分享

Tawaran Revan

作者: KathYa
last update publish date: 2026-07-10 14:00:39

Suara azan subuh berkumandang samar dari kejauhan saat aku terbangun. Tubuhku terasa berat, mataku masih perih setelah semalaman nyaris tidak bisa tidur.

Aku meraih HP, menatap layarnya yang gelap, mengingat kembali suara Revan semalam di telepon.

Besok malam. Aku jemput jam 7. Ada yang mau aku omongin. Begitu katanya.

Aku benar-benar tidak mengerti apa yang Revan ingin bicarakan.

Aku bangkit dari kasur, mengusap wajah, lalu keluar kamar untuk bersiap kerja.

Rumah masih sunyi. Tapi di ruang tamu kecil, ibu sudah duduk di kursi kayu, menatap kosong ke amplop cokelat yang masih tergeletak di meja sejak kemarin.

Aku mendekat, menyentuh bahunya pelan.

"Ma, udah nggak usah dipikirin dulu amplop itu. Alia yang akan cari solusinya. Sekarang Alia mau berangkat kerja dulu ya."

Ibu menoleh, matanya lelah tapi mencoba tersenyum. "Hati-hati di jalan, Nak."

Aku mencium punggung tangannya sebentar, lalu bergegas keluar.

Di tengah jalan menuju minimarket, HP-ku bergetar sekali.

Revan: Semangat kerjanya ya. Nanti malem jangan lupa, jam 7.

Aku melirik layar HP sebentar, tapi jariku tidak bergerak untuk membalas. Pikiranku tenggelam memikirkan telepon semalam. Apa yang sebenarnya dia mau omongin? Aku tidak tahu, tapi kata-katanya terus menghantuiku.

Apakah ini soal hubungan kita? Atau hal lain? Aku tidak yakin.

Aku memasukkan HP kembali ke saku, membiarkan chat itu tidak terbalas, dan melangkah lebih cepat menuju minimarket.

Shift hari itu terasa lebih panjang dari biasanya. Setiap kali ada waktu senggang di balik meja kasir, pikiranku terus melayang ke pertemuan nanti malam.

Sore itu aku pulang lebih cepat, langsung menuju kamar. Gaun hitam sederhana pinjaman dari Bu Rini, tetangga yang dulu sering bantu ibu, sudah kusiapkan sejak kemarin.

Jam 6:45.

Aku mengenakannya cepat-cepat, menyisir rambut rapi, sedikit bedak dan lipstik tipis supaya tidak terlalu kucel ketika bertemu Revan.

Aku mengecek ke luar kamar. Ibu sudah bersiap tidur, matanya sudah setengah terpejam di atas kasur. Semenjak ayah tiada, ibu sering tidur lebih awal dan bangun di tengah malam untuk salat.

Sementara Laras sedang duduk di meja belajarnya, buku-buku terbuka, kepala tertunduk serius menghafal sesuatu.

Aku tidak ingin mereka bertanya-tanya.

Jadi aku hanya menyelipkan catatan kecil di meja dapur, "pergi sebentar, jangan khawatir", lalu keluar diam-diam lewat pintu depan, menutupnya pelan-pelan supaya tidak ada yang menyadari.

Aku sengaja tidak memilih titik jemput di dekat rumah. Aku berjalan cukup jauh, melewati beberapa gang, sampai ke ujung jalan besar yang lebih ramai dan lebih jauh dari mata tetangga.

Kalau ada yang melihatku naik mobil mewah malam-malam berdandan rapi, gosip akan menyebar secepat kilat. Aku sudah cukup dipermalukan kemarin. Tidak ingin menambah aib lagi.

Mobil hitam Revan sudah menunggu di ujung jalan, lampunya berkedip sekali sebagai tanda. Aku masuk cepat, duduk di kursi penumpang.

"Hai," sapaku, mencoba tersenyum meski jantung masih berdebar.

"Hai." Revan menoleh sekilas, seulas senyum tipis muncul di wajahnya. "Kamu cantik."

Aku tertawa kecil, menutupi rasa gugup. "Gaun pinjaman doang ini."

"Nggak penting punya siapa. Yang penting yang pakai," balasnya, membuat pipiku menghangat seperti biasa.

Mobil melaju pelan menyusuri jalan yang mulai ramai lampu kota.

Kami mengobrol ringan, soal kerjaannya yang menumpuk, soal pelanggan rewel yang kutemui tadi siang, seperti malam-malam biasa kami sebelumnya.

Untuk sesaat, aku hampir lupa alasan sebenarnya kenapa dia mengajakku ketemu.

Tapi di lampu merah berikutnya, Revan tiba-tiba diam. Tangannya masih di setir, namun matanya menoleh penuh ke arahku.

"Alia," katanya, suaranya tetap tenang seperti biasa. "Aku tahu kamu semalam nggak jadi telepon aku balik."

Aku membeku. Senyum yang tadi masih tersisa di wajahku perlahan menghilang. Aku tidak tahu harus menjawab apa, jadi aku memilih diam, menunduk menatap tangan sendiri yang mulai tidak nyaman diam.

Revan tidak menekanku lagi. Dia hanya menatapku sebentar lebih lama, lalu kembali fokus menyetir begitu lampu berubah hijau.

Tidak ada kata-kata lain sampai kami tiba di sebuah restoran kecil yang nyaman, jauh lebih sederhana dari yang aku bayangkan. Meski tetap tempat ini seperti dunia lain bagiku.

Kami duduk berhadapan di meja pojok. Revan memesan untuk kami berdua tanpa banyak tanya, seolah sudah hafal apa yang kusuka.

Untuk beberapa saat, suasana kembali mencair. Dia bercerita soal kasus konyol yang pernah ditanganinya, membuatku tertawa lepas untuk pertama kalinya sejak dua hari terakhir.

Tapi begitu piring terakhir diangkat, dan hanya tersisa segelas teh hangat di antara kami, wajah Revan berubah lebih serius.

"Alia," katanya, meletakkan gelasnya pelan. "Aku mau ngomongin hal serius."

"I... iya," kataku gagap. "Apa yang sebenarnya ingin kamu omongin?"

Revan memajukan tubuhnya dekat padaku dan berkata, "Aku tahu soal Haji Rasyid. Aku tahu soal utang ayahmu."

Dadaku seolah berhenti. Tanganku yang tadi memegang gelas berhenti di udara.

"Gimana kamu bisa—"

"Itu nggak penting sekarang," potongnya, tenang namun tegas. "Yang penting, kamu nggak perlu sembunyi lagi dariku."

Aku menunduk, malu bercampur takut. "Aku... aku nggak mau kamu lihat aku selemah itu."

Revan terdiam sebentar, lalu tangannya terulur menyentuh tanganku di atas meja. "Aku bisa bantu, Alia. Aku mau bantu. Tapi kamu harus berhenti menutup-nutupi semuanya dariku."

Aku menatap wajahnya di bawah cahaya lampu restoran yang temaram. "Bantu... gimana?"

"Aku akan lunasi semua utang ayahmu. Rumah kalian akan aman. Haji Rasyid nggak akan berani menyentuh keluargamu lagi."

Aku menahan napas, nyaris tidak percaya pada apa yang baru saja kudengar. "Revan, itu jumlahnya besar banget. Aku nggak bisa terima begitu saja—"

"Aku nggak minta izin," katanya, memotong cepat, namun nadanya tetap lembut. "Aku cuma butuh satu hal darimu."

Jantungku berdebar kencang, antara harap dan waspada. "Apa?"

Revan menatapku dalam-dalam, seolah menimbang setiap reaksi yang akan muncul di wajahku sebelum akhirnya berkata,

"Aku ingin kamu mulai dikenalkan ke keluargaku."

Aku menatapnya lama, dadaku sesak oleh ketakutan yang tidak bisa kujelaskan.

Bayangan keluarga besar yang terhormat, dan diriku yang bahkan tidak punya baju pantas untuk bertemu mereka, membuat kepalaku dipenuhi seribu alasan untuk menolak.

"Revan... aku nggak bisa."

在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP

最新章節

  • Mantan Pacarku Adik Suamiku   Bab 41 - Tidak Setara

    Makan siang kedua dengan Nadia. Kantin yang sama. Meja yang sama. Tapi ia tidak tertawa hari ini. Ia makan pelan. Memandangku seperti memutuskan sesuatu."Al," katanya akhirnya. Meletakkan sendok. "Boleh jujur?""Sejak kapan kamu izin buat jujur?"Ia tidak tersenyum. "Kamu sama Pak Revan. Gimana ceritanya? Asisten pribadi sekaligus... itu. Gimana awalnya?"Aku menjawab dengan versi resmi. Butuh pekerjaan. Ditawari posisi. Kompeten. Profesional. Semua kata yang benar. Semua kata yang pernah kuucapkan pada diriku sendiri sampai terdengar benar.Nadia mendengarkan. Tidak menyela. Lalu berkata, pelan, tanpa tertawa, tanpa basa-basi:"Alia. Keadaan itu tidak setara. Bukan salahmu. Tapi jangan bilang itu setara."Sendokku berhenti di udara."Kamu baru dua hari di sini,"

  • Mantan Pacarku Adik Suamiku   Bab 40 - Nadia dari Surabaya

    Senin pagi, pantry yang sunyi pecah oleh tawa keras.Aku menoleh. Perempuan muda berdiri di depan mesin kopi dengan koper di samping kakinya. Rambut diikat asal. Blazer sedikit kusut. Tertawa seolah pantry itu ruang tamu rumahnya sendiri.Semua orang menoleh. Ia tidak peduli. Ia menoleh balik ke semua orang dan melambai."Pagi! Nadia! Mutasi dari Surabaya! Kalau butuh apa-apa jangan tanya saya, saya juga baru!" Tawa lagi. Pecah.Aku langsung suka padanya. Dan langsung waspada pada diriku yang langsung suka. Orang yang terlalu cepat disukai biasanya terlalu cepat dipercaya. Aku belajar itu dari Maya.Siang itu bencana kecil terjadi di ruang arsip. Suara pecah. Gaduh. Aku berlari ke sana.Nadia berdiri di tengah genangan teh. Teko pecah di kakinya. Berkas-berkas basah di tangannya. Wajahnya merah. Tapi ia tertawa.

  • Mantan Pacarku Adik Suamiku   Bab 39 - Nama di Daftar

    Berkas keempat datang Kamis pagi. Lebih tebal dari tiga sebelumnya. Bu Wulan meletakkannya tanpa komentar. Tapi ia mengetuk sampulnya dua kali dengan jari. Kode kami yang baru. Artinya: hati-hati.Aku membuka. Undangan pengadaan lain. Daftar peserta lain. Kota lain. Tahun lalu.Tanganku bekerja otomatis. Kuning untuk tanggal. Pink untuk nama. Hijau untuk angka.Lalu stabilo pink-ku berhenti di satu baris.Cipta Dharma Persada.Aku menatap nama itu. Mencoba mengingat di mana pernah melihatnya. Berkas pertama. Ya. Daftar peserta berkas pertama. Nama yang sama. Perusahaan yang sama. Dua berkas berbeda.Tanganku melingkari nama itu. Lingkaran pink yang rapi. Lalu aku menulis di pinggirnya: berkas-1 juga ada.Siang itu di pantry, aku bertanya santai pada staf senior. Pak Bambang. Umurnya lima p

  • Mantan Pacarku Adik Suamiku   Nadia

    Nadia sudah duduk di meja kantin ketika aku datang, dua kotak nasi di depannya. Satu sudah terbuka, satu lagi belum. "Duduk, Mbak." Dia menggeser kotak yang belum dibuka ke arahku, mengetuk tutupnya dua kali dengan ujung jari. "Ini buat Mbak. Anggap aja ucapan terima kasih. Kemarin itu, kalau Mbak nggak nemuin selisihnya, bisa berabe kita semua." Aku menatap kotak itu sebentar. Kemarin dia masih bilang kalau kamu salah, yang malu bukan cuma kamu. Hari ini, nasi padang di depanku. "Terima kasih," kataku, membuka kotaknya. Rendang, sayur nangka, sambal ijo. Masih hangat. Nadia sudah lebih dulu menyendok nasinya sendiri. "Mbak udah lama kerja di sini?" "Belum lama. Baru beberapa minggu." "Oh." Alisnya terangkat sedikit, seperti tidak menyangka. "Aku kira udah lama. Padahal aku lihat kemarin itu kayak orang yang udah biasa." "Kebetulan

  • Mantan Pacarku Adik Suamiku   Sayang

    Kami sudah berdiri di ruang tengah itu lama, mungkin dua menit tanpa bicara.Farel masih di sofa, map di pangkuannya. Aku masih berdiri dekat pintu, tas selempang belum kulepas. Ini benar-benar tidak nyaman.Terakhir kali kami benar-benar berdua di ruangan yang sama tanpa siapa pun, itu malam di hotel. Sejak itu, selalu ada orang ketiga, Revan, Maya, siapa pun. Farel menutup mapnya, berdeham kecil. "Kamu udah makan?"Pertanyaan itu keluar terlalu cepat, terlalu ringan, seperti dipaksakan untuk terdengar biasa."Udah," jawabku, meski belum."Oh." Dia mengangguk, menatap map di pangkuannya lagi, meski jelas tidak sedang membacanya. "Aku juga."Kami sama-sama berbohong soal hal sesederhana itu, dan kami berdua tahu itu, dan itu justru membuat keheningan berikutnya terasa lebih berat dari sebelumnya.Farel membuka mulutnya lagi. "Alia, aku—"Aku menahan napas. Tanganku mengepal di samping tubuh,

  • Mantan Pacarku Adik Suamiku   Kasus

    Mulai minggu ini, Revan membawaku ke hampir setiap rapat.Kasusnya menumpuk. Tiga berkas sekaligus mendarat di mejanya dalam dua hari, dan yang paling menyita waktu adalah kasus pengadaan komputer untuk sekolah-sekolah di kabupaten. Anggaran miliaran, spesifikasi tidak sesuai, tiga perusahaan saling terkait dalam rantai distribusi.Nadia ada di tim itu.Revan memperkenalkannya ulang pagi ini, lebih formal dari kemarin."Nadia, jaksa muda. Dipindahtugaskan dari Surabaya khusus buat kasus ini."Nadia mengangguk padaku, senyumnya sopan tapi tipis. Tidak ada lagi tatapan aneh waktu pertama ketemu. Atau mungkin aku yang terlalu sibuk memperhatikan tumpukan berkas untuk menyadari.Aku duduk di sudut ruangan, mencatat jadwal, menyusun map, menuangkan air mineral untuk tiga orang yang terlalu fokus berdebat soal angka untuk ingat minum sendiri."Margin distribusi tiga belas persen," kata Nadia, membacakan dar

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status