Se connecterTiba-tiba dering ponsel milik Jessica memecah keheningan ruangan. Wanita tua itu langsung menoleh dan meraih ponselnya dengan cepat, seolah ia memang sedang menunggu panggilan itu.“Hallo, Nyonya Jessica.” Terdengar suara lembut perempuan di seberang sana. “Paspor yang Anda minta sudah siap. Apakah Anda ingin mengambilnya ke kantor kami atau pihak kami akan mengirimkannya ke rumah Anda?”Jessica menarik napas singkat. “Biar saya ambil paspornya sendiri. Terima kasih.”Tanpa memberi kesempatan lawan bicara menjawab, ia langsung mematikan sambungan telepon secara sepihak.“Mommy… untuk apa memesan paspor?” suara Amora terdengar pelan, namun penuh kecurigaan.Jessica membalikkan tubuhnya. Tatapannya langsung bertemu dengan mata putrinya yang menuntut jawaban.“Amora, kita akan meninggalkan New York. Kita sudah tidak bisa lagi tinggal di sini,” ucap Jessica, singkat, tanpa penjelasan.Kening Amora berkerut dalam.“Untuk apa kita pindah, Mommy?”Jessica menghela napas kasar, jelas tidak in
Mobil hitam itu akhirnya berhenti tepat di depan gedung megah Shane Group. Vicktor turun lebih dulu, lalu bergegas membuka pintu untuk Amora. Tatapannya penuh kekhawatiran, seolah masih belum yakin kondisi gadis itu benar-benar baik.“Pelan-pelan,” ucapnya lembut.Amora mengangguk, turun dengan langkah hati-hati. Meski tubuhnya masih terasa lemas, ia berusaha berdiri tegak. Vicktor tak jauh darinya, sesekali melirik wajah Amora, memastikan tidak ada beban lagi di sana.Begitu masuk ke dalam gedung, Vicktor langsung membawanya ke ruangan direktur utama. Pintu tertutup, suasana mendadak sunyi. Hanya ada mereka berdua.“Kamu yakin sudah membaik?” tanya Vicktor lagi, nadanya sedikit menekan.Amora tersenyum tipis, meski matanya masih menyimpan sisa ketegangan. Ia lalu bersandar di sofa, berpura-pura santai.“Jangan khawatir, Vick. Aku sudah jauh lebih baik,” jawabnya, sedikit berdrama agar pria itu berhenti cemas.Vicktor menyipitkan mata, seperti tidak sepenuhnya percaya. “Kalau kamu mem
Mobil hitam itu melaju semakin mendekat, memecah keheningan jalanan yang sejak tadi terasa mencekam. Lucy yang masih berada di balik kemudi refleks menoleh ke kaca spion. Jantungnya seolah berhenti berdetak ketika ia mengenali mobil itu.Mobil Vicktor.Mata rubahnya melebar tajam. Napas Lucy tercekat. Tangannya yang menggenggam setir mendadak dingin, keringat membasahi telapak tangannya. Sesuatu yang tak pernah ia inginkan—dan tak pernah ia bayangkan—akhirnya terjadi.Di kursi penumpang, Amora justru tersenyum samar. Senyum tipis penuh kemenangan yang nyaris tak terlihat. Rasa takut akan kematian yang sempat mencekik tenggorokannya perlahan menghilang, digantikan oleh keyakinan dingin.Ia tahu… permainan ini hampir mencapai klimaks.“Aku sudah memperingatkan kau, Lucy,” ucap Amora sambil menahan tawa. Nada suaranya nyaris mengejek, penuh sindiran yang disengaja.“Diam kau!” bentak Lucy lirih, namun penuh tekanan. Rahangnya mengeras, matanya memerah menahan emosi yang berkecamuk.Mobil
Lucy benar-benar seperti kehilangan akal sehatnya. Semua yang ia lakukan hari ini bukan lagi tentang cinta—ini tentang harga diri yang diinjak, tentang sakit hati yang berubah menjadi dendam membara. Ia tidak akan membiarkan wanita mana pun memiliki hati Vicktor lalu menari di atas penderitaan batinnya. Tidak sekarang. Tidak selamanya.Hari ini adalah hari penentuan. Hari di mana balas dendam harus dituntaskan, agar Vicktor mengerti satu hal: Lucy bukan perempuan yang bisa dibuang dan diremehkan begitu saja.“Akhirnya, aku bisa menjauh dari mobil Vicktor,” gumam Lucy dengan senyum penuh rencana. Tangannya mencengkeram setir, matanya fokus ke jalan lurus di depannya. Mobil Vicktor terlihat semakin kecil di kaca spion—cukup jauh untuk tidak bisa menghadang.“Kau lihat sendiri, bukan?” Lucy tertawa kecil, lalu semakin keras. “Aku pasti menang. Dan kau…” Ia menoleh sekilas ke arah kursi belakang. “…hanya akan menjadi gadis malang.”Tawa Lucy menggema di dalam mobil, terdengar menyeramkan,
Jantung Amora berdegup semakin cepat seiring mobil yang terus melaju tanpa arah jelas. Jalanan di depannya terasa asing, terlalu sepi untuk jam yang seharusnya masih ramai. Lampu-lampu jalanan melintas cepat, menciptakan bayangan panjang yang membuat dadanya semakin sesak.Tangannya mencengkeram tas di pangkuan dengan erat. Jemarinya dingin, berkeringat. Matanya waspada menatap punggung pria di balik kemudi—punggung yang sejak tadi terasa terlalu kaku, terlalu diam.“Pak, tolong hentikan mobilnya,” ucap Amora, kali ini lebih tegas, berusaha menahan getaran di suaranya.Tak ada jawaban.Mobil justru melaju semakin kencang. Mesin meraung seperti sengaja menantang ketakutannya.Amora menelan ludah. “Pak… saya bilang hentikan mobilnya!”Tiba-tiba, tangan di balik kemudi terangkat. Topi hitam yang sejak tadi menutupi kepala itu dilepas perlahan. Rambut panjang berwarna pirang tergerai bebas, memantulkan cahaya matahari. Disusul tawa pelan—tawa yang dingin dan penuh ejekan.Darah Amora seo
Vicktor melirik jam tangannya untuk kesekian kali. Pukul sembilan lewat lima belas. Elisha seharusnya sudah tiba sejak lima belas menit lalu. Sebelumnya, Elisha tidak pernah terlambat datang ke kantor apa lagi dalam keadaan penting seperti ini. Pria itu berdiri di balik meja kerjanya, kedua tangan bertumpu di permukaan kayu gelap itu. Pandangannya menembus jendela kaca kantor lantai dua puluh, tapi pikirannya tidak benar-benar ada di sana. Ada perasaan tidak enak yang menggelayut sejak pagi—perasaan yang sulit ia jelaskan.Ketukan ringan terdengar di pintu.“Tuan Vicktor,” suara sekretarisnya terdengar sopan. “Tamu dari luar negeri sudah menunggu.”“Suruh mereka masuk,” jawab Vicktor singkat.Ia kembali melirik ponselnya. Layar itu kosong. Tidak ada pesan. Tidak ada panggilan telepon dari Elisha.Keningnya mengernyit. “Apa Elisha tidak jadi ke kantor?” gumamnya pelan. Vicktor segera mengetik pesan pada kontak gadis itu. [El, supir yang menjemputmu sudah tiba di rumah?][Kalau kamu b







