Mag-log inChat balasan Revan datang dengan cepat, hanya beberapa menit setelah aku mengirim keputusanku semalam.
Revan: Akhirnya. Aku tunggu ini dari kemarin. Siang ini aku jemput ya, ada yang mau kita siapkan.* Aku tersenyum menatap layar, meski masih ada gugup yang mengganjal di dada. Siang itu, aku berpamitan pada ibu dengan alasan mau jalan bersama teman. Supaya lebih meyakinkan, aku mengenakan pakaian casual dengan gamis panjang sederhana dipadu rok lipit yang biasa kupakai kalau sedang santai. Baru saja keluar rumah, aku berpapasan dengan Laras yang baru pulang sekolah, masih sempat melambai pamitan pada seseorang, laki-laki, di ujung gang. "Itu Dimas ya?" godaku sambil mengancingkan kancing rok. Laras mendadak salah tingkah. "Bukan siapa-siapa kok, Kak. Kok kakak malah mau pergi lagi? Ketemu pacar lagi ya?" "Nggak ada pacar-pacaran," elakku cepat. "Kamu tuh yang tiap hari pulang bareng Dimas terus. Jangan alihkan topik." "Ih, kita cuma temenan, Kak!" Laras membela diri, pipinya mulai memerah. Aku tertawa kecil, berhasil membuat adikku salah tingkah, lalu bergegas pergi sebelum dia sempat bertanya lebih jauh. Mobil hitam Revan sudah menunggu di ujung jalan seperti biasa. Begitu aku masuk, dia langsung berkata, "Malam ini kita makan malam bareng keluargaku. Aku udah kabarin mereka." Jantungku langsung berdebar. "Secepat ini?" "Nggak ada gunanya ditunda-tunda," jawabnya, mobil mulai melaju menuju pusat kota. Kami berhenti di sebuah butik mewah yang berkilau di balik kaca etalase besar. Seorang wanita paruh baya berpakaian rapi sudah menunggu di depan pintu. "Ini Bu Wulan, asisten pribadiku," kata Revan singkat sambil melangkah masuk. "Selamat datang, Mbak Alia," sapa Bu Wulan ramah, membungkuk sedikit. Tapi begitu Revan menoleh pada Bu Wulan untuk memberi instruksi soal waktu dan persiapan, nadanya berubah total menjadi dingin. "Pastikan semuanya siap sebelum jam enam. Jangan ada yang terlambat." "Baik, Pak," jawab Bu Wulan cepat seolah sudah terbiasa. Aku memperhatikan perbedaan itu diam-diam. Padaku, Revan selalu lembut, hampir memanjakan. Tapi pada orang lain, ada nada dingin yang membuat siapa pun di sekitarnya tidak berani lama-lama. Bu Wulan membantuku memilih gaun. Kali ini gaun biru gelap yang pas di tubuh. Begitu aku keluar dari ruang ganti, Revan yang sedang duduk menunggu langsung berdiri, matanya menatapku lama tanpa berkedip. "Cantik," gumamnya. Pipiku seketika memerah, dia dengan mudahnya mengucapkan hal memalukan itu seolah tidak ada orang di ruangan. Bu Wulan berdehem pelan, lalu mulai menjelaskan beberapa hal soal tata krama di meja makan keluarga Wijaya, dari cara duduk, cara bicara, kapan harus diam, kapan boleh menjawab. "Bu Wulan, nggak usah terlalu dipikirin," potong Revan santai, tangannya terangkat seolah membuang kekhawatiran. "Alia bakal baik-baik aja." Bu Wulan hanya mengangguk patuh, meski aku bisa melihat sedikit keraguan di matanya. Hari mulai gelap. Revan berganti pakaian formal menjadi kemeja putih dipadu jas hitam yang membuatnya tampak semakin berwibawa, jauh dari kesan hangat yang biasa kulihat lewat chat-nya. Kami tiba di sebuah restoran fine dining yang tenang, jauh dari keramaian kota. Dua orang sudah menunggu di meja. Seorang pria tegap berwibawa dengan rambut memutih di pelipis, dan seorang wanita anggun berpakaian mahal, cincin dan kalungnya berkilau di bawah lampu restoran. "Ini Alia," kata Revan singkat begitu kami mendekat. Ayah Revan menatapku tajam. Aku hampir yakin pernah melihat wajahnya sekali di televisi, dulu, sebelum ayah tiada dan sebelum TV kecil di rumah kami terjual minggu lalu untuk biaya sekolah Laras. Tapi aku tidak yakin sepenuhnya, dan tidak berani bertanya. "Duduk," katanya singkat, nadanya berat dan penuh wibawa. Ibunya lebih ramah, tersenyum sambil menawarkan menu. "Alia kerja di mana, Nak?" Jantungku sempat berdebar, tapi Revan lebih dulu menjawab. "Alia lulusan Sastra Indonesia, cumlaude. Sekarang lagi fokus cari peluang yang sesuai." Aku menahan napas, berterima kasih dalam hati karena dia berhasil membelokkan pertanyaan itu tanpa menyebut kata "kasir" sama sekali. "Keluarganya gimana?" tanya ayahnya lagi, tatapannya masih menyelidik. "Sederhana," jawab Revan cepat. "Tapi Alia anak yang mandiri dan kerja keras." Aku hanya tersenyum kaku, berusaha terlihat tenang meski dalam hati was-was setiap pertanyaan berikutnya bisa membongkar semua yang selama ini kusembunyikan. "Anak kedua kami," ibunya mulai lagi, agak mengeluh, "udah setahun lulus kuliah, tapi—" Pintu restoran terbuka. "—itu dia," katanya, berhenti di tengah kalimat, tersenyum lega. "Panjang umur banget. Farel, sini!" Aku menoleh. Napasku tercekat di tenggorokan. Farel berdiri di ambang pintu, jaketnya basah sedikit oleh gerimis luar, langkahnya berhenti begitu matanya bertemu dengan wajahku. HP di tangannya nyaris terlepas. Waktu seolah berhenti. Tiga tahun kami bersama. Kos sempit. Janji-janji yang tidak pernah ditepati. Dan setahun yang lalu, perpisahan tanpa penjelasan yang cukup. Semua itu berputar dalam sepersekian detik yang terasa seperti satu abad. "Farel?" suaraku sendiri terdengar asing di telingaku. Wajahnya pucat. Rahangnya mengeras. Tapi dia memaksakan senyum, melangkah maju seolah kakinya bergerak sendiri. "Farel, ini Alia. Pacar kakakmu," ujar ibunya riang, sama sekali tidak menyadari dunia yang baru saja runtuh di depan matanya. Farel mengulurkan tangan. Jemarinya sedikit gemetar. "Salam kenal," katanya pelan. Dua kata yang terdengar seperti sebuah dusta besar, terucap di depan seluruh keluarganya sendiri.Makan siang kedua dengan Nadia. Kantin yang sama. Meja yang sama. Tapi ia tidak tertawa hari ini. Ia makan pelan. Memandangku seperti memutuskan sesuatu."Al," katanya akhirnya. Meletakkan sendok. "Boleh jujur?""Sejak kapan kamu izin buat jujur?"Ia tidak tersenyum. "Kamu sama Pak Revan. Gimana ceritanya? Asisten pribadi sekaligus... itu. Gimana awalnya?"Aku menjawab dengan versi resmi. Butuh pekerjaan. Ditawari posisi. Kompeten. Profesional. Semua kata yang benar. Semua kata yang pernah kuucapkan pada diriku sendiri sampai terdengar benar.Nadia mendengarkan. Tidak menyela. Lalu berkata, pelan, tanpa tertawa, tanpa basa-basi:"Alia. Keadaan itu tidak setara. Bukan salahmu. Tapi jangan bilang itu setara."Sendokku berhenti di udara."Kamu baru dua hari di sini,"
Senin pagi, pantry yang sunyi pecah oleh tawa keras.Aku menoleh. Perempuan muda berdiri di depan mesin kopi dengan koper di samping kakinya. Rambut diikat asal. Blazer sedikit kusut. Tertawa seolah pantry itu ruang tamu rumahnya sendiri.Semua orang menoleh. Ia tidak peduli. Ia menoleh balik ke semua orang dan melambai."Pagi! Nadia! Mutasi dari Surabaya! Kalau butuh apa-apa jangan tanya saya, saya juga baru!" Tawa lagi. Pecah.Aku langsung suka padanya. Dan langsung waspada pada diriku yang langsung suka. Orang yang terlalu cepat disukai biasanya terlalu cepat dipercaya. Aku belajar itu dari Maya.Siang itu bencana kecil terjadi di ruang arsip. Suara pecah. Gaduh. Aku berlari ke sana.Nadia berdiri di tengah genangan teh. Teko pecah di kakinya. Berkas-berkas basah di tangannya. Wajahnya merah. Tapi ia tertawa.
Berkas keempat datang Kamis pagi. Lebih tebal dari tiga sebelumnya. Bu Wulan meletakkannya tanpa komentar. Tapi ia mengetuk sampulnya dua kali dengan jari. Kode kami yang baru. Artinya: hati-hati.Aku membuka. Undangan pengadaan lain. Daftar peserta lain. Kota lain. Tahun lalu.Tanganku bekerja otomatis. Kuning untuk tanggal. Pink untuk nama. Hijau untuk angka.Lalu stabilo pink-ku berhenti di satu baris.Cipta Dharma Persada.Aku menatap nama itu. Mencoba mengingat di mana pernah melihatnya. Berkas pertama. Ya. Daftar peserta berkas pertama. Nama yang sama. Perusahaan yang sama. Dua berkas berbeda.Tanganku melingkari nama itu. Lingkaran pink yang rapi. Lalu aku menulis di pinggirnya: berkas-1 juga ada.Siang itu di pantry, aku bertanya santai pada staf senior. Pak Bambang. Umurnya lima p
Nadia sudah duduk di meja kantin ketika aku datang, dua kotak nasi di depannya. Satu sudah terbuka, satu lagi belum. "Duduk, Mbak." Dia menggeser kotak yang belum dibuka ke arahku, mengetuk tutupnya dua kali dengan ujung jari. "Ini buat Mbak. Anggap aja ucapan terima kasih. Kemarin itu, kalau Mbak nggak nemuin selisihnya, bisa berabe kita semua." Aku menatap kotak itu sebentar. Kemarin dia masih bilang kalau kamu salah, yang malu bukan cuma kamu. Hari ini, nasi padang di depanku. "Terima kasih," kataku, membuka kotaknya. Rendang, sayur nangka, sambal ijo. Masih hangat. Nadia sudah lebih dulu menyendok nasinya sendiri. "Mbak udah lama kerja di sini?" "Belum lama. Baru beberapa minggu." "Oh." Alisnya terangkat sedikit, seperti tidak menyangka. "Aku kira udah lama. Padahal aku lihat kemarin itu kayak orang yang udah biasa." "Kebetulan
Kami sudah berdiri di ruang tengah itu lama, mungkin dua menit tanpa bicara.Farel masih di sofa, map di pangkuannya. Aku masih berdiri dekat pintu, tas selempang belum kulepas. Ini benar-benar tidak nyaman.Terakhir kali kami benar-benar berdua di ruangan yang sama tanpa siapa pun, itu malam di hotel. Sejak itu, selalu ada orang ketiga, Revan, Maya, siapa pun. Farel menutup mapnya, berdeham kecil. "Kamu udah makan?"Pertanyaan itu keluar terlalu cepat, terlalu ringan, seperti dipaksakan untuk terdengar biasa."Udah," jawabku, meski belum."Oh." Dia mengangguk, menatap map di pangkuannya lagi, meski jelas tidak sedang membacanya. "Aku juga."Kami sama-sama berbohong soal hal sesederhana itu, dan kami berdua tahu itu, dan itu justru membuat keheningan berikutnya terasa lebih berat dari sebelumnya.Farel membuka mulutnya lagi. "Alia, aku—"Aku menahan napas. Tanganku mengepal di samping tubuh,
Mulai minggu ini, Revan membawaku ke hampir setiap rapat.Kasusnya menumpuk. Tiga berkas sekaligus mendarat di mejanya dalam dua hari, dan yang paling menyita waktu adalah kasus pengadaan komputer untuk sekolah-sekolah di kabupaten. Anggaran miliaran, spesifikasi tidak sesuai, tiga perusahaan saling terkait dalam rantai distribusi.Nadia ada di tim itu.Revan memperkenalkannya ulang pagi ini, lebih formal dari kemarin."Nadia, jaksa muda. Dipindahtugaskan dari Surabaya khusus buat kasus ini."Nadia mengangguk padaku, senyumnya sopan tapi tipis. Tidak ada lagi tatapan aneh waktu pertama ketemu. Atau mungkin aku yang terlalu sibuk memperhatikan tumpukan berkas untuk menyadari.Aku duduk di sudut ruangan, mencatat jadwal, menyusun map, menuangkan air mineral untuk tiga orang yang terlalu fokus berdebat soal angka untuk ingat minum sendiri."Margin distribusi tiga belas persen," kata Nadia, membacakan dar







