LOGINSenin pagi datang terlalu cepat, dan Claire menyambutnya dengan tekad sederhana, tidak memikirkan Kafe Bloom, tidak memikirkan mobil hitam di seberang jalan, dan sama sekali tidak memikirkan kalimat terakhir Ethan sebelum ia menghilang ke dalam hujan.
Ia gagal dalam ketiganya, tentu saja.
Sepanjang akhir pekan, setiap kali ia mencoba menonton televisi atau membantu ibunya merangkai bunga, kepala Claire akan kembali ke satu pertanyaan yang sama. Kalau nanti ada orang dari keluargaku yang mendekatimu, jangan percaya begitu saja. Siapa? Kenapa? Dan mengapa peringatan itu terdengar lebih seperti ketakutan daripada ancaman?
Di kantor, ia tahu jawabannya tidak akan datang dengan mudah. Ethan kembali menjadi atasan yang rapi dan terkendali. Senin pagi ia melintas di ruang tim tanpa menoleh ke meja Claire sekali pun, dan ketika rapat mingguan dimulai, ia berbicara dengan nada yang sama seperti minggu lalu, tenang, terukur, tanpa satu pun celah yang mengingatkan pada kafe itu.
Hanya di akhir rapat, semuanya berubah.
"Kita mulai persiapan kampanye musim gugur minggu ini," kata Ethan, menulis di papan tulis. Ia menggambar tiga kotak dan menghubungkannya dengan garis. "Tema besarnya bukan sekadar produk baru. Kita akan memakai momentum ulang tahun LUMIÈRE."
Anggota tim mulai mencatat. Claire mencondongkan badan sedikit, penasaran. Ia belum pernah mendengar tentang ulang tahun perusahaan dalam arsip mana pun yang ia baca.
"Enam puluh tahun," lanjut Ethan. "Tema kampanyenya 'Warisan'. Semua konten akan memakai sudut pandang sejarah perusahaan, bagaimana LUMIÈRE bertahan dari generasi ke generasi. Aku ingin sesuatu yang terasa jujur, bukan iklan biasa."
Ia lalu membagi tugas. Mia mendapat bagian sosial media, tiga anggota lain mendapat bagian foto dan video, dan ketika tiba giliran Claire, Ethan berhenti sejenak.
"Claire Bennett ikut langsung di bawah aku," katanya. "Kamu akan bantu riset dan pengarsipan."
Ruangan menjadi sunyi selama satu detik. Claire merasakan tatapan Mia di sampingnya, tapi ia tidak berani menoleh. "Baik, Team Leader."
Rapat bubar, dan seperti yang ia duga, Mia langsung menghampirinya dengan wajah penuh tanda tanya.
"Aneh," katanya pelan, sambil berpura-pura merapikan berkas. "Biasanya orang baru nggak langsung ditarik masuk proyek besar. Apalagi langsung di bawah Team Leader."
"Mungkin karena aku belum punya beban proyek lain," jawab Claire, berusaha terdengar enteng.
"Bisa jadi." Mia mengangkat bahu, tapi tatapannya menyimpan sesuatu. "Atau mungkin dia sengaja."
Claire tidak menanggapi. Ia berjalan ke meja, duduk, dan menatap layarnya. Tetapi kalimat Mia menempel di kepalanya seperti stiker yang tidak bisa dilepas.
Siang itu, Ethan memanggilnya ke ruangannya untuk briefing pertama. Claire masuk dengan langkah hati-hati, seperti orang yang memasuki ruangan berisi barang pecah belah, dan tanpa sengaja, ia langsung membuktikan perumpamaan itu dengan menabrak sudut meja kecil dekat pintu. Sebuah tempat pensil bergeser, hampir jatuh. Claire menyambar dan menahannya tepat sebelum tumpah ke lantai.
Untuk sesaat, ia dan Ethan sama-sama menatap tempat pensil itu.
"Maaf," kata Claire, dan merasa wajahnya memanas.
Ethan hanya mengangguk. "Duduk." Ia tidak menyebutkan insiden itu lagi, tetapi sudut mulutnya bergerak sedikit, satu-satunya tanda bahwa ia menahan sesuatu. Claire duduk dengan hati-hati, seperti orang yang baru selamat dari bencana. Di dalam kepalanya, Ryan tertawa sampai jatuh dari sofa. Di dunia nyata, Claire hanya tersenyum sopan dan berdoa semoga lantai gedung ini cukup kuat untuk menelannya.
Briefing berjalan profesional. Ethan menjelaskan struktur kampanye, target, dan apa yang ia butuhkan dari Claire. Ia berbicara cepat tapi jelas, dan ketika Claire mengajukan pertanyaan, pertanyaan yang benar-benar ia pikirkan, bukan sekadar bertanya agar terlihat sibuk, Ethan menatapnya dan menjawabnya dengan detail, bahkan menambahkan satu hal yang ia belum sebutkan pada rapat tadi.
"Kamu cepat menangkap," katanya di akhir, dan untuk sesaat Claire tidak tahu apakah itu pujian atau sekadar penilaian kerja.
"Aku belajar," jawabnya.
Ethan mengangguk, dan Claire berdiri untuk pergi. Ia sudah memegang map ketika suara Ethan menghentikannya.
"Claire."
Ia berbalik. Ethan menatapnya dari balik meja, dan ada semacam keraguan di wajahnya, sesuatu yang ia tahan dengan susah payah.
"Proyek ini... akan membawa kita masuk ke arsip lama. Arsip perusahaan. Termasuk arsip keluarga."
"Aku tahu," kata Claire. "Kamu yang memberiku tugas itu."
"Kalau kamu tidak nyaman, bilang sekarang." Nada suaranya lebih pelan sekarang, tanpa atasan di dalamnya. "Aku bisa meminta orang lain."
Claire menatapnya lama. Ada sesuatu dalam cara Ethan mengatakan itu, seolah ia tidak hanya berbicara tentang arsip, tetapi tentang sesuatu yang lebih dalam, yang lebih tua dari proyek ini.
"Aku bisa mengerjakannya," katanya akhirnya, tenang. "Aku bukan orang yang lari dari pekerjaan."
Ethan mengangguk. Ia tidak mendesak lagi, tetapi ketika Claire keluar dari ruangan itu, ia merasa baru saja melewati sebuah ujian tanpa tahu jawabannya benar atau salah.
Sore itu ia mulai membuka arsip perusahaan. Ada ratusan berkas di server internal, bertahun-tahun, bertumpuk dalam folder yang namanya sudah usang. Claire membuka satu per satu, dan di antara lembar-lembar laporan keuangan dan foto produk lama, ia menemukan sebuah folder yang diberi nama tidak biasa, tanpa tanggal, tanpa penjelasan, Kenangan.
Di dalamnya hanya ada satu berkas gambar. Claire membukanya, dan layarnya menampilkan foto hitam-putih berbutir, sebuah ruangan di rumah besar, dinding kayu, dan di sudut ruangan berdiri sebuah jam. Jam yang sama yang ia lihat dalam bingkai foto di rak Ethan. Utuh, belum retak, dengan pendulum tembaga yang bersinar walau dalam warna pudar.
Di bawah foto itu, seseorang menulis satu kalimat dengan tinta yang sudah menguning. Claire mencondongkan badan untuk membacanya.
"Awal dari segalanya."
Ia menatap kalimat itu lama sekali, dan belum sempat berpikir lebih jauh ketika suara langkah kaki mendekat dari belakang mejanya.
"Kamu sudah menemukannya," kata Ethan pelan, berdiri tepat di belakangnya, dan Claire tidak tahu apakah ia sedang berbicara tentang folder itu, atau tentang sesuatu yang lain.
Ethan memilih tempatnya dengan hati-hati. Bukan kafe, bukan taman, bukan kantor. Ia membawa Claire ke sebuah gedung parkir lama di pinggir kota, tempat lantai paling atas menghadap lampu-lampu jalan yang memanjang seperti sungai yang membeku. Ia memarkir mobil, mematikan mesin, untuk beberapa saat keduanya hanya menatap kota di bawah mereka. "Aku tidak akan bertanya kenapa kita di sini," kata Claire. "Tidak ada yang mengikuti kita di sini. Tidak ada kamera yang aku tahu. Dan tidak ada dinding tipis." Ethan menatap kemudi. "Aku sudah lama ingin memberitahumu semuanya, Claire. Sejak hari pertama aku melihatmu berdiri di lobi gedung itu. Tapi setiap kali aku mencoba, aku ingat apa yang mereka katakan, dan aku berhenti." "Katakan sekarang." Ethan menarik napas, dan ia mulai. Dua tahun lalu, kata Ethan, ada dua hal yang terjadi bersamaan. Yang pertama adalah ancaman. Surat-surat itu, foto-foto itu, dan satu panggilan terakhir yang datang ke ponselnya sore hari, sebelum Claire nai
Kalimat Victoria Callahan menempel di kepala Claire sepanjang malam, dan pada Senin pagi ia sudah mengambil keputusan. Ia tidak akan bertanya pada Ethan. Ia juga tidak akan menunggu William Callahan memanggilnya. Ia akan mencari jawabannya sendiri, lewat cara yang paling sederhana, mengingat kembali siapa saja yang pernah mendekatinya tanpa alasan. Pertama, arsip. Kotak yang ia butuhkan sudah dipindahkan ke Kantor Strategi, tetapi Claire menyimpan salinan digital dari sebagian besar dokumen yang pernah ia buka, di laptopnya sendiri, dalam folder yang diberi nama membosankan, Kampanye Warisan Draf, karena hal-hal penting sebaiknya tidak dinamai penting. Di rumah, malam itu, ia membuka folder itu dan mulai menyusun garis waktu yang berbeda dari garis waktu perusahaan. Garis waktu dirinya. Dua tahun lalu, bulan-bulan sebelum jam itu pecah. Apa yang ia lakukan? Siapa yang ia temui? Ke mana ia pergi? Claire membuka catatan-catatan lamanya, pesan-pesan lama, dan pelan-pelan menyusun
Jamuan bulanan LUMIÈRE diadakan di ruang makan besar lantai dua, tempat yang biasanya hanya dipakai kalau ada tamu penting. Claire datang dengan gaun sederhana yang ia pinjam dari Mia, dan sepanjang jalan menuju gedung ia berpesan pada dirinya sendiri untuk tidak bicara lebih dari yang perlu. Ia tidak duduk di meja kedua bersama anggota tim seperti biasa. Atas undangan Adrian, ia duduk di meja utama, cukup dekat untuk melihat semuanya. Di ujung meja, William Callahan duduk seperti patokan yang menjaga arah. Di sebelah kanannya Alexander Callahan, sang CEO, dengan punggung tegak dan wajah yang tidak banyak berubah. Di sebelah Alexander, seorang perempuan elegan yang Claire kenali dari acara ulang tahun, Victoria Callahan, istri Alexander, ibu Ethan. Ia tersenyum sopan sepanjang malam, tetapi matanya bergerak seperti orang yang menghitung setiap pergeseran di ruangan. Di sisi lain meja, Edward Callahan bercerita dengan santai, dan di sampingnya Adrian mendengarkan dengan penuh per
Keesokan paginya, Claire masuk kerja lebih awal, tetapi bukan pekerjaan yang menyambutnya. Sebuah pengumuman resmi sudah menunggu di kotak masuk tim, proyek kampanye Warisan akan berada di bawah koordinasi Kantor Strategi, dengan Adrian Callahan sebagai penanggung jawab. Tim Brand Marketing tetap terlibat, tetapi arah dan kurasi akhir akan ditinjau oleh Kantor Strategi. Claire membaca kalimat itu tiga kali, lalu menatap ruangan. Mia sedang membaca hal yang sama di layarnya, dan ketika mata mereka bertemu, Mia hanya mengangkat bahu, ekspresi yang jelas berarti aku juga nggak tahu apa-apa. Sore itu seluruh tim dipanggil ke ruang rapat besar. Bukan oleh Ethan. Di depan ruangan sudah berdiri Adrian Callahan, tenang seperti biasa, dengan berkas rapi di tangan. Ia tersenyum kepada semua orang seperti seorang senior yang baik hati, dan ia menyapa satu per satu, mengingat nama, menanyakan hal kecil. Claire memperhatikan bahwa ia melakukan itu dengan cara yang membuat orang merasa diharg
Claire memotret ukiran itu dengan ponselnya, tiga kali, dari tiga sudut, sampai ia yakin huruf-huruf kecil di kaca itu benar-benar ada dan bukan halusinasi karena terlalu lama menatap dokumen tua. Lalu ia mengembalikan foto itu ke dalam kotak tanpa label, menutupnya rapi, dan duduk di kursi kayu sambil menatap dinding. E. V. 1963. Dua huruf dan satu tahun. Seluruh sejarah LUMIÈRE yang ia baca selalu berbicara tentang Callahan. Tidak ada E.V. di mana pun. Claire tahu ia seharusnya bertanya pada Ethan. Ia juga tahu bahwa setiap kali ia membuka topik tentang jam itu, Ethan akan memberikan jawaban setengah, lalu menutupinya kembali. Dan Claire sudah terlalu sering berhadapan dengan pembicaraan yang setengah-setengah itu. Maka ia memilih jalannya sendiri. Di kantor, pekerjaan kampanye Warisan berjalan seperti biasa. Claire menyusun garis waktu perusahaan, mengumpulkan foto lama, dan membaca laporan tahunan selama puluhan tahun. Dari situ ia belajar satu hal, LUMIÈRE berdiri pada 1
Claire menyimpan kartu nama Adrian Callahan di laci meja kantornya, di bawah tumpukan sticky note yang tidak pernah ia pakai. Ia tidak bermaksud menghubunginya. Ia hanya tidak sanggup membuangnya, karena membuangnya berarti berpura-pura percakapan itu tidak pernah terjadi.Selama beberapa hari sesudah acara, hidupnya kembali berjalan dalam ritme yang biasa saja, pagi di kantor, siang bersama arsip, sore pulang. Ia dan Ethan bicara tentang pekerjaan dengan efisien, sesekali diwarnai keheningan yang tidak lagi terasa canggung, melainkan lelah. Keduanya tahu ada sesuatu yang belum selesai, dan keduanya memilih bekerja seolah tidak ada.Namun Claire memperhatikan satu perubahan. Sejak malam acara, Ethan lebih jarang meninggalkan ruangannya sendirian. Ia tidak pulang lebih dulu jika Claire masih lembur, atau memastikan ada anggota tim lain di ruangan sampai Claire pergi. Ia tidak pernah menjelaskannya. Ia hanya melakukannya, tanpa rencana.Hari Kamis, ketika Claire sedang bekerja di rua







