ログインMalam di Firenze terasa lebih dingin dari biasanya. Angin berhembus pelan di antara bangunan-bangunan tua, membawa suasana sunyi yang aneh, seolah kota itu ikut menahan napas setelah kekacauan yang terjadi.Di sebuah apartemen sederhana di sisi lain kota, Matteo berdiri di depan jendela dengan ponsel masih berada di tangannya. Layar ponsel itu menampilkan foto yang baru saja dikirim seseorang.Foto lokasi proyek Lucas yang hancur. Beton runtuh, rangka baja terlipat, garis polisi membentang, dan lampu darurat menyala di tengah puing-puing.Matteo tidak bergerak. Rahangnya mengeras, matanya menatap layar tanpa berkedip. Ia baru saja menerima kabar itu beberapa menit lalu. Awalnya ia mengira itu hanya kecelakaan biasa. Namun semakin banyak informasi yang masuk, semakin jelas bahwa ini bukan kebetulan. Dua proyek meledak dalam waktu hampir bersamaan.Matteo mengepalkan tangannya kuat-kuat. Ia mengenal dunia ini cukup lama untuk tahu bahwa kejadian seperti itu bukan sekadar nasib buruk. Se
Lampu-lampu jalan mulai menyala, memantulkan cahaya kuning redup di atas jalanan batu yang masih menyimpan sisa kehangatan siang tadi. Kota itu tetap terlihat hidup, orang-orang berjalan, kendaraan melintas, tawa terdengar dari kafe-kafe kecil. Namun di salah satu sudut kota yang lebih sepi, Lucas berdiri sendirian. Ia berada di lokasi proyeknya atau lebih tepatnya, bekas proyeknya.Puing-puing bangunan masih berserakan di mana-mana. Rangka baja yang bengkok, beton yang retak, dan bekas hangus dari ledakan terlihat jelas di beberapa titik.Garis polisi membentang di sekitar area itu. Beberapa lampu sorot dinyalakan untuk menerangi lokasi. Namun suasana tetap terasa kelam.Lucas berdiri di balik garis pembatas. Matanya menatap lurus ke arah kehancuran yang dulunya adalah harapan terbesarnya. Tangannya mengepal, rahangnya mengeras. Namun bukan hanya proyek itu yang memenuhi pikirannya.Langkah kaki terdengar dari belakang. Namun Lucas tidak menoleh. Ia sudah tahu. Hanya ada satu orang y
Cahaya keemasan perlahan memudar, digantikan oleh bayangan panjang yang jatuh di sepanjang jalanan batu. Kota itu tetap terlihat indah seperti biasa, namun bagi Lucas, semuanya terasa seperti runtuh bersamaan dengan dua proyeknya.Debu dari lokasi konstruksi masih menempel di pakaiannya. Kemeja putihnya kini kusut dan kotor. Wajahnya terlihat lelah, matanya merah karena kurang tidur dan tekanan yang terlalu berat dalam waktu singkat. Namun ia tidak pulang. Ia tidak berhenti. Ia hanya memiliki satu tujuan yaitu menemui Damian.Lucas berdiri di depan gedung tinggi dengan fasad kaca yang berkilau. Gedung itu tampak megah, jauh berbeda dengan lokasi proyeknya yang kini berubah menjadi puing-puing.Ia tahu Damian ada di dalam. Ia tidak perlu memastikan lagi. Tangannya mengepal kuat sebelum akhirnya melangkah masuk. Langkahnya cepat. Penuh amarah yang nyaris tak terkendali.Resepsionis sempat mencoba menghentikannya."Maaf, Anda—""Aku tidak punya waktu." Nada suara Lucas dingin dan tajam.
Langit di atas Firenze tampak cerah, nyaris tanpa awan. Cahaya matahari memantul dari rangka baja bangunan yang sedang dibangun, membuat area konstruksi itu tampak sibuk dan penuh kehidupan. Meski tidak seperti sebelumnya. Derek besar berputar perlahan. Para pekerja berjalan ke sana kemari membawa peralatan. Beberapa teknisi berdiri di dekat panel listrik sementara mandor mengawasi pekerjaan dari kejauhan.Semua terlihat seperti hari kerja biasa. Namun bagi Lucas, tidak ada yang terasa biasa lagi sejak pagi tadi. Ia berdiri di pinggir area proyek dengan ponsel di tangan. Wajahnya terlihat jauh lebih tegang dibandingkan beberapa hari sebelumnya.Percakapannya dengan Elara di toko bunga tadi masih terngiang di kepalanya. Ia berhasil menghentikan kesepakatan itu. Namun entah kenapa, perasaannya tidak benar-benar tenang.Andre berdiri di sampingnya sambil memegang tablet berisi laporan proyek. "Kita masih punya waktu untuk menyelamatkan ini," kata Andre mencoba terdengar optimis.Lucas m
Udara pagi di Firenze masih terasa dingin ketika Damian keluar dari toko bunga itu.Pintu kayu kecil di belakangnya tertutup pelan, lonceng di atasnya berdentang lembut sebelum akhirnya kembali sunyi.Damian tidak langsung berjalan menuju mobilnya. Ia berhenti beberapa langkah dari pintu, lalu menatap sebentar jendela toko yang dipenuhi bunga-bunga segar.Dari luar, tempat itu terlihat hangat dan tenang. Seolah tidak ada apa pun yang baru saja terjadi di dalamnya. Namun Damian tahu persis apa yang baru saja berubah. Lucas, pria itu datang dengan penuh emosi, penuh keyakinan, dan dengan keberanian yang menurutnya cukup menarik.Damian berjalan perlahan menuju pohon tua yang berdiri di sisi jalan kecil itu. Pohon itu sudah sangat tua, batangnya besar dengan kulit kayu yang kasar. Daunnya yang lebat menciptakan bayangan panjang di trotoar batu.Di sanalah Damian berhenti. Ia memasukkan satu tangan ke dalam saku jasnya, sementara tangan yang lain mengambil kotak cerutu kecil dari sakunya.
Pagi di Firenze terasa cerah, tetapi udara masih menyimpan sisa dingin dari hujan semalam. Jalanan batu di depan toko bunga Elara tampak berkilau terkena cahaya matahari yang baru muncul di antara bangunan-bangunan tua. Beberapa orang berjalan santai melewati jalan kecil itu. Turis berhenti sebentar untuk mengambil foto etalase toko yang dipenuhi bunga segar berwarna-warni. Namun di dalam toko bunga itu, suasana terasa jauh lebih tegang. Elara berdiri di dekat meja kasir, berhadapan dengan Damian. Pria itu tampak sama seperti biasanya, tenang, rapi, dan sepenuhnya menguasai situasi. Jas hitamnya terlihat sempurna tanpa satu lipatan pun, sementara tatapannya yang dingin tertuju pada Elara. Di meja di antara mereka terletak beberapa lembar dokumen. Damian baru saja selesai menjelaskan sesuatu. "Kontrak ini hanya formalitas," katanya dengan nada tenang. "Tidak perlu sesuatu yang besar. Pernikahan sederhana sudah cukup." Elara menatap dokumen itu tanpa menyentuhnya. Jantungnya berde
Pagi di Firenze datang dengan cahaya keemasan yang menyusup lembut melalui kisi-kisi tirai. Udara masih basah oleh hujan semalam, dan aroma tanah bercampur kopi dari kafe bawah apartemen seharusnya memberi ketenangan tapi tidak untuk Elara pagi ini.Ia terbangun dengan dada terasa sesak, membalikka
Morning rush di toko bunga Elara biasanya membawa aroma segar dan suara langkah turis yang lewat. Tapi hari ini, sesuatu terasa lebih berat dan berbeda.Elara baru saja meletakkan apron ketika Sofia, yang sibuk menyusun bunga peony, menoleh dan langsung memperhatikan sesuatu pada dirinya.Senyum me
Rumah besar keluarga Morreti di Palazzo Vecchio tampak damai dari luar, pilar putih megah, balkon elegan, dan halaman yang terpangkas rapi. Tetapi begitu memasuki ruang kerjanya, kedamaian itu runtuh, atmosfer berubah menjadi salah satu tempat paling berbahaya di Italia.Giovanni Morreti duduk di b
Hujan belum benar-benar berhenti di atas Firenze. Rintiknya kini lebih pelan, seperti napas yang mulai tenang setelah badai panjang.Di dalam toko bunga yang remang-remang itu, dunia terasa menyempit hanya menjadi dua orang.Elara masih berdiri sangat dekat dengan Damian. Jarak di antara mereka ham