Share

Bab 64

Author: Callme_Tata
last update publish date: 2026-10-30 16:59:04

Dimas mempercepat dorongannya sedikit, cukup sedikit, dan sekarang kaki ranjang besi itu mulai berderit. Dia memeluk Laras erat-erat, menenggelamkan wajahnya di leher Laras, sampai semua ototnya menegang sekaligus.

"Ughh... Nyaaa... Nya, aku keluar, Nya!"

Kriet!

Ranjang itu berderit sekali, keras, waktu Dimas mendorong paling dalam dan diam di sana. Cairannya keluar hangat di dalam Laras, berdenyut tiga kali, dan Laras mengusap-usap lengan Dimas di perutnya dengan pelan.

Lama mereka diam tanpa
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Manjanya Nyonyaku   Bab 72

    Menjelang magrib, Diandra pamit. Dimas diminta Laras membukakan pintu mobil tamunya di garasi, karena sopir Diandra sedang ke musala di ujung kompleks. Diandra berjalan pelan, mencium pipi Laras di pintu samping, lalu menghampiri Dimas yang berdiri di samping sedan hitam itu.Diandra berhenti tepat di depannya, cukup dekat sampai parfumnya tercium. Tangannya terulur ke dada Dimas, dan dalam satu gerakan cepat, sebuah kartu nama masuk ke saku kemejanya."Makasih, ya, Dimas. Kalau kamu mau ngobrol soal klinik di Kuningan, telepon aku. Cuma kita berdua."Muka Dimas langsung pucat. Klinik di Kuningan. Klinik yang namanya tercetak di amplop di laci kamar belakang, dan klinik tempat Tasya praktik tiap Rabu.Diandra masuk ke mobil sambil tersenyum manis, lalu menurunkan kaca jendela sedikit. "Salam buat Kezia, ya! Bilang ke dia, Mama nggak marah, Mama cuma kangen laporannya."Sedan hitam itu keluar gerbang. Dimas masih berdiri di tempat yang sama, telapak tangannya menekan saku kemeja tempat

  • Manjanya Nyonyaku   Bab 71

    Begitu pintu samping menutup dan bunyi motor menjauh, Kezia jatuh terduduk di lantai sambil menutup mulut. Bahunya berguncang menahan tawa, sedangkan Dimas masih berdiri kaku dengan tali celana yang belum terurai."Pelatih fisik, Kez?! Saya bahkan nggak bisa smes!""Lo bisa kok, Bang, tadi gue lihat sendiri, hihi." Kezia tertawa sampai air matanya keluar, lalu melempar handuk bekas ke muka Dimas.***Rabu sore, Dimas sedang menyiram pot-pot anggrek di halaman samping ketika sebuah sedan hitam berhenti di depan pagar. Seorang perempuan turun memakai blazer krem dan kacamata hitam yang dia naikkan ke kepala. Rambutnya disanggul rapi, dan wajahnya mirip Kezia versi yang lebih tua dan lebih tenang.Laras keluar dari pintu depan dengan langkah yang sedikit tergesa, karena tamunya datang tanpa kabar. Namun, senyumnya sudah terpasang sebelum dia sampai di teras."Kak Diandra, kok nggak bilang mau mampir? Ya ampun, aku belum siapin apa-apa, Kak!"Diandra memeluk Laras dengan ramah, lalu menep

  • Manjanya Nyonyaku   Bab 70

    Kezia menepuk paha Dimas dengan telapak tangannya. "Gantian, Bang. Lo berdiri, sekarang giliran gue. Jangan nolak, gue udah janji ke diri gue sendiri."Dimas berdiri di depan bangku dengan canggung. Kezia menarik celana training Dimas sekaligus dengan celana dalamnya sampai ke lutut, lalu diam lama sekali, menatap milik Dimas yang berdiri tegak tepat di depan wajahnya. "Bang... ini segede ini dari dulu? Tante kuat?"Dimas tidak bisa menjawab. Mulutnya terbuka, tertutup lagi, lalu terbuka lagi tanpa suara.Pelan dan canggung, Kezia menggenggam pangkal milik Dimas dengan dua tangan. Dia menjilat ujungnya sekali dengan ujung lidah, mengernyit karena rasanya asin, lalu mencoba memasukkan kepala milik Dimas ke mulutnya. Giginya sempat menyenggol, dan Dimas mendesis."Pelan, Kez, giginya ditutup pakai bibir dulu. Iya, gitu, napas lewat hidung aja, jangan buru-buru."Kezia mengangguk dengan mulut penuh. Dia belajar cepat, kepalanya mulai maju mundur dengan ritme yang lebih teratur, sementara

  • Manjanya Nyonyaku   Bab 69

    "Shhh, lan-lanjut, tapi pelan, Bang, jangan diketawain."Dimas mengisap lagi, sementara ibu jarinya memilin pentil yang satunya. Kezia menggigit punggung tangannya sendiri, dan pahanya yang berdiri di antara lutut Dimas mulai gemetar. Sesekali desahnya lolos juga dari sela jari, lebih tinggi dan lebih kecil dari suaranya waktu meneriaki tim.Tak lama, Kezia mundur dan berjalan ke lingkaran tengah lapangan, lalu rebahan di situ. Lantai kayu itu dingin, sehingga dia sempat mendesis waktu punggung telanjangnya menempel. Setelah itu, Kezia menarik celana pendek hitamnya sendiri sampai ke paha, dan celana dalam katun abu-abunya terlihat. "Sini, Bang. Jilat dari luar dulu, ya. Gue belum berani langsung."Dimas berlutut di antara kaki Kezia, tetapi dia berhenti dulu sebelum menunduk. "Boleh, Kez? Kalau geli banget, kamu tepuk kepala saya aja."Kezia mengangkat peluit di dadanya dengan muka serius. "Boleh. Dan satu lagi, Bang, tiap gue crot, gue tiup ini, biar gue sendiri tahu. Jangan protes!

  • Manjanya Nyonyaku   Bab 68

    el dari laci dan menempelkannya di kolom Kamis. "Oh, gitu, pantes Ibu yang nulis sendiri. Kalau gitu, Kamis buat jadwal Bibi belanja sayur, ya, Mas, biar Mas Dimas ingat nganterin Bibi ke pasar."Dimas cuma bisa mengangguk dengan mata yang masih merah karena bawang. Kezia membalik badan menahan tawa, dan bahunya berguncang sampai dia harus berpegangan ke meja makan.***Sore itu, Dimas menyiram taman belakang lebih lama dari biasanya. Dari jendela lantai dua, Laras sempat melambaikan tangan, lalu menutup tirai. Selang di tangannya masih menyala waktu ponsel di saku celananya bergetar.Pesan dari Kezia.[Bang, Selasa malam jam 9 di GOR. Penjaganya pulang jam 8. Bawa handuk dua, sama jangan telat, soalnya gue udah mikirin ini dari tadi.]Selasa malam, Dimas pamit ke Bi Inah dengan alasan mengambil data di lab kampus, padahal lab itu sudah dia kunci sejak sore. Ojek online menurunkannya di depan GOR voli kampus Kezia jam sembilan kurang lima, dengan ransel berisi dua handuk yang Laras se

  • Manjanya Nyonyaku   Bab 67

    "Ini Tante ambil dari hotel yang sama, Kez. Selasa malam, Om sewa kamar persis di sebelah kamar Tante, katanya buat mastiin semuanya jalan. Ternyata kamar itu kosong sampai jam dua, soalnya Om ada di kamar 1512, sama sekretarisnya."Kezia membaca kertas itu lama, lama sekali. Bibirnya bergerak tanpa suara di kata Bella, dan pelan-pelan wajahnya memucat sampai bibirnya ikut putih. Setelah itu, matanya basah, dan setetes air mata jatuh ke ujung kertas notes itu.Tanpa mengangkat kepala, Kezia bicara dengan suara yang pecah di tengah. "Mama nyuruh aku tinggal di sini, Tante. Katanya buat nyari kesalahan Tante, biar Om Reza kelihatan jelek di depan Kakek. Aku pikir yang jahat itu Tante, makanya aku foto-foto terus. Ternyata yang jahat Om Reza sendiri, kan?"Laras bangkit dari kursinya, memutari meja, lalu memeluk kepala Kezia dari samping. "Ya ampun, Kez... kamu nggak salah, Sayang. Kamu cuma disuruh, sama kayak Tante."Pecahlah tangis Kezia di bahu Tantenya. Bahunya berguncang keras, dan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status