Beranda / Romansa / Mari Bercerai, Tuan CEO! / Chapter 1. Pesta penuh luka.

Share

Mari Bercerai, Tuan CEO!
Mari Bercerai, Tuan CEO!
Penulis: Kester

Chapter 1. Pesta penuh luka.

Penulis: Kester
last update Tanggal publikasi: 2026-07-07 08:16:10

"Sungguh pesta yang sangat meriah!" suara lantang Amora yang berdiri di ujung barisan para tamu undangan yang menghadap ke podium.

Di gedung pesta, dihiasi dekor balon berwarna merah muda yang dipenuhi oleh tamu undangan anak kecil dan orang dewasa. Amora mendapati suaminya, Vicktor sedang melangsungkan acara ulang tahun. Yang lebih menyakitkan hati Amora, dia tahu siapa wanita terbalut gaun putih gading itu yang berdiri di samping Vicktor. Wanita itu Lucy, temannya sendiri.

Dengan mengendarai mobilnya, Amora diam-diam membuntuti Vicktor Caldwell, suaminya, saat menemukan secarik kertas berupa cek, bukti pembayaran gedung seharga tiga puluh ribu dollar Amerika. Rahasia besar itu terbongkar ketika Amora merapikan ruangan kerja suaminya.

"A-Amora...." Vicktor gugup sekaligus terkejut melihat kedatangan istrinya.

"Vick, jangan sampai Amora menghancurkan acara Kelly," kata Lucy dengan nada pelan.

Semua orang kini tertuju ke arah Amora yang melangkah pelan di atas karpet merah menuju podium.

Bukan hanya kedatangan Amora yang secara tiba-tiba, tetapi tubuhnya yang bulat berisi mengubah perhatian semuanya hanya tertuju padanya.

Jantung Vicktor berdebar lebih cepat dari biasanya saat perlahan Amora naik ke podium. Tatapannya sangat tajam, mengamati wajah Vicktor lalu berpindah ke wajah Lucy, kemudian sedikit membungkukkan tubuhnya, condong ke arah anak perempuan berusia sekitar enam tahun.

"Siapa namamu?" Tanya Amora dengan lembut.

"Kelly Caldwell," jawabnya pelan. Anak perempuan itu menatap lekat Amora, terlihat sedikit takut.

Amora kembali mengangkat wajah, melempar tatapan dingin kepada Lucy.

"Amora..."

"Hai, Lucy. Lama tidak bertemu." Amora memotong suara Vicktor yang seolah ingin menenangkannya. "Bagaimana kabarmu?"

Lucy tak menjawab, diam sambil melirik Vicktor yang tampak kebingungan.

"Kenapa aku tidak diundang ke acara ulang tahun anak perempuanmu?" tanya Amora yang berusaha menahan amarahnya yang sudah menggebu-gebu bahkan ingin sekali meledak.

Namun, karena di sana banyak anak kecil, dia tidak mungkin meluapkan emosinya.

"Amora, Sayang. Aku bisa menjelaskan semuanya, tapi tidak di sini," kata Vicktor mencoba meraih tangan kanan Amora, tetapi segera Amora tepis.

"Kenapa, Vicktor. Takut orang-orang mengetahui hubungan gelap kalian berdua?" Amora tersenyum penuh rencana.

"Kumohon, Amora. Jangan merusak acara putriku," ucap Lucy yang akhirnya bersuara.

"Lalu... bagaimana dengan pernikahanku yang sudah kamu rusak, Lucy?" Amora menimpali pelan namun sinis.

Suasana pun hening sejenak.

"Ibu, kapan potong kuenya?" tanya Kelly dengan polos. Gadis kecil itu belum mengerti situasi yang sebenarnya sedang terjadi.

"Sebentar lagi," jawab Lucy tersenyum kecil.

"Kelly, aku punya hadiah untukmu." Amora merogoh kedalam tas yang dia tenteng. Sebuah kado berbentuk kotak berukuran kecil dengan tali pita merah di atasnya terlihat cantik.

"Ambilah, ini untukmu manis." tangan Amora terulur ke depan.

"Terima kasih, Bibi." Kelly tersenyum sembari meraih kotak hadiah itu.

"Silahkan lanjutkan acaranya, tapi ingat, Vicktor. Urusan kita belum selesai!" Mata rubah Amora menatap tajam ke arah kedua orang yang telah tega mengkhianatinya dari belakang.

"Dan kau, Lucy," jari telunjuk Amora tertuju ke wajah Lucy. "Wanita murahan!" Pekiknya tajam.

Setelah itu, Amora pergi dari sana, sudah cukup untuknya mengetahui kebenaran tentang Suaminya. Kini saatnya Amora menyusun rencana untuk membalas semua perbuatan mereka.

Selama ini Amora begitu percaya pada Vicktor, namun ternyata diam-diam pria itu tega mengkhianatinya. Setelah selama sepuluh tahun Amora memilih mengabdi kepada suaminya.

Bukan hanya itu, semua anggota keluarga Vicktor tinggal di kediamannya. Rumah mewah hadiah pernikahan pemberian dari Robert Shane dan Jessica Shane, kedua orangtua Amora.

Selama ini pula, Amora yang membantu menaikan derajat suaminya, memohon kepada kedua orangtuanya agar Vicktor diberikan kepercayaan untuk ikut andil mengurus perusahaan milik keluarga Shane.

Keesokan harinya, terekam oleh CCTV rumahnya, Amora dikejutkan dengan kedatangan Vicktor yang membawa pulang Lucy berserta Kelly.

"Berani sekali pria itu membawa wanita selingkuhannya!" gerutu Amora saat hendak menemui mereka.

Pintu utama di buka lebar, wajah sinis mulai muncul di hadapan Vicktor. Amora berkaca pinggang menatap nyalang ke arah Lucy.

"Amora, karena kau sudah tahu hubunganku dengan Lucy, aku mau mengajak Lucy dan Kelly tinggal di sini," ucap Vicktor begitu berani.

Bagaikan tersambar petir di siang bolong, Amora berdiri kaku menahan sesak di dada yang semakin bertambah panas.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Noor Sukabumi
hallo Kester apa kabar?msh ingat aq g?...... pasti dihatinya astaghfirulloh nih manusia nyampe gentayangan kesini juga.........
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Mari Bercerai, Tuan CEO!    Chapter 144.

    "Saya punya bukti rekaman video saat kejadian itu berlangsung," lanjut Amora, suaranya terdengar bergetar namun ada nada dingin yang tak terbantahkan di sana. "Begitu kondisi saya membaik dan saya bisa mengambil berkas pribadi saya, saya akan menyerahkan video pembunuhan itu langsung ke ruang penyidik."Dua polisi di hadapannya saling berpandangan, lalu mengangguk takzim. "Baik, Nyonya Amora. Kesaksian awal ini sudah lebih dari cukup untuk menahan Lucy dan Darius tanpa jaminan. Kami akan menunggu bukti video tersebut untuk memperkuat dakwaan pembunuhan berencana."Sementara itu, Vicktor yang berdiri di dekat pintu mendadak mematung. Wajahnya pias, matanya melebar tak percaya. "Amora... kau serius? Lucy... dia benar-benar membunuh Ayahmu?"Amora menoleh, menatap Vicktor dengan tatapan getir. "Kenapa, Vick? Kau masih tidak percaya kalau wanita yang selama ini bersamamu adalah seorang monster?""Bukan begitu, Amora. Tapi..." Vicktor memijat pelipisnya yang berdenyut kencang, mencoba menc

  • Mari Bercerai, Tuan CEO!    Chapter 143.

    "Amora! Jangan sembunyi, jalang! Kau pikir kau bisa lolos dariku?!"Suara pekikan Lucy menggema, memantul di dinding-dinding beton gedung tua yang lembap. Langkah kakinya yang menghentak kasar terdengar semakin dekat. Di sudut lain lantai lima itu, Darius sedang sibuk memeriksa beberapa jeriken di dekat tangga, mempersiapkan rencana cadangan mereka dengan senyum sinis.Amora mendekap perutnya erat-erat di balik tumpukan karung usang. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga dadanya terasa sakit. Kali ini, ia tahu Lucy tidak sedang menggertak. Wanita itu sudah benar-benar kehilangan akal sehatnya dan siap melenyapkan nyawanya secara sempurna.Suara langkah kaki Lucy berhenti tepat di depan lorong tempat Amora bersembunyi. Panik, Amora mencoba menggeser tubuhnya untuk berpindah tempat. Namun, karena penerangan yang sangat minim dan kondisi tubuhnya yang lemas, kakinya tidak sengaja menyenggol sebuah kaleng cat bekas.Prang!"Ketemu kau!"Lucy muncul dari balik kegelapan, matanya meloto

  • Mari Bercerai, Tuan CEO!    Chapter 142.

    Matahari sudah meninggi, namun hawa dingin di kediaman Maverick seolah tak mau beranjak. Setelah semalaman membiarkan amarah membakar logikanya, ketukan di pintu ruang kerja memaksa Maverick kembali ke realitas."Masuk," titah Maverick pendek. Suaranya serak.Bram, kepala pengawal pribadinya, melangkah masuk dengan wajah pias. "Tuan... kami sudah mengecek rute yang dilewati Nyonya Amora semalam."Maverick menegakkan punggung. "Lalu? Mana dia? Kenapa belum pulang?""Mobil Nyonya ditemukan di tepi jalan pertigaan arah pinggiran kota, Tuan. Mesinnya mati, tapi kunci mobil masih tertancap di sana. Nyonya... tidak ada di tempat."Jantung Maverick serasa berhenti berdetak. Rasa bersalah yang coba ia tekan sejak semalam mendadak mencuat ke permukaan, mencekik lehernya hingga terasa sesak. Kilasan pertengkaran hebat semalam berputar di otaknya. Kata-kata kasarnya, tuduhan murahan itu... Ia tahu ia lepas kendali. Ia hanya terlanjur buta oleh rasa cemburu pada Vicktor."Sialan!" Maverick mengge

  • Mari Bercerai, Tuan CEO!    Chapter 141.

    Deru mesin mobil sport milik Amora meraung membelah kesunyian malam. Jalanan kota yang mulai sepi menjadi saksi bisu bagaimana wanita itu melampiaskan seluruh rasa sesak di dadanya. Tangan kanannya mencengkeram kemudi erat-erat, sementara tangan kirinya berulang kali mengusap pipi yang basah oleh air mata.Tangisan tanpa suara itu belum benar-benar terhenti. Dadanya naik-turun menahan pasokan oksigen yang terasa menipis.Murahan.Kata itu terus berdengung di telinganya seperti kaset rusak. Kali ini, Maverick benar-benar keterlaluan. Pria itu tidak hanya menginjak harga dirinya, tetapi juga menghancurkan sisa-sisa rasa hormat yang sempat tumbuh di hati Amora."Lima puluh kali lipat?" Amora berbisik getir, tawa sarkas lolos dari bibirnya yang bergetar. "Akan kukembalikan, Maverick. Detik ini juga aku akan lepas dari nerakamu!"Pikirannya langsung berputar mencari jalan keluar. Tidak masalah jika ia harus menjual sebagian besar saham pribadinya di perusahaan. Baginya, kehilangan materi j

  • Mari Bercerai, Tuan CEO!    Chapter 140.

    Cengkeraman tangan Maverick baru terlepas saat mereka tiba di depan mobil Amora. Tanpa sepatah kata pun, Maverick merebut kunci dari jemari Amora yang masih gemetar."Mav, mobilmu—""Biar diurus anak buahku," potong Maverick pendek. Suaranya serak, dingin, dan tidak membantah. Ia memberi isyarat samar pada salah satu pria berjas hitam yang tiba-tiba muncul di area parkir, lalu membuka pintu kemudi mobil Amora dan masuk begitu saja.Amora menghela napas panjang, menahan kekesalannya sebelum akhirnya memutari mobil dan duduk di kursi penumpang.Begitu pintu tertutup, Maverick langsung menginjak pedal gas dalam-dalam. Mobil sport itu melesat membelah jalanan kota dengan kecepatan yang membuat jantung Amora berdegup kencang. Amora menoleh, mendapati rahang suaminya masih mengeras, lurus menatap jalanan di depan seolah-olah jalan aspal itu adalah musuh bebuyutannya.Keheningan di dalam kabin mobil terasa begitu mencekam dan menyesakkan."Mav, pelankan kecepatannya! Kau bisa membuat kita ke

  • Mari Bercerai, Tuan CEO!    Chapter 139.

    Cengkeraman Vicktor pada pergelangan tangan Amora terlepas paksa saat sebuah tangan kekar lain menyentaknya dengan kasar. Vicktor terhuyung selangkah ke belakang, matanya membelalak tak percaya mendapati sosok pria asing yang beberapa hari lalu sempat ia lihat sekilas di area kantor Shane Group kini berdiri kokoh di depannya.Pria itu—Maverick—menatap Vicktor dengan pandangan sedingin es, seolah-olah Vicktor tak lebih dari seekor serangga yang mengganggu jalannya.Amora memilih tetap diam. Dari posisinya, ia bisa melihat dengan jelas bagaimana rahang Maverick mengeras dan urat-urat di leher pria itu menegang. Ada kilat kemarahan yang membakar di mata abu-abu Maverick. Dia cemburu, batin Amora, ada sedikit rasa tak percaya menyeruak di hatinya melihat reaksi sehebat itu dari seorang Maverick."Kau siapa? Beraninya mengganggu urusan kami?!" bentak Vicktor sinis. Rasa percaya dirinya kembali naik. Di matanya, pria asing ini hanyalah pengganggu yang tidak tahu apa-apa tentang sejarahnya d

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status