LOGINHanduk masih melingkari pinggangnya ketika Damian melangkah keluar kamar mandi. Tatapannya langsung tertuju ke ranjang tapi ranjang itu kosong, tidak ada Elara di sana. "Elara," panggilnya pelan. Ia melihat sekeliling kamar lalu menatap kursi cukup lama. Ia mengingat jelas setiap detail di kamar Elara. Jaket yang ada di sandaran kursi menghilang. “ELARA!”Damian bergerak cepat, menyibak tirai, membuka pintu kamar mandi, kamar ganti, tidak ada. Tidak ada jejak selain kehampaan yang menampar wajahnya dengan kejam.Ia meraih ponsel dan memerintahkan seluruh anak buah Morreti untuk berkumpul di aula sekarang juga.Dalam hitungan menit, para penjaga berkumpul. Beberapa masih mengenakan sarung tangan pembersih. Beberapa lain terlihat kebingungan, belum sepenuhnya sadar apa yang terjadi. Damian berdiri di tengah ruangan seperti badai yang ditahan paksa, rahangnya mengeras, mata gelapnya membara.“Elara pergi,” ucapnya pelan.Tidak ada yang menjawab.“AKU BERTANYA,” lanjut Damian, kini suara
"Jangan pergi kemana pun, tetap duduk di tempat tidurmu!" Damian memberikan perintah sebelum masuk kamar mandi. Elara tidak menjawab, ia memilih untuk memalingkan wajahnya. Tak lama, terdengar suara pintu kamar mandi tertutup. Elara melirik sekilas lalu menunggu sampai suara air mengalir dari kamar mandi terdengar jelas dan stabil. Bukan suara biasa, itu adalah satu-satunya celah. Ia berdiri dan berjalan pelan-pelan, jantungnya berdegup terlalu keras sampai rasanya Damian bisa mendengarnya menembus dinding. Tangannya gemetar saat meraih jaket tipis di sandaran kursi, tidak ada tas, tidak ada sepatu yang pantas, dan tidak ada rencana selain satu kata yang terus berdentum di kepalanya. Pergi sekarang!. Hanya itu dan ia kali ini harus nekad. Ia membuka pintu kamar perlahan. Engselnya nyaris tidak bersuara. Lorong di luar tampak lengang, namun udara masih membawa aroma logam dan pembersih keras tanda rumah ini baru saja selamat dari pertumpahan darah. Beberapa penjaga terlihat di ujun
Elara berdiri terlalu lama di bawah pancuran, membiarkan air hangat jatuh ke kulitnya tanpa benar-benar merasakan hangat itu. Yang ia rasakan justru tekanan, seperti ada tangan tak kasatmata menahan dadanya, membuat napasnya pendek dan tidak utuh. Dinding kamar mandi terasa lebih sempit dari biasanya. Bahkan uap air pun seolah ikut mengawasinya.Di luar sana, Damian menunggu.Bukan sekadar menunggu. Ia tahu pria itu mendengar segalanya. Setiap gesekan kaki di lantai, setiap tarikan napas yang terlalu lama, setiap botol sabun yang terjatuh. Kesadaran itu membuat Elara mempercepat gerakannya, bukan karena takut pada bahaya di luar, melainkan karena takut pada kehadiran yang terlalu dekat, terlalu mengikat.Saat ia keluar dengan rambut masih basah dan handuk melilit tubuhnya, Damian sudah berdiri di depan pintu. Posisi tubuhnya santai, namun matanya bergerak cepat, menilai, memastikan. Elara tahu tatapan itu. Tatapan penjaga sekaligus pemilik.“Kamu lama,” kata Damian.Elara tidak menjaw
Kamar itu kembali sunyi setelah fajar benar-benar menguasai langit Roma. Tirai tipis bergoyang pelan tertiup angin pagi, cahaya lembut jatuh ke wajah Elara yang perlahan terbangun dari tidurnya. Kepalanya masih berat, tubuhnya terasa pegal, seolah semalam ia berlari jauh tanpa henti.Hal pertama yang ia rasakan adalah kehadiran seseorang.Elara membuka mata perlahan dan menemukan Damian duduk di kursi dekat jendela. Pria itu tidak tertidur. Sama sekali tidak. Punggungnya tegak, lengan terlipat, wajahnya tenang namun mata gelapnya tertuju lurus ke arahnya, seolah dia berjaga sepanjang malam tanpa sekali pun lengah.“Kamu sudah bangun,” ucap Damian rendah.Nada suaranya tidak keras, tidak juga lembut tapi cukup membuat Elara menegakkan tubuhnya dengan refleks. Ingatan tentang malam sebelumnya kembali menghantamnya bertubi-tubi, ledakan, tembakan, darah, dan janji Damian yang diucapkan dengan suara dingin namun penuh kepastian.“Sudah pagi,” kata Elara lirih. Ia mengusap wajahnya, mencob
Giovanni Morreti berdiri di aula utama saat matahari sudah naik sepenuhnya. Cahaya pagi menerobos jendela-jendela tinggi, jatuh ke lantai marmer yang masih menyisakan noda gelap. Bau darah belum sepenuhnya hilang meski para anak buah bekerja tanpa henti sejak fajar. Ember-ember air diganti berkali-kali. Kain pel dibuang lalu diganti lagi. Namun ada hal-hal yang tidak bisa dibersihkan hanya dengan air.Giovanni menunduk, memperhatikan satu tubuh yang belum sempat diangkut keluar.Mayat itu tergeletak miring, wajahnya hancur oleh tembakan jarak dekat. Di dadanya, jaket hitamnya terbuka, memperlihatkan sebuah emblem kecil yang dijahit rapi di bagian dalam. Giovanni berlutut perlahan. Tangannya yang sudah terlalu sering memegang kematian kini bergerak dengan hati-hati, seolah menyentuh sesuatu yang rapuh.Ia mengenali lambang itu dalam satu tarikan napas. Seekor serigala hitam dengan mata merah, dikelilingi lingkaran tipis berwarna perak.Giovanni menutup mata. Ia kini tahu siapa penyeran
Giovanni Morreti berjalan menyusuri lorong panjang kediamannya sendirian. Langkahnya mantap, namun di dalam dadanya ada sesuatu yang retak, sesuatu yang tidak pernah benar-benar sembuh meski puluhan tahun telah berlalu. Lorong itu dipenuhi lukisan-lukisan leluhur Morreti, wajah-wajah pria yang membangun kekuasaan dengan darah dan perjanjian kotor. Biasanya, pemandangan itu memberinya rasa tenang tapi hari ini tidak.Hari ini, setiap wajah seolah menatapnya dengan tuduhan dalam diam.Giovanni masuk ke ruang kerjanya dan menutup pintu rapat-rapat. Ia melepas mantel, menggantungnya sembarang, lalu berdiri lama di depan jendela besar yang menghadap taman belakang. Suasana tampak mendung. Namun, masih ada sedikit sinar matahari di atas rumput yang basah oleh darah dan belum sempat dibersihkan sepenuhnya. Ia menuang minuman keras ke dalam gelas kristal. Tangannya tidak gemetar tapi ketika cairan itu menyentuh bibirnya, rasa pahit langsung mengembalikannya pada masa lalu yang selama ini ia