登入Deru mesin mobil sport milik Amora meraung membelah kesunyian malam. Jalanan kota yang mulai sepi menjadi saksi bisu bagaimana wanita itu melampiaskan seluruh rasa sesak di dadanya. Tangan kanannya mencengkeram kemudi erat-erat, sementara tangan kirinya berulang kali mengusap pipi yang basah oleh air mata.Tangisan tanpa suara itu belum benar-benar terhenti. Dadanya naik-turun menahan pasokan oksigen yang terasa menipis.Murahan.Kata itu terus berdengung di telinganya seperti kaset rusak. Kali ini, Maverick benar-benar keterlaluan. Pria itu tidak hanya menginjak harga dirinya, tetapi juga menghancurkan sisa-sisa rasa hormat yang sempat tumbuh di hati Amora."Lima puluh kali lipat?" Amora berbisik getir, tawa sarkas lolos dari bibirnya yang bergetar. "Akan kukembalikan, Maverick. Detik ini juga aku akan lepas dari nerakamu!"Pikirannya langsung berputar mencari jalan keluar. Tidak masalah jika ia harus menjual sebagian besar saham pribadinya di perusahaan. Baginya, kehilangan materi j
Cengkeraman tangan Maverick baru terlepas saat mereka tiba di depan mobil Amora. Tanpa sepatah kata pun, Maverick merebut kunci dari jemari Amora yang masih gemetar."Mav, mobilmu—""Biar diurus anak buahku," potong Maverick pendek. Suaranya serak, dingin, dan tidak membantah. Ia memberi isyarat samar pada salah satu pria berjas hitam yang tiba-tiba muncul di area parkir, lalu membuka pintu kemudi mobil Amora dan masuk begitu saja.Amora menghela napas panjang, menahan kekesalannya sebelum akhirnya memutari mobil dan duduk di kursi penumpang.Begitu pintu tertutup, Maverick langsung menginjak pedal gas dalam-dalam. Mobil sport itu melesat membelah jalanan kota dengan kecepatan yang membuat jantung Amora berdegup kencang. Amora menoleh, mendapati rahang suaminya masih mengeras, lurus menatap jalanan di depan seolah-olah jalan aspal itu adalah musuh bebuyutannya.Keheningan di dalam kabin mobil terasa begitu mencekam dan menyesakkan."Mav, pelankan kecepatannya! Kau bisa membuat kita ke
Cengkeraman Vicktor pada pergelangan tangan Amora terlepas paksa saat sebuah tangan kekar lain menyentaknya dengan kasar. Vicktor terhuyung selangkah ke belakang, matanya membelalak tak percaya mendapati sosok pria asing yang beberapa hari lalu sempat ia lihat sekilas di area kantor Shane Group kini berdiri kokoh di depannya.Pria itu—Maverick—menatap Vicktor dengan pandangan sedingin es, seolah-olah Vicktor tak lebih dari seekor serangga yang mengganggu jalannya.Amora memilih tetap diam. Dari posisinya, ia bisa melihat dengan jelas bagaimana rahang Maverick mengeras dan urat-urat di leher pria itu menegang. Ada kilat kemarahan yang membakar di mata abu-abu Maverick. Dia cemburu, batin Amora, ada sedikit rasa tak percaya menyeruak di hatinya melihat reaksi sehebat itu dari seorang Maverick."Kau siapa? Beraninya mengganggu urusan kami?!" bentak Vicktor sinis. Rasa percaya dirinya kembali naik. Di matanya, pria asing ini hanyalah pengganggu yang tidak tahu apa-apa tentang sejarahnya d
Bugh! Bugh!Dua pukulan mentah mendarat telak di wajah Darius hingga pria itu tersungkur ke lantai teras kayu. Vicktor tidak peduli lagi pada pistol di tangan Darius yang sudah terjatuh, tidak peduli pada jeritan histeris Lucy yang memohon agar ia berhenti. Nafas Vicktor memburu, dadanya naik turun dihantam badai murka yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya."Kau dan bajingan ini... benar-benar sampah!" desis Vicktor dengan suara rendah yang bergetar menahan amarah.Ia menatap Lucy yang bersimpuh memeluk Kelly. Tatapan Vicktor begitu dingin, seolah wanita di hadapannya tak lebih dari seonggok kotoran. Tanpa mengucapkan sepatah kata lagi, Vicktor berbalik. Ia melangkah lebar meninggalkan rumah tua itu, mengabaikan teriakan panggilan Lucy yang menangis sekencang-kencangnya.Di dalam mobil, Vicktor mencengkeram kemudi hingga buku-buku jarinya memutih. Pikirannya kalut. Kepalanya terasa mau pecah.Bodoh! Kau sangat bodoh, Vicktor! rutuknya pada diri sendiri.Ingatannya berputar ke
"Daddy! Mommy! Tolong aku! Aku takut" teriak Kelly dengan suara serak karena terlalu banyak menangis.Penculik itu mendengus di balik maskernya. Ia mengacungkan pistolnya ke arah kepala Kelly. "Jangan banyak drama. Serahkan koper itu sekarang!" gertaknya dengan suara yang disamarkan.Vicktor maju beberapa langkah, meletakkan koper itu di atas lantai teras kayu, lalu mendorongnya perlahan menggunakan kaki. "Lepaskan putriku sekarang. Uangnya ada di dalam."Pria bermasker itu berjongkok dengan satu tangan tetap menodongkan pistol ke arah Kelly. Tangan satunya membuka ritsleting koper dengan cepat. Begitu koper terbuka, matanya menyipit tajam. Di bawah lapisan uang dollar teratas, ternyata hanya ada tumpukan potongan kertas koran dan uang pecahan kecil. Jumlahnya jauh dari dua ratus ribu dollar."Brengsek!"Penculik itu berteriak murka. Dengan penuh amarah, ia menendang koper itu hingga melayang ke udara, membuat isinya berhamburan berantakan di tanah. "Kau berani mempermainkanku?!"Dala
Maverick tidak memberi Amora kesempatan untuk memprotes lebih jauh. Dengan satu gerakan mulus yang mengejutkan, ia berdiri dan langsung mengangkat tubuh Amora ke dalam gendongannya."Maverick! Turunkan aku! Apa-apaan sih?!" Amora memukul dada bidang Maverick, kakinya menendang-nendang di udara.Maverick sama sekali tidak menggubris. Ia melangkah lebar menuju ranjang, lalu menjatuhkan tubuh Amora ke atas kasur yang empuk. Sebelum Amora sempat berguling untuk kabur, tubuh besar Maverick sudah mengungkungnya dari atas, mengunci kedua tangan Amora di sisi kepalanya.Aroma maskulin yang pekat langsung mengepung indra penciuman Amora. Kesadaran mendadak menghantamnya dengan keras. Ia tahu persis ke mana arah tatapan lapar di mata suaminya itu."Aku harus ke kantor, Mav! Aku ada rapat penting jam sembilan pagi!" seru Amora panik, napasnya mulai memburu melihat jarak wajah mereka yang hanya tersisa beberapa sentimeter. "Aku harus mandi sekarang juga—""Kantor bisa menunggu, Amora. Tapi aku ti







