LOGINKalimat itu menggantung di antara mereka.
Claire menatap Ethan. Ruangan itu tiba-tiba terasa terlalu kecil untuk dua orang. Lantai dua belas yang tadi penuh suara mesin kopi dan langkah kaki kini sunyi, atau mungkin hanya telinganya yang menolak mendengar apa pun selain gema kata-kata itu.
"Bukan alasan sebenarnya," ulang Claire pelan. Ia butuh mendengarnya sekali lagi, untuk memastikan ia tidak salah dengar. "Lalu apa alasan sebenarnya?"
Ethan mengalihkan pandangan ke jendela. Cahaya sore jatuh miring di wajahnya, membuat garis-garis lelah di bawah matanya terlihat lebih jelas. Ada penyesalan yang ia tahan di rahangnya, dan Claire melihatnya.
"Bukan sekarang," katanya akhirnya. "Bukan di sini."
Claire merasakan sesuatu yang panas menjalar dari dadanya ke tenggorokan. Ia sudah dua tahun menahan rasa bersalah yang tidak pernah ia mengerti sepenuhnya, dua tahun memutar ulang malam ketika jam itu pecah, mencari-cari di mana ia salah, mengapa satu kesalahan bodoh harus menghabiskan segalanya. Dan sekarang lelaki yang menutup pintu itu berdiri di depannya, mengaku tahu sebab yang sebenarnya, tetapi memilih menutup mulutnya lagi.
"Jadi kamu tahu kenapa kita putus," katanya, dan suaranya lebih tajam dari yang ia duga. "Kamu sudah tahu dua tahun ini, dan kamu diam saja?"
Ethan menoleh. Ada sesuatu di matanya, sesuatu yang mirip rasa bersalah, walau Claire menolak menamainya begitu.
"Aku tidak sedang bermain-main."
"Maka jawab sekarang." Claire melangkah maju setengah, lupa sejenak bahwa lelaki di depannya adalah atasannya. "Kamu bilang jam itu bukan alasan sebenarnya. Berarti ada alasan lain. Berarti selama ini..."
Pintu ruangan itu diketuk.
Claire tersentak dan buru-buru mundur satu langkah. Pintu terbuka, dan seorang staf dari divisi lain melongok dengan wajah panik memegang tablet. "Team Leader, maaf mengganggu. Pak Alexander minta laporan kuartal sebelum jam empat. Katanya beliau mau meninjau ulang."
Ethan mengangguk sekali, cepat, dan seluruh raut wajahnya berubah dalam sekejap, dari lelaki yang hampir membuka sesuatu menjadi atasan yang kembali memakai baju zirahnya. "Sampaikan aku akan kirim dalam tiga puluh menit."
Staf itu pergi. Ethan menatap Claire lagi, tetapi kali ini tidak ada celah di wajahnya.
"Kita bicarakan nanti," katanya. "Di luar kantor. Kalau kamu masih mau."
Claire tidak menjawab. Ia hanya mengangguk kaku, lalu keluar dari ruangan itu dengan langkah cepat, berusaha tidak berlari. Alexander. Nama itu, baru tadi ia dengar sebagai nama CEO LUMIÈRE, ayah Ethan, dari mulut Mia.
Ia pulang dengan bus yang penuh orang, berdiri sambil berpegangan pada tiang besi, dan sepanjang perjalanan ia hanya bisa memutar ulang dua kalimat. Bukan alasan sebenarnya. Dan aku akan kirim dalam tiga puluh menit, sebuah pengalihan yang terlalu rapi, terlalu terbiasa.
Di rumah, meja makan sudah penuh. Ayahnya sedang membaca koran dengan kacamata yang selalu ia salah letakkan, ibunya menaruh semangkuk sup yang mengepul, dan Ryan, yang entah kenapa sudah ada di rumah meski katanya ada kelas, menyambut Claire dengan ekspresi berlebihan.
"Nah! Pekerja kantoran pulang. Bagaimana hari pertama, Kak? Ada yang marahin? Ada yang kamu tumpahkan kopi?"
"Tidak ada," jawab Claire, duduk dan mengambil sendok.
"Wajahmu bilang ada," kata Ryan, menyeringai. "Tapi santai. Hari pertama memang begitu. Besok-besok juga."
Claire menyorongkan sup ke mulutnya, bersyukur karena rumah kecil ini tetap bisa menampungnya walau dunia di luar terasa berantakan. Ibunya, Elena, tidak bertanya apa-apa malam itu. Ia hanya menuangkan teh untuk Claire, duduk sebentar di sebelahnya, dan berkata pelan, "Kalau capek, istirahat. Jangan pura-pura kuat di rumah."
Claire hampir menangis mendengarnya.
Malam itu, berbaring di kamarnya, ia menatap langit-langit dan membuat sebuah keputusan kecil. Ia tidak akan menunggu Ethan memberitahunya. Dua tahun ia menjadi orang yang menunggu penjelasan; dua tahun ia percaya bahwa dirinya yang salah. Kalau Ethan tahu sesuatu tentang masa lalu mereka, Claire punya hak untuk tahu juga, bukan sebagai kekasih yang pernah disakiti, tetapi sebagai seseorang yang telah kehilangan dua tahun hidupnya karena cerita yang belum selesai.
Besok, ia akan menuntut jawaban itu. Dengan caranya sendiri.
Ia hampir bisa tertidur dengan tekad itu, ketika ponselnya bergetar. Sebuah nomor tak dikenal, tanpa foto profil, hanya satu pesan singkat yang membuatnya terjaga sepenuhnya.
Kak Claire? Ini Sophie. Kakakku bilang kamu kerja di kantor sekarang. Aku boleh ke sana besok? Aku ingin ketemu kamu.
Claire menatap nama itu lama sekali. *Sophie.* Ia pernah mendengar nama itu disebut-sebut oleh Ethan, bertahun-tahun lalu, sebagai adik perempuannya yang cerewet dan terlalu jujur. Ethan bahkan pernah menunjukkan satu foto di ponselnya, satu kali, dengan wajah yang ia sembunyikan cepat, seolah takut Claire bertanya terlalu banyak. Waktu itu Claire hanya tahu sedikit. Sekarang ia tahu, atau setidaknya mulai menyadari, bahwa keluarga yang disembunyikan Ethan jauh lebih besar daripada yang pernah ia bayangkan.
Sebelum menutup mata, Claire menyimpan nomor itu dengan nama "Sophie", lalu meletakkan ponselnya. Besok ia akan menjawab. Ia tidak sabar menunggu sampai besok.
Ethan memilih tempatnya dengan hati-hati. Bukan kafe, bukan taman, bukan kantor. Ia membawa Claire ke sebuah gedung parkir lama di pinggir kota, tempat lantai paling atas menghadap lampu-lampu jalan yang memanjang seperti sungai yang membeku. Ia memarkir mobil, mematikan mesin, untuk beberapa saat keduanya hanya menatap kota di bawah mereka. "Aku tidak akan bertanya kenapa kita di sini," kata Claire. "Tidak ada yang mengikuti kita di sini. Tidak ada kamera yang aku tahu. Dan tidak ada dinding tipis." Ethan menatap kemudi. "Aku sudah lama ingin memberitahumu semuanya, Claire. Sejak hari pertama aku melihatmu berdiri di lobi gedung itu. Tapi setiap kali aku mencoba, aku ingat apa yang mereka katakan, dan aku berhenti." "Katakan sekarang." Ethan menarik napas, dan ia mulai. Dua tahun lalu, kata Ethan, ada dua hal yang terjadi bersamaan. Yang pertama adalah ancaman. Surat-surat itu, foto-foto itu, dan satu panggilan terakhir yang datang ke ponselnya sore hari, sebelum Claire nai
Kalimat Victoria Callahan menempel di kepala Claire sepanjang malam, dan pada Senin pagi ia sudah mengambil keputusan. Ia tidak akan bertanya pada Ethan. Ia juga tidak akan menunggu William Callahan memanggilnya. Ia akan mencari jawabannya sendiri, lewat cara yang paling sederhana, mengingat kembali siapa saja yang pernah mendekatinya tanpa alasan. Pertama, arsip. Kotak yang ia butuhkan sudah dipindahkan ke Kantor Strategi, tetapi Claire menyimpan salinan digital dari sebagian besar dokumen yang pernah ia buka, di laptopnya sendiri, dalam folder yang diberi nama membosankan, Kampanye Warisan Draf, karena hal-hal penting sebaiknya tidak dinamai penting. Di rumah, malam itu, ia membuka folder itu dan mulai menyusun garis waktu yang berbeda dari garis waktu perusahaan. Garis waktu dirinya. Dua tahun lalu, bulan-bulan sebelum jam itu pecah. Apa yang ia lakukan? Siapa yang ia temui? Ke mana ia pergi? Claire membuka catatan-catatan lamanya, pesan-pesan lama, dan pelan-pelan menyusun
Jamuan bulanan LUMIÈRE diadakan di ruang makan besar lantai dua, tempat yang biasanya hanya dipakai kalau ada tamu penting. Claire datang dengan gaun sederhana yang ia pinjam dari Mia, dan sepanjang jalan menuju gedung ia berpesan pada dirinya sendiri untuk tidak bicara lebih dari yang perlu. Ia tidak duduk di meja kedua bersama anggota tim seperti biasa. Atas undangan Adrian, ia duduk di meja utama, cukup dekat untuk melihat semuanya. Di ujung meja, William Callahan duduk seperti patokan yang menjaga arah. Di sebelah kanannya Alexander Callahan, sang CEO, dengan punggung tegak dan wajah yang tidak banyak berubah. Di sebelah Alexander, seorang perempuan elegan yang Claire kenali dari acara ulang tahun, Victoria Callahan, istri Alexander, ibu Ethan. Ia tersenyum sopan sepanjang malam, tetapi matanya bergerak seperti orang yang menghitung setiap pergeseran di ruangan. Di sisi lain meja, Edward Callahan bercerita dengan santai, dan di sampingnya Adrian mendengarkan dengan penuh per
Keesokan paginya, Claire masuk kerja lebih awal, tetapi bukan pekerjaan yang menyambutnya. Sebuah pengumuman resmi sudah menunggu di kotak masuk tim, proyek kampanye Warisan akan berada di bawah koordinasi Kantor Strategi, dengan Adrian Callahan sebagai penanggung jawab. Tim Brand Marketing tetap terlibat, tetapi arah dan kurasi akhir akan ditinjau oleh Kantor Strategi. Claire membaca kalimat itu tiga kali, lalu menatap ruangan. Mia sedang membaca hal yang sama di layarnya, dan ketika mata mereka bertemu, Mia hanya mengangkat bahu, ekspresi yang jelas berarti aku juga nggak tahu apa-apa. Sore itu seluruh tim dipanggil ke ruang rapat besar. Bukan oleh Ethan. Di depan ruangan sudah berdiri Adrian Callahan, tenang seperti biasa, dengan berkas rapi di tangan. Ia tersenyum kepada semua orang seperti seorang senior yang baik hati, dan ia menyapa satu per satu, mengingat nama, menanyakan hal kecil. Claire memperhatikan bahwa ia melakukan itu dengan cara yang membuat orang merasa diharg
Claire memotret ukiran itu dengan ponselnya, tiga kali, dari tiga sudut, sampai ia yakin huruf-huruf kecil di kaca itu benar-benar ada dan bukan halusinasi karena terlalu lama menatap dokumen tua. Lalu ia mengembalikan foto itu ke dalam kotak tanpa label, menutupnya rapi, dan duduk di kursi kayu sambil menatap dinding. E. V. 1963. Dua huruf dan satu tahun. Seluruh sejarah LUMIÈRE yang ia baca selalu berbicara tentang Callahan. Tidak ada E.V. di mana pun. Claire tahu ia seharusnya bertanya pada Ethan. Ia juga tahu bahwa setiap kali ia membuka topik tentang jam itu, Ethan akan memberikan jawaban setengah, lalu menutupinya kembali. Dan Claire sudah terlalu sering berhadapan dengan pembicaraan yang setengah-setengah itu. Maka ia memilih jalannya sendiri. Di kantor, pekerjaan kampanye Warisan berjalan seperti biasa. Claire menyusun garis waktu perusahaan, mengumpulkan foto lama, dan membaca laporan tahunan selama puluhan tahun. Dari situ ia belajar satu hal, LUMIÈRE berdiri pada 1
Claire menyimpan kartu nama Adrian Callahan di laci meja kantornya, di bawah tumpukan sticky note yang tidak pernah ia pakai. Ia tidak bermaksud menghubunginya. Ia hanya tidak sanggup membuangnya, karena membuangnya berarti berpura-pura percakapan itu tidak pernah terjadi.Selama beberapa hari sesudah acara, hidupnya kembali berjalan dalam ritme yang biasa saja, pagi di kantor, siang bersama arsip, sore pulang. Ia dan Ethan bicara tentang pekerjaan dengan efisien, sesekali diwarnai keheningan yang tidak lagi terasa canggung, melainkan lelah. Keduanya tahu ada sesuatu yang belum selesai, dan keduanya memilih bekerja seolah tidak ada.Namun Claire memperhatikan satu perubahan. Sejak malam acara, Ethan lebih jarang meninggalkan ruangannya sendirian. Ia tidak pulang lebih dulu jika Claire masih lembur, atau memastikan ada anggota tim lain di ruangan sampai Claire pergi. Ia tidak pernah menjelaskannya. Ia hanya melakukannya, tanpa rencana.Hari Kamis, ketika Claire sedang bekerja di rua







