Share

Part 5

Author: Umi Kulsum
last update publish date: 2026-09-17 10:08:18

Sophie pulang seperti yang diminta, setelah lebih dulu memeluk Claire lagi dan berjanji menelepon nanti. Claire kembali ke kantor dengan kepala penuh, dan sepanjang sore ia gagal membaca satu dokumen pun dengan benar. Dalam kepalanya, tiga kalimat berputar bergantian, kamu harus pilih, katanya jam itu jatuh, dan suara Ethan kemarin, bukan alasan sebenarnya kita putus.

Menjelang jam enam, saat semua orang mulai beringsut pulang, ponsel Claire menyala. Sebuah pesan dari nomor yang belum ia simpan, tetapi kini ia tahu siapa.

Kafe Bloom, jalan di belakang stasiun. Jam 7. Tempat kita dulu. Kalau kamu masih mau.

Claire menatap pesan itu sampai layarnya meredup sendiri. Ia bisa saja mengabaikannya. Bisa saja memilih pulang, mandi, dan pura-pura hari ini seperti hari biasa. Tapi ia sudah dua tahun menunggu kalimat yang baru saja diucapkan Ethan kemarin. Ia tidak akan lari sekarang.

Kafe Bloom ternyata masih berdiri. Masih kecil, masih redup, masih dengan lampu kuning dan meja kayu yang sudutnya tanggal catnya. Claire berdiri di depan kafe memperhatikan bangunan itu, dan detik ia melangkah masuk, bau kopi sangrai itu menabraknya dengan begitu banyak kenangan sampai ia harus berhenti sejenak di ambang pintu. Meja di sudut dekat jendela masih ada. Dulu, itu tempat mereka.

Ethan sudah duduk di sana.

Ia mengenakan kemeja biasa, bukan kemeja kerja. Tanpa dasi, tanpa jaket. Claire merasa sedang melangkah ke dalam dua tahun yang lalu, dan lelaki di meja itu hanya Ethan, bukan team leader, bukan pewaris LUMIÈRE, hanya orang yang pernah ia kenal lebih baik dari siapa pun.

Ia duduk, dan untuk beberapa detik tidak ada yang berbicara.

"Aku pesan kopi untukmu," kata Ethan akhirnya. "Yang biasa. Kalau kamu masih suka."

"Aku masih suka." Claire mendorong cangkirnya sedikit ke tengah, tidak menyentuhnya. Claire hampir berterima kasih, lalu menahan diri, karena berterima kasih kepada orang yang membuatnya kehilangan dua tahun terasa seperti mengkhianati dirinya sendiri, meskipun kopinya benar-benar pas. "Ayo bicara. Aku tidak datang ke sini untuk minum kopi."

Ethan mengangguk pelan, seolah ia sudah menduga itu. Ia menatap meja, lalu menatap Claire, dan untuk pertama kalinya sejak pertemuan mereka di kantor, tidak ada atasan di balik wajahnya.

"Jam antik itu pecah," katanya. "Dan aku marah. Aku akui itu. Tapi marah bukan alasan aku memutuskan hubungan kita."

"Begitu katamu," kata Claire, tegang. "Lalu apa?"

"Ada masalah." Ethan memilih kata-katanya dengan hati-hati. "Di keluargaku. Di perusahaan. Bukan sesuatu yang aku bisa jelaskan semuanya sekarang, karena aku sendiri hanya tahu sebagiannya."

"Yang kamu tahu tentang aku?"

"Yang aku tahu," kata Ethan, dan tatapannya lurus, "adalah malam itu tidak sesederhana jam yang pecah. Ada hal lain yang terjadi pada malam yang sama. Dan orang-orang yang aku pikir akan berdiri di sisiku... ternyata tidak."

Claire menunggu lanjutannya, tapi lanjutan itu tidak datang. Ethan berhenti di situ, seperti menutup pintu setengah jalan.

"Kamu tahu itu menjengkelkan, kan?" katanya. "Kamu buka pintunya sedikit, lalu kamu tutup lagi. Ethan, aku bukan anak kecil yang perlu dilindungi dari cerita."

"Aku tahu."

"Maka bicara."

"Aku belum bisa."

"Belum bisa, atau belum mau?" Claire mencondongkan badan, dan untuk sesaat ia lupa sedang berada di kafe kecil yang penuh pelanggan. "Dua tahun aku percaya bahwa aku yang menghancurkan segalanya. Dua tahun aku bangun tengah malam dan berpikir, kalau saja tanganku tidak ceroboh, kalau saja aku lebih hati-hati..." Ia berhenti, menelan ludah. "Dan kamu? Kamu tahu itu bukan salahku sepenuhnya, dan kamu diam saja."

Ethan tidak membantah. Wajahnya tegang, dan untuk pertama kalinya Claire melihat sesuatu yang mirip penyesalan tanpa topeng.

"Aku mengakhiri semuanya karena aku pikir itu cara terbaik menjauhkanmu dari masalahku," katanya. "Aku salah. Aku tahu itu sekarang. Tapi waktu itu... aku hanya melihat satu cara."

"Kamu memutuskan untukku." Claire bersuara lebih pelan sekarang, dan justru itu yang membuat kalimatnya terasa lebih berat. "Kamu tidak bertanya apa yang aku mau. Kamu memutuskan bahwa aku lebih baik dijauhkan, dan kemudian kamu tinggalkan aku dengan potongan cerita yang salah. Kamu tahu berapa lama aku menyalahkan diriku?"

"Aku tahu." Ethan menatapnya, dan ada sesuatu di matanya yang lebih tua dari umurnya. "Dan aku tidak akan minta kamu memaafkanku untuk itu. Aku cuma minta kamu tahu bahwa apa yang terjadi malam itu, jam, pertengkaran, semuanya, bukan salahmu. Sama sekali bukan salahmu."

Kalimat itu semestinya melegakan. Tetapi yang Claire rasakan justru amarah yang dingin, karena lega dan marah bisa datang bersamaan, dan ia belum tahu mana yang harus ia pegang.

"Kalau bukan salahku," katanya, "salah siapa?"

Ethan membuka mulut.

Dan ponsel di atas meja bergetar.

Kedua mata mereka jatuh ke layar yang menyala. Nama yang tertera di sana membuat wajah Ethan berubah seketika, bukan marah, bukan panik, tetapi semacam kewaspadaan yang membuat Claire merinding tanpa tahu sebabnya. Ia tidak sempat membaca seluruhnya, hanya satu kata terakhir sebelum Ethan menelungkupkan ponsel itu dengan tangannya, *...paman.*

"Aku harus pergi," kata Ethan. Ia berdiri, dan untuk sejenak tampak ragu.

Sebelum berbalik, ia menatap Claire lama sekali.

"Claire. Dengarkan aku sekali ini saja." Suaranya turun, nyaris berbisik. "Kalau nanti ada orang dari keluargaku yang mendekatimu, atau mengajakmu bicara dengan alasan apa pun, tolong jangan percaya begitu saja."

Claire menatapnya, darahnya berdesir. "Apa maksudmu? Siapa yang akan mendekatiku?"

Ethan tidak menjawab. Ia melangkah keluar dari kafe itu, meninggalkan Claire duduk sendirian dengan kopi yang belum tersentuh dan tangan yang dingin.

Di luar jendela, hujan mulai turun tipis, membasahi aspal dan menyamarkan gelap. Ia hampir beranjak mengambil tasnya ketika matanya menangkap sesuatu di seberang jalan, sebuah mobil hitam yang berhenti dengan lampu menyala, dan seorang lelaki berdiri di sampingnya tanpa payung, menatap lurus ke arah kafe.

Pandangan itu bertemu pandangan Claire.

Lelaki itu tidak tersenyum, tidak melambai, tidak bergerak. Ia hanya berdiri di sana beberapa detik, menatap kafe, lalu masuk ke dalam mobil, dan mobil itu menghilang ditelan hujan.

Claire menahan napas. Ia menunggu sampai mobil itu benar-benar hilang, lalu meletakkan uang di meja dan berjalan keluar. Hujan membasahi rambutnya, dan ia tidak mempercepat langkah. Sepanjang jalan pulang, ia tidak bisa berhenti memikirkan dua hal, siapa lelaki itu, dan kenapa Ethan menyuruhnya jangan percaya pada keluarganya sendiri.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Mantan Pacarku Rekan Kerjaku   Part 15

    Ethan memilih tempatnya dengan hati-hati. Bukan kafe, bukan taman, bukan kantor. Ia membawa Claire ke sebuah gedung parkir lama di pinggir kota, tempat lantai paling atas menghadap lampu-lampu jalan yang memanjang seperti sungai yang membeku. Ia memarkir mobil, mematikan mesin, untuk beberapa saat keduanya hanya menatap kota di bawah mereka. "Aku tidak akan bertanya kenapa kita di sini," kata Claire. "Tidak ada yang mengikuti kita di sini. Tidak ada kamera yang aku tahu. Dan tidak ada dinding tipis." Ethan menatap kemudi. "Aku sudah lama ingin memberitahumu semuanya, Claire. Sejak hari pertama aku melihatmu berdiri di lobi gedung itu. Tapi setiap kali aku mencoba, aku ingat apa yang mereka katakan, dan aku berhenti." "Katakan sekarang." Ethan menarik napas, dan ia mulai. Dua tahun lalu, kata Ethan, ada dua hal yang terjadi bersamaan. Yang pertama adalah ancaman. Surat-surat itu, foto-foto itu, dan satu panggilan terakhir yang datang ke ponselnya sore hari, sebelum Claire nai

  • Mantan Pacarku Rekan Kerjaku   Part 14

    Kalimat Victoria Callahan menempel di kepala Claire sepanjang malam, dan pada Senin pagi ia sudah mengambil keputusan. Ia tidak akan bertanya pada Ethan. Ia juga tidak akan menunggu William Callahan memanggilnya. Ia akan mencari jawabannya sendiri, lewat cara yang paling sederhana, mengingat kembali siapa saja yang pernah mendekatinya tanpa alasan. Pertama, arsip. Kotak yang ia butuhkan sudah dipindahkan ke Kantor Strategi, tetapi Claire menyimpan salinan digital dari sebagian besar dokumen yang pernah ia buka, di laptopnya sendiri, dalam folder yang diberi nama membosankan, Kampanye Warisan Draf, karena hal-hal penting sebaiknya tidak dinamai penting. Di rumah, malam itu, ia membuka folder itu dan mulai menyusun garis waktu yang berbeda dari garis waktu perusahaan. Garis waktu dirinya. Dua tahun lalu, bulan-bulan sebelum jam itu pecah. Apa yang ia lakukan? Siapa yang ia temui? Ke mana ia pergi? Claire membuka catatan-catatan lamanya, pesan-pesan lama, dan pelan-pelan menyusun

  • Mantan Pacarku Rekan Kerjaku   Part 13

    Jamuan bulanan LUMIÈRE diadakan di ruang makan besar lantai dua, tempat yang biasanya hanya dipakai kalau ada tamu penting. Claire datang dengan gaun sederhana yang ia pinjam dari Mia, dan sepanjang jalan menuju gedung ia berpesan pada dirinya sendiri untuk tidak bicara lebih dari yang perlu. Ia tidak duduk di meja kedua bersama anggota tim seperti biasa. Atas undangan Adrian, ia duduk di meja utama, cukup dekat untuk melihat semuanya. Di ujung meja, William Callahan duduk seperti patokan yang menjaga arah. Di sebelah kanannya Alexander Callahan, sang CEO, dengan punggung tegak dan wajah yang tidak banyak berubah. Di sebelah Alexander, seorang perempuan elegan yang Claire kenali dari acara ulang tahun, Victoria Callahan, istri Alexander, ibu Ethan. Ia tersenyum sopan sepanjang malam, tetapi matanya bergerak seperti orang yang menghitung setiap pergeseran di ruangan. Di sisi lain meja, Edward Callahan bercerita dengan santai, dan di sampingnya Adrian mendengarkan dengan penuh per

  • Mantan Pacarku Rekan Kerjaku   Part 12

    Keesokan paginya, Claire masuk kerja lebih awal, tetapi bukan pekerjaan yang menyambutnya. Sebuah pengumuman resmi sudah menunggu di kotak masuk tim, proyek kampanye Warisan akan berada di bawah koordinasi Kantor Strategi, dengan Adrian Callahan sebagai penanggung jawab. Tim Brand Marketing tetap terlibat, tetapi arah dan kurasi akhir akan ditinjau oleh Kantor Strategi. Claire membaca kalimat itu tiga kali, lalu menatap ruangan. Mia sedang membaca hal yang sama di layarnya, dan ketika mata mereka bertemu, Mia hanya mengangkat bahu, ekspresi yang jelas berarti aku juga nggak tahu apa-apa. Sore itu seluruh tim dipanggil ke ruang rapat besar. Bukan oleh Ethan. Di depan ruangan sudah berdiri Adrian Callahan, tenang seperti biasa, dengan berkas rapi di tangan. Ia tersenyum kepada semua orang seperti seorang senior yang baik hati, dan ia menyapa satu per satu, mengingat nama, menanyakan hal kecil. Claire memperhatikan bahwa ia melakukan itu dengan cara yang membuat orang merasa diharg

  • Mantan Pacarku Rekan Kerjaku   Part 11

    Claire memotret ukiran itu dengan ponselnya, tiga kali, dari tiga sudut, sampai ia yakin huruf-huruf kecil di kaca itu benar-benar ada dan bukan halusinasi karena terlalu lama menatap dokumen tua. Lalu ia mengembalikan foto itu ke dalam kotak tanpa label, menutupnya rapi, dan duduk di kursi kayu sambil menatap dinding. E. V. 1963. Dua huruf dan satu tahun. Seluruh sejarah LUMIÈRE yang ia baca selalu berbicara tentang Callahan. Tidak ada E.V. di mana pun. Claire tahu ia seharusnya bertanya pada Ethan. Ia juga tahu bahwa setiap kali ia membuka topik tentang jam itu, Ethan akan memberikan jawaban setengah, lalu menutupinya kembali. Dan Claire sudah terlalu sering berhadapan dengan pembicaraan yang setengah-setengah itu. Maka ia memilih jalannya sendiri. Di kantor, pekerjaan kampanye Warisan berjalan seperti biasa. Claire menyusun garis waktu perusahaan, mengumpulkan foto lama, dan membaca laporan tahunan selama puluhan tahun. Dari situ ia belajar satu hal, LUMIÈRE berdiri pada 1

  • Mantan Pacarku Rekan Kerjaku   Part 10

    Claire menyimpan kartu nama Adrian Callahan di laci meja kantornya, di bawah tumpukan sticky note yang tidak pernah ia pakai. Ia tidak bermaksud menghubunginya. Ia hanya tidak sanggup membuangnya, karena membuangnya berarti berpura-pura percakapan itu tidak pernah terjadi.Selama beberapa hari sesudah acara, hidupnya kembali berjalan dalam ritme yang biasa saja, pagi di kantor, siang bersama arsip, sore pulang. Ia dan Ethan bicara tentang pekerjaan dengan efisien, sesekali diwarnai keheningan yang tidak lagi terasa canggung, melainkan lelah. Keduanya tahu ada sesuatu yang belum selesai, dan keduanya memilih bekerja seolah tidak ada.Namun Claire memperhatikan satu perubahan. Sejak malam acara, Ethan lebih jarang meninggalkan ruangannya sendirian. Ia tidak pulang lebih dulu jika Claire masih lembur, atau memastikan ada anggota tim lain di ruangan sampai Claire pergi. Ia tidak pernah menjelaskannya. Ia hanya melakukannya, tanpa rencana.Hari Kamis, ketika Claire sedang bekerja di rua

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status