تسجيل الدخولMobil berhenti di depan gerbang besi tinggi yang terbuka perlahan begitu Revan menekan sesuatu di panel dekat setir. Aku menatap ke depan, mulutku sedikit terbuka tanpa sadar. Mansion itu berdiri dua lantai, dinding putih bersih memantulkan cahaya lampu taman yang berjajar rapi sepanjang jalan setapak. Air mancur kecil mengalir tenang di tengah halaman, suaranya samar terdengar bahkan dari dalam mobil yang masih tertutup. "Ini... rumah keluarga kamu?" tanyaku, suaraku nyaris hilang. "Salah satu," jawab Revan singkat, tangannya sudah membuka sabuk pengaman. Aku tahu Revan itu jaksa terkenal dan pastinya punya banyak uang, tapi aku tidak menyangka sebesar ini... Tidak, bahkan harusnya aku terkejut ketika dia membawa uang sebanyak itu tadi pagi. Aku turun dari mobil pelan-pelan, sepatuku yang sudah agak lusuh menapak di jalan setapak berbatu itu. Baru dua langkah,
Kami duduk di ruang tengah yang masih berantakan sisa kekacauan tadi pagi.Kardus-kardus yang sempat diturunkan kembali oleh anak buah Haji Rasyid masih menumpuk di sudut, isinya berantakan, tidak sempat dirapikan lagi. Aku duduk di samping ibu, sementara Revan mengambil posisi di kursi seberang, tenang seolah tidak baru saja menyelesaikan masalah sebesar itu."Revan," panggilku pelan sambil mencoba menarik lengan jasnya, "maksud kamu tadi, aku nggak bisa tinggal di sini lagi—""Alia," tegur ibu, "nggak sopan lho bisik-bisik gitu di depan tamu.""Nggak apa-apa, Bu," sela Revan, tersenyum tipis. "Justru saya yang mau jelasin semuanya sekarang."Dia menoleh ke ibu, menegakkan punggungnya sedikit lebih formal."Bu, perkenalkan, nama saya Revan. Saya bos baru Alia."Ibu mengangguk pelan, masih mencerna, sementara Laras yang duduk di sudut ruangan tiba-tiba memicingkan mata, memperhatikan wajah Revan lekat-lekat, lupa sejenak pada pelipisnya yang masih memerah."Kayak pernah lihat," gumam
Gedoran itu berubah jadi dobrakan. Pintu depan yang sudah reyot langsung terbuka lebar, engselnya berderit, hampir lepas dari kusennya. "Bu Sari!" Haji Rasyid melangkah masuk tanpa permisi, diikuti empat orang suruhannya yang langsung menyebar ke seluruh ruangan. "Pak Haji, tolong! Kasih kami waktu sedikit lagi!" Ibu berlari menghadang, tapi salah satu suruhan Haji Rasyid sudah lebih dulu mengangkat kardus berisi piring-piring dari ruang tengah, membuat ibu terhuyung ke samping. "Jangan!" jeritku, ikut berlari menghadang yang lain yang mulai menyeret lemari kecil dari kamar, kukuku sampai menggores kayu lemari itu saking eratnya aku mencengkeramnya. Tapi mereka tidak peduli. Satu per satu barang diangkut keluar: kasur tipis yang semalam jadi tempat kami bertiga berpelukan, meja belajar Laras dengan buku-buku yang masih terbuka di atasnya, kardus berisi foto-foto keluarga yang baru semalam dibungkus rapi den
Aku berlari sepanjang gang sekencang yang aku bisa, sepatu berhak yang tadi terasa anggun kini seperti menjepit tiap langkahku. Nafasku tersengal, jantungku berdebar lebih kencang daripada saat Haji Rasyid datang tiga hari lalu.Kak, buruan pulang!! PENTING BANGET!!Pesan itu terus terngiang, membuat kakiku bergerak lebih cepat meski ujung gaun biru ini nyaris membuatku tersandung dua kali.Begitu belok ke gang rumah, aku melihat sosok Bu Rini di halaman, sedang membantu memasukkan panci dan piring ke dalam kardus yang sudah setengah penuh.Bu Rini mendongak begitu mendengar langkahku. Matanya langsung menyapu tubuhku dari atas ke bawah yang bergaun biru gelap, rambut yang masih rapi, sisa bedak tipis di wajahku."Lho, Alia?" Alisnya terangkat. "Dari mana kamu dapetin baju kayak gitu? Rapi banget malem-malem gini."Pipiku panas seketika. "Bu Rini, aku—""Bukannya ibu deg-degan cariin kamu dari tadi, kamu malah
Kami berjalan menyusuri lorong menuju meja makan, tapi pikiranku masih tertinggal di belakang, pada wajah Revan yang berubah tanpa alasan jelas saat mendengar nama Haji Rasyid dari mulut Farel.Dari mana dia tahu? Dan kenapa Revan terlihat seperti itu?Pertanyaan itu berputar-putar dalam kepalaku, mengaburkan segalanya di sekitarku, sampai aku tidak sadar kakiku sudah membawaku duduk kembali di kursi meja makan."Alia? Kok bengong?" Ibunya Revan menyentuh lenganku pelan, alisnya sedikit terangkat khawatir.Aku tersentak. "Eh, nggak apa-apa, Tante. Maaf."Revan ikut menoleh, matanya menatapku lebih lama dari biasanya, seolah mencoba membaca apa yang sedang berkecamuk di kepalaku. "Kamu kenapa? Masih pusing?""Nggak, cuma... capek aja," jawabku cepat, menghindari tatapannya."Jangan dipaksain kalau capek, Nak," kata ibunya lagi, lalu tanpa aku sadari tangannya sudah menggenggam tanganku di atas meja. "Jangan panggil Tante
"Alia?" Suara Revan menggema di ujung lorong, membuat Farel menarik tangannya secepat kilat. Dan aku ikut mundur setengah langkah. Aku baru sadar, punggungku sudah menyentuh dinding dan jarakku dengan Farel begitu dekat. Jantungku berdebar cepat ketika mendengar suara Revan. Apa yang akan Revan pikirkan ketika melihatku seperti ini? batinku. Aku menoleh ke arah Revan. Langkah Revan begitu cepat, sepatunya berdentum keras di lantai. Tanpa perkataan apapun, seketika dia langsung berjalan menerobos jarak di antara aku dan Revan. Satu tangannya langsung terentang, seolah sedang membuat batas antara aku dan Revan. Aku terhuyung setengah langkah. Kini aku berdiri di balik punggung Revan, membuatku kesulitan untuk melihat wajah Farel dan hanya bisa melihat betapa lebarnya punggung Revan. "Apa yang sedang kamu lakukan sama Alia?" tanya Revan, suaranya tenang. Aku tidak dapat melihat seperti apa ekspresinya ketika mengucapkan itu. Aku menahan napas. Jantungku berdebar begitu







