LOGINSuara azan subuh berkumandang samar dari kejauhan saat aku terbangun. Tubuhku terasa berat, mataku masih perih setelah semalaman nyaris tidak bisa tidur.
Aku meraih HP, menatap layarnya yang gelap, mengingat kembali suara Revan semalam di telepon. Besok malam. Aku jemput jam 7. Ada yang mau aku omongin. Begitu katanya. Aku benar-benar tidak mengerti apa yang Revan ingin bicarakan. Aku bangkit dari kasur, mengusap wajah, lalu keluar kamar untuk bersiap kerja. Rumah masih sunyi. Tapi di ruang tamu kecil, ibu sudah duduk di kursi kayu, menatap kosong ke amplop cokelat yang masih tergeletak di meja sejak kemarin. Aku mendekat, menyentuh bahunya pelan. "Ma, udah nggak usah dipikirin dulu amplop itu. Alia yang akan cari solusinya. Sekarang Alia mau berangkat kerja dulu ya." Ibu menoleh, matanya lelah tapi mencoba tersenyum. "Hati-hati di jalan, Nak." Aku mencium punggung tangannya sebentar, lalu bergegas keluar. Di tengah jalan menuju minimarket, HP-ku bergetar sekali. Revan: Semangat kerjanya ya. Nanti malem jangan lupa, jam 7. Aku melirik layar HP sebentar, tapi jariku tidak bergerak untuk membalas. Pikiranku tenggelam memikirkan telepon semalam. Apa yang sebenarnya dia mau omongin? Aku tidak tahu, tapi kata-katanya terus menghantuiku. Apakah ini soal hubungan kita? Atau hal lain? Aku tidak yakin. Aku memasukkan HP kembali ke saku, membiarkan chat itu tidak terbalas, dan melangkah lebih cepat menuju minimarket. Shift hari itu terasa lebih panjang dari biasanya. Setiap kali ada waktu senggang di balik meja kasir, pikiranku terus melayang ke pertemuan nanti malam. Sore itu aku pulang lebih cepat, langsung menuju kamar. Gaun hitam sederhana pinjaman dari Bu Rini, tetangga yang dulu sering bantu ibu, sudah kusiapkan sejak kemarin. Jam 6:45. Aku mengenakannya cepat-cepat, menyisir rambut rapi, sedikit bedak dan lipstik tipis supaya tidak terlalu kucel ketika bertemu Revan. Aku mengecek ke luar kamar. Ibu sudah bersiap tidur, matanya sudah setengah terpejam di atas kasur. Semenjak ayah tiada, ibu sering tidur lebih awal dan bangun di tengah malam untuk salat. Sementara Laras sedang duduk di meja belajarnya, buku-buku terbuka, kepala tertunduk serius menghafal sesuatu. Aku tidak ingin mereka bertanya-tanya. Jadi aku hanya menyelipkan catatan kecil di meja dapur, "pergi sebentar, jangan khawatir", lalu keluar diam-diam lewat pintu depan, menutupnya pelan-pelan supaya tidak ada yang menyadari. Aku sengaja tidak memilih titik jemput di dekat rumah. Aku berjalan cukup jauh, melewati beberapa gang, sampai ke ujung jalan besar yang lebih ramai dan lebih jauh dari mata tetangga. Kalau ada yang melihatku naik mobil mewah malam-malam berdandan rapi, gosip akan menyebar secepat kilat. Aku sudah cukup dipermalukan kemarin. Tidak ingin menambah aib lagi. Mobil hitam Revan sudah menunggu di ujung jalan, lampunya berkedip sekali sebagai tanda. Aku masuk cepat, duduk di kursi penumpang. "Hai," sapaku, mencoba tersenyum meski jantung masih berdebar. "Hai." Revan menoleh sekilas, seulas senyum tipis muncul di wajahnya. "Kamu cantik." Aku tertawa kecil, menutupi rasa gugup. "Gaun pinjaman doang ini." "Nggak penting punya siapa. Yang penting yang pakai," balasnya, membuat pipiku menghangat seperti biasa. Mobil melaju pelan menyusuri jalan yang mulai ramai lampu kota. Kami mengobrol ringan, soal kerjaannya yang menumpuk, soal pelanggan rewel yang kutemui tadi siang, seperti malam-malam biasa kami sebelumnya. Untuk sesaat, aku hampir lupa alasan sebenarnya kenapa dia mengajakku ketemu. Tapi di lampu merah berikutnya, Revan tiba-tiba diam. Tangannya masih di setir, namun matanya menoleh penuh ke arahku. "Alia," katanya, suaranya tetap tenang seperti biasa. "Aku tahu kamu semalam nggak jadi telepon aku balik." Aku membeku. Senyum yang tadi masih tersisa di wajahku perlahan menghilang. Aku tidak tahu harus menjawab apa, jadi aku memilih diam, menunduk menatap tangan sendiri yang mulai tidak nyaman diam. Revan tidak menekanku lagi. Dia hanya menatapku sebentar lebih lama, lalu kembali fokus menyetir begitu lampu berubah hijau. Tidak ada kata-kata lain sampai kami tiba di sebuah restoran kecil yang nyaman, jauh lebih sederhana dari yang aku bayangkan. Meski tetap tempat ini seperti dunia lain bagiku. Kami duduk berhadapan di meja pojok. Revan memesan untuk kami berdua tanpa banyak tanya, seolah sudah hafal apa yang kusuka. Untuk beberapa saat, suasana kembali mencair. Dia bercerita soal kasus konyol yang pernah ditanganinya, membuatku tertawa lepas untuk pertama kalinya sejak dua hari terakhir. Tapi begitu piring terakhir diangkat, dan hanya tersisa segelas teh hangat di antara kami, wajah Revan berubah lebih serius. "Alia," katanya, meletakkan gelasnya pelan. "Aku mau ngomongin hal serius." "I... iya," kataku gagap. "Apa yang sebenarnya ingin kamu omongin?" Revan memajukan tubuhnya dekat padaku dan berkata, "Aku tahu soal Haji Rasyid. Aku tahu soal utang ayahmu." Dadaku seolah berhenti. Tanganku yang tadi memegang gelas berhenti di udara. "Gimana kamu bisa—" "Itu nggak penting sekarang," potongnya, tenang namun tegas. "Yang penting, kamu nggak perlu sembunyi lagi dariku." Aku menunduk, malu bercampur takut. "Aku... aku nggak mau kamu lihat aku selemah itu." Revan terdiam sebentar, lalu tangannya terulur menyentuh tanganku di atas meja. "Aku bisa bantu, Alia. Aku mau bantu. Tapi kamu harus berhenti menutup-nutupi semuanya dariku." Aku menatap wajahnya di bawah cahaya lampu restoran yang temaram. "Bantu... gimana?" "Aku akan lunasi semua utang ayahmu. Rumah kalian akan aman. Haji Rasyid nggak akan berani menyentuh keluargamu lagi." Aku menahan napas, nyaris tidak percaya pada apa yang baru saja kudengar. "Revan, itu jumlahnya besar banget. Aku nggak bisa terima begitu saja—" "Aku nggak minta izin," katanya, memotong cepat, namun nadanya tetap lembut. "Aku cuma butuh satu hal darimu." Jantungku berdebar kencang, antara harap dan waspada. "Apa?" Revan menatapku dalam-dalam, seolah menimbang setiap reaksi yang akan muncul di wajahku sebelum akhirnya berkata, "Aku ingin kamu mulai dikenalkan ke keluargaku." Aku menatapnya lama, dadaku sesak oleh ketakutan yang tidak bisa kujelaskan. Bayangan keluarga besar yang terhormat, dan diriku yang bahkan tidak punya baju pantas untuk bertemu mereka, membuat kepalaku dipenuhi seribu alasan untuk menolak. "Revan... aku nggak bisa."Kami berjalan menyusuri lorong menuju meja makan, tapi pikiranku masih tertinggal di belakang, pada wajah Revan yang berubah tanpa alasan jelas saat mendengar nama Haji Rasyid dari mulut Farel.Dari mana dia tahu? Dan kenapa Revan terlihat seperti itu?Pertanyaan itu berputar-putar dalam kepalaku, mengaburkan segalanya di sekitarku, sampai aku tidak sadar kakiku sudah membawaku duduk kembali di kursi meja makan."Alia? Kok bengong?" Ibunya Revan menyentuh lenganku pelan, alisnya sedikit terangkat khawatir.Aku tersentak. "Eh, nggak apa-apa, Tante. Maaf."Revan ikut menoleh, matanya menatapku lebih lama dari biasanya, seolah mencoba membaca apa yang sedang berkecamuk di kepalaku. "Kamu kenapa? Masih pusing?""Nggak, cuma... capek aja," jawabku cepat, menghindari tatapannya."Jangan dipaksain kalau capek, Nak," kata ibunya lagi, lalu tanpa aku sadari tangannya sudah menggenggam tanganku di atas meja. "Jangan panggil Tante
"Alia?" Suara Revan menggema di ujung lorong, membuat Farel menarik tangannya secepat kilat. Dan aku ikut mundur setengah langkah. Aku baru sadar, punggungku sudah menyentuh dinding dan jarakku dengan Farel begitu dekat. Jantungku berdebar cepat ketika mendengar suara Revan. Apa yang akan Revan pikirkan ketika melihatku seperti ini? batinku. Aku menoleh ke arah Revan. Langkah Revan begitu cepat, sepatunya berdentum keras di lantai. Tanpa perkataan apapun, seketika dia langsung berjalan menerobos jarak di antara aku dan Revan. Satu tangannya langsung terentang, seolah sedang membuat batas antara aku dan Revan. Aku terhuyung setengah langkah. Kini aku berdiri di balik punggung Revan, membuatku kesulitan untuk melihat wajah Farel dan hanya bisa melihat betapa lebarnya punggung Revan. "Apa yang sedang kamu lakukan sama Alia?" tanya Revan, suaranya tenang. Aku tidak dapat melihat seperti apa ekspresinya ketika mengucapkan itu. Aku menahan napas. Jantungku berdebar begitu
"Farel ini beda banget sama Revan," lanjut ibunya, menyesap air putih sebelum kembali bicara. "Revan dari kecil udah keliatan bakatnya, ngikutin jejak ayahnya. Rajin, disiplin. Farel mah... maunya bebas aja gitu. Waktu kuliah juga begitu. Padahal kalau mau, bisa aja dia masuk firma keluarga." Ayahnya hanya mengangguk pelan, tidak berkomentar, tapi rahangnya sedikit mengeras. Cukup untuk menunjukkan dia sependapat dengan kekecewaan istrinya. Aku mengangguk sopan, memaksa diri fokus pada obrolan. Tapi di ujung meja, aku bisa merasakan tatapan Farel menempel di wajahku, diam-diam. Aku tidak berani menoleh balik. Tidak perlu. Aku hafal betul rasanya ditatap seperti itu. Dulu, di kos sempit yang hanya cukup untuk satu kasur dan satu meja belajar, dia sering menatapku persis seperti ini sebelum akhirnya mendekat, menyentuh rambutku, membisikkan sesuatu yang membuatku tertawa sampai lupa segalanya. Sekarang tatapan yang sama duduk di seberang meja, dan aku hanya bisa berpura-pura
Chat balasan Revan datang dengan cepat, hanya beberapa menit setelah aku mengirim keputusanku semalam.Revan: Akhirnya. Aku tunggu ini dari kemarin. Siang ini aku jemput ya, ada yang mau kita siapkan.*Aku tersenyum menatap layar, meski masih ada gugup yang mengganjal di dada.Siang itu, aku berpamitan pada ibu dengan alasan mau jalan bersama teman. Supaya lebih meyakinkan, aku mengenakan pakaian casual dengan gamis panjang sederhana dipadu rok lipit yang biasa kupakai kalau sedang santai.Baru saja keluar rumah, aku berpapasan dengan Laras yang baru pulang sekolah, masih sempat melambai pamitan pada seseorang, laki-laki, di ujung gang."Itu Dimas ya?" godaku sambil mengancingkan kancing rok.Laras mendadak salah tingkah. "Bukan siapa-siapa kok, Kak. Kok kakak malah mau pergi lagi? Ketemu pacar lagi ya?""Nggak ada pacar-pacaran," elakku cepat. "Kamu tuh yang tiap hari pulang bareng Dimas terus. Jangan alihkan topik.""Ih, kita cuma temenan, Kak!" Laras membela diri, pipinya mulai mem
Mobil berhenti di ujung jalan yang sama, tempat aku dijemput tadi. Aku turun pelan, merapikan gaun pinjaman yang sudah agak kusut."Makasih ya, buat makan malamnya," kataku, mencoba tersenyum, meski pikiran berkecamuk.Revan menatapku dari balik kaca mobil yang terbuka setengah, tidak terlihat kecewa atau memaksa meski aku baru saja menolaknya di restoran tadi. "Nggak apa-apa. Kamu pikirin lagi aja, Alia. Aku nggak akan maksa."Aku mengangguk pelan, lega karena dia tidak marah."Tapi kalau kamu tetap mau nolak," lanjutnya, suaranya tetap tenang, "paling nggak hubungi aku ya. Jangan didiemin kayak semalam.""Iya," bisikku. "Aku janji kali ini.""Kabarin aku kalau udah siap," katanya, lalu tersenyum tipis sebelum kaca mobil kembali naik. Mobil hitam itu melaju menjauh, meninggalkanku sendirian di bawah lampu jalan yang berkedip-kedip.Aku berdiri sebentar, menatap kepergian mobilnya, dadaku masih penuh dengan pertanyaan yang belum terjawab. "Dikenalkan ke keluarga. Bantuan besar. Semua
Suara azan subuh berkumandang samar dari kejauhan saat aku terbangun. Tubuhku terasa berat, mataku masih perih setelah semalaman nyaris tidak bisa tidur.Aku meraih HP, menatap layarnya yang gelap, mengingat kembali suara Revan semalam di telepon.Besok malam. Aku jemput jam 7. Ada yang mau aku omongin. Begitu katanya. Aku benar-benar tidak mengerti apa yang Revan ingin bicarakan.Aku bangkit dari kasur, mengusap wajah, lalu keluar kamar untuk bersiap kerja.Rumah masih sunyi. Tapi di ruang tamu kecil, ibu sudah duduk di kursi kayu, menatap kosong ke amplop cokelat yang masih tergeletak di meja sejak kemarin.Aku mendekat, menyentuh bahunya pelan. "Ma, udah nggak usah dipikirin dulu amplop itu. Alia yang akan cari solusinya. Sekarang Alia mau berangkat kerja dulu ya."Ibu menoleh, matanya lelah tapi mencoba tersenyum. "Hati-hati di jalan, Nak."Aku mencium punggung tangannya sebentar, lalu bergegas keluar.Di tengah jalan menuju minimarket, HP-ku bergetar sekali.Revan: Semangat ker







