Share

Part 76

Author: Umi Kulsum
last update publish date: 2026-10-24 10:17:46

Dua minggu setelah nama Ruben dipasang, Claire dan Ethan duduk di lantai ruang tengah rumah Bennett dengan satu lembar kertas kosong di antara mereka.

"Aku sudah bilang aku yang memutuskan tanggal," kata Claire. "Jadi kamu yang membuat daftar tamu."

"Itu pembagian yang tidak seimbang."

"Kamu sendiri yang bilang kamu tidak pernah menuntut."

Ethan tertawa pelan, lalu ia mengambil pena. Di atas kertas itu, ia menulis satu kata. Keluarga.

"Aku mulai dari yang paling mudah," katanya. "Kakek. Ayah. I
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Mantan Pacarku Rekan Kerjaku   Part 132

    Jam antik itu masih berjalan. Ia berdiri di aula pameran, di atas dudukannya, di bawah dua nama yang tercetak besar. William Callahan & Eleanor Vance, Pendiri LUMIÈRE, 1963. Kacanya sudah diganti dua kali, dan pendulum tembaganya sudah tiga kali diservis, dan setiap pagi seorang petugas kebersihan melapnya dengan kain yang sama. Nell berumur lima tahun ketika ia bertanya tentang jam itu untuk pertama kalinya. Claire membawanya ke kantor pada suatu Sabtu, karena tidak ada yang bisa menjaga anak itu di rumah. Nell berjalan di aula pameran dengan langkah kecil, dan ia berhenti di depan dudukan jam. "Bu, ini apa?" "Itu jam." "Jamnya tua." "Iya. Jam itu umurnya lebih tua daripada Ibu, dan lebih tua daripada Kakek Ethan." Nell menatapnya lama. "Kenapa jamnya nggak berhenti?" Claire berjongkok di samping anaknya, dan ia memikirkan jawaban itu beberapa detik. "Karena ada orang yang memperbaikinya," katanya. "Siapa?" "Banyak orang." Claire menunjuk panel di dinding. "Itu namanya W

  • Mantan Pacarku Rekan Kerjaku   Part 131

    Departemen itu berganti nama pada awal tahun kelima, dan Claire mengumumkannya bukan di rapat dewan, tetapi di ruang departemen, di depan sembilan orang yang bekerja di situ. "Mulai bulan depan, nama departemen ini bukan Arsip dan Warisan lagi," katanya. Rose mengangkat kepala. "Jadi apa?" "Departemen Nama." Ruangan itu diam sebentar. Wes menutup kotaknya, dan ia menatap papan nama di dinding. "Kenapa bukan Arsip?" tanyanya. "Karena kata arsip membuat orang mengira kita menyimpan kertas," kata Claire. "Kita memang menyimpan kertas. Tetapi yang kita kerjakan bukan menyimpan. Yang kita kerjakan mengembalikan." "Dan kenapa bukan Warisan?" "Karena warisan itu sesuatu yang kita terima," kata Claire. "Kata itu selalu membuat orang merasa bahwa perusahaan ini punya sesuatu yang berharga yang harus dijaga. Padahal selama lima tahun, yang kita kerjakan bukan menjaga. Yang kita kerjakan membayar." Ia menulis satu kalimat di papan, dan ia menulisnya dengan spidol, seperti Wes menulis p

  • Mantan Pacarku Rekan Kerjaku   Part 130

    Anak itu lahir pada musim gugur tahun keempat, dan Claire memilih namanya tanpa rapat, tanpa diskusi panjang, dan tanpa bertanya kepada siapa pun. Ia menamainya Nell. Ethan tidak bertanya kenapa. Ia hanya menatap istrinya lama, dan ia mengangguk, dan ia mengulang nama itu dua kali seperti orang yang sedang memastikan bahwa nama itu benar. Elena menangis ketika ia mendengar nama itu, dan ia bilang satu hal yang membuat Claire tertawa. "Nenek kamu juga suka nama itu," katanya. "Ia selalu bilang, nama yang pendek biasanya punya cerita yang panjang." Nell lahir di rumah sakit kecil dekat rumah, pada pagi hari, dan Claire mengingat dua hal tentang pagi itu. Yang pertama, lampu di lorong rumah sakit terlalu terang, dan Ethan berdiri di bawah lampu itu dengan kemeja yang salah kancing. Yang kedua, suara anak itu lebih kecil daripada yang ia bayangkan, dan lebih keras daripada yang ia siapkan. Ethan memegang anak itu dengan cara yang canggung, dan ia tidak mau duduk. Ia berdiri selama

  • Mantan Pacarku Rekan Kerjaku   Part 129

    Iris Bell meninggal pada musim semi tahun ketiga, di panti di Bellwood, dalam tidurnya. Kabar itu datang dari Ruben, yang menelepon Claire pada pagi hari, dan yang bicaranya lebih pelan daripada biasanya. "Ibu Iris sudah tenang," katanya. "Ia tidak sakit. Ia cuma berhenti." Claire dan Ethan pergi ke Bellwood untuk pemakaman itu, dan mereka pergi dengan mobil, karena Ruben bilang tidak perlu buru-buru. Perjalanan itu memakan waktu hampir empat jam, dan Claire menghabiskan sebagian besar waktunya dengan menatap jendela. Di luar, kota-kota kecil lewat satu per satu, dan di setiap kota ada satu hal yang sama. Gudang yang sudah tidak dipakai, atau pabrik yang sudah berganti nama. Panti tempat Iris tinggal ada di ujung jalan, dekat danau. Bangunannya tidak besar, dan di ruang tamunya ada mesin jahit tua yang masih dipakai untuk memperbaiki seragam pegawai. Perawat yang menyambut mereka bilang bahwa Iris masih menjahit sampai dua minggu sebelum ia meninggal. "Tangannya sudah tidak kua

  • Mantan Pacarku Rekan Kerjaku   Part 128

    Cara Ethan memimpin terlihat paling jelas pada suatu Rabu, ketika ia mengambil keputusan yang membuat tiga direktur marah. Keputusannya sederhana. Ia menolak menutup satu gudang yang merugi. Gudang itu di kota kecil di selatan, dan ia mempekerjakan tiga puluh orang. Selama lima tahun, gudang itu tidak pernah menghasilkan keuntungan. Laura sudah menghitungnya tiga kali, dan tiga kali hasilnya sama. Menutup gudang itu akan menambah laba hampir dua persen. Ethan sudah pergi ke kota itu dua hari sebelumnya, dan ia pulang dengan sepatu yang berdebu. Claire melihat debu itu di lantai depan, dan ia tidak bertanya. Ia hanya menyiapkan kopi, dan Ethan meminumnya tanpa bicara. "Kamu lihat gudangnya?" tanya Claire akhirnya. "Aku lihat," kata Ethan. "Dan aku melihat kantinnya, dan aku melihat papan absennya, dan aku melihat satu orang yang sudah bekerja di situ selama tiga puluh satu tahun." "Bagaimana ia?" "Ia tidak bertanya apa-apa kepadaku," kata Ethan. "Ia hanya menyodorkan kopi, dan

  • Mantan Pacarku Rekan Kerjaku   Part 127

    Tawaran itu datang pada musim gugur tahun kedua, dan datang dengan cara yang sopan. Ethan yang menyampaikannya, dan ia menyampaikannya di rumah, di meja makan, setelah makan malam selesai. "Dewan mau menawarkan satu kursi kepadamu," katanya. Claire menaruh gelasnya. "Kursi apa?" "Kursi dewan." Ethan menatapnya. "Bukan kursi pengawas departemen. Kursi direktur penuh. Dengan hak suara." Claire tidak langsung menjawab. Ia menatap meja itu beberapa detik, dan ia memikirkan sesuatu yang sudah lama ia pikirkan. "Siapa yang mengusulkan?" "Ida Kessler," kata Ethan. "Dan dua direktur lain. Aku tidak ikut mengusulkan, karena aku tidak mau kamu dikira mendapatkannya karena aku." "Kalau kamu ikut mengusulkan, apakah kamu akan mengusulkan?" Ethan menatapnya lama. "Ya," katanya. "Dan itu sebabnya aku tidak melakukannya." Claire mengangguk, dan ia berdiri untuk mencuci gelas. Ia mencuci gelas itu dengan lambat, dan ia menyelesaikan seluruh pekerjaan itu sebelum ia menjawab. Di jendela da

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status