Compartir

Part 4

Autor: Umi Kulsum
last update Fecha de publicación: 2026-09-17 10:08:06

Claire membalas pesan itu keesokan paginya, sebelum matahari benar-benar naik, Boleh. Jam makan siang?

Jawaban Sophie datang dalam lima detik. Iya. Aku ke sana jam 12. Jangan makan duluan!

Sepanjang pagi, Claire berusaha bekerja seperti orang normal, menyelesaikan arsip dari Mia, membaca data kampanye, dan hanya tiga kali menoleh ke ujung lorong tempat pintu kaca itu berdiri. Ethan tidak keluar dari ruangannya sampai menjelang tengah hari, dan ketika ia melintas sebentar ke ruang tim untuk mengambil berkas, ia dan Claire sama-sama berpura-pura sibuk dengan layar masing-masing. Mia sempat melirik aneh, tapi tidak bertanya.

Tepat jam dua belas, lift di lantai dua belas terbuka, dan seorang perempuan muda keluar dengan gaya berjalan yang sama sekali tidak cocok dengan koridor kantor LUMIÈRE. Ia memakai kaus longgar, jaket denim yang terlalu besar, dan sepatu kanvas yang ujungnya sudah pudar. Rambutnya diikat asal, dan begitu matanya menemukan Claire, ia langsung melambaikan tangan dengan seluruh lengannya, sampai jaketnya ikut terangkat.

"Kak Claire!"

Seluruh ruangan menoleh. Mia mengangkat alis sampai hampir menyentuh rambutnya.

"Sophie?" Claire buru-buru menyingkirkan berkas dan berdiri. Ia baru dua kali melihat wajah itu, dua kali dalam foto yang ditunjukkan Ethan bertahun-tahun lalu, dan ia belum selesai mengucapkan namanya ketika gadis itu sudah menghampirinya dan memeluknya singkat, tanpa ragu.

Claire membeku. Mereka belum pernah bertemu sebelumnya.

"Kamu kaku banget," kata Sophie, melepaskan pelukan dan menatapnya dari ujung kepala sampai kaki. "Kak Ethan bilang kamu nggak berubah, dan dia benar. Kamu masih kelihatan kayak orang yang kebingungan tapi nggak mau ngaku."

"Aku... kita belum pernah ketemu."

"Aku tahu." Sophie mengangkat bahu. "Tapi aku udah dengar soal kamu cukup lama untuk merasa kayak udah kenal. Kakakku itu nggak banyak cerita, tapi kalau dia cerita soal kamu, matanya beda. Jadi aku mengambil kesimpulan sendiri."

Claire tidak tahu harus tertawa atau tersinggung. "Dan nomor teleponku, kamu dapat dari mana?"

"Dari ponsel kakakku. Aku curi waktu dia mandi." Sophie menyeringai tanpa rasa bersalah. "Jangan bilang dia. Nanti aku kena marah."

"Bagaimana Ethan beritahu kamu kalau aku kerja di sini?"

"Kemarin malam, dia pulang ke rumah buat ambil berkas, mukanya keliatan seneng tapi agak suram juga, pokoknya campuran gitu, terus aku ganggu dia sampai dia ngomong." Sophie menyeringai. "Dia kelihatan sebel, tapi dia nggak bilang 'jangan temui dia'. Jadi menurutku boleh."

...

Waktu istirahat, mereka turun ke kafe kecil di seberang gedung, tempat yang cukup jauh dari kantor tapi masih bisa dijangkau dalam sepuluh menit berjalan. Sophie memesan dua porsi makanan berat beserta teh dingin dan dua potong kue, mengabaikan protes Claire. Sepanjang makan, Sophie berbicara tanpa jeda, tentang kampusnya, tentang kucing yang ia pelihara diam-diam di apartemen, tentang betapa leganya ia karena akhirnya bisa bertemu Claire lagi.

"Kamu tahu, nggak?" katanya tiba-tiba, menusukkan garpu ke kue. "Kakakku suka cerita soal kamu kalau dia pulang ke rumah."

Claire menghentikan suapannya. "Kapan?"

"Kira-kira tiga tahun lalu, waktu kalian masih pacaran." Sophie mengangkat bahu. "Waktu itu, dia pulang ke rumah kayak punya tekad, terus aku tanya kenapa. Dia bilang, 'Aku ketemu orang yang bikin aku pengin jadi orang biasa.' Waktu aku tanya siapa, dia nggak mau jawab. Tapi habis itu aku sering lihat dia senyum sendiri kalau megang ponsel. Jadinya aku selidiki dia dan tahu kamu jadi penyebabnya. Terus dia sering cerita deh."

Claire menatap kuenya. Dadanya terasa aneh, hangat dan ngilu sekaligus.

"Lalu dua tahun lalu, semuanya berubah," lanjut Sophie, dan nada bicaranya yang riang mulai surut. "Kak Ethan jadi... beda. Dia berhenti pulang ke rumah besar. Dia pindah dari apartemennya yang dulu. Kalau ada acara keluarga, dia datang, tapi dia diam. Kayak ada sesuatu yang berat di dirinya."

Claire mengangkat kepala. "Sejak kapan tepatnya?"

Sophie berpikir. "Sekitar... dua tahun lalu. Ada satu malam, aku dengar dia bertengkar hebat sama Ayah. Aku nggak sengaja dengar dari balik pintu, dan aku cuma nangkap sedikit. Ayah bilang, 'Kamu harus pilih.' Dan Kak Ethan bilang sesuatu yang bikin Ayah diam. Abis itu kakakku keluar, dan sejak itu dia jarang pulang ke rumah."

Claire menelan ludah. Dua tahun lalu. Tepat setelah jam itu pecah. Tepat setelah mereka putus.

"Kamu nggak pernah tanya?" katanya pelan.

"Aku udah coba." Sophie menghela napas. "Keluarga Callahan itu kalau soal beginian kayak tembok. Semua orang tahu ada yang nggak beres, tapi nggak ada yang mau ngomong. Aku cuma tahu satu hal, setelah malam itu, jam antik kakek jadi masalah besar. Aku dengar jam itu rusak, katanya jatuh, dan Kakek William marah banget selama berminggu-minggu. Tapi anehnya, semuanya ngelarang aku nanya. 'Jangan dibahas,' kata mereka. Padahal itu cuma jam."

Claire menggenggam erat gelasnya. Katanya jatuh. Jadi tidak ada yang tahu bagian sebenarnya, bahwa dirinyalah yang menjatuhkannya. Atau ada yang tahu, dan sengaja menyembunyikannya. Ia ingin berkata sesuatu, ingin menjelaskan, tapi tenggorokannya kering.

"Kak." Sophie menatapnya dengan mata yang tiba-tiba jauh lebih dewasa dari wajahnya. "Aku tahu kamu sama kakakku putus. Aku nggak tahu kenapa, dan aku nggak mau memaksa kamu cerita. Tapi kalau alasan kalian putus itu memang ada hubungannya sama keluarga kami... aku cuma mau bilang, aku nggak akan ikut-ikutan nyalahin kamu. Aku cuma pengin tahu apa yang sebenarnya terjadi."

Sebelum Claire bisa menjawab, ponsel Sophie bergetar. Ia meliriknya, meringis, dan mengangkat layar ke arah Claire. Di layar itu tertera satu nama, Kak Ethan. Dan di bawahnya, satu pesan singkat yang terbaca jelas dari tempat Claire duduk.

Kamu ketemu Claire? Pulang sekarang. Kita perlu bicara.

Sophie menelan ludah. "Kayaknya aku kena masalah."

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Mantan Pacarku Rekan Kerjaku   Part 13

    Jamuan bulanan LUMIÈRE diadakan di ruang makan besar lantai dua, tempat yang biasanya hanya dipakai kalau ada tamu penting. Claire datang dengan gaun sederhana yang ia pinjam dari Mia, dan sepanjang jalan menuju gedung ia berpesan pada dirinya sendiri untuk tidak bicara lebih dari yang perlu. Ia tidak duduk di meja kedua bersama anggota tim seperti biasa. Atas undangan Adrian, ia duduk di meja utama, cukup dekat untuk melihat semuanya. Di ujung meja, William Callahan duduk seperti patokan yang menjaga arah. Di sebelah kanannya Alexander Callahan, sang CEO, dengan punggung tegak dan wajah yang tidak banyak berubah. Di sebelah Alexander, seorang perempuan elegan yang Claire kenali dari acara ulang tahun, Victoria Callahan, istri Alexander, ibu Ethan. Ia tersenyum sopan sepanjang malam, tetapi matanya bergerak seperti orang yang menghitung setiap pergeseran di ruangan. Di sisi lain meja, Edward Callahan bercerita dengan santai, dan di sampingnya Adrian mendengarkan dengan penuh per

  • Mantan Pacarku Rekan Kerjaku   Part 12

    Keesokan paginya, Claire masuk kerja lebih awal, tetapi bukan pekerjaan yang menyambutnya. Sebuah pengumuman resmi sudah menunggu di kotak masuk tim, proyek kampanye Warisan akan berada di bawah koordinasi Kantor Strategi, dengan Adrian Callahan sebagai penanggung jawab. Tim Brand Marketing tetap terlibat, tetapi arah dan kurasi akhir akan ditinjau oleh Kantor Strategi. Claire membaca kalimat itu tiga kali, lalu menatap ruangan. Mia sedang membaca hal yang sama di layarnya, dan ketika mata mereka bertemu, Mia hanya mengangkat bahu, ekspresi yang jelas berarti aku juga nggak tahu apa-apa. Sore itu seluruh tim dipanggil ke ruang rapat besar. Bukan oleh Ethan. Di depan ruangan sudah berdiri Adrian Callahan, tenang seperti biasa, dengan berkas rapi di tangan. Ia tersenyum kepada semua orang seperti seorang senior yang baik hati, dan ia menyapa satu per satu, mengingat nama, menanyakan hal kecil. Claire memperhatikan bahwa ia melakukan itu dengan cara yang membuat orang merasa diharg

  • Mantan Pacarku Rekan Kerjaku   Part 11

    Claire memotret ukiran itu dengan ponselnya, tiga kali, dari tiga sudut, sampai ia yakin huruf-huruf kecil di kaca itu benar-benar ada dan bukan halusinasi karena terlalu lama menatap dokumen tua. Lalu ia mengembalikan foto itu ke dalam kotak tanpa label, menutupnya rapi, dan duduk di kursi kayu sambil menatap dinding. E. V. 1963. Dua huruf dan satu tahun. Seluruh sejarah LUMIÈRE yang ia baca selalu berbicara tentang Callahan. Tidak ada E.V. di mana pun. Claire tahu ia seharusnya bertanya pada Ethan. Ia juga tahu bahwa setiap kali ia membuka topik tentang jam itu, Ethan akan memberikan jawaban setengah, lalu menutupinya kembali. Dan Claire sudah terlalu sering berhadapan dengan pembicaraan yang setengah-setengah itu. Maka ia memilih jalannya sendiri. Di kantor, pekerjaan kampanye Warisan berjalan seperti biasa. Claire menyusun garis waktu perusahaan, mengumpulkan foto lama, dan membaca laporan tahunan selama puluhan tahun. Dari situ ia belajar satu hal, LUMIÈRE berdiri pada 1

  • Mantan Pacarku Rekan Kerjaku   Part 10

    Claire menyimpan kartu nama Adrian Callahan di laci meja kantornya, di bawah tumpukan sticky note yang tidak pernah ia pakai. Ia tidak bermaksud menghubunginya. Ia hanya tidak sanggup membuangnya, karena membuangnya berarti berpura-pura percakapan itu tidak pernah terjadi.Selama beberapa hari sesudah acara, hidupnya kembali berjalan dalam ritme yang biasa saja, pagi di kantor, siang bersama arsip, sore pulang. Ia dan Ethan bicara tentang pekerjaan dengan efisien, sesekali diwarnai keheningan yang tidak lagi terasa canggung, melainkan lelah. Keduanya tahu ada sesuatu yang belum selesai, dan keduanya memilih bekerja seolah tidak ada.Namun Claire memperhatikan satu perubahan. Sejak malam acara, Ethan lebih jarang meninggalkan ruangannya sendirian. Ia tidak pulang lebih dulu jika Claire masih lembur, atau memastikan ada anggota tim lain di ruangan sampai Claire pergi. Ia tidak pernah menjelaskannya. Ia hanya melakukannya, tanpa rencana.Hari Kamis, ketika Claire sedang bekerja di rua

  • Mantan Pacarku Rekan Kerjaku   Part 9

    Claire menatap pesan itu hampir sepuluh menit tanpa membalas. Ia bisa merasakan bahwa ini bukan kebetulan. Peringatan Ethan baru kemarin, dan hari ini seseorang dari keluarganya menghubunginya langsung, bukan lewat kantor, bukan lewat pertemuan resmi, tetapi lewat pesan pribadi pada malam hari. Ia menaruh ponselnya telungkup, lalu mengambilnya lagi. Akhirnya ia menulis satu balasan singkat, "Anda siapa?" Jawabannya datang cepat. "Aku sepupu Ethan. Anak dari adik ayahnya. Aku juga akan hadir di acara ulang tahun LUMIÈRE minggu depan. Kalau kamu tidak keberatan, mungkin kita bisa berkenalan sebentar di sana." Claire tidak membalas malam itu. Ia menyimpan nama itu di kepalanya dan berjanji akan memberitahu Ethan. Entah kenapa, ia merasa penting untuk tidak menyembunyikannya. Namun sebelum ia sempat, acara itu datang lebih cepat dari yang ia duga. Aula acara LUMIÈRE dihias sederhana, lampu hangat, warna netral, dan di dinding-dindingnya dipasang foto lama perusahaan dalam bingka

  • Mantan Pacarku Rekan Kerjaku   Part 8

    Kecurigaan Mia tidak datang dalam bentuk interogasi. Ia datang pelan-pelan, seperti air yang merembes, dan Claire menyadarinya terlambat. Pagi berikutnya, Mia menaruh dua gelas kopi di meja, satu untuk dirinya, satu untuk Claire, lalu duduk di kursi kosong di sampingnya dengan santai yang terlalu dipikirkan. Ia menyeruput kopinya, menatap langit-langit, dan untuk beberapa detik tidak bicara. Claire tahu gaya itu. Mia hanya bersikap santai kalau ia sedang menahan sesuatu. "Aku perhatikan sesuatu," katanya. "Bahaya," jawab Claire, tidak mengangkat mata dari layar. "Kemarin, kamu lembur sama Team Leader sampai jam sembilan." Mia menyeruput kopinya lagi. "Dan hari ini, di lift, dia bilang 'hati-hati, lantainya licin' ke kamu, padahal lantainya kering. Nggak ada yang dia bilang begitu ke aku. Nggak ada yang dia bilang begitu ke siapa pun." Claire menghentikan gerakan tangannya. Jantungnya berdebar sekali, terlalu keras untuk ukuran kalimat sesederhana itu. "Dia bilang itu ke semu

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status