Home / Fantasi / Mandat Langit / Bab 8 — Penginapan di Jalan Batu

Share

Bab 8 — Penginapan di Jalan Batu

Author: Chouw
last update publish date: 2026-03-19 11:11:42

Jalan keluar kota kekaisaran tidak terasa seperti kebebasan, lebih terasa seperti garis batas.

Di belakangku, tembok istana menjulang seperti gunung batu yang tidak pernah benar-benar tertidur. Di depanku, jalanan panjang membelah daratan, membawa orang ke provinsi-provinsi, ke desa-desa, ke gunung yang kabarnya menyimpan sekte-sekte pedang, dan ke wilayah tempat nama kaisar tidak selalu berarti keselamatan.

Aku berjalan tanpa menoleh.

Topi kain lusuh menutupi separuh wajahku. Jubah cokelat kusam menutupi pakaian dalam, menyembunyikan bekas kehidupanku sebagai juru tulis istana. Di saku kecil, kantong uang terasa cukup berat untuk membuatku percaya aku belum benar-benar putus asa, tetapi tidak cukup berat untuk membuatku merasa aman.

Aku menghirup udara luar sekali lagi.

Bau tanah, rumput, dan asap dapur dari rumah-rumah tepi jalan bercampur di angin. Di istana, udara selalu bercampur lilin dan cendana. Di sini, udara lebih kasar. Namun justru karena itu, terasa lebih nyata.

Aku menapaki jalan batu menuju utara selama beberapa jam hingga matahari mulai condong. Kaki-kakiku tidak terbiasa berjalan jauh. Jari-jari kakiku memanas dan pergelanganku mulai nyeri. Namun aku terus berjalan karena aku tak tahu bagaimana caranya berhenti.

Orang seperti aku hanya punya dua cara bertahan, terus bergerak atau menghilang selamanya.

Sore itu aku tiba di sebuah penginapan di tepi jalan. Bangunannya sederhana, dua lantai, papan kayunya tua. Di depan, papan nama menggantung miring, bertuliskan “Penginapan Jalan Batu” dengan tinta hitam yang mulai pudar. Di bawahnya, lentera merah bergoyang pelan tertiup angin.

Aku berhenti sebentar, mengamati.

Penginapan di jalur perjalanan selalu memiliki dua wajah. Siang hari tampak seperti tempat singgah orang lelah. Tapi di malam hari, bisa menjadi tempat semua jenis manusia bercampur. Pedagang, penjudi, orang pelarian, pengawal, bahkan pembunuh yang menyamar sebagai pelancong.

Aku menelan ludah dan melangkah masuk.

Di dalam, udara terasa hangat. Bau sup panas dan daging rebus mengisi ruangan. Suara sendok, tawa kecil, serta dengungan obrolan memenuhi aula utama. Beberapa meja dipenuhi pedagang berkain kasar. Di pojok ada dua pria bertubuh besar membawa pedang, mungkin pengawal atau bandit, sulit dibedakan dari jarak jauh.

Aku menunduk, mengambil tempat di meja kecil dekat dinding, tidak terlalu mencolok.

Seorang pelayan datang, gadis remaja dengan kepang dua, memegang kain lap. “Mau makan apa, Tuan?”

Aku menahan diri agar tidak berbicara seperti orang istana. “Sup saja. Dan semangkuk nasi.”

Gadis itu mengangguk cepat. “Minum?”

“Teh.”

Gadis itu pergi.

Aku meletakkan tangan di atas meja, menjaga agar tidak terlihat gemetar. Tabung bambu yang kuselipkan di dada terasa seperti bara kecil. Setiap orang di ruangan ini tampak seperti ancaman. Tetapi aku mengingat kata-kata Tuan Xu, juru tulis yang bersembunyi di balik jubah kusam tak akan diperhatikan.

Aku berharap ia benar.

Namun saat aku menatap sekilas ke arah meja tengah, aku melihat seseorang yang membuatku langsung tegang.

Seorang pemuda duduk sendirian. Pakaiannya seperti pelancong biasa, jubah biru abu, sepatu kulit sederhana. Rambutnya diikat rapi tanpa ornamen. Di pinggangnya tidak tampak pedang, hanya kantong kain dan satu tabung minum.

Terlalu rapi. Terlalu tenang. Ia duduk dengan postur seperti orang yang tidak pernah terbiasa membungkuk pada dunia.

Mataku berhenti pada tangannya. Jari-jarinya memiliki kapalan halus, jenis kapalan yang tidak dimiliki penulis atau pedagang, melainkan orang yang sering menggenggam senjata.

Pendekar.

Aku menunduk cepat sebelum ia sempat menatap balik.

Pelayan datang membawa sup dan teh. Aku mulai makan pelan, berusaha tampak biasa. Sendok kuangkat, sup kuhirup, napas kutahan. Aku tidak ingin mengundang perhatian siapa pun.

Namun jianghu tidak bergerak sesuai keinginan orang kecil.

Saat aku sedang menyesap teh, suara kursi berderit terdengar di depanku. Aku mengangkat pandangan dan hampir menjatuhkan cangkir.

Pemuda itu duduk di mejaku. Tidak meminta izin. Tidak pula tampak kasar. Ia hanya duduk seolah kami sudah saling kenal sejak lama.

Tubuhku kaku.

Pemuda itu menatap supku sebentar, lalu berkata pelan, “Sup di sini asin.”

Aku tidak tahu harus menjawab apa.

Ia menatapku, kemudian tersenyum tipis. “Kau baru keluar kota, bukan?”

Aku hampir tersedak. “Tidak,” jawabku cepat, terlalu cepat. Aku segera memperlambat nada suaraku. “Aku… pedagang kecil. Baru lewat jalur ini.”

Pemuda itu mengangguk seolah menerima. Namun matanya menelisik. Ia menatap tanganku—tanganku yang tidak kasar seperti pedagang.

Aku menyembunyikan jemariku di bawah meja.

Pemuda itu berkata, “Kau terlalu tegang untuk pedagang.”

Aku terdiam.

Ia lalu mengambil cangkir tehku tanpa meminta, mencium aromanya sebentar, lalu meletakkannya kembali. “Aku tidak bermaksud mengganggu,” katanya. “Aku hanya merasa kau membawa sesuatu yang tidak nyaman.”

Aku menahan napas. Bibirku kering. “Aku tidak mengerti maksudmu.”

Pemuda itu menghela napas pendek, seperti orang yang menahan diri untuk tidak tertawa. “Tidak perlu mengerti. Dalam perjalanan jauh, orang kadang bertemu. Kadang membantu. Kadang saling menyesatkan.”

Aku menatapnya tajam. “Kau siapa?”

Pemuda itu tidak langsung menjawab. Ia hanya berkata, lebih pelan, “Jika kau bertanya begitu, berarti kau tidak punya guru.”

Aku menggertakkan gigi, tetapi aku menunduk. Aku memang tidak punya guru.

Pemuda itu akhirnya menyebut satu kalimat yang membuatku membeku. “Ke mana arah angin utara?”

Dunia seolah berhenti. Sandi itu? Aku menatapnya, dadaku sesak. Dari mana ia tahu? Aku tidak segera menjawab.

Pemuda itu menunggu beberapa saat, lalu mencondongkan tubuh sedikit dan berkata sangat pelan, hampir tanpa suara, “Aku bukan musuhmu. Jawab saja, lalu kita bicara di tempat yang tidak punya telinga.”

Tanganku gemetar. Aku menunduk mengaduk sup, lalu menjawab pelan dengan bibir nyaris tidak bergerak. “Ke selatan, jika langit mengizinkan.”

Pemuda itu mengangguk kecil. Ia berdiri seolah pembicaraan tadi tidak pernah terjadi. “Naik ke lantai dua,” katanya singkat, dengan suara normal kali ini. “Kamar nomor tujuh. Jangan bawa siapa-siapa.” Lalu ia pergi kembali ke mejanya.

Aku duduk lama, sendokku menggantung di atas mangkuk. Lantai dua. Kamar tujuh. Aku tidak tahu apakah ini kesempatan atau justru perangkap.

Namun aku tahu satu hal, jika orang itu mengenal sandi, ia pasti terhubung pada jaringan yang sama. Dan jaringan itu sedang menarikku ke arah yang tidak bisa kuhentikan.

Aku membayar makan dan naik ke lantai dua dengan langkah perlahan.

Lorong dilantai dua sunyi. Hanya beberapa pintu kamar tertutup. Aku berjalan sampai ke kamar nomor tujuh, lalu mengetuk dua kali.

Tidak ada jawaban. Aku mengetuk sekali lagi. Pintu terbuka dari dalam dan yang membuka bukan pemuda itu.

Seorang pria lain berdiri di dalam, lebih tua, bertubuh besar, matanya tajam seperti serigala. Di pinggangnya ada pedang.

Aku membeku.

Pria itu tersenyum. Senyumnya membuatku merinding. “Kau datang juga,” katanya.

Aku merasa darahku turun ke kaki. Ini bukan kamar yang aman. Ini perangkap.

Aku mundur, tetapi sebelum sempat berbalik, tangan kuat menarik lenganku dari belakang. Seseorang menutup mulutku dengan kain.

Aku berusaha melawan, namun tubuhku lemah. Aku bukan pendekar. Tanganku hanya tahu memegang kuas.

Dan dunia seolah berputar.

Dalam setengah napas terakhir sebelum aku jatuh tak sadarkan diri, aku mendengar suara pedang keluar dari sarung dengan bunyi tipis.

Lalu suara orang menjerit. Dan suara lain, tenang, dingin, tapi anehnya tidak asing di telingaku.

“Jangan sentuh dia.”

Aku tidak sempat melihat siapa yang berbicara, karena gelap menelan penglihatanku.

Ketika aku sadar, yang pertama kulihat adalah langit-langit kayu penginapan. Bau darah tipis mengambang di udara, bercampur dengan bau teh yang tumpah. Kepalaku berat, tetapi aku masih hidup.

Aku menoleh perlahan, di sisi ranjang duduk pemuda tadi. Sekarang pedangnya terlihat. Pedang panjang dengan sarung hitam, sederhana tanpa hiasan.

Ia menatapku tanpa senyum. “Kau bodoh,” katanya datar.

Aku menahan napas. “Kenapa?”

Pemuda itu memotong, “Kenapa mereka ingin menangkapmu? Karena kau membawa sesuatu. Karena kau tidak tahu cara menyembunyikannya. Karena kau berjalan seperti orang yang membawa rahasia.”

Aku memejamkan mata sebentar, menahan rasa pusing.

Ia melanjutkan, “Aku datang bukan untuk menolongmu. Aku datang karena aku juga mengikuti jalur yang sama.”

Aku membuka mata, menatapnya. “Siapa kau sebenarnya?”

Pemuda itu menatapku lama, lalu berkata pendek, jelas. “Namaku Lin Suyin.”

Nama itu terdengar seperti nama yang berasal sekte besar. Aku berbisik, “Sekte Yunling?”

Ia tidak menjawab langsung, namun tatapannya cukup memberi jawaban.

Aku menelan ludah. “Kau orang Yunling.”

Lin Suyin berkata pelan, “Dan kau bukan pedagang.”

Aku menatapnya, lalu mengingat tabung bambu di dadaku. Aku langsung meraba jubah.

Tabung itu masih ada. Aku menghela napas lega—lega yang terlalu cepat karena Lin Suyin menatap tabung itu, lalu berkata dengan suara yang membuat dadaku dingin.

“Yang mengejarmu malam ini bukan bandit jalanan. Mereka adalah orang istana.”

Aku membeku.

Lin Suyin berdiri pelan, menunjuk pintu. “Jika kau ingin hidup,” katanya, “kau ikut aku sekarang.”

Aku menelan ludah. “Ke mana?”

Lin Suyin menatapku dengan mata yang tajam. “Ke Yunling,” jawabnya. “Dan setelah itu kau akan tahu betapa mahal harga sebuah nama.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Mandat Langit   Bab 29 — Ultimatum di Atas Kabut

    Kabut Yunling belum sepenuhnya terangkat ketika halaman sekte sudah dipenuhi kesibukan. Murid-murid yang semalam berjaga kini berganti giliran, sebagian mengganti obor, sebagian menurunkan ember, sebagian membersihkan darah dari lantai Paviliun Pengawas seolah itu noda memalukan dan harus segera dihilangkan. Namun noda itu tidak bisa dibersihkan. Karena darah semalam bukan darah perkelahian biasa. Itu darah yang menandai bahwa istana telah masuk kedalam sekte. Burung Hitam yang tertangkap dibawa ke ruang bawah Aula Pedang. Tidak diumumkan ke semua murid, tapi desas-desus penangkapannya telah menyebar lebih cepat daripada kabut gunung. Aku duduk di Paviliun Pengawas dengan tangan yang terasa dingin. Aku tidak bisa menghapus gambar itu: sosok hitam mendarat di belakangku, tangan yang menyentuh leherku, nafasku putus-putus, dan pelita yang terjatuh. Aku menatap kertas yang semalam ku tulis. Aku menghela napas panjang. Mungkin aku memang orang yang ditakdirkan untuk menulis, bukan u

  • Mandat Langit   Bab 28 — Malam Kedua, Bayangan Pertama

    Setelah sidang tinta itu, Yunling tampak tenang dari luar. Zhou Yan menurunkan nada bicaranya, memuji “kebijaksanaan sekte”. Ia berkata pemeriksaan akan dilakukan dengan mengikuti tata tertib. Ia bahkan tertawa kecil seolah semua ketegangan tadi hanya kesalahpahaman yang terlalu tajam. Namun aku pernah hidup di istana. Aku tahu seperti apa wajah ketika seseorang tersenyum ketika sudah memutuskan untuk membunuh. Hari menjelang sore dengan pemeriksaan yang berputar-putar. Zhou Yan meminta melihat reruntuhan ruang catatan. Ia menanyai murid-murid yang berjaga saat malam kebakaran terjadi. Ia meminta daftar patroli. Ia menulis banyak hal di buku catatannya, tapi aku tidak percaya satu pun dari pertanyaannya itu. Aku tidak lagi melihatnya sebagai pejabat. Aku melihatnya sebagai pedang di balik jubah, yang kapan saja bisa menghunus saat lawannya lengah. Sore itu tetua memanggil Lin Suyin dan beberapa Penjaga Dalam. Aku tidak diizinkan masuk, tapi aku melihat mereka berkumpul di Aul

  • Mandat Langit   Bab 27 — Tinta di Aula Pedang

    Aula Pedang terasa berbeda ketika utusan istana berdiri di dalamnya. Biasanya ruangan itu adalah tempat kehormatan sekte dipertahankan, dengan sumpah, dengan pedang, dengan disiplin. Namun hari ini, kehormatan itu seolah diuji oleh sesuatu yang lebih licin daripada bilah, yaitu bahasa istana. Zhou Yan berdiri di sisi kiri aula, dikelilingi pengawal kekaisaran. Dua Burung Hitam berdiri sedikit di belakangnya, seperti bayangan yang tidak bisa diusir. Tetua yang tenang berdiri di sisi kanan, bersama Tetua Gao dan Tetua Hitam. Murid-murid Yunling mengisi sisi-sisi aula, tidak berani terlalu dekat, namun mata mereka tajam seperti pedang yang siap terhunus. Aku berdiri di tengah. Sendirian. Tanpa pedang. Tanpa jubah resmi. Hanya seorang juru tulis yang diberi napas satu kali lagi. Zhou Yan menatapku dengan senyum tipis. “Aku tidak suka membuang waktu.” Aku menatap balik, tidak lama, tidak menantang, tapi cukup tegas. “Aku juga,” jawabku. Beberapa murid bergumam kecil, bukan setuj

  • Mandat Langit   Bab 26 — Pemeriksaan yang Menggigit

    Pemeriksaan kekaisaran dimulai seperti upacara, tapi berjalan seperti perburuan. Zhou Yan memasuki Yunling dengan langkah tenang, seolah ia hanya pejabat kecil yang datang untuk melaksanakan tugas. Namun matanya tidak pernah benar-benar diam. Ia memperhatikan posisi murid, jalur jalan, jarak antara lentera, bahkan arah angin yang membawa bau asap. Burung Hitam tetap berada tiga langkah di belakangnya sesuai aturan tetua. Tiga langkah. Namun tiga langkah itu cukup untuk membuat setiap murid Yunling merasakan dingin di tulang mereka. Aku kembali ke Paviliun Pengawas sesuai perintah. Di sepanjang jalan, aku merasakan mata-mata yang tidak terlihat. Tidak semua tatapan berasal dari sekte. Ada sesuatu yang lain—sesuatu yang bergerak seperti asap, tidak menonjol, tapi selalu ada. Begitu aku masuk paviliun, penjaga segera menutup pintu. “Jangan keluar,” kata salah satu dari mereka—bukan perintah tetua, melainkan permintaan yang seperti rasa takut. Aku mengangguk dan duduk. Di meja kec

  • Mandat Langit   Bab 25 — Utusan di Kaki Gunung

    Pagi itu, kabut Yunling belum sempat hilang ketika lonceng gerbang berbunyi tiga kali. Bunyinya berat, tidak seperti lonceng latihan, tidak seperti lonceng makan. Ini lonceng yang dipukul ketika tamu datang atau musuh datang memakai nama tamu. Para murid sekte segera berkumpul di halaman depan. Barisan mereka rapi, jubah putih kebiruan berkibar pelan dalam angin gunung. Pedang mereka tidak semuanya terhunus, tetapi tangan hampir selalu dekat gagang—sebuah tanda yang jelas bagi siapa pun yang datang: kami menerima kalian dengan sopan, tapi kami siap menebas jika kalian bertindak macam-macam. Aku berdiri di belakang barisan bersama Lin Suyin. Atas perintah tetua, aku memakai jubah sekte sederhana—tanpa lambang, tanpa sabuk murid inti. Rambutku diikat rapi, ekspresi wajah ku buat setenang mungkin. Aku tidak tampak seperti juru tulis istana. Aku tampak seperti murid sekte biasa yang bisa hilang di antara barisan para murid sekte. Tapi aku tahu Burung Hitam tidak mencari lewat pakaia

  • Mandat Langit   Bab 24 — Saksi di Bawah Langit

    Kami kembali ke Yunling sebelum fajar. Langit masih gelap, tapi kabut mulai tipis di puncak gunung. Api ruang catatan sudah padam, hanya tersisa asap tipis dan bau arang. Beberapa murid tergeletak kelelahan di halaman, pakaian mereka basah oleh air ember dan keringat. Yang lain berdiri berjaga dengan mata merah dan tangan menggenggam pedang. Sekte ini sudah tidak tidur. Dan sekte yang tidak tidur adalah sekte yang menunggu perang. Mayat Qin Wen tidak kami bawa ke aula. Tetua Hitam memerintahkan Penjaga Dalam mengurusnya, dan itu artinya tidak akan ada upacara melepas jiwa. Tidak akan ada tangisan. Yunling tidak akan menyimpan nama pengkhianat di tanahnya. Aku berjalan di samping Lin Suyin menuju Aula Pedang, lututku masih gemetar. Rasanya seperti seluruh tubuhku dipenuhi sisa suara—pedang beradu, jarum terbang, dan kalimat Qin Wen sebelum mati. Tanpa segel itu, Yunling akan dituduh mencurinya. Aku menelan ludah. Bahkan saat pengkhianat itu mati, ia masih sempat menancapkan dur

  • Mandat Langit   Bab 7 — Nama Baru di Dunia Jianghu

    Ruangan belakang rumah teh Awan Senja tidak besar. Hanya ada meja rendah, dua kursi bambu, dan sebuah tungku kecil yang menjaga air tetap hangat. Namun suasananya terasa lebih sempit daripada kamar asramaku di istana, karena di sini aku tidak sedang berhadapan dengan dinding kayu. Aku sedang berhad

  • Mandat Langit   Bab 3 — Pagi yang Terlalu Sunyi

    Pagi datang tanpa suara. Kabut tipis masih menggantung di antara atap-atap istana ketika lonceng pertama berbunyi dari Menara Timur, tetapi udara di Kompleks Arsip Kekaisaran terasa berbeda dibanding hari-hari lain. Pagi ini terasa lebih dingin, lebih rapat, seolah ada sesuatu yang ditahan oleh d

  • Mandat Langit   Bab 2 — Malam Yang Tidak Tenang

    Malam turun perlahan di atas atap-atap istana. Dari jendela tinggi Kompleks Arsip, langit tampak seperti sutra gelap yang ditarik rapat, sementara pelita-pelita minyak di lorong menyala kuning pucat, cukup untuk menampakkan jalan, tetapi tidak cukup terang untuk menenangkan hati. Aku masih berada

  • Mandat Langit   BAB 1 — Catatan Yang Tidak Boleh Tertulis

    Kabut pagi masih menggantung di atap-atap giok ketika lonceng pertama berbunyi dari Menara Timur Istana. Di dalam Kompleks Arsip Kekaisaran, orang-orang sudah duduk rapi sebelum matahari benar-benar naik. Tidak ada yang datang terlambat. Bukan karena mereka rajin, melainkan karena siapa pun yang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status