temannya. "Iya iya aku turun.. Minggir! aku mau lompat!" Seru pemuda diatas dan langsung melompat disaat temannya sudah merubah posisi berdiri ke arah samping. "Hap!! ayo pulang!" Kata pemuda tersebut setelah sampai di bawah. Mereka berdua pun menyusuri jalan setapak yang dikedua sisinya ditumbuhi rumput dan ilalang yang tingginya kurang lebih 1 meter. "Apa gak terasa gatal, Man?" tanya pemuda yang berjalan dibelakang mengikuti jejak temannya. "Gak, biasa aja..." jawab pemuda yang berjalan didepan. "Malah aku heran dengan kamu dan yang lain, lemah sekali.. merasa gatal hanya karena memanjat pohon bambu." lanjutnya dengan nada yang agak mengejek. PLAK!! Pemuda dibelakang lari menyusul dan memukul lengan pemuda yang berjalan didepan lalu berkata "Kau saja yang aneh!! kulitmu itu terbuat dari apa sih?" lalu dia berlari meninggalkan pemuda yang dia pukul. "Kamu!! hei!! sini kau!! sakit tau!!" teriak pemuda yang terkena pukulan, lalu lari mengejar temannya. "Sok sok an ngatain orang lemah! dipukul sedikit aja udah sakit... weee... dasar monyet bambu!!" Ejek pemuda yang berlari didepan. Nyoman adalah pemuda kerap kali dipanggil teman-temannya "monyet bambu" lantaran dia suka sekali memanjat pohon-pohon bambu dan tidak seperti orang lain, dia bahkan sama sekali tidak merasa gatal saat kulitnya menyentuh bambu liar dihutan. "Awas kau ya!!!" teriak Nyoman dengan nada kesal karena diejek dan terus berlari mengejar pemuda didepan yang memukul lengan dan mengejeknya. Satria, Dia merupakan teman sepermainan Nyoman dari kecil. Hari sudah hampir gelap. Setelah beberapa saat, mereka sudah hampir sampai di kampung tempat tinggal mereka, Kampung Tiing. Tiing adalah bahasa daerah suku Bali yang berarti bambu. Seperti namanya kampung ini berdekatan dengan hutan penuh pohon - pohon bambu yang luas dan rimbun. Nyoman dan Satria adalah dua pemuda yang kerap kali bermain di hutan bambu tersebut. Nyoman saat ini berusia delapan belas tahun dan baru lulus sekolah menengah atas beberapa bulan yang lalu. Sedangkan Satria masih berumur tujuh belas tahun dan masih duduk di kelas tiga sekolah menengah atas. Sebagai teman sepermainan dari kecil, mereka mempunyai kegemaran yang sama yaitu mereka suka bermain di alam terbuka, menangkap burung, memanjat pohon, serta berenang diperairan seperti sungai. Keduanya hampir setiap hari bermain dan menjelajahi sekitaran Kampung Tiing. Mereka berdua sangat mengenal daerah sekitar kampung. Mungkin tidak ada orang lain selain mereka yang mengenal daerah sekitar kampung sebaik mereka. Hari sudah gelap. Nyoman dan Satria pun berhenti di depan pagar sebuah rumah kayu yang besar dua lantai. Rumah ini tidak lain adalah tempat tinggal Satria. Halamannya luas dan ada kolam ikan berbentuk lingkaran dihalaman di sisi kanan rumah tersebut. Tidak jauh dari kolam ikan, ada sebuah pohon mangga yang besar tetapi hanya sedikit buah yang bisa terlihat, lantaran buahnya sering diambil Satria, Nyoman, dan anak anak kampung lainnya. Tidak lama di depan pagar, Satria berkata sambil melambaikan tangannya, " Aku duluan ya Man.. ibuku mungkin saja sudah menungguku didalam." lalu Satria membuka pagar rumahnya dengan pelan lalu terkejut menoleh kebelakang medengar Nyoman yang yang berteriak. "Ibu Ranti!! Satria udah pulang nih!!" lalu Nyoman pun dengan segera pergi meninggalkan Satria yang raut wajahnya terlihat ketakutan. "Nyoman!! kau!!!" ucap Satria kepada Nyoman dengan nada berbisik tetapi bertingkah seperti sedang berteriak dan raut mukanya terlihat kesal. Nyoman pun pergi seraya menahan tawa meninggalkan Satria yang pasrah dengan nasibnya. Diperjalanan pulang, dia berpapasan dengan beberapa orang orang dikampung sembari menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada. Ini adalah salam tradisi suku Bali ketika berpapasan menunjukkan tanda kesopanan dan tata krama. Orang orang kampung pun melakukan hal yang sama untuk membalas salam dari Nyoman. Diperjalanan, Nyoman melalui sebuah rumah yang memiliki halaman terbuka tanpa pagar. Nyoman memperhatikan hal yang tidak biasa dirumah tersebut. Rumah tersebut sangat gelap tanda lampu lampunya belum dinyalakan. Setahu Nyoman, pemilik rumah tersebut tidak sedang berpergian pada hari itu. Nyoman melihat bahwa pintu rumah tersebut terbuka, dan dia semakin penasaran untuk memasuki halaman dan memeriksa keadaan penghuni rumah. Tidak seperti kebanyakan rumah, pintu depan rumah tersebut berada disamping jika dilihat dari sisi jalan didepan halaman. Nyoman memberanikan diri masuk perlahan untuk melihat apa yang terjadi didalam rumah. Bukan karena takut, Nyoman berjalan perlahan untuk menghindari dirinya dituduh tidak sopan bahkan di tuduh ingin melakukan hal tidak baik seperti mencuri misalnya. Setelah sampai di depan pintu yang sedari awal sudah terbuka, Nyoman terkejut dengan apa yang dia lihat saat ini. Dalam kegelapan dia sekilas melihat dua orang terbaring dan dua makhluk yang sebelumnya tidak pernah dia tau bentuknya. Satu orang yang terbaring sepertinya tidak sadarkan diri, dan betapa terkejutnya dia melihat orang yang kedua tidak memiliki kepala! Lantas Nyoman melangkah mundur karena takut dan terkejut melihat itu dan hampir berteriak, "Aahh.. Em!" Nyoman segera menutup mulutnya dikarenakan salah satu makhluk yang berada tidak jauh dari mayat tanpa kepala melihat kebelakang. Sekilas Nyoman melihat makhluk tersebut memiliki sepasang mata berwarna merah menyala dan empat gigi taring di mulut makhluk tersebut, dua taring panjang dari sisi atas mulut dan dua lagi taring yang agak pendek dari sisi bawah mulut. Setelah sadar bahwa makhluk tersebut menyadari kehadiran Nyoman, Nyoman pun dengan cepat berlari keluar halaman. Setelah sampai di sisi jalan utama, Nyoman sekilas melihat kembali kearah rumah tersebut. Dua makhluk berbulu hitam lebat keluar dari pintu seakan ingin segera mengejar Nyoman. Mungkin makhluk tersebut lebih tinggi dari Nyoman. Perlu diketahui, perawakan Nyoman terbilang cukup tinggi yaitu 172 cm. Jadi kemungkinan makhluk tersebut setinggi lebih dari dua meter! Nyoman sudah berlari agak lama, 'Apa itu tadi?? Gorila??' pikirnya sembari panik melihat kebelakang juga sekitar. 'Apakah sudah aman?' pikirnya sambil memegang dadanya yang sesak karena berlari dan karena rasa takutnya. Segera dia melihat kembali kebelakang dan alangkah terkejutnya dia ketika kembali melihat kedepan! Kedua makhluk menyerupai gorila sebelumnya sudah muncul entah dari mana tak jauh di depan di dekat lampu jalan!!Tetapi sejauh pandangannya, dia tidak bisa menemukan dimana penjaga alam raga ini.Nyoman mencoba masuk lebih dalam kedalam hutan bambu. Sesekali dia memanjat ke pohon bambu yang terlihat lebih tinggi dari pohon bambu yang lain.Berbeda dengan Alam Ranah Jiwa yang dijaga Hanoman, tempat ini jauh lebih luas. Sudah hampir setengah jam Nyoman terus masuk jauh kedalam hutan."Mungkin besarnya alam arwah tergantung dari tingginya tingkatan alam arwahnya' pikir Nyoman.Alam Raga Nyoman sudah pasti mencapai tingkat tertinggi, sedangkan Alam Ranah Jiwa miliknya masih berada di tingkat kedua.Sekian lama mencari dan belum ada tanda tanda kemunculan roh arwah miliknya, Nyoman pun memutuskan untuk menyudahi pencarian dan keluar untuk memulai meditasi.Sesampainya diluar, Nyoman menyentuh pintu dan dengan sendirinya pintu tersebut telah tertutup.Nyoman ingin segera memulai meditasi, tetapi dia melupakan satu hal. Dia lupa menanyakan bagaimana cara menggunakan kemampuan roh!Nyoman ingin kembali
Sebuah ruangan tanpa lampu, hanya beberapa lilin berbau harum yang menerangi seisi ruangan tersebut.Ditengah ruangan, ada beberapa gambar berbentuk lingkaran di lantai dengan corak gambar seperti perpaduan kaligrafi dan kelopak bunga. Ada sebuah bantal duduk di masing masing gambar tersebut.Di sisi kanan, ada sebuah meja sepanjang lebih dari tiga meter berdempet ke sepanjangan dinding dan diatas meja tersebut, tersusun berbagai macam peralatan masak dan peralatan makan.Disisi kiri, ada lemari pakaian dua pintu berbahan kayu setinggi kurang lebih dua meter. Disamping lemari tersebut, ada sebuah meja rias kuno dengan beberapa cermin diatasnya dan sebuah lampu hias kuno.Karena tempat ini berada di bawah tanah, ruangan ini tidak memiliki jendela. Hanya sepasang ventilasi di bagian atas dinding di setiap sisinya.Setelah melihat sekitar ruangan, Nyoman melihat Rara yang sudah duduk di salah satu bantalan diatas gambar bercorak kelopak bunga berwarna hijau."Duduklah diatas mandala ber
==(SANG DEWA PELINDUNG "HANOMAN")== Hanoman/ Hanūman/ Anoman adalah salah satu dewa dalam kepercayaan agama Hindu, sekaligus tokoh protagonis dalam wiracarita Ramayana yang paling terkenal. Ia adalah seekor kera putih dan merupakan putra Batara Bayu dan Anjani, keponakan dari Subali dan Sugriwa. Menurut kitab Serat Pedhalangan, tokoh Hanoman sebenarnya memang asli dari wiracarita Ramayana, tetapi dalam pengembangannya tokoh ini juga kadangkala muncul dalam serial Mahabharata, sehingga menjadi tokoh antarzaman. Di India, hanoman dipuja sebagai dewa pelindung dan beberapa kuil didedikasikan untuk memuja dirinya.(WIKIPEDIA)==("RATU PANTAI SELATAN "PUTRI KADITA")==Nyi Roro Kidul atau Nyai Roro Kidul adalah sosok supranatural dari cerita rakyat Indonesia. Ia dipercaya menguasai Laut Selatan dalam mitos Sunda dan Jawa.Dalam mitologi Jawa, Kanjeng Ratu Kidul merupakan ciptaan dari Dewa Kaping Telu yang mengisi alam kehidupan sebagai dewi padi dan dewi alam yang lain. Sedangkan Nyi Roro
"Hewan magis dijual kepada medium untuk di korbankan.. Setelah hewan itu mati, medium membuat kontrak dengan roh hewan tersebut.. beberapa bagian tubuh hewan magis juga dapat dibuat menjadi benda pusaka.. Selain meditasi, seorang medium juga dapat menyerap energi dari hewan magis untuk menaikan tingkat kekuatan alam arwah setelah membunuh hewan magis tersebut.." Jawab Rara menjelaskan.Nyoman kembali ingin bertanya. Tetapi belum sempat dia membuka mulutnya, Mbah Ajeng sudah kembali dengan membawa nampan yang diatasnya terdapat teko dan tiga buah gelas."Diminum dulu tehnya.." ucap Mbah Ajeng menyuguhkan gelas kepada Rara dan Nyoman dan mengisi gelas-gelas tersebut dengan teh.Mbah Ajeng duduk setelah selesai menyuguhkan teh. Lalu Mbah Ajeng meminum teh diikuti dengan Rara dan Nyoman.Setelah selesai meneguk tehnya, Mbah Ajeng mengkerutkan dahi, melihat Nyoman lalu bertanya,"Aku merasakan ada roh tingkat dewa di alam arwahmu.. darimana kau mendapatkan roh tersebut?"Nyoman yang masih
Nyoman pun ikut mengangguk walaupun masih banyak hal yang tidak dia mengerti setelah melihat statistik di layar."Ambillah hp android ini, data dirimu sudah disimpan disini.. mulai sekarang kamu bisa cek perkembangan statistikmu melalui hp ini.. didalam hp ini ada aplikasi tentang info info arwah, binatang, tumbuhan, dan makhluk lainnya.. kamu juga bisa memakai hp ini layaknya hp android biasa, untuk menelepon, kirim pesan, dan tentu saja melihat map." ucap Rara sambil mengeluarkan hp android dari salah satu kotak logam tidak jauh dari layar."Terima kasih kak.. Lalu.. Kita mau ngapain lagi setelah ini?" Kata Nyoman setelah berjalan ketempat Rara dan mengambil hp tersebut."Kita akan pergi ruangan lain digedung ini.. Kamu harus berlatih mengeluarkan kekuatan rohmu dulu ditempat itu sambil menunggu Hanoman untuk keluar dari alam rohmu.. Setelah itu kita akan mencari roh untukmu dan kamu akan melakukan kontrak dengan roh.. Hal ini sangat penting agar dirimu tidak dapat dirasuki roh lain
Setelah mereka sampai di sebuah pintu terbuat dari logam. Rara memencet suatu tombol di sebelah kanan pintu tersebut. Pintu pun terbuka secara otomatis kearah samping. Ternyata ini adalah sebuah elevator atau biasa disebut lift. Rara segera masuk setelah pintu terbuka. "Ayo cepat masuk!.. Ngapain bengong?" Seru Rara menyadarkan pikiran Nyoman yang entah kemana. Nyoman sempat terdiam kagum dengan bagusnya teknologi jaman sekarang. Maklum, ini kali pertama dia melihat sebuah lift. Nyoman pun segera masuk setelah sadar dari lamunannya. Rara pun memencet lagi sebuah tombol yang berada di dalam lift di sisi kanan pintu yang bertuliskan [B3]. Ruang dalam lift pun bergetar. Nyoman terkejut. Dia merasakan bahwa ruangan itu seperti bergerak. Nyoman merasa mual. Tetapi rasa mualnya tidak berlangsung lama. Lift pun berhenti. Terjadi gerakan yang kembali membuat Nyoman terkejut. Kali ini pintu lift terbuka secara otomatis tanpa perlu memencet tombol apapun. Rara pun keluar dan Nyo







