공유

Pertemuan

작가: KathYa
last update 게시일: 2026-07-23 03:18:49

Chat balasan Revan datang dengan cepat, hanya beberapa menit setelah aku mengirim keputusanku semalam.

Revan: Akhirnya. Aku tunggu ini dari kemarin. Siang ini aku jemput ya, ada yang mau kita siapkan.*

Aku tersenyum menatap layar, meski masih ada gugup yang mengganjal di dada.

Siang itu, aku berpamitan pada ibu dengan alasan mau jalan bersama teman. Supaya lebih meyakinkan, aku mengenakan pakaian casual dengan gamis panjang sederhana dipadu rok lipit yang biasa kupakai kalau sedang santai.

Baru saja keluar rumah, aku berpapasan dengan Laras yang baru pulang sekolah, masih sempat melambai pamitan pada seseorang, laki-laki, di ujung gang.

"Itu Dimas ya?" godaku sambil mengancingkan kancing rok.

Laras mendadak salah tingkah. "Bukan siapa-siapa kok, Kak. Kok kakak malah mau pergi lagi? Ketemu pacar lagi ya?"

"Nggak ada pacar-pacaran," elakku cepat. "Kamu tuh yang tiap hari pulang bareng Dimas terus. Jangan alihkan topik."

"Ih, kita cuma temenan, Kak!" Laras membela diri, pipinya mulai memerah.

Aku tertawa kecil, berhasil membuat adikku salah tingkah, lalu bergegas pergi sebelum dia sempat bertanya lebih jauh.

Mobil hitam Revan sudah menunggu di ujung jalan seperti biasa. Begitu aku masuk, dia langsung berkata, "Malam ini kita makan malam bareng keluargaku. Aku udah kabarin mereka."

Jantungku langsung berdebar. "Secepat ini?"

"Nggak ada gunanya ditunda-tunda," jawabnya, mobil mulai melaju menuju pusat kota.

Kami berhenti di sebuah butik mewah yang berkilau di balik kaca etalase besar. Seorang wanita paruh baya berpakaian rapi sudah menunggu di depan pintu.

"Ini Bu Wulan, asisten pribadiku," kata Revan singkat sambil melangkah masuk.

"Selamat datang, Mbak Alia," sapa Bu Wulan ramah, membungkuk sedikit.

Tapi begitu Revan menoleh pada Bu Wulan untuk memberi instruksi soal waktu dan persiapan, nadanya berubah total menjadi dingin. "Pastikan semuanya siap sebelum jam enam. Jangan ada yang terlambat."

"Baik, Pak," jawab Bu Wulan cepat seolah sudah terbiasa.

Aku memperhatikan perbedaan itu diam-diam. Padaku, Revan selalu lembut, hampir memanjakan. Tapi pada orang lain, ada nada dingin yang membuat siapa pun di sekitarnya tidak berani lama-lama.

Bu Wulan membantuku memilih gaun. Kali ini gaun biru gelap yang pas di tubuh. Begitu aku keluar dari ruang ganti, Revan yang sedang duduk menunggu langsung berdiri, matanya menatapku lama tanpa berkedip.

"Cantik," gumamnya. Pipiku seketika memerah, dia dengan mudahnya mengucapkan hal memalukan itu seolah tidak ada orang di ruangan.

Bu Wulan berdehem pelan, lalu mulai menjelaskan beberapa hal soal tata krama di meja makan keluarga Wijaya, dari cara duduk, cara bicara, kapan harus diam, kapan boleh menjawab.

"Bu Wulan, nggak usah terlalu dipikirin," potong Revan santai, tangannya terangkat seolah membuang kekhawatiran. "Alia bakal baik-baik aja."

Bu Wulan hanya mengangguk patuh, meski aku bisa melihat sedikit keraguan di matanya.

Hari mulai gelap. Revan berganti pakaian formal menjadi kemeja putih dipadu jas hitam yang membuatnya tampak semakin berwibawa, jauh dari kesan hangat yang biasa kulihat lewat chat-nya.

Kami tiba di sebuah restoran fine dining yang tenang, jauh dari keramaian kota.

Dua orang sudah menunggu di meja. Seorang pria tegap berwibawa dengan rambut memutih di pelipis, dan seorang wanita anggun berpakaian mahal, cincin dan kalungnya berkilau di bawah lampu restoran.

"Ini Alia," kata Revan singkat begitu kami mendekat.

Ayah Revan menatapku tajam. Aku hampir yakin pernah melihat wajahnya sekali di televisi, dulu, sebelum ayah tiada dan sebelum TV kecil di rumah kami terjual minggu lalu untuk biaya sekolah Laras. Tapi aku tidak yakin sepenuhnya, dan tidak berani bertanya.

"Duduk," katanya singkat, nadanya berat dan penuh wibawa.

Ibunya lebih ramah, tersenyum sambil menawarkan menu. "Alia kerja di mana, Nak?"

Jantungku sempat berdebar, tapi Revan lebih dulu menjawab. "Alia lulusan Sastra Indonesia, cumlaude. Sekarang lagi fokus cari peluang yang sesuai."

Aku menahan napas, berterima kasih dalam hati karena dia berhasil membelokkan pertanyaan itu tanpa menyebut kata "kasir" sama sekali.

"Keluarganya gimana?" tanya ayahnya lagi, tatapannya masih menyelidik.

"Sederhana," jawab Revan cepat. "Tapi Alia anak yang mandiri dan kerja keras."

Aku hanya tersenyum kaku, berusaha terlihat tenang meski dalam hati was-was setiap pertanyaan berikutnya bisa membongkar semua yang selama ini kusembunyikan.

"Anak kedua kami," ibunya mulai lagi, agak mengeluh, "udah setahun lulus kuliah, tapi—"

Pintu restoran terbuka.

"—itu dia," katanya, berhenti di tengah kalimat, tersenyum lega. "Panjang umur banget. Farel, sini!"

Aku menoleh.

Napasku tercekat di tenggorokan.

Farel berdiri di ambang pintu, jaketnya basah sedikit oleh gerimis luar, langkahnya berhenti begitu matanya bertemu dengan wajahku. HP di tangannya nyaris terlepas.

Waktu seolah berhenti.

Tiga tahun kami bersama. Kos sempit. Janji-janji yang tidak pernah ditepati. Dan setahun yang lalu, perpisahan tanpa penjelasan yang cukup. Semua itu berputar dalam sepersekian detik yang terasa seperti satu abad.

"Farel?" suaraku sendiri terdengar asing di telingaku.

Wajahnya pucat. Rahangnya mengeras. Tapi dia memaksakan senyum, melangkah maju seolah kakinya bergerak sendiri.

"Farel, ini Alia. Pacar kakakmu," ujar ibunya riang, sama sekali tidak menyadari dunia yang baru saja runtuh di depan matanya.

Farel mengulurkan tangan. Jemarinya sedikit gemetar.

"Salam kenal," katanya pelan. Dua kata yang terdengar seperti sebuah dusta besar, terucap di depan seluruh keluarganya sendiri.

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Mantan Pacarku Adik Suamiku   Farel dan Masa Lalu

    "Farel ini beda banget sama Revan," lanjut ibunya, menyesap air putih sebelum kembali bicara."Revan dari kecil udah keliatan bakatnya, ngikutin jejak ayahnya. Rajin, disiplin. Farel mah... maunya bebas aja gitu. Waktu kuliah juga begitu. Padahal kalau mau, bisa aja dia masuk firma keluarga."Ayahnya hanya mengangguk pelan, tidak berkomentar, tapi rahangnya sedikit mengeras. Cukup untuk menunjukkan dia sependapat dengan kekecewaan istrinya.Aku mengangguk sopan, memaksa diri fokus pada obrolan. Tapi di ujung meja, aku bisa merasakan tatapan Farel menempel di wajahku, diam-diam.Aku tidak berani menoleh balik. Tidak perlu. Aku hafal betul rasanya ditatap seperti itu.Dulu, di kos sempit yang hanya cukup untuk satu kasur dan satu meja belajar, dia sering menatapku persis seperti ini sebelum akhirnya mendekat, menyentuh rambutku, membisikkan sesuatu yang membuatku tertawa sampai lupa segalanya.Sekarang tatapan yang sama duduk di seberang meja, dan aku hanya bisa berpura-pura sibuk memot

  • Mantan Pacarku Adik Suamiku   Pertemuan

    Chat balasan Revan datang dengan cepat, hanya beberapa menit setelah aku mengirim keputusanku semalam.Revan: Akhirnya. Aku tunggu ini dari kemarin. Siang ini aku jemput ya, ada yang mau kita siapkan.*Aku tersenyum menatap layar, meski masih ada gugup yang mengganjal di dada.Siang itu, aku berpamitan pada ibu dengan alasan mau jalan bersama teman. Supaya lebih meyakinkan, aku mengenakan pakaian casual dengan gamis panjang sederhana dipadu rok lipit yang biasa kupakai kalau sedang santai.Baru saja keluar rumah, aku berpapasan dengan Laras yang baru pulang sekolah, masih sempat melambai pamitan pada seseorang, laki-laki, di ujung gang."Itu Dimas ya?" godaku sambil mengancingkan kancing rok.Laras mendadak salah tingkah. "Bukan siapa-siapa kok, Kak. Kok kakak malah mau pergi lagi? Ketemu pacar lagi ya?""Nggak ada pacar-pacaran," elakku cepat. "Kamu tuh yang tiap hari pulang bareng Dimas terus. Jangan alihkan topik.""Ih, kita cuma temenan, Kak!" Laras membela diri, pipinya mulai mem

  • Mantan Pacarku Adik Suamiku   Keputusan Bulat

    Mobil berhenti di ujung jalan yang sama, tempat aku dijemput tadi. Aku turun pelan, merapikan gaun pinjaman yang sudah agak kusut."Makasih ya, buat makan malamnya," kataku, mencoba tersenyum, meski pikiran berkecamuk.Revan menatapku dari balik kaca mobil yang terbuka setengah, tidak terlihat kecewa atau memaksa meski aku baru saja menolaknya di restoran tadi. "Nggak apa-apa. Kamu pikirin lagi aja, Alia. Aku nggak akan maksa."Aku mengangguk pelan, lega karena dia tidak marah."Tapi kalau kamu tetap mau nolak," lanjutnya, suaranya tetap tenang, "paling nggak hubungi aku ya. Jangan didiemin kayak semalam.""Iya," bisikku. "Aku janji kali ini.""Kabarin aku kalau udah siap," katanya, lalu tersenyum tipis sebelum kaca mobil kembali naik. Mobil hitam itu melaju menjauh, meninggalkanku sendirian di bawah lampu jalan yang berkedip-kedip.Aku berdiri sebentar, menatap kepergian mobilnya, dadaku masih penuh dengan pertanyaan yang belum terjawab. "Dikenalkan ke keluarga. Bantuan besar. Semua

  • Mantan Pacarku Adik Suamiku   Tawaran Revan

    Suara azan subuh berkumandang samar dari kejauhan saat aku terbangun. Tubuhku terasa berat, mataku masih perih setelah semalaman nyaris tidak bisa tidur.Aku meraih HP, menatap layarnya yang gelap, mengingat kembali suara Revan semalam di telepon.Besok malam. Aku jemput jam 7. Ada yang mau aku omongin. Begitu katanya. Aku benar-benar tidak mengerti apa yang Revan ingin bicarakan.Aku bangkit dari kasur, mengusap wajah, lalu keluar kamar untuk bersiap kerja.Rumah masih sunyi. Tapi di ruang tamu kecil, ibu sudah duduk di kursi kayu, menatap kosong ke amplop cokelat yang masih tergeletak di meja sejak kemarin.Aku mendekat, menyentuh bahunya pelan. "Ma, udah nggak usah dipikirin dulu amplop itu. Alia yang akan cari solusinya. Sekarang Alia mau berangkat kerja dulu ya."Ibu menoleh, matanya lelah tapi mencoba tersenyum. "Hati-hati di jalan, Nak."Aku mencium punggung tangannya sebentar, lalu bergegas keluar.Di tengah jalan menuju minimarket, HP-ku bergetar sekali.Revan: Semangat ker

  • Mantan Pacarku Adik Suamiku   Pertemuan untuk apa?

    Dari kejauhan, aku sudah melihat kerumunan kecil di depan kontrakan kami yang reyot. Aku segera berlari sekuat tenaga, napasku tersenggal-senggal, jantungku berdebar kencang menembus keramaian sore.Baru saja aku pulang berkencan dengan pacarku, tapi entah kenapa nasib malangku seolah tidak pernah membiarkanku bahagia lebih dari beberapa jam.Yang lebih buruk, ini bukan kerumunan warga yang biasanya menggosip.Haji Rasyid berdiri di tengah halaman, diapit dua orang suruhannya yang bertubuh kekar. Tiap kali berbicara, ia sengaja mengeraskannya supaya menggema ke seluruh gang. Sementara ibu hanya bisa duduk berlutut.Dan adikku, Laras, yang masih mengenakan seragam SMA-nya berdiri di belakang ibu sambil memeluknya. Wajahnya pucat pasi dan tangannya bergetar hebat."...tiga hari lagi, Bu Sari! Kalau utang ini nggak lunas, rumah ini kami sita besok juga. Dan aib keluarga kalian akan kami bongkar ke seluruh kampung. Biar semua tahu siapa yang suka ngutang lalu kabur tanpa tanggung jawab s

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status