MasukAmora menghentakkan kakinya kesal, mengabaikan tatapan intens Maverick yang seolah menguliti setiap gerak-geriknya. Energi Amora sudah terkuras habis menghadapi Vicktor di luar sana; ia tidak punya sisa kesabaran lagi untuk meladeni kegilaan Maverick malam ini.Tanpa memedulikan interupsi pria itu, Amora menyambar handuk bersih dari lemari dan langsung melesat masuk ke dalam kamar mandi. Ia butuh air dingin untuk menyiram kepalanya yang mendidih.Lima belas menit berlalu. Amora keluar dengan kaus longgar yang nyaman. Rambut basahnya terlilit rapi di dalam handuk. Begitu melangkah ke area kamar, ia mendapati Maverick masih berada di posisi semula—duduk santai di sofa dengan gelas yang kini sudah kosong.Amora berjalan cuek menuju meja rias. Sembari menatap pantulan dirinya di cermin, ia mulai mengoleskan krim moisturizer ke wajahnya dengan gerakan teratur."Cepat katakan, kau mau apa ke sini?" ucap Amora akhirnya. Rasa lelahnya lumayan berkurang setelah diguyur air dingin, membuat bada
Vicktor menatap pintu ruang rawat Amora dengan tangan bergetar. Informasi dari dokter seolah meremukkan sisa pertahanannya. Amora hamil. Kenyataan itu menghantamnya telak, memicu rasa bersalah sekaligus dorongan kuat untuk masuk dan mendekap wanita itu.Namun, ucapan dingin Amora di kantor kembali terngiang.Vicktor memejamkan mata, menahan gejolak di dadanya. Kehadirannya hanya akan membuat emosi Amora tidak stabil, dan dokter sudah memperingatkan agar Amora tidak boleh stres. Demi keselamatan Amora dan janinnya, Vicktor memilih mundur. Dengan berat hati, ia melangkah pergi meninggalkan rumah sakit.Saat membuka mata, hal pertama yang disadari Amora adalah rasa pusing yang mendera kepalanya. Ia mengerjap, menatap sekeliling yang terasa asing, sebelum akhirnya sadar bahwa ia sedang berbaring di brankar rumah sakit."Aku di rumah sakit?" gumamnya lirih.Khawatir dengan tumpukan pekerjaan yang ditinggalkannya, Amora langsung bergeser ke tepi brankar, berniat untuk turun. Bersamaan denga
Vicktor Caldwell terpaku di depan pintu lift yang baru saja tertutup. Bayangan pria asing yang berpapasan dengannya tadi masih tertinggal jelas di benak. Aura pria itu terlalu dominan, terlalu berbahaya untuk sekadar disebut sebagai rekan bisnis. Ada kepemilikan yang mutlak dalam sorot matanya, seolah setiap jengkal lantai gedung ini adalah miliknya.Dan pria itu baru saja keluar dari arah ruangan Amora.Rasa tidak tenang mulai merayap di dada Vicktor. Ia berbalik, melangkah lebar menuju meja sekretaris di depan ruangan Direktur Utama."Siapa pria yang baru saja keluar dari ruangan Nona Amora?" tanya Vicktor tanpa basa-basi.Sekretaris itu mendongak, sedikit terkejut melihat napas Vicktor yang memburu. "Itu... tamu pribadi Nona Amora, Tuan. Beliau tidak memberitahukan namanya, tapi Nona Amora mengizinkannya masuk."Tamu pribadi? Di jam kerja?Darah Vicktor mendidih. Selama ia menjabat sebagai CEO di Shane Group, ia tahu betul siapa saja kolega Amora. Pria tadi tidak termasuk dalam daf
Langkah kaki Maverick terdengar begitu tenang, namun setiap ketukan sepatunya di atas lantai marmer terasa seperti detak jam kematian bagi ketenangan Amora. Pria itu berjalan pelan, mengikis jarak hingga kini berdiri tepat di samping meja kerja Amora.Suasana di dalam ruangan seketika berubah tegang, pekat oleh dominasi yang dibawa Maverick. Dengan santai, ia memasukkan kedua tangannya ke dalam kantong celana bahan mahalnya, menatap Amora dari ketinggian posisinya."Vicktor Caldwell," ucap Maverick. Suaranya pelan, hampir berupa bisikan, namun hawa dingin yang menyertainya sanggup membuat tengkuk Amora meremang. "Kau masih berhubungan dengannya?"Amora spontan menegakkan punggung. Ia menolak terlihat terintimidasi di markasnya sendiri. "Ya, karena dia bawahanku! Lagipula..." Dahi Amora mengernyit samar, tatapannya menaruh curiga yang besar. "Tunggu. Kau tahu Vicktor dari mana?"Maverick tidak langsung menjawab. Ia hanya mengulas senyum tipis yang tak sampai ke mata. "Apa yang tidak a
Satu hal yang Amora sadari saat terbangun pagi ini: ia melupakan sesuatu yang krusial kemarin. Ponselnya. Benda pipih itu masih berada di tangan Maverick, menyita seluruh akses komunikasinya dengan dunia luar. Namun, alih-alih meratapi nasib atau mengamuk, Amora justru merasa jauh lebih segar. Semalam, untuk kali pertama setelah sekian lama, ia bisa tidur dengan sangat pulas tanpa bayang-bayang intimidasi pria itu.Kebebasan yang direnggutnya kembali—meski harus dibayar dengan status pernikahan—membuat energi Amora pulih sepenuhnya.Amora berdiri di depan cermin besar kamarnya, mematut penampilannya dengan senyum yang akhirnya kembali terbit. Hari ini, sang Direktur Utama Shane Group harus tampil sempurna. Ia memilih setelan blazer formal berwarna emerald green yang dipadukan dengan celana kulot senada, memberikan kesan tegas namun tetap elegan untuk menyamarkan perutnya yang masih rata. Rambut panjangnya yang biasa dibiarkan tergerai, kini disanggul modern dengan menyisakan beberapa
Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah gorden kamar tamu, namun suasananya tetap terasa dingin dan mencekam. Semalam, untuk kali pertama sejak Amora terkurung di mansion mewah ini, Maverick memilih tidur terpisah. Pria itu menahan egonya dalam-dalam, mengubur hasrat dominannya karena satu alasan: ia takut membuat Amora stres dan membahayakan janin di rahimnya.Cklek.Pintu kamar terbuka tanpa ketukan. Maverick melangkah masuk membawa senampan sarapan hangat. Sebagai pemilik tunggal mansion, tentu saja ia memegang kunci serep untuk setiap jengkal ruangan di rumah itu.Matanya langsung menyapu ruangan dan menemukan Amora sedang duduk melamun di kursi balkon. Gaun tidurnya yang longgar berkibar pelan ditiup angin pagi. Langkah tegap Maverick mendekat, lalu ia meletakkan nampan di atas meja bulat yang memisahkan mereka. Ia menarik kursi di hadapan Amora dan duduk di sana."Cepat makan. Sekalian aku kupaskan buah untukmu," ucap Maverick.Amora mendongak. Untuk kali pertamanya, i







