LOGINGina mengebut sepanjang perjalanan menuju Hiccup Entertainment. Bukan karena ia takut terlambat menghadiri meeting. Bukan pula karena jalanan sedang macet. Ia hanya ingin segera sampai agar suara Rajen dari kursi belakang berhenti memenuhi telinganya.
"GINA! Pelan sedikit!" Suara Rajen yang sejak tadi mengomel kini berubah menjadi teriakan. Tangannya mencengkeram sabuk pengaman ketika mobil melewati tikungan dengan kecepatan yang cukup membuat jantungnya berpacu. "Lo mau kita mati bareng-bareng?" Gina tidak menjawab. Ia tetap menatap jalan dengan wajah datar. Sepuluh menit kemudian, mobil akhirnya berhenti di basement gedung agensi. Gina mematikan mesin dan bersandar sebentar pada kursinya. Tenggorokan Rajen terasa kering setelah hampir sepanjang perjalanan mengomel sekaligus berteriak. Sementara Gina hanya memijat telinganya sendiri. Rasanya seperti baru keluar dari ruang karaoke bersama burung beo. Kalau begini terus, sepertinya ia membutuhkan dokter THT sekaligus psikiater. Rajen keluar lebih dahulu dengan wajah masam. Kedua tangannya masuk ke saku celana, membuatnya tetap terlihat tenang dan angkuh meskipun lima menit sebelumnya hampir berteriak sepanjang perjalanan. Baru beberapa langkah, ia berhenti. Jas hitam yang dikenakannya dilepas dan dilemparkan ke arah Gina. Gina menangkapnya dengan refleks. "Apaan?" "Pegang." Gina mendengus, tetapi tetap membawanya. Rajen menoleh sekilas. "Pesanin kopi gue seperti biasa." Gina sudah hafal pesanan tersebut bahkan tanpa perlu berpikir. "One Iced Americano, double shot, extra Hazelnut." "Bagus." "Nyuruh orang terus bilang bagus. Ngeselin." Rajen tidak membalas. Ia hanya melirik Gina dari ujung mata sebelum kembali berjalan. "Dan jangan lari." Gina berhenti. "Hah?" "Lo tadi ngebut. Sekarang jangan buru-buru juga." Nada suaranya tetap datar. "Kalau jatuh, gue yang repot." Setelah mengatakan itu, Rajen melanjutkan langkah. Gina memandang punggungnya beberapa detik. Perhatian yang aneh. Namun, entah kenapa, ia tersenyum kecil. Lachata Cafe terletak tepat di sebelah gedung Hiccup Entertainment. Meskipun agensi memiliki kafe sendiri, Rajen selalu meminta Gina membeli Iced Americano dari tempat itu. Menurutnya, rasanya lebih cocok di lidahnya. Ada alasan lain mengapa Gina tidak pernah keberatan. Pemilik Lachata Cafe adalah Dita, sahabatnya sejak SMA. "Gue pesan seperti biasa." Dita langsung mengambil gelas. "Oke." Gina menyandarkan siku di meja kasir. Wajahnya masih terlihat kesal akibat perjalanan tadi. "Gin, lo diapain lagi sama dia?" "Biasa, mulutnya." Gina menghela napas panjang. "Kadang pengen gue lem mulutnya pakai lem Fox." Dita justru tertawa. "Kalian berdua sama saja. Omongan lo juga pedas." "Ya, tapi gue masih manusia." "Dia juga manusia." Gina memutar bola mata. Dita kemudian menyodorkan kopi yang sudah selesai dibuat. "Makanya, coba lo taklukin dia." Gina mengangkat alis. "Taklukin?" "Bikin dia bertekuk lutut." Dita menyeringai. "Kalau berhasil, kafe ini gue warisin ke lo." Gina terdiam. Ia menatap kafe yang selama bertahun-tahun dibangun Dita. Tempat itu cukup ramai, bahkan di hari kerja. "Serius?" "Serius. Gue memang berencana pindah ke Hawaii." Sebuah ide tiba-tiba melintas di kepala Gina. Senyumnya perlahan melebar. "Dit." "Hm?" "Minta garam." Dita langsung berhenti bergerak. "Gina..." "Percaya sama gue." --- Gina kembali ke gedung agensi dengan wajah yang jauh lebih cerah. Kali ini bukan karena meeting. Ia membawa sebuah rencana kecil yang menurutnya sangat sempurna. Namun, langkahnya terhenti ketika seseorang memanggil namanya. "Gina!" Ia menoleh. Senyumnya langsung melebar. "Juna!" Arjuna Adhinata menghampirinya. Teman dekat Gina sejak kuliah itu kini menjadi salah satu aktor muda yang kariernya sedang menanjak. Mereka langsung berpelukan seperti dua orang yang sudah bertahun-tahun tidak bertemu. "Engap! Jangan erat-erat!" Juna tertawa dan melepaskannya. Tatapannya kemudian jatuh pada jas di tangan kiri Gina dan kopi di tangan kanannya. "Lo sama Rajen?" Gina mengangguk. "Pantesan muka lo sumringah banget." "Enggak. Mood gue memang lagi bagus." Juna masih menatapnya curiga. Namun, Gina sudah melirik jam tangan. "Gue buru-buru. Ada meeting project baru. Nanti gue traktir." Sebelum Juna sempat menjawab, Gina sudah berlari kecil menuju lift. Juna hanya bisa menghela napas. "Padahal gue masih mau ngobrol." Tatapannya mengikuti pintu lift yang perlahan tertutup. "Kenapa bukan gue yang punya manajer kayak Gina?" Beberapa menit kemudian, Gina tiba di ruangan CEO. Ia mengetuk tiga kali sebelum masuk. "Maaf terlambat." CEO Hiccup Entertainment dan Pak Sony sudah menunggunya. Rajen juga berada di sana. Gina segera duduk di sebelahnya lalu menyerahkan kopi yang dibawanya. "Telat tiga menit," bisik Rajen. "Bodo amat." Jawab Gina tak peduli. Meeting pun dimulai. CEO menjelaskan bahwa Hiccup Entertainment bekerja sama dengan Pak Sony untuk memproduksi variety show baru berjudul The Adventures of Three Travelers in a Mysterious Village. Konsepnya membawa tiga artis ke sebuah desa terpencil untuk menjalani berbagai tantangan kehidupan sehari-hari. Bagi Gina, konsep itu terdengar menarik. Bagi Rajen, mungkin terdengar seperti mimpi buruk. Pria itu membaca proposal halaman demi halaman. Kerutan di dahinya semakin dalam setiap kali menemukan detail baru. Rajen menarik napas panjang. "Saya akan mengambil project ini." Jawaban tersebut membuat Gina sedikit terkejut. Rajen memang sering mengeluh, tetapi ia tetap profesional ketika berhubungan dengan pekerjaan. Setelah meeting selesai, Rajen keluar bersama Gina. Begitu berada di lorong yang sepi, ia menatap wanita itu. "Lo sengaja?" Gina tersenyum. "Apanya?" "Project tadi." "Ya, kayaknya seru." Rajen menghela napas. Namun, ia tidak memperpanjang perdebatan. Ia justru mengambil kopinya dan meneguknya. Satu detik. Dua detik. Wajahnya langsung berubah. Rajen menatap gelas tersebut dengan ekspresi tidak percaya. Gina menahan tawa. "Kenapa?" "Lo masukin apa di kopi gue?" "Adalah, sedikit bumbu biar kopi lo terasa nikmat." Rajen kembali mencicipinya. Kali ini ia langsung meringis. "Garam?" Gina akhirnya tertawa terbahak-bahak. "Gina!" Rajen mengusap bibirnya dengan tisu. Tatapannya memang dingin, tetapi tidak ada kemarahan yang benar-benar serius di sana. "Berani juga lo sekarang." Gina masih tertawa. "Ya berani, lah." Rajen menggeleng pelan. Alih-alih membalas, ia justru menyerahkan botol air mineral dari tasnya kepada Gina. "Minum." Gina mengerutkan kening. "Buat?" "Suara lo serak." Gina terdiam. Baru ia sadari, tenggorokannya memang terasa kering setelah sepanjang perjalanan berteriak dan berdebat dengannya. Ia menerima botol itu. "Thanks." Rajen langsung membuang muka. "Gue cuma nggak mau manajer gue sakit." Gina tersenyum kecil. Namun, sebelum ia sempat menggoda pria itu, ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari Pak Sony masuk. "Gina, jangan lupa siapkan barang untuk keberangkatan. Lokasi syutingnya cukup jauh dan ada beberapa aturan khusus yang perlu kamu baca." Gina membuka lampiran yang dikirimkan. Matanya bergerak membaca nama lokasi. Desa Getih: dilarang keluar dari area penginapan setelah pukul 22.00.Rajen menatap Gina dengan ekspresi tidak percaya. Tangannya bahkan refleks menyentuh bagian belakang kepalanya yang sejak tadi terasa nyeri. "Lo semalam mukul gue?! Gila lo!" Gina menundukkan wajahnya sedikit. Ia merasa bersalah, tetapi tetap berusaha menjelaskan kejadian tersebut. "Ya. Lo ngetuk-ngetuk pintu apartemen gue kayak hantu." Nada suaranya mengecil. "Gue juga takutnya ada orang cabul, psikopat, atau pembunuh. Ya udah, gue bawa wajan aja buat alat perlindungan diri." Gina menggaruk pelipisnya. "Untung gue nggak bawa pisau. Kalau pisau yang gue bawa, lo pasti udah gue tusuk." Rajen terdiam. Ia kembali memegangi kepalanya yang terasa sakit. "Sialan! Pantes kepala gue sakit banget." Gina hanya meringis kecil. "Sorry, namanya juga refleks." Untuk beberapa saat, suasana kembali hening. Gina memperhatikan Rajen yang kembali menyantap supnya. Wajah lelaki itu masih terlihat lelah, tetapi kali ini ekspresinya tidak sekaku biasanya. "Lo beneran lagi nggak ada masalah, kan?" t
Rajen mengerang sambil memegangi kepalanya yang terasa sakit. Ia berusaha membuka kedua matanya karena sayup-sayup terdengar suara lagu yang diputar sangat keras."Ini gue masih di bar? Kayaknya gue mabuk banget sampai nggak ingat apa-apa", batinnya bingung.Rajen perlahan bangkit dari karpet bulu yang menjadi alas tidurnya sejak semalam. Ia mengucek kedua matanya sembari berusaha mengingat kejadian setelah dirinya mabuk. Namun, semakin ia mencoba mengingat, kepalanya justru terasa semakin pusing. Dengan tubuh yang masih sempoyongan, Rajen berusaha berdiri sambil berpegangan pada sofa. Ia kemudian berjalan terhuyung-huyung mencari toilet karena rasa mual di perutnya semakin menjadi."Oh, lo udah sadar?" tanya Gina santai dari tempat duduknya. Ia melirik Rajen yang berjalan seperti orang kehilangan arah. "Mau muntah? Itu toiletnya ada di ujung."Rajen yang belum mampu berpikir jernih hanya mengangguk. Ia segera mempercepat langkahnya menuju toilet karena sudah tidak tahan ingin memunta
Gina membelalakkan matanya, tak menyangka Rajen akan mengatakan sesuatu yang sangat frontal. "Hah? Lo mau nginep di apartemen gue? Lo gak lagi kesambet, kan?" "Gue masih sadar kok ini. Gimana, boleh?" "Stress! Ini makanan lo, terus lo balik ke apartemen lo lagi sebelum gue digrebek fans lo." Ia menyodorkan bungkusan makanan yang dibawanya. Namun Rajen hanya diam, membuat Gina kehilangan kesabaran. Bungkusan itu pun dilempar begitu saja ke arah Rajen. Rajen tersentak dan hampir saja memarahi Gina. Namun, perempuan itu sudah lebih dulu masuk dan menutup pintu apartemennya. Rajen memandang pintu tersebut cukup lama. “Cuma lo yang berani bersikap kayak gini ke gue.” Ia membungkuk mengambil bungkusan makanan tadi. “Gue kira lo sama kayak wanita lainnya di luar sana... ternyata lo beda.” Untuk pertama kalinya malam itu, ekspresi Rajen terlihat sedikit melunak sebelum ia kembali ke apartemennya. Di dalam kamar, Gina justru merasa bersalah. Ia memang kesal kepada Rajen, tetapi buk
“Lo ngomong apa barusan? Takut kehilangan gue? Gue gak salah denger? Seorang Rajen takut kehilangan gue? Hahaha!" Rajen mendengus sebal, managernya itu tak pernah bisa diajak bicara serius sedikit saja. Ia pun langsung menjauh dari Gina sembari memalingkan wajahnya karena malu. "Gak usah dibahas lagi, gue cuma asal ngomong." "Hmm, tapi serius lo udah nggak apa-apa? Nggak perlu gue panggilin Dokter Bram?” Gina masih memperhatikan wajah Rajen dengan cemas. Ia belum pernah melihat pria itu mengalami anxiety separah tadi sampai kemejanya basah oleh keringat dingin. “Gue nggak apa-apa. Nggak usah cerewet lo kalau jadi orang.” Gina langsung mencibir. Seperti biasa. Baru saja hampir tumbang karena serangan kecemasan, masih sempat-sempatnya menyebalkan. Mereka akhirnya berada di apartemen Rajen. Gina sengaja tidak langsung meninggalkannya karena khawatir kondisinya kembali memburuk. “Lo paham, kan, anxiety itu nggak bisa sembuh secepat itu? Udah tahu lo nggak bisa berada di kerama
“Gina?” Juna membuka suara, memanfaatkan waktu senggang sebelum press conference benar-benar selesai. “Hm?” “Lo betah gitu kerja sama dia?” Gina yang sejak tadi menopang dagu hanya mengangkat bahu. Tatapannya masih tertuju pada pemandangan kota dari rooftop agensi. “Emang kenapa?” Juna menghela napas. Angin sore menerpa rambut mereka, membawa suasana yang seharusnya menenangkan. Namun, ekspresi Juna justru tampak serius. “Gue tahu dari awal lo dibabuin terus sama dia.” Gina terkekeh kecil. “Mau gimana lagi? Gue juga udah mulai terbiasa sama sikap dia.” “Kalau gitu mending lo resign.” Gina menoleh. “Terus?” “Daftar jadi pendamping hidup gue aja.” Gina langsung tertawa terbahak-bahak. Juna memasang wajah sebal. “Kok lo malah ketawa?” “Lo lucu banget, sumpah. Lo baru jadi aktor, masa mau secepat itu nikah?” “Kalau nikahnya sama lo, gue nggak masalah ngelepas karier gue.” Tawa Gina perlahan menghilang. Tatapan Juna kali ini berbeda. Tidak ada senyum jahil, tidak ada nada ber
New Variety Show Title: The Adventures of Three Travelers in a Mysterious Village Cast: 1. Rajendra Bimasena — Actor 2. Javas Maheswara — Idol “Harmonix” 3. Dimas Dewananda — Singer — Solois --- Rajen mengacak rambutnya dengan frustrasi begitu tiba di apartemen. Hari itu menjadi pertama kalinya Gina menginjakkan kaki di tempat tinggalnya. Namun, bukannya menikmati kesempatan tersebut, Gina justru duduk santai di sofa empuk sambil memperhatikan Rajen yang tengah merobek proposal variety show di hadapannya. Gina sama sekali tidak panik. Ia sudah menyimpan soft file proposal tersebut, jadi tinggal mencetak ulang saja. "Kenapa lo mulai seenaknya begini? Kenapa nggak bilang dulu sama gue?" Rajen berjalan mondar-mandir. Wajahnya terlihat kesal, tetapi Gina sudah terlalu terbiasa melihat ekspresi itu untuk merasa gentar. "Sebagai manajer yang baik, gue cuma mau bantu karier lo berkembang." Gina menaikkan kedua alisnya. "Mumpung Pak Sony suka sama lo, kenapa nggak diambil?







