LOGINJalan keluar kota kekaisaran tidak terasa seperti kebebasan, lebih terasa seperti garis batas.
Di belakangku, tembok istana menjulang seperti gunung batu yang tidak pernah benar-benar tertidur. Di depanku, jalanan panjang membelah daratan, membawa orang ke provinsi-provinsi, ke desa-desa, ke gunung yang kabarnya menyimpan sekte-sekte pedang, dan ke wilayah tempat nama kaisar tidak selalu berarti keselamatan. Aku berjalan tanpa menoleh. Topi kain lusuh menutupi separuh wajahku. Jubah cokelat kusam menutupi pakaian dalam, menyembunyikan bekas kehidupanku sebagai juru tulis istana. Di saku kecil, kantong uang terasa cukup berat untuk membuatku percaya aku belum benar-benar putus asa, tetapi tidak cukup berat untuk membuatku merasa aman. Aku menghirup udara luar sekali lagi. Bau tanah, rumput, dan asap dapur dari rumah-rumah tepi jalan bercampur di angin. Di istana, udara selalu bercampur lilin dan cendana. Di sini, udara lebih kasar. Namun justru karena itu, terasa lebih nyata. Aku menapaki jalan batu menuju utara selama beberapa jam hingga matahari mulai condong. Kaki-kakiku tidak terbiasa berjalan jauh. Jari-jari kakiku memanas dan pergelanganku mulai nyeri. Namun aku terus berjalan karena aku tak tahu bagaimana caranya berhenti. Orang seperti aku hanya punya dua cara bertahan, terus bergerak atau menghilang selamanya. Sore itu aku tiba di sebuah penginapan di tepi jalan. Bangunannya sederhana, dua lantai, papan kayunya tua. Di depan, papan nama menggantung miring, bertuliskan “Penginapan Jalan Batu” dengan tinta hitam yang mulai pudar. Di bawahnya, lentera merah bergoyang pelan tertiup angin. Aku berhenti sebentar, mengamati. Penginapan di jalur perjalanan selalu memiliki dua wajah. Siang hari tampak seperti tempat singgah orang lelah. Tapi di malam hari, bisa menjadi tempat semua jenis manusia bercampur. Pedagang, penjudi, orang pelarian, pengawal, bahkan pembunuh yang menyamar sebagai pelancong. Aku menelan ludah dan melangkah masuk. Di dalam, udara terasa hangat. Bau sup panas dan daging rebus mengisi ruangan. Suara sendok, tawa kecil, serta dengungan obrolan memenuhi aula utama. Beberapa meja dipenuhi pedagang berkain kasar. Di pojok ada dua pria bertubuh besar membawa pedang, mungkin pengawal atau bandit, sulit dibedakan dari jarak jauh. Aku menunduk, mengambil tempat di meja kecil dekat dinding, tidak terlalu mencolok. Seorang pelayan datang, gadis remaja dengan kepang dua, memegang kain lap. “Mau makan apa, Tuan?” Aku menahan diri agar tidak berbicara seperti orang istana. “Sup saja. Dan semangkuk nasi.” Gadis itu mengangguk cepat. “Minum?” “Teh.” Gadis itu pergi. Aku meletakkan tangan di atas meja, menjaga agar tidak terlihat gemetar. Tabung bambu yang kuselipkan di dada terasa seperti bara kecil. Setiap orang di ruangan ini tampak seperti ancaman. Tetapi aku mengingat kata-kata Tuan Xu, juru tulis yang bersembunyi di balik jubah kusam tak akan diperhatikan. Aku berharap ia benar. Namun saat aku menatap sekilas ke arah meja tengah, aku melihat seseorang yang membuatku langsung tegang. Seorang pemuda duduk sendirian. Pakaiannya seperti pelancong biasa, jubah biru abu, sepatu kulit sederhana. Rambutnya diikat rapi tanpa ornamen. Di pinggangnya tidak tampak pedang, hanya kantong kain dan satu tabung minum. Terlalu rapi. Terlalu tenang. Ia duduk dengan postur seperti orang yang tidak pernah terbiasa membungkuk pada dunia. Mataku berhenti pada tangannya. Jari-jarinya memiliki kapalan halus, jenis kapalan yang tidak dimiliki penulis atau pedagang, melainkan orang yang sering menggenggam senjata. Pendekar. Aku menunduk cepat sebelum ia sempat menatap balik. Pelayan datang membawa sup dan teh. Aku mulai makan pelan, berusaha tampak biasa. Sendok kuangkat, sup kuhirup, napas kutahan. Aku tidak ingin mengundang perhatian siapa pun. Namun jianghu tidak bergerak sesuai keinginan orang kecil. Saat aku sedang menyesap teh, suara kursi berderit terdengar di depanku. Aku mengangkat pandangan dan hampir menjatuhkan cangkir. Pemuda itu duduk di mejaku. Tidak meminta izin. Tidak pula tampak kasar. Ia hanya duduk seolah kami sudah saling kenal sejak lama. Tubuhku kaku. Pemuda itu menatap supku sebentar, lalu berkata pelan, “Sup di sini asin.” Aku tidak tahu harus menjawab apa. Ia menatapku, kemudian tersenyum tipis. “Kau baru keluar kota, bukan?” Aku hampir tersedak. “Tidak,” jawabku cepat, terlalu cepat. Aku segera memperlambat nada suaraku. “Aku… pedagang kecil. Baru lewat jalur ini.” Pemuda itu mengangguk seolah menerima. Namun matanya menelisik. Ia menatap tanganku—tanganku yang tidak kasar seperti pedagang. Aku menyembunyikan jemariku di bawah meja. Pemuda itu berkata, “Kau terlalu tegang untuk pedagang.” Aku terdiam. Ia lalu mengambil cangkir tehku tanpa meminta, mencium aromanya sebentar, lalu meletakkannya kembali. “Aku tidak bermaksud mengganggu,” katanya. “Aku hanya merasa kau membawa sesuatu yang tidak nyaman.” Aku menahan napas. Bibirku kering. “Aku tidak mengerti maksudmu.” Pemuda itu menghela napas pendek, seperti orang yang menahan diri untuk tidak tertawa. “Tidak perlu mengerti. Dalam perjalanan jauh, orang kadang bertemu. Kadang membantu. Kadang saling menyesatkan.” Aku menatapnya tajam. “Kau siapa?” Pemuda itu tidak langsung menjawab. Ia hanya berkata, lebih pelan, “Jika kau bertanya begitu, berarti kau tidak punya guru.” Aku menggertakkan gigi, tetapi aku menunduk. Aku memang tidak punya guru. Pemuda itu akhirnya menyebut satu kalimat yang membuatku membeku. “Ke mana arah angin utara?” Dunia seolah berhenti. Sandi itu? Aku menatapnya, dadaku sesak. Dari mana ia tahu? Aku tidak segera menjawab. Pemuda itu menunggu beberapa saat, lalu mencondongkan tubuh sedikit dan berkata sangat pelan, hampir tanpa suara, “Aku bukan musuhmu. Jawab saja, lalu kita bicara di tempat yang tidak punya telinga.” Tanganku gemetar. Aku menunduk mengaduk sup, lalu menjawab pelan dengan bibir nyaris tidak bergerak. “Ke selatan, jika langit mengizinkan.” Pemuda itu mengangguk kecil. Ia berdiri seolah pembicaraan tadi tidak pernah terjadi. “Naik ke lantai dua,” katanya singkat, dengan suara normal kali ini. “Kamar nomor tujuh. Jangan bawa siapa-siapa.” Lalu ia pergi kembali ke mejanya. Aku duduk lama, sendokku menggantung di atas mangkuk. Lantai dua. Kamar tujuh. Aku tidak tahu apakah ini kesempatan atau justru perangkap. Namun aku tahu satu hal, jika orang itu mengenal sandi, ia pasti terhubung pada jaringan yang sama. Dan jaringan itu sedang menarikku ke arah yang tidak bisa kuhentikan. Aku membayar makan dan naik ke lantai dua dengan langkah perlahan. Lorong dilantai dua sunyi. Hanya beberapa pintu kamar tertutup. Aku berjalan sampai ke kamar nomor tujuh, lalu mengetuk dua kali. Tidak ada jawaban. Aku mengetuk sekali lagi. Pintu terbuka dari dalam dan yang membuka bukan pemuda itu. Seorang pria lain berdiri di dalam, lebih tua, bertubuh besar, matanya tajam seperti serigala. Di pinggangnya ada pedang. Aku membeku. Pria itu tersenyum. Senyumnya membuatku merinding. “Kau datang juga,” katanya. Aku merasa darahku turun ke kaki. Ini bukan kamar yang aman. Ini perangkap. Aku mundur, tetapi sebelum sempat berbalik, tangan kuat menarik lenganku dari belakang. Seseorang menutup mulutku dengan kain. Aku berusaha melawan, namun tubuhku lemah. Aku bukan pendekar. Tanganku hanya tahu memegang kuas. Dan dunia seolah berputar. Dalam setengah napas terakhir sebelum aku jatuh tak sadarkan diri, aku mendengar suara pedang keluar dari sarung dengan bunyi tipis. Lalu suara orang menjerit. Dan suara lain, tenang, dingin, tapi anehnya tidak asing di telingaku. “Jangan sentuh dia.” Aku tidak sempat melihat siapa yang berbicara, karena gelap menelan penglihatanku. Ketika aku sadar, yang pertama kulihat adalah langit-langit kayu penginapan. Bau darah tipis mengambang di udara, bercampur dengan bau teh yang tumpah. Kepalaku berat, tetapi aku masih hidup. Aku menoleh perlahan, di sisi ranjang duduk pemuda tadi. Sekarang pedangnya terlihat. Pedang panjang dengan sarung hitam, sederhana tanpa hiasan. Ia menatapku tanpa senyum. “Kau bodoh,” katanya datar. Aku menahan napas. “Kenapa?” Pemuda itu memotong, “Kenapa mereka ingin menangkapmu? Karena kau membawa sesuatu. Karena kau tidak tahu cara menyembunyikannya. Karena kau berjalan seperti orang yang membawa rahasia.” Aku memejamkan mata sebentar, menahan rasa pusing. Ia melanjutkan, “Aku datang bukan untuk menolongmu. Aku datang karena aku juga mengikuti jalur yang sama.” Aku membuka mata, menatapnya. “Siapa kau sebenarnya?” Pemuda itu menatapku lama, lalu berkata pendek, jelas. “Namaku Lin Suyin.” Nama itu terdengar seperti nama yang berasal sekte besar. Aku berbisik, “Sekte Yunling?” Ia tidak menjawab langsung, namun tatapannya cukup memberi jawaban. Aku menelan ludah. “Kau orang Yunling.” Lin Suyin berkata pelan, “Dan kau bukan pedagang.” Aku menatapnya, lalu mengingat tabung bambu di dadaku. Aku langsung meraba jubah. Tabung itu masih ada. Aku menghela napas lega—lega yang terlalu cepat karena Lin Suyin menatap tabung itu, lalu berkata dengan suara yang membuat dadaku dingin. “Yang mengejarmu malam ini bukan bandit jalanan. Mereka adalah orang istana.” Aku membeku. Lin Suyin berdiri pelan, menunjuk pintu. “Jika kau ingin hidup,” katanya, “kau ikut aku sekarang.” Aku menelan ludah. “Ke mana?” Lin Suyin menatapku dengan mata yang tajam. “Ke Yunling,” jawabnya. “Dan setelah itu kau akan tahu betapa mahal harga sebuah nama.”Paviliun Pengawas berdiri di sisi timur Yunling, sedikit lebih tinggi daripada Paviliun Samping. Tempat itu tidak besar, namun posisinya seperti mata yang menatap lereng gunung. Dari serambinya, aku bisa melihat jalan setapak menuju gerbang, barisan pohon pinus, juga kabut yang menggulung turun seperti ombak. Di sinilah orang-orang sekte menahan tamu yang “terlalu penting untuk dilepas” dan “terlalu berbahaya untuk dibiarkan bebas.” Aku disuruh duduk di dalam ruangan kayu yang cukup rapi. Tidak ada tali yang mengikat, tetapi dua murid berjaga di luar pintu, pedang mereka tidak pernah jauh dari tangan. Lin Suyin berdiri di sudut ruangan, punggungnya bersandar pada tiang, matanya menghadap ke luar jendela yang tertutup setengah. Ia tidak bicara. Ia tampak seperti patung yang diletakkan untuk mengingatkan bahwa aku tidak sendirian, tapi juga tidak bebas. Aku mencoba menenangkan detak jantungku. Kabut di luar bergerak pelan, namun pikiranku bergerak lebih cepat. Aku teringat kat
Malam di Yunling biasanya sunyi. Sekte pedang tidak suka suara berlebihan setelah lonceng malam berbunyi. Para murid kembali ke paviliun masing-masing, tetua beristirahat, dan hanya penjaga gerbang yang tetap berjalan di lorong-lorong batu, langkah mereka teratur seperti ritme napas. Namun malam ini, kesunyian itu patah. Aku mengikuti Lin Suyin keluar dari Paviliun Samping dengan jubahku yang basah oleh kabut dan keringat dingin. Di belakang kami, lentera paviliun bergoyang pelan, seolah ikut gemetar. Lin Suyin tidak memberi waktu untuk menenangkan diri, tidak memberi ruang untuk bertanya. Ia menggenggam lenganku kuat, menarikku berjalan cepat di bawah pohon pinus yang menjulang seperti bayangan. “Kau yakin harus sekarang?” bisikku. Lin Suyin tidak menoleh. “Sekarang atau terlambat.” Kami melewati jalan setapak yang naik ke Aula Pedang. Kabut makin tebal. Aku hampir tidak bisa melihat ujung langkahku sendiri. Di kejauhan, suara gong kecil terdengar sekali, lalu dua kali seba
Langit di Yunling selalu tampak lebih dekat. Kabut menggantung di antara pohon pinus, menyapu pelan atap-atap bangunan sekte yang berjajar rapi di lereng gunung. Angin membawa aroma kayu basah dan daun, serta satu bau lain yang tidak pernah ada di istana, bau besi dari pedang yang sering disarungkan dan ditarik, bau keringat latihan, bau tanah yang diinjak ribuan langkah. Aku berjalan mengikuti seorang murid sekte menuju Paviliun Samping, tempat aku ditempatkan. Di belakangku, Aula Pedang sudah tertutup kembali, namun suasana barusan tidak hilang begitu saja. Kata-kata tetua masih menempel di telingaku. Mandat Langit. Aku bahkan tidak tahu sepenuhnya apa maksudnya, tapi aku tahu itu bukan istilah ringan. Istana tidak akan mengirim Burung Hitam, sekte tidak akan menghunus pedang di gerbang, hanya untuk sesuatu yang kecil. Murid yang membawaku tidak berbicara banyak. Wajahnya muda, mungkin baru belasan, tetapi langkahnya tegas. Di pinggangnya ada pedang pendek, tangannya sesek
Gerbang Sekte Pedang Yunling berdiri tinggi, terbuat dari kayu hitam tua dengan paku-paku besi besar. Di atasnya, papan nama sekte digantung, tulisannya tegas dan rapi, seolah setiap garis tinta merupakan sumpah yang tidak bisa ditarik kembali. Di sisi gerbang, dua patung batu berbentuk singa penjaga menatap ke bawah, matanya tajam meski hanya pahatan. Kabut gunung menyelimuti lereng dan merangkak di kaki tangga, membuat tempat itu tampak seperti batas antara dunia manusia dan dunia para pendekar. Namun yang paling membuat nafasku berat bukan gerbang itu. Melainkan orang-orang yang menunggu di depan gerbang. Lima pendekar sekte berdiri membentuk setengah lingkaran. Mereka masih muda, tetapi aura mereka tidak demikian. Jubah mereka berwarna putih kebiruan dengan sabuk gelap. Di pinggang masing-masing tergantung pedang Yunling, sarungnya sederhana, namun bentuk gagangnya seragam, menandakan kedisiplinan. Semua pedang mereka sudah terhunus. Itu bukan sambutan. Itu semacam vonis y
Kami meninggalkan penginapan sebelum hujan benar-benar reda. Langit masih gelap. Awan menggantung rendah seperti kain basah yang tidak mau terangkat. Jalan batu yang tadi ramai kini berubah licin dan sunyi. Tidak banyak orang berani keluar pada malam seperti itu, kecuali mereka yang tidak punya pilihan atau mereka yang justru memilih gelap sebagai tempat tinggal. Lin Suyin berjalan lebih dulu, memimpin jalur yang tidak biasa, bukan jalan utama, melainkan jalur setapak di balik kebun dan ladang, melewati pagar bambu, menyusuri tepian hutan kecil yang dipenuhi bau tanah basah. Aku mengikutinya, meski langkahku berat. Setiap kali kakiku menginjak lumpur, sepatuku terasa semakin berat, seolah aku menarik masa laluku sendiri. Nafasku tidak teratur. Lututku masih nyeri karena jatuh dari jendela. Namun aku tetap berjalan karena rasa takut mengalahkan rasa sakit. Kami tidak bicara untuk waktu yang lama. Baru ketika kami melewati bukit kecil dan tidak lagi melihat cahaya penginapan d
Malam turun cepat setelah senja, seolah langit tidak ingin memberi waktu untuk bersiap. Aku baru saja duduk ketika Lin Suyin berkata bahwa orang-orang yang mengejarku bukan bandit. Kata-kata itu belum sempat kupahami sepenuhnya, tetapi tubuhku sudah lebih dulu merasakan bahaya. Udara di lorong penginapan terasa lebih berat, suara di bawah makin berkurang, dan entah kenapa, pelita-pelita di dinding tampak lebih redup daripada biasanya. Lin Suyin berdiri dekat jendela, membuka celah kecil pada daun kayu dan menatap keluar. Beberapa saat kemudian, ia menutup kembali jendela dengan gerakan cepat. “Hujan akan turun,” katanya. Aku menatapnya. “Itu masalah?” Lin Suyin tidak langsung menjawab. Ia memungut jubah luarnya yang tergantung di kursi, menyampirkannya ke bahu, lalu berkata, “Hujan menutupi jejak, tapi juga menutupi suara. Orang-orang yang datang tidak akan peduli apakah kau mendengar mereka atau tidak. Mereka hanya perlu tiba di tempatmu.” Jantungku berdetak keras. Aku in







