Beranda / Mafia / Mantan Kakak Tiri / Bab 8 Cinta Bukan Alasan Menghancurkan Seseorang

Share

Bab 8 Cinta Bukan Alasan Menghancurkan Seseorang

Penulis: Silentia
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-27 00:24:58

Pagi di Firenze selalu punya caranya sendiri untuk menipu perasaan. Langit cerah, udara segar, burung-burung beterbangan di atas atap, tapi di dada Elara, selalu ada sisa mendung yang tak juga pergi.

Ia bangun lebih awal dari biasanya. Menyalakan lampu toko, merapikan rambutnya yang sedikit kusut, dan mengecek serta menyiapkan pesanan besar untuk Hotel La Firenze supaya pemesan merasa puas mendapatkan bunga terbaik. Hari itu, bunga yang dipesan adalah mawar putih, bunga yang melambangkan kesucian dan kedamaian. Ironis, pikir Elara, karena dalam hidupnya, kedamaian sudah lama tak singgah.

“Signorina, mobil pengantar sudah siap,” ujar Sofia sambil menenteng clipboard. “Terima kasih, Sofia. Kamu jaga toko, ya. Aku yang antar pesanan ini sendiri,” balas Elara sambil tersenyum kecil.

Sofia sempat memprotes, “Tapi ini banyak sekali, kamu yakin sanggup sendiri?”

Elara mengangguk, “Aku butuh udara pagi. Tak apa, anggap saja jalan-jalan singkat.”

"Baiklah." Sofia tidak mau berdebat, ia takut d
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Mantan Kakak Tiri   Bab 55 Kamu Berharap Aku Percaya?

    Elara duduk di kursi penumpang dengan tubuh tegang, tangannya menggenggam ujung jaket sampai buku-buku jarinya memutih. Kota Roma bergulir di luar jendela seperti lukisan yang diputar cepat, lampu pagi, bangunan batu tua, bayangan orang-orang yang belum tahu bahwa di salah satu mobil hitam tanpa plat itu, seorang wanita sedang memutus nasibnya sendiri.Lucas menyetir tanpa banyak bicara. Wajahnya tenang, terlalu tenang. Rambutnya rapi, jas gelapnya sederhana, tidak mencolok, tidak pula terkesan berbahaya. Tapi Elara tahu, orang-orang paling berbahaya di dunia Morreti justru selalu terlihat seperti itu.“Kita hampir sampai,” ucap Lucas akhirnya, suaranya rendah dan datar, seperti seseorang yang sedang memberi kabar cuaca.Elara tidak menjawab. Ia hanya mengangguk tipis, matanya tetap waspada. Setiap kali mobil berbelok, jantungnya berdegup lebih cepat. Ia membayangkan Damian. Tatapan gelap itu. Nada dingin yang bisa berubah menjadi hukuman tanpa suara. Ia tahu, setiap detik yang berlal

  • Mantan Kakak Tiri   Bab 54 Kamu Sedang Mengulang Kesalahanku

    Giovanni Morreti merasakan keanehan itu bahkan sebelum ia membuka pintu kamarnya. "Ada apa?" gumamnya pelan lalu ia membuka pintu kamarnya.Lorong lantai atas menyambutnya dengan keheningan yang tidak wajar, tidak ada langkah pelayan, tidak ada suara radio penjaga, dan tidak ada suara latihan senjata yang biasanya samar terdengar di pagi hari. Giovanni berhenti sejenak. Naluri lamanya berbisik bahwa sesuatu telah terjadi. Ia melangkah maju dan di ujung lorong, ia melihat dua penjaga berdiri tegak dengan senjata siap di tangan, wajah mereka kaku, rahang mengeras seperti patung. Saat melihatnya, mereka langsung menunduk, namun tidak ada sapaan hormat yang biasa mereka ucapkan. Itu bukan kelalaian. Itu ketakutan.“Kenapa kalian seperti menghadapi eksekusi?” tanya Giovanni dingin.Keduanya saling melirik sekilas, lalu salah satu menjawab, suaranya nyaris tak terdengar. “Perintah Tuan Damian, Tuan.”Nama itu membuat Giovanni berhenti melangkah. “Perintah apa?” tanyanya.Penjaga itu menela

  • Mantan Kakak Tiri   Bab 53 Kamu Kira Dunia di Luar Sana Lebih Baik Dariku?

    Handuk masih melingkari pinggangnya ketika Damian melangkah keluar kamar mandi. Tatapannya langsung tertuju ke ranjang tapi ranjang itu kosong, tidak ada Elara di sana. "Elara," panggilnya pelan. Ia melihat sekeliling kamar lalu menatap kursi cukup lama. Ia mengingat jelas setiap detail di kamar Elara. Jaket yang ada di sandaran kursi menghilang. “ELARA!”Damian bergerak cepat, menyibak tirai, membuka pintu kamar mandi, kamar ganti, tidak ada. Tidak ada jejak selain kehampaan yang menampar wajahnya dengan kejam.Ia meraih ponsel dan memerintahkan seluruh anak buah Morreti untuk berkumpul di aula sekarang juga.Dalam hitungan menit, para penjaga berkumpul. Beberapa masih mengenakan sarung tangan pembersih. Beberapa lain terlihat kebingungan, belum sepenuhnya sadar apa yang terjadi. Damian berdiri di tengah ruangan seperti badai yang ditahan paksa, rahangnya mengeras, mata gelapnya membara.“Elara pergi,” ucapnya pelan.Tidak ada yang menjawab.“AKU BERTANYA,” lanjut Damian, kini suara

  • Mantan Kakak Tiri   Bab 52 Apa Kamu Juga Musuh Morreti?

    "Jangan pergi kemana pun, tetap duduk di tempat tidurmu!" Damian memberikan perintah sebelum masuk kamar mandi. Elara tidak menjawab, ia memilih untuk memalingkan wajahnya. Tak lama, terdengar suara pintu kamar mandi tertutup. Elara melirik sekilas lalu menunggu sampai suara air mengalir dari kamar mandi terdengar jelas dan stabil. Bukan suara biasa, itu adalah satu-satunya celah. Ia berdiri dan berjalan pelan-pelan, jantungnya berdegup terlalu keras sampai rasanya Damian bisa mendengarnya menembus dinding. Tangannya gemetar saat meraih jaket tipis di sandaran kursi, tidak ada tas, tidak ada sepatu yang pantas, dan tidak ada rencana selain satu kata yang terus berdentum di kepalanya. Pergi sekarang!. Hanya itu dan ia kali ini harus nekad. Ia membuka pintu kamar perlahan. Engselnya nyaris tidak bersuara. Lorong di luar tampak lengang, namun udara masih membawa aroma logam dan pembersih keras tanda rumah ini baru saja selamat dari pertumpahan darah. Beberapa penjaga terlihat di ujun

  • Mantan Kakak Tiri   Bab 51 Lebih Baik Hancur Disisiku

    Elara berdiri terlalu lama di bawah pancuran, membiarkan air hangat jatuh ke kulitnya tanpa benar-benar merasakan hangat itu. Yang ia rasakan justru tekanan, seperti ada tangan tak kasatmata menahan dadanya, membuat napasnya pendek dan tidak utuh. Dinding kamar mandi terasa lebih sempit dari biasanya. Bahkan uap air pun seolah ikut mengawasinya.Di luar sana, Damian menunggu.Bukan sekadar menunggu. Ia tahu pria itu mendengar segalanya. Setiap gesekan kaki di lantai, setiap tarikan napas yang terlalu lama, setiap botol sabun yang terjatuh. Kesadaran itu membuat Elara mempercepat gerakannya, bukan karena takut pada bahaya di luar, melainkan karena takut pada kehadiran yang terlalu dekat, terlalu mengikat.Saat ia keluar dengan rambut masih basah dan handuk melilit tubuhnya, Damian sudah berdiri di depan pintu. Posisi tubuhnya santai, namun matanya bergerak cepat, menilai, memastikan. Elara tahu tatapan itu. Tatapan penjaga sekaligus pemilik.“Kamu lama,” kata Damian.Elara tidak menjaw

  • Mantan Kakak Tiri   Bab 50 Aku Sudah Membunuh Terlalu Banyak Orang Untukmu

    Kamar itu kembali sunyi setelah fajar benar-benar menguasai langit Roma. Tirai tipis bergoyang pelan tertiup angin pagi, cahaya lembut jatuh ke wajah Elara yang perlahan terbangun dari tidurnya. Kepalanya masih berat, tubuhnya terasa pegal, seolah semalam ia berlari jauh tanpa henti.Hal pertama yang ia rasakan adalah kehadiran seseorang.Elara membuka mata perlahan dan menemukan Damian duduk di kursi dekat jendela. Pria itu tidak tertidur. Sama sekali tidak. Punggungnya tegak, lengan terlipat, wajahnya tenang namun mata gelapnya tertuju lurus ke arahnya, seolah dia berjaga sepanjang malam tanpa sekali pun lengah.“Kamu sudah bangun,” ucap Damian rendah.Nada suaranya tidak keras, tidak juga lembut tapi cukup membuat Elara menegakkan tubuhnya dengan refleks. Ingatan tentang malam sebelumnya kembali menghantamnya bertubi-tubi, ledakan, tembakan, darah, dan janji Damian yang diucapkan dengan suara dingin namun penuh kepastian.“Sudah pagi,” kata Elara lirih. Ia mengusap wajahnya, mencob

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status