MasukMobil berhenti di ujung jalan yang sama, tempat aku dijemput tadi. Aku turun pelan, merapikan gaun pinjaman yang sudah agak kusut.
"Makasih ya, buat makan malamnya," kataku, mencoba tersenyum, meski pikiran berkecamuk. Revan menatapku dari balik kaca mobil yang terbuka setengah, tidak terlihat kecewa atau memaksa meski aku baru saja menolaknya di restoran tadi. "Nggak apa-apa. Kamu pikirin lagi aja, Alia. Aku nggak akan maksa." Aku mengangguk pelan, lega karena dia tidak marah. "Tapi kalau kamu tetap mau nolak," lanjutnya, suaranya tetap tenang, "paling nggak hubungi aku ya. Jangan didiemin kayak semalam." "Iya," bisikku. "Aku janji kali ini." "Kabarin aku kalau udah siap," katanya, lalu tersenyum tipis sebelum kaca mobil kembali naik. Mobil hitam itu melaju menjauh, meninggalkanku sendirian di bawah lampu jalan yang berkedip-kedip. Aku berdiri sebentar, menatap kepergian mobilnya, dadaku masih penuh dengan pertanyaan yang belum terjawab. "Dikenalkan ke keluarga. Bantuan besar. Semua ini terlalu cepat," batinku. Aku menghela napas panjang, lalu mulai berjalan pulang menyusuri gang-gang sepi. Baru beberapa langkah, aku mendengar suara obrolan dan langkah kaki dari kejauhan. Beberapa bapak-bapak sedang ronda malam, lampu senter mereka menyapu-nyapu jalanan. Jantungku langsung berdebar panik. Kalau mereka melihatku pulang selarut ini, berdandan rapi dengan gaun yang jelas bukan pakaian sehari-hariku, gosip pasti langsung menyebar besok pagi. "Anak Bu Sari pulang malam-malam pakai gaun, abis sama laki-laki mana itu?" Pasti bakal begitu. Aku buru-buru menyelinap ke gang kecil di samping, menempel ke tembok sambil menahan napas. Suara langkah kaki mereka semakin dekat, lalu perlahan menjauh lagi begitu mereka berbelok ke arah lain. Aku menghela napas lega, jantung masih berdebar kencang, lalu bergegas mengambil jalan memutar yang lebih gelap tapi lebih aman sampai akhirnya tiba di depan rumah. Rumah sudah sepi. Lampu ruang tamu dimatikan. Aku mengendap masuk lewat pintu depan yang sengaja tidak kukunci tadi. Melewati kamar ibu, aku melihat bayangannya sedang duduk di atas sajadah, tangan menengadah dalam doa. Aku berhenti sejenak, dada terasa sesak melihat ibu masih terjaga larut malam begini, mungkin berdoa supaya ada jalan keluar dari masalah kami. "Kak?" Aku nyaris melompat kaget. Laras berdiri di ambang pintu kamarnya. "Ras! Ngapain kamu belum tidur? Besok sekolah, lho," tegurku setengah berbisik, buru-buru mendekat sebelum suaraku membangunkan ibu. Laras mengabaikan teguranku, matanya malah menyipit menatap gaunku dari atas ke bawah. "Kakak abis sama pacar, ya?" Pipiku memanas. "Apaan sih, nggak ada pacar-pacaran." "Boong. Kakak dandan gitu, pulang jam segini." Laras mendekat, senyum jahil mulai muncul. "Siapa sih namanya? Kerja apa? Ganteng nggak?" "Ras, udahlah. Nggak ada siapa-siapa. Cepat tidur, besok kesiangan lagi kamu," potongku, mendorong pelan bahunya kembali ke kamar. "Yah, pelit banget sih, Kak," gerutunya, tapi akhirnya menurut juga, menutup pintu kamarnya sambil cemberut. Aku menghela napas lega begitu pintu tertutup, lalu bergegas masuk ke kamar sendiri. Aku melepas gaun pinjaman itu pelan-pelan, menggantungnya rapi di balik pintu. "Gaun aja pinjam," pikirku sambil menatap bayanganku sendiri di cermin retak. "Mana mungkin aku pantas dikenalin ke keluarga Revan." Bayangan keluarga besar Wijaya yang terhormat, para pejabat dan pengacara ternama, berkumpul di sebuah ruangan mewah. Lalu aku berdiri di tengah mereka, anak seorang yang bunuh diri karena utang, kakak dari seorang siswi SMA yang bekerja paruh waktu diam-diam, anak seorang kasir minimarket. Bagaimana kalau mereka tahu asal-usulku yang sebenarnya? Bagaimana kalau kehadiranku justru mempermalukan Revan di depan rekan-rekan dan keluarganya sendiri. Seorang jaksa hebat yang tiba-tiba membawa pacar dari keluarga miskin penuh utang dan aib? Aku merebahkan diri di kasur tipis, menatap langit-langit yang mulai berjamur di sudutnya. Tawaran Revan terus berputar di kepalaku, bantuan besar, rumah yang aman, tapi juga risiko yang tidak bisa kubayangkan sepenuhnya. Aku belum siap menjawab. Belum tahu harus bilang apa. Mataku akhirnya menutup dengan pikiran yang masih kacau. Besoknya aku libur kerja. Pagi itu aku membantu ibu memasak, menyiapkan bekal sederhana untuk Laras sebelum berangkat sekolah. Bekal itu berupa nasi putih dengan telur dadar dan sedikit kecap. Menjelang siang, rumah kembali sunyi. Aku sedang melipat cucian di ruang tengah ketika samar-samar kudengar suara isak tertahan dari kamar ibu. Aku mengintip dari celah pintu yang tidak tertutup rapat. Ibu duduk di tepi kasur, punggungnya membungkuk. Di pangkuannya, sehelai kain kecil tergelar, dan di atasnya, cincin kawin tipis berwarna kuning pudar. Cincin yang selama ini selalu melingkar di jari manis ibu, bahkan setelah ayah tidak ada. Tangan ibu gemetar saat membungkus cincin itu kembali ke dalam kain, memasukkannya ke kantong plastik kecil. Di sampingnya, secarik kertas bertuliskan alamat toko emas, dicoret tangan ibu sendiri. "Ma?" Ibu tersentak, buru-buru menyeka wajah dengan punggung tangan. "Lia... kamu ngapain di situ?" Aku melangkah masuk, duduk di sampingnya, menatap kantong plastik kecil itu. "Ma mau jual cincin itu?" Ibu terdiam sebentar, lalu menghela napas panjang. "Ibu udah nggak ada pilihan lain, Nak. Ini satu-satunya yang masih bisa dijual." "Ini bukan cuma cincin, Ma." Suaraku bergetar. "Ini punya Bapak." Ibu meraih tanganku, menggenggamnya erat. "Bapak juga pasti lebih milih kita punya rumah buat berteduh daripada sekadar perhiasan. Dan Lia... tiga hari kata Haji Rasyid itu tinggal besok. Besok kita bisa saja tidak punya atap." "Tapi, Ma..." "Sudahlah, Nak. Ibu ikhlas." Aku memeluk ibu erat, menahan isak yang tiba-tiba naik ke tenggorokan. Dan di saat itulah, dengan wajah tenggelam di bahu ibu yang kurus, keputusanku bulat. Aku tidak bisa membiarkan ibu kehilangan bagian terakhir dari ayah. Tidak bisa terus menunggu keajaiban yang tidak pernah datang, hanya karena aku takut malu di depan orang lain. Malam itu, setelah ibu dan Laras tidur, aku mengunci diri di kamar, membuka chat dengan Revan. Jariku sempat ragu di atas layar. Tapi bayangan cincin kuning pudar di kantong plastik itu menguatkan tekadku. Alia: Revan. Aku terima tawaranmu.Makan siang kedua dengan Nadia. Kantin yang sama. Meja yang sama. Tapi ia tidak tertawa hari ini. Ia makan pelan. Memandangku seperti memutuskan sesuatu."Al," katanya akhirnya. Meletakkan sendok. "Boleh jujur?""Sejak kapan kamu izin buat jujur?"Ia tidak tersenyum. "Kamu sama Pak Revan. Gimana ceritanya? Asisten pribadi sekaligus... itu. Gimana awalnya?"Aku menjawab dengan versi resmi. Butuh pekerjaan. Ditawari posisi. Kompeten. Profesional. Semua kata yang benar. Semua kata yang pernah kuucapkan pada diriku sendiri sampai terdengar benar.Nadia mendengarkan. Tidak menyela. Lalu berkata, pelan, tanpa tertawa, tanpa basa-basi:"Alia. Keadaan itu tidak setara. Bukan salahmu. Tapi jangan bilang itu setara."Sendokku berhenti di udara."Kamu baru dua hari di sini,"
Senin pagi, pantry yang sunyi pecah oleh tawa keras.Aku menoleh. Perempuan muda berdiri di depan mesin kopi dengan koper di samping kakinya. Rambut diikat asal. Blazer sedikit kusut. Tertawa seolah pantry itu ruang tamu rumahnya sendiri.Semua orang menoleh. Ia tidak peduli. Ia menoleh balik ke semua orang dan melambai."Pagi! Nadia! Mutasi dari Surabaya! Kalau butuh apa-apa jangan tanya saya, saya juga baru!" Tawa lagi. Pecah.Aku langsung suka padanya. Dan langsung waspada pada diriku yang langsung suka. Orang yang terlalu cepat disukai biasanya terlalu cepat dipercaya. Aku belajar itu dari Maya.Siang itu bencana kecil terjadi di ruang arsip. Suara pecah. Gaduh. Aku berlari ke sana.Nadia berdiri di tengah genangan teh. Teko pecah di kakinya. Berkas-berkas basah di tangannya. Wajahnya merah. Tapi ia tertawa.
Berkas keempat datang Kamis pagi. Lebih tebal dari tiga sebelumnya. Bu Wulan meletakkannya tanpa komentar. Tapi ia mengetuk sampulnya dua kali dengan jari. Kode kami yang baru. Artinya: hati-hati.Aku membuka. Undangan pengadaan lain. Daftar peserta lain. Kota lain. Tahun lalu.Tanganku bekerja otomatis. Kuning untuk tanggal. Pink untuk nama. Hijau untuk angka.Lalu stabilo pink-ku berhenti di satu baris.Cipta Dharma Persada.Aku menatap nama itu. Mencoba mengingat di mana pernah melihatnya. Berkas pertama. Ya. Daftar peserta berkas pertama. Nama yang sama. Perusahaan yang sama. Dua berkas berbeda.Tanganku melingkari nama itu. Lingkaran pink yang rapi. Lalu aku menulis di pinggirnya: berkas-1 juga ada.Siang itu di pantry, aku bertanya santai pada staf senior. Pak Bambang. Umurnya lima p
Nadia sudah duduk di meja kantin ketika aku datang, dua kotak nasi di depannya. Satu sudah terbuka, satu lagi belum. "Duduk, Mbak." Dia menggeser kotak yang belum dibuka ke arahku, mengetuk tutupnya dua kali dengan ujung jari. "Ini buat Mbak. Anggap aja ucapan terima kasih. Kemarin itu, kalau Mbak nggak nemuin selisihnya, bisa berabe kita semua." Aku menatap kotak itu sebentar. Kemarin dia masih bilang kalau kamu salah, yang malu bukan cuma kamu. Hari ini, nasi padang di depanku. "Terima kasih," kataku, membuka kotaknya. Rendang, sayur nangka, sambal ijo. Masih hangat. Nadia sudah lebih dulu menyendok nasinya sendiri. "Mbak udah lama kerja di sini?" "Belum lama. Baru beberapa minggu." "Oh." Alisnya terangkat sedikit, seperti tidak menyangka. "Aku kira udah lama. Padahal aku lihat kemarin itu kayak orang yang udah biasa." "Kebetulan
Kami sudah berdiri di ruang tengah itu lama, mungkin dua menit tanpa bicara.Farel masih di sofa, map di pangkuannya. Aku masih berdiri dekat pintu, tas selempang belum kulepas. Ini benar-benar tidak nyaman.Terakhir kali kami benar-benar berdua di ruangan yang sama tanpa siapa pun, itu malam di hotel. Sejak itu, selalu ada orang ketiga, Revan, Maya, siapa pun. Farel menutup mapnya, berdeham kecil. "Kamu udah makan?"Pertanyaan itu keluar terlalu cepat, terlalu ringan, seperti dipaksakan untuk terdengar biasa."Udah," jawabku, meski belum."Oh." Dia mengangguk, menatap map di pangkuannya lagi, meski jelas tidak sedang membacanya. "Aku juga."Kami sama-sama berbohong soal hal sesederhana itu, dan kami berdua tahu itu, dan itu justru membuat keheningan berikutnya terasa lebih berat dari sebelumnya.Farel membuka mulutnya lagi. "Alia, aku—"Aku menahan napas. Tanganku mengepal di samping tubuh,
Mulai minggu ini, Revan membawaku ke hampir setiap rapat.Kasusnya menumpuk. Tiga berkas sekaligus mendarat di mejanya dalam dua hari, dan yang paling menyita waktu adalah kasus pengadaan komputer untuk sekolah-sekolah di kabupaten. Anggaran miliaran, spesifikasi tidak sesuai, tiga perusahaan saling terkait dalam rantai distribusi.Nadia ada di tim itu.Revan memperkenalkannya ulang pagi ini, lebih formal dari kemarin."Nadia, jaksa muda. Dipindahtugaskan dari Surabaya khusus buat kasus ini."Nadia mengangguk padaku, senyumnya sopan tapi tipis. Tidak ada lagi tatapan aneh waktu pertama ketemu. Atau mungkin aku yang terlalu sibuk memperhatikan tumpukan berkas untuk menyadari.Aku duduk di sudut ruangan, mencatat jadwal, menyusun map, menuangkan air mineral untuk tiga orang yang terlalu fokus berdebat soal angka untuk ingat minum sendiri."Margin distribusi tiga belas persen," kata Nadia, membacakan dar







