Share

Chapter 139.

Author: Kester
last update publish date: 2026-07-27 13:08:55

Cengkeraman Vicktor pada pergelangan tangan Amora terlepas paksa saat sebuah tangan kekar lain menyentaknya dengan kasar. Vicktor terhuyung selangkah ke belakang, matanya membelalak tak percaya mendapati sosok pria asing yang beberapa hari lalu sempat ia lihat sekilas di area kantor Shane Group kini berdiri kokoh di depannya.

Pria itu—Maverick—menatap Vicktor dengan pandangan sedingin es, seolah-olah Vicktor tak lebih dari seekor serangga yang mengganggu jalannya.

Amora memilih tetap diam. Dari
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Mari Bercerai, Tuan CEO!    Chapter 139.

    Cengkeraman Vicktor pada pergelangan tangan Amora terlepas paksa saat sebuah tangan kekar lain menyentaknya dengan kasar. Vicktor terhuyung selangkah ke belakang, matanya membelalak tak percaya mendapati sosok pria asing yang beberapa hari lalu sempat ia lihat sekilas di area kantor Shane Group kini berdiri kokoh di depannya.Pria itu—Maverick—menatap Vicktor dengan pandangan sedingin es, seolah-olah Vicktor tak lebih dari seekor serangga yang mengganggu jalannya.Amora memilih tetap diam. Dari posisinya, ia bisa melihat dengan jelas bagaimana rahang Maverick mengeras dan urat-urat di leher pria itu menegang. Ada kilat kemarahan yang membakar di mata abu-abu Maverick. Dia cemburu, batin Amora, ada sedikit rasa tak percaya menyeruak di hatinya melihat reaksi sehebat itu dari seorang Maverick."Kau siapa? Beraninya mengganggu urusan kami?!" bentak Vicktor sinis. Rasa percaya dirinya kembali naik. Di matanya, pria asing ini hanyalah pengganggu yang tidak tahu apa-apa tentang sejarahnya d

  • Mari Bercerai, Tuan CEO!    Chapter 138.

    Bugh! Bugh!Dua pukulan mentah mendarat telak di wajah Darius hingga pria itu tersungkur ke lantai teras kayu. Vicktor tidak peduli lagi pada pistol di tangan Darius yang sudah terjatuh, tidak peduli pada jeritan histeris Lucy yang memohon agar ia berhenti. Nafas Vicktor memburu, dadanya naik turun dihantam badai murka yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya."Kau dan bajingan ini... benar-benar sampah!" desis Vicktor dengan suara rendah yang bergetar menahan amarah.Ia menatap Lucy yang bersimpuh memeluk Kelly. Tatapan Vicktor begitu dingin, seolah wanita di hadapannya tak lebih dari seonggok kotoran. Tanpa mengucapkan sepatah kata lagi, Vicktor berbalik. Ia melangkah lebar meninggalkan rumah tua itu, mengabaikan teriakan panggilan Lucy yang menangis sekencang-kencangnya.Di dalam mobil, Vicktor mencengkeram kemudi hingga buku-buku jarinya memutih. Pikirannya kalut. Kepalanya terasa mau pecah.Bodoh! Kau sangat bodoh, Vicktor! rutuknya pada diri sendiri.Ingatannya berputar ke

  • Mari Bercerai, Tuan CEO!    Chapter 137.

    "Daddy! Mommy! Tolong aku! Aku takut" teriak Kelly dengan suara serak karena terlalu banyak menangis.Penculik itu mendengus di balik maskernya. Ia mengacungkan pistolnya ke arah kepala Kelly. "Jangan banyak drama. Serahkan koper itu sekarang!" gertaknya dengan suara yang disamarkan.Vicktor maju beberapa langkah, meletakkan koper itu di atas lantai teras kayu, lalu mendorongnya perlahan menggunakan kaki. "Lepaskan putriku sekarang. Uangnya ada di dalam."Pria bermasker itu berjongkok dengan satu tangan tetap menodongkan pistol ke arah Kelly. Tangan satunya membuka ritsleting koper dengan cepat. Begitu koper terbuka, matanya menyipit tajam. Di bawah lapisan uang dollar teratas, ternyata hanya ada tumpukan potongan kertas koran dan uang pecahan kecil. Jumlahnya jauh dari dua ratus ribu dollar."Brengsek!"Penculik itu berteriak murka. Dengan penuh amarah, ia menendang koper itu hingga melayang ke udara, membuat isinya berhamburan berantakan di tanah. "Kau berani mempermainkanku?!"Dala

  • Mari Bercerai, Tuan CEO!    Chapter 136.

    Maverick tidak memberi Amora kesempatan untuk memprotes lebih jauh. Dengan satu gerakan mulus yang mengejutkan, ia berdiri dan langsung mengangkat tubuh Amora ke dalam gendongannya."Maverick! Turunkan aku! Apa-apaan sih?!" Amora memukul dada bidang Maverick, kakinya menendang-nendang di udara.Maverick sama sekali tidak menggubris. Ia melangkah lebar menuju ranjang, lalu menjatuhkan tubuh Amora ke atas kasur yang empuk. Sebelum Amora sempat berguling untuk kabur, tubuh besar Maverick sudah mengungkungnya dari atas, mengunci kedua tangan Amora di sisi kepalanya.Aroma maskulin yang pekat langsung mengepung indra penciuman Amora. Kesadaran mendadak menghantamnya dengan keras. Ia tahu persis ke mana arah tatapan lapar di mata suaminya itu."Aku harus ke kantor, Mav! Aku ada rapat penting jam sembilan pagi!" seru Amora panik, napasnya mulai memburu melihat jarak wajah mereka yang hanya tersisa beberapa sentimeter. "Aku harus mandi sekarang juga—""Kantor bisa menunggu, Amora. Tapi aku ti

  • Mari Bercerai, Tuan CEO!    Chapter 135.

    Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah gorden, membawa kehangatan yang perlahan mengusik tidur Amora. Ia mengerjapkan mata beberapa kali, menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya yang kian terang. Namun, begitu kesadarannya terkumpul sepenuhnya, pandangan Amora langsung tertuju pada sosok yang berada di seberang tempat tidur.Di atas sofa panjang yang terletak di sudut kamar, Maverick tampak tertidur pulas.Posisinya benar-benar berantakan. Pria itu terlentang dengan kedua kaki terbuka lebar; kaki kanannya menjuntai pasrah ke lantai, sementara kaki kirinya bertumpu pada sandaran sofa. Ia sama sekali tidak mengenakan baju, hanya celana panjang semalam yang masih melekat di tubuhnya.Amora tertegun. Detak jantungnya mendadak melewatkan satu ketukan. Mau tidak mau, ia harus mengakui satu hal: suaminya memang memiliki daya tarik yang berbahaya.Matanya menyapu lekuk tubuh Maverick. Otot-otot lengannya terlihat kekar dan tercetak jelas, bahkan dalam posisi tidur sekalipun. Pand

  • Mari Bercerai, Tuan CEO!    Chapter 134.

    Mesin mobil Vicktor menderu membelah jalanan malam yang mulai lengang. Pikirannya masih kacau, dipenuhi sisa-sisa rasa terhina setelah diabaikan oleh Amora di depan gerbang rumah wanita itu. Namun, semua kekesalan dan ego yang terluka itu mendadak menguap, digantikan oleh rasa dingin yang menjalar ke sekujur tubuh saat ponsel di dasbor bergetar hebat.Nama Lucy berkedip di layar. Begitu tombol geser ditekan, bukan suara manja yang biasa Vicktor dengar, melainkan jeritan histeris yang nyaris pecah."Vicktor! Kelly, Vick... Kelly hilang!"Cicitan rem terdengar tajam saat Vicktor refleks menginjak pedal gas lebih dalam, membuat mobilnya melesat bak anak panah. Jantungnya bergemuruh hebat. "Apa?! Jangan bercanda, Lucy! Di mana kau sekarang?!""Aku di Grand City Mall! Cepat ke sini, Vicktor... aku takut sekali!" tangis Lucy tenggelam dalam isak tangis yang tak terkendali sebelum sambungan terputus.Tanpa berpikir panjang, Vicktor memutar kemudi dengan kasar, mengabaikan rambu lalu lintas,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status