Mag-log inMakan siang kedua dengan Nadia. Kantin yang sama. Meja yang sama. Tapi ia tidak tertawa hari ini. Ia makan pelan. Memandangku seperti memutuskan sesuatu."Al," katanya akhirnya. Meletakkan sendok. "Boleh jujur?""Sejak kapan kamu izin buat jujur?"Ia tidak tersenyum. "Kamu sama Pak Revan. Gimana ceritanya? Asisten pribadi sekaligus... itu. Gimana awalnya?"Aku menjawab dengan versi resmi. Butuh pekerjaan. Ditawari posisi. Kompeten. Profesional. Semua kata yang benar. Semua kata yang pernah kuucapkan pada diriku sendiri sampai terdengar benar.Nadia mendengarkan. Tidak menyela. Lalu berkata, pelan, tanpa tertawa, tanpa basa-basi:"Alia. Keadaan itu tidak setara. Bukan salahmu. Tapi jangan bilang itu setara."Sendokku berhenti di udara."Kamu baru dua hari di sini,"
Senin pagi, pantry yang sunyi pecah oleh tawa keras.Aku menoleh. Perempuan muda berdiri di depan mesin kopi dengan koper di samping kakinya. Rambut diikat asal. Blazer sedikit kusut. Tertawa seolah pantry itu ruang tamu rumahnya sendiri.Semua orang menoleh. Ia tidak peduli. Ia menoleh balik ke semua orang dan melambai."Pagi! Nadia! Mutasi dari Surabaya! Kalau butuh apa-apa jangan tanya saya, saya juga baru!" Tawa lagi. Pecah.Aku langsung suka padanya. Dan langsung waspada pada diriku yang langsung suka. Orang yang terlalu cepat disukai biasanya terlalu cepat dipercaya. Aku belajar itu dari Maya.Siang itu bencana kecil terjadi di ruang arsip. Suara pecah. Gaduh. Aku berlari ke sana.Nadia berdiri di tengah genangan teh. Teko pecah di kakinya. Berkas-berkas basah di tangannya. Wajahnya merah. Tapi ia tertawa.
Berkas keempat datang Kamis pagi. Lebih tebal dari tiga sebelumnya. Bu Wulan meletakkannya tanpa komentar. Tapi ia mengetuk sampulnya dua kali dengan jari. Kode kami yang baru. Artinya: hati-hati.Aku membuka. Undangan pengadaan lain. Daftar peserta lain. Kota lain. Tahun lalu.Tanganku bekerja otomatis. Kuning untuk tanggal. Pink untuk nama. Hijau untuk angka.Lalu stabilo pink-ku berhenti di satu baris.Cipta Dharma Persada.Aku menatap nama itu. Mencoba mengingat di mana pernah melihatnya. Berkas pertama. Ya. Daftar peserta berkas pertama. Nama yang sama. Perusahaan yang sama. Dua berkas berbeda.Tanganku melingkari nama itu. Lingkaran pink yang rapi. Lalu aku menulis di pinggirnya: berkas-1 juga ada.Siang itu di pantry, aku bertanya santai pada staf senior. Pak Bambang. Umurnya lima p
Nadia sudah duduk di meja kantin ketika aku datang, dua kotak nasi di depannya. Satu sudah terbuka, satu lagi belum. "Duduk, Mbak." Dia menggeser kotak yang belum dibuka ke arahku, mengetuk tutupnya dua kali dengan ujung jari. "Ini buat Mbak. Anggap aja ucapan terima kasih. Kemarin itu, kalau Mbak nggak nemuin selisihnya, bisa berabe kita semua." Aku menatap kotak itu sebentar. Kemarin dia masih bilang kalau kamu salah, yang malu bukan cuma kamu. Hari ini, nasi padang di depanku. "Terima kasih," kataku, membuka kotaknya. Rendang, sayur nangka, sambal ijo. Masih hangat. Nadia sudah lebih dulu menyendok nasinya sendiri. "Mbak udah lama kerja di sini?" "Belum lama. Baru beberapa minggu." "Oh." Alisnya terangkat sedikit, seperti tidak menyangka. "Aku kira udah lama. Padahal aku lihat kemarin itu kayak orang yang udah biasa." "Kebetulan
Kami sudah berdiri di ruang tengah itu lama, mungkin dua menit tanpa bicara.Farel masih di sofa, map di pangkuannya. Aku masih berdiri dekat pintu, tas selempang belum kulepas. Ini benar-benar tidak nyaman.Terakhir kali kami benar-benar berdua di ruangan yang sama tanpa siapa pun, itu malam di hotel. Sejak itu, selalu ada orang ketiga, Revan, Maya, siapa pun. Farel menutup mapnya, berdeham kecil. "Kamu udah makan?"Pertanyaan itu keluar terlalu cepat, terlalu ringan, seperti dipaksakan untuk terdengar biasa."Udah," jawabku, meski belum."Oh." Dia mengangguk, menatap map di pangkuannya lagi, meski jelas tidak sedang membacanya. "Aku juga."Kami sama-sama berbohong soal hal sesederhana itu, dan kami berdua tahu itu, dan itu justru membuat keheningan berikutnya terasa lebih berat dari sebelumnya.Farel membuka mulutnya lagi. "Alia, aku—"Aku menahan napas. Tanganku mengepal di samping tubuh,
Mulai minggu ini, Revan membawaku ke hampir setiap rapat.Kasusnya menumpuk. Tiga berkas sekaligus mendarat di mejanya dalam dua hari, dan yang paling menyita waktu adalah kasus pengadaan komputer untuk sekolah-sekolah di kabupaten. Anggaran miliaran, spesifikasi tidak sesuai, tiga perusahaan saling terkait dalam rantai distribusi.Nadia ada di tim itu.Revan memperkenalkannya ulang pagi ini, lebih formal dari kemarin."Nadia, jaksa muda. Dipindahtugaskan dari Surabaya khusus buat kasus ini."Nadia mengangguk padaku, senyumnya sopan tapi tipis. Tidak ada lagi tatapan aneh waktu pertama ketemu. Atau mungkin aku yang terlalu sibuk memperhatikan tumpukan berkas untuk menyadari.Aku duduk di sudut ruangan, mencatat jadwal, menyusun map, menuangkan air mineral untuk tiga orang yang terlalu fokus berdebat soal angka untuk ingat minum sendiri."Margin distribusi tiga belas persen," kata Nadia, membacakan dar







