LOGINNot wanting to accept her Fate, Annabelle tried fleeing but was caught. Being abducted by werewolves wasn't what she had expected when going into the woods. While making efforts to escape, she found out that she wasn't just kidnapped by a mere human but the leader of the blue sea Pack, Alpha of werewolves. Rejecting and being Marked by an animal was what she never believed would happen. Wondering how she could be marked by her already rejected mate, she tried all she could in order to make him detest her and send her away, but instead of sending her back home he sent her to the Pack house where she started a new life with Emily the Beta's mate. But staying away from her mate after being marked has its problems, and was she ready to bear it? What happens when she tries getting away but ended up getting abducted again by another pack of werewolves who were the rivals of the blue sea pack.
View More“Oh, jadi kamu beneran datang juga, Mbak Andin,” suara Amanda melengking nyaring dari pelaminan, cukup keras untuk membuat seluruh penghuni ballroom menoleh. Ia tersenyum tipis namun sinis.
“Andaikan aku tahu kamu akan datang,” lanjutnya, “mungkin aku harus menyiapkan kursi khusus di belakang. Kursi untuk mantan.”
Beberapa tamu mulai saling berbisik. Mata-mata menyorot ke arah pintu utama ballroom, tempat seorang wanita berdiri dengan gaun hitam sederhana namun elegan, Andini.
Suasana ballroom Hotel Sun Shine yang sebelumnya romantis—dengan musik lembut dan gemerlap lampu gantung kristal—mendadak menjadi seperti panggung drama. Kehadiran Andini mengusik kebahagiaan pesta.
Andini baru saja kembali dari Malaysia. Dan kini, apa yang dikhawatirkan selama ini terbukti benar. Sahabatnya tak berbohong, tunangannya, Bima, pria yang pernah bersumpah takkan meninggalkannya, kini berdiri gagah di pelaminan. Bersanding dengan Amanda, adik tiri yang selama ini pura-pura lugu.
“Kukira kamu sibuk dengan... ya, urusan-urusan gelapmu di Malaysia,” lanjut Amanda, matanya menyipit penuh kemenangan. “Tapi ya sudahlah, kamu kan kakakku. Jadi tetap pantas datang, walau cuma sebagai tamu yang tak diharapkan.”
Andini tidak langsung menjawab. Langkahnya pelan namun tegas menuju keramaian yang tiba-tiba lenyap. Semua perhatian tertuju padanya.
Sisi lain, Bima berdiri kaku di samping Amanda, wajahnya tegang. Namun Amanda justru semakin menjadi.
“Jangan lihat aku seperti itu, Mbak. Semua ini terjadi karena kamu,” suara Amanda menggema, menuding seolah dirinya yang jadi korban. “Kalau kamu nggak main belakang sama pria-pria tua di luar negeri, mungkin Bima nggak akan lari ke aku.”
Andini mengerutkan alis, dadanya naik turun. Tapi ia tetap diam, tidak terburu-buru membalas.
“Sudah cukup, Amanda.” Suaranya akhirnya terdengar. Tenang, namun dingin. “Selamat untuk kalian berdua. Semoga bayi di kandunganmu tumbuh sehat, adikku,” lanjut Andini dengan senyum penuh luka.
Boom.
Ballroom gempar. Beberapa tamu bahkan menjatuhkan gelasnya.
Hah? Tamu-tamu sontak berbisik.
Beberapa orang bahkan mengeluarkan ponsel untuk merekam dan menantikan apa yang terjadi.
Sebab, mereka tahu jika Andini adalah kekasih Bima. Namun entah mengapa adiknya–Amanda–yang menggantikan posisi dirinya, menjadi pengàntin Bima.
Ternyata, penyebabnya adalah hamil di luar nikah? Jadi, mereka berselingkuh?
Mendengar bisik-bisik yang melebar, Amanda dan Bima yang sudah berhasil mengendalikan diri–menatap Andini tajam.
“Andini!” bentak pria itu, “tega sekali kamu memutar balikan fakta. Jangan memfitnah kami di depan semua orang. Kami menikah karena ulahmu sendiri yang telah mengkhianatiku! Jika tak ada Amanda, aku mungkin sudah tak ada di sini. Dasar wanita murahan!”
“Murahan?” Andini mengerutkan keningnya heran. “Maksudmu, apa?”
“Jangan pura-pura polos.” Bima mendadak mengeluarkan ponselnya dan menghubungkannya dengan sistem audio ballroom hotel.
Seketika rekaman percakapan Andini dengan seorang pria asing saat ia berada di Malaysia terdengar.
[Kamu tahu Andini … wanita secantik dirimu sayang kalau cuma kerja magang di kantor. Aku bisa memberimu apartemen, mobil, dan … apapun yang kamu mau.]
[Aku … aku gak tahu. Ini bukan hal yang biasa aku lakukan.]
[Tenang saja, kamu cuma perlu menemanimu sesekali. Makan malam, perjalanan bisnis dan ya … sedikit perhatian.]
[Selama aku gak melakukan hal yang terlalu jauh.]
Seketika para tamu terdiam dan mulai menyalahkan Andini yang jelas geram dengan aksi Bima yang manipulatif.
“Lihat? Kamu sendiri yang menjual diri dan sekarang kamu malah menyalahkan kami?” ujar Bima dengan puas.
“Dasar playing victim!” potong Andini sembari tertawa sinis.
Ternyata, ini jebakannya?
Bima sudah memanipulasi rekaman suara percakapan dirinya dengan seorang pengusaha di Malaysia.
“Kamu masih mengelak?” geram Bima.
Andini menatap tajam pria itu. Ia pun menyalakan rekaman utuh dari percakapan dirinya dengan sang pengusaha.
[Tenang saja, kamu cuma perlu menemaniku sesekali. Makan malam, perjalanan bisnis dan ya … sedikit perhatian terhadap kebutuhan klien.]
[Selama aku nggak harus melakukan hal-hal yang terlalu jauh, melanggar batas profesional, aku bisa pertimbangkan.]
[Tentu, ini soal menjaga relasi bisnis. Tapi kau tahu, ada tekanan dari pihak sponsor. Mereka ingin komitmen penuh.]
[Kalau itu bisa menyelamatkan proyek keluarga dan nama baik perusahaan, aku akan berdiskusi lagi dengan tim hukum.]
Perlahan, tapi pasti wajah Bima memucat.
Adik tirinya juga mendadak gelisah. Dia pun memasang wajah memelas, “Mbak Andin, apa kamu tak malu? Kita–”
“Malu?” Andini yang sebenarnya menahan diri, sontak merasa kesal.
Dibukanya amplop yang baru didapatkan sore itu dan mengeluarkan beberapa foto perselingkuhan Bima dan Amanda.
Tak lama, Andini melemparkannya ke udara seperti confetti.
“Lihat ini, para tamu terhormat!” seru Andini dengan suara lantang.
“Inilah calon mempelai pria kita, Bima Abimanyu, si pecundang sejati yang tega mengkhianati tunangannya. Dan ini dia, adikku tercinta, Amanda, yang dengan senyum manis merebut calon suami kakaknya sendiri. Sungguh drama yang memukau, bukan?”
Suasana ballroom meledak dalam kekacauan. Para tamu berteriak, berbisik, dan saling menunjuk dengan ekspresi terkejut dan jijik.
Beberapa orang mencoba menenangkan situasi, sementara yang lain justru menikmati pertunjukan itu. Bima dan Amanda, yang tak tahan malu, mencoba melarikan diri dari sana.
Namun Andini tidak membiarkan mereka lolos begitu saja. Dengan gerakan cepat, ia mencengkeram pergelangan tangan Amanda, mencegahnya untuk kabur. “Kalian mau pergi ke mana? Pertunjukan belum selesai!” serunya dengan seringai sinis.
Bima menarik tangan Andini dengan kasar. “Lepaskan dia, Andini! Kamu sudah gila!”
Andini menepis tangan Bima dengan gerakan refleks. Amarahnya yang selama ini tertahan akhirnya meledak. Dengan sekuat tenaga, ia menampar wajah mantan tunangannya itu.
PLAK!
Tamparan itu begitu keras hingga meninggalkan jejak merah di pipi Bima. Beberapa anak kecil yang melihat kejadian itu tertawa cengengesan, mengira itu bagian dari pertunjukan badut.
Amanda merentangkan tangannya di depan Bima, melindungi suaminya dari amarah Andini. “Mbak Andin, apa yang kamu lakukan? Kamu tega sekali menampar suamiku!” serunya dengan air mata berlinang.
Andini tertawa sinis. “Tega? Kalian yang tega mengkhianatiku, merebut kebahagiaanku, dan sekarang kalian berlagak menjadi korban? Sungguh, aku tidak habis pikir dengan kelakuan kalian.”
Hanya saja, Andini menyadari bahwa para pengawal ballroom mulai mendekat ke arahnya.
Tatapan mereka tajam dan mengancam. Sepertinya, keluarga Hadinata tidak akan membiarkan Andini lolos begitu saja setelah membuat kekacauan di pesta pernikahan ini.
Dengan cepat, Andini mengambil keputusan. Ia tidak akan membiarkan dirinya ditangkap dan dipenjarakan oleh keluarga kejam itu.
Saat seorang pelayan mendorong kereta kue pengantin mendekat, Andini mengambil kue besar itu dan melemparkannya tepat ke wajah Bima.
Krim putih dan potongan buah-buahan menghiasi wajah tampan pria itu, membuatnya terlihat konyol dan memalukan.
Para tamu tertawa terbahak-bahak melihat pemandangan itu. Memanfaatkan situasi, Andini pun pergi dari sana.
“Tangkap gadis itu!” pekik ibu Bima dengan wajah merah padam.
Ia memerintahkan para pengawal bertubuh besar untuk mengejar Andini dan menyeretnya ke kantor polisi!
As the priest awaited Lilith's response, she hesitated for a moment, her mind caught in a whirlwind of uncertainty. She had meant her previous words as a question, a plea for clarification. But the priest, oblivious to her intended meaning, assumed she had responded affirmatively and proceeded with the wedding ceremony.Lilith's heart sank as the realisation dawned upon her. She glanced around, searching for any sign of understanding in the eyes of those present.It was then that she locked eyes with Alpha Chul, her partner in this complicated journey. He was the only one who caught on to her confusion, his perceptive gaze seeing beyond the surface.A sly smirk slowly graced Chul's lips, understanding passing between them. He knew what Lilith had intended to convey, and he relished in the amusing turn of events. It was a fleeting moment of shared humour amidst the seriousness of the occasion.As the ceremony continued, Lilith couldn't help but feel a mix of frustration and amusement.
As his canines grew long and sharp, Chul bit into the in-between of Lilith's neck and shoulder, causing her to wince in pain and cry out. He licked away the blood from the bite mark before tenderly placing soothing kisses on her, trying to comfort her as she cried against his shoulder. However, she suddenly pulled away from him, pushing him away forcefully."I fucking hate you," she cried, her hands covering the bitten area as she continued to feel the pain."I'm sorry. Let me help you soothe the pain," Chul offered, genuinely concerned for her well-being. However, Lilith immediately stopped him from approaching her."I don't need your help," she said, her voice filled with anger and hurt. She tried to retrieve her rolling travel box from him, but as her hand brushed against his, she quickly pulled back, feeling a rush of spark between them."What's wrong with your hands?" she asked, her gaze fixated on his, her tone a mix of curiosity and confusion. She managed to snatch her box aw
Xavier could now see the similarities that he never saw in Lilith before. She looked more matured, and he noticed a certain beauty about her that seemed to be a combination of her own and someone else's. As he watched her, she placed the brush on the counter and ran her hands across its surface with a sad expression on her face. She then turned away from the mirror, picked up her rollable traveling box, and began walking out of the room.From the reflection in her mirror, Lilith had caught sight of Chul seated in her room, but she pretended as though she didn't see him. She avoided his piercing gaze and hurriedly moved toward the door. However, before she could open it and escape, he stopped her by placing his hands on hers, which were on the doorknob. This action made her freeze, her shoulders tensing up.Slowly, Xavier removed her hands from the doorknob and took her rolling bags from her. He gently made her turn toward him, but she kept her gaze fixed on the floor, avoiding his ey
Alpha Chul kept staring blurrily at Lilith's already dilated pupils."But your eyes... they are in shades of golden colors. Or are my eyes deceiving me because I'm about to die?" he asked weakly, his voice barely audible. His gaze remained fixed on her eyes, though they appeared blurry to him.Lilith's heart ached as she heard his feeble words. She knew time was running out, and the urgency in his voice only intensified her fear. "You need to leave, Lilith. I've mind linked the warriors, and they will come for you," he urged, his gaze locked on her dilated pupils. Slowly, his eyelids closed, sealing his vision in darkness.Tears welled up in Lilith's eyes as she cried out, "Alvin, please don't leave me!" Determined not to let him go without a fight, she hastily removed his shirt, tossing it aside, as if shedding the weight of their impending doom.As her gaze fell upon his bare torso, a gasp escaped her lips. It was a sight that tore at her soul—his flesh marred by numerous bullet wo
Lilith stepped out of the grand old castle, her eyes widening in awe as she took in the sight before her. The interior of the castle was nothing like she had imagined. The walls were adorned with intricate tapestries, depicting ancient scenes of valor and romance. The polished marble floors reflecte
The feeling of water being poured on him made him open his eyes gradually as the effects of the poisonous bullets were making him dizzy.Staring down at himself, he saw that he was chained to an iron chair in a dimly lit room with only a few torches on the walls, casting eerie shadows across the floo
What he didn't expect was for a cushion to bump into his face as Annabelle pushed him to the bed and climbed on him with her cushion in her hands."Did you just call me a doofty and silly girl?" She asked and began hitting his head with the cushion."Well, you agreed that you were a Bakunawa and a sil
The beeping sounds which were coming from the ECG machine made him flutter his eyes open as he stared blankly at it.Tilting his head towards her, a cute smile appeared on his face as he watched the rising and falling of her chest in a slow rhythm as she breathed.But he suddenly scoffed before risin












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews