เข้าสู่ระบบAula Pedang terasa berbeda ketika utusan istana berdiri di dalamnya. Biasanya ruangan itu adalah tempat kehormatan sekte dipertahankan, dengan sumpah, dengan pedang, dengan disiplin. Namun hari ini, kehormatan itu seolah diuji oleh sesuatu yang lebih licin daripada bilah, yaitu bahasa istana. Zhou Yan berdiri di sisi kiri aula, dikelilingi pengawal kekaisaran. Dua Burung Hitam berdiri sedikit di belakangnya, seperti bayangan yang tidak bisa diusir. Tetua yang tenang berdiri di sisi kanan, bersama Tetua Gao dan Tetua Hitam. Murid-murid Yunling mengisi sisi-sisi aula, tidak berani terlalu dekat, namun mata mereka tajam seperti pedang yang siap terhunus. Aku berdiri di tengah. Sendirian. Tanpa pedang. Tanpa jubah resmi. Hanya seorang juru tulis yang diberi napas satu kali lagi. Zhou Yan menatapku dengan senyum tipis. “Aku tidak suka membuang waktu.” Aku menatap balik, tidak lama, tidak menantang, tapi cukup tegas. “Aku juga,” jawabku. Beberapa murid bergumam kecil, bukan setuj
Pemeriksaan kekaisaran dimulai seperti upacara, tapi berjalan seperti perburuan. Zhou Yan memasuki Yunling dengan langkah tenang, seolah ia hanya pejabat kecil yang datang untuk melaksanakan tugas. Namun matanya tidak pernah benar-benar diam. Ia memperhatikan posisi murid, jalur jalan, jarak antara lentera, bahkan arah angin yang membawa bau asap. Burung Hitam tetap berada tiga langkah di belakangnya sesuai aturan tetua. Tiga langkah. Namun tiga langkah itu cukup untuk membuat setiap murid Yunling merasakan dingin di tulang mereka. Aku kembali ke Paviliun Pengawas sesuai perintah. Di sepanjang jalan, aku merasakan mata-mata yang tidak terlihat. Tidak semua tatapan berasal dari sekte. Ada sesuatu yang lain—sesuatu yang bergerak seperti asap, tidak menonjol, tapi selalu ada. Begitu aku masuk paviliun, penjaga segera menutup pintu. “Jangan keluar,” kata salah satu dari mereka—bukan perintah tetua, melainkan permintaan yang seperti rasa takut. Aku mengangguk dan duduk. Di meja kec
Pagi itu, kabut Yunling belum sempat hilang ketika lonceng gerbang berbunyi tiga kali. Bunyinya berat, tidak seperti lonceng latihan, tidak seperti lonceng makan. Ini lonceng yang dipukul ketika tamu datang atau musuh datang memakai nama tamu. Para murid sekte segera berkumpul di halaman depan. Barisan mereka rapi, jubah putih kebiruan berkibar pelan dalam angin gunung. Pedang mereka tidak semuanya terhunus, tetapi tangan hampir selalu dekat gagang—sebuah tanda yang jelas bagi siapa pun yang datang: kami menerima kalian dengan sopan, tapi kami siap menebas jika kalian bertindak macam-macam. Aku berdiri di belakang barisan bersama Lin Suyin. Atas perintah tetua, aku memakai jubah sekte sederhana—tanpa lambang, tanpa sabuk murid inti. Rambutku diikat rapi, ekspresi wajah ku buat setenang mungkin. Aku tidak tampak seperti juru tulis istana. Aku tampak seperti murid sekte biasa yang bisa hilang di antara barisan para murid sekte. Tapi aku tahu Burung Hitam tidak mencari lewat pakaia
Kami kembali ke Yunling sebelum fajar. Langit masih gelap, tapi kabut mulai tipis di puncak gunung. Api ruang catatan sudah padam, hanya tersisa asap tipis dan bau arang. Beberapa murid tergeletak kelelahan di halaman, pakaian mereka basah oleh air ember dan keringat. Yang lain berdiri berjaga dengan mata merah dan tangan menggenggam pedang. Sekte ini sudah tidak tidur. Dan sekte yang tidak tidur adalah sekte yang menunggu perang. Mayat Qin Wen tidak kami bawa ke aula. Tetua Hitam memerintahkan Penjaga Dalam mengurusnya, dan itu artinya tidak akan ada upacara melepas jiwa. Tidak akan ada tangisan. Yunling tidak akan menyimpan nama pengkhianat di tanahnya. Aku berjalan di samping Lin Suyin menuju Aula Pedang, lututku masih gemetar. Rasanya seperti seluruh tubuhku dipenuhi sisa suara—pedang beradu, jarum terbang, dan kalimat Qin Wen sebelum mati. Tanpa segel itu, Yunling akan dituduh mencurinya. Aku menelan ludah. Bahkan saat pengkhianat itu mati, ia masih sempat menancapkan dur
Malam itu, Yunling berubah menjadi sarang pedang. Setelah jarum racun jatuh di Aula Pedang, tidak ada lagi ruang untuk berpura-pura. Semua keraguan yang sebelumnya dibungkus sopan santun terbelah seperti kain tipis. Para murid bergerak cepat, sebagian ke lereng memadamkan api, sebagian menyebar menutup jalur keluar. Gong dipukul dengan ritme khusus—ritme yang hanya dipakai ketika sekte menghadapi musuh dari dalam. Aku dan Lin Suyin keluar dari Aula Pedang lewat pintu samping. Udara di luar lebih dingin, tapi dipenuhi bau asap. Kabut tidak lagi terasa seperti pelindung, lebih seperti musuh yang bisa menyembunyikan Qin Wen di setiap lipatannya. Di halaman, beberapa murid berlari membawa obor, wajah mereka keras dan pucat. Aku melihat Han Qiao berdiri terdiam di tepi tangga aula, tidak bergerak. Pedangnya masih terhunus, tapi ia tampak seperti orang yang baru kehilangan tanah pijakan. Aku hendak menyapanya, tapi Lin Suyin menarikku menyusuri jalur batu ke arah paviliun tetua. “Ka
“Itu tanda registrasi lama Yunling untuk surat dari luar sekte yang digunakan sebelum aturan baru diterapkan.” Aku membeku, kehilangan kata-kata. Dengan satu kalimat, ia mengubah kode menjadi sesuatu yang bisa dijelaskan. Qin Wen menatap Han Qiao. “Saudara Han,” katanya, “kau tahu ‘kan Aturan registrasi lama? Kau pernah belajar catatan sekte.” Han Qiao tampak ragu sejenak, tak langsung menjawab. Tetua Gao yang menangkap keraguannya, memukul kursinya. “Bodoh! Kau ragu pada saudara sektemu karena ucapan orang luar?!” Han Qiao menunduk cepat. “Tidak, Tetua!” Aku merasa lantai bergetar, aku berteriak dalam hati: jangan tunduk, jangan tunduk! ini jebakan! Tetua ketiga—tetua berjubah hitam—akhirnya bicara untuk pertama kalinya. Suaranya serak, penuh wibawa. “Ruang catatan terbakar.” Satu kalimat itu membuat seluruh aula terdiam. Tetua berjubah hitam menatapku tajam, membuatku merasa seperti sedang ditelanjangi didepan umum. “Siapa yang menyalakan api?” Aku menelan ludah, me







