LOGINKlek.Pintu geser otomatis ruang isolasi utama RS Medika Utama terbuka perlahan. Marlon melangkah keluar terlebih dahulu, diikuti oleh Erinka yang masih membawa catatan rekam medis pasien. Di lorong luar yang luas, suasana yang tadinya tegang kini berubah menjadi sangat hening. Puluhan pasang mata, mulai dari perawat muda hingga jajaran direksi rumah sakit, tertuju lurus pada sosok Marlon.Di barisan paling depan, Dokter Januar bersama tiga profesor senior dari komite medik rumah sakit berdiri kaku. Begitu melihat Marlon mendekat, Dokter Januar menarik napas dalam-dalam, menegakkan posisi tubuhnya, lalu melakukan gerakan yang membuat seluruh staf rumah sakit terbelalak tidak percaya.Pria paruh baya dengan gelar akademis berderet itu membungkukkan punggungnya sedalam sembilan pukul derajat tepat di depan Marlon."Tuan Marlon Pramudya," ucap Dokter Januar dengan suara yang bergetar namun terdengar jelas di sepanjang koridor. "Saya, atas nama seluruh tim dokter senior dan komite medik R
Prang! Clank! Prang!Suara hantaman besi beradu dengan jeruji baja menggema pekak di koridor sel tahanan sementara Polres. Jeruji tebal itu bergetar hebat saat Bagas Hardiyata menghantamkan borgol tangannya berkali-kali ke pembatas besi. Wajahnya yang semula klimis kini tampak merah padam, dipenuhi keringat dingin yang membuat rambutnya lepek berantakan. Jas laboratorium putihnya yang mahal kini sudah kotor oleh debu lantai sel yang pengap."Woi! Sipir sialan! Buka pintunya!" raung Bagas, suaranya parau hingga urat-urat di lehernya menyembul keluar laksana tali tambang. Ia mencengkeram dua batang besi jeruji, menempelkan wajahnya yang bengkak karena amarah ke celah besi. "Kalian tidak punya hak menahan saya di tempat kotor seperti ini! Saya ini Bagas Hardiyata! Direktur Operasional Megah Hardiyata Group! Panggil Kapolres kalian sekarang!"Dua orang petugas kepolisian yang berjaga di meja piket koridor bahkan tidak sudi menoleh. Salah satu dari mereka, Bripka joko, hanya membalik halam
Drap! Drap! Drap!Langkah kaki Marlon bergema tegas di sepanjang koridor Sayap Barat Rumah Sakit Medika Utama. Bangsal isolasi darurat ini telah diubah menjadi area perawatan massal yang mencekam. Aroma antiseptik pekat bercampur dengan bau hawa dingin dari puluhan mesin respirator yang bekerja serentak."Marlon, tim perawat sudah bersiap di dalam, tapi jumlah korban yang dipindahkan dari klinik satelit terus bertambah!" seru Erinka sambil mengejar langkah suaminya. Ia membetulkan letak masker medisnya yang sedikit longgar dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya memegang papan klip berisi grafik data klinis pasien.Marlon menghentikan langkahnya tepat di depan pintu ganda ruang perawatan massal. Ia membalikkan badan, menatap Erinka dan Sugalih yang mendampinginya dengan raut wajah penuh ketegasan. "Berapa total pasien yang ada di bangsal ini sekarang, Erinka?""Tiga puluh dua orang di ruangan ini, Marlon. Sisanya ada di RS Medika Dua dan Rumah Sakit Daerah," jawab Erinka cepat,
Marlon mengalihkan pandangannya dari kaca ruang ICU setelah memastikan kondisi Kakek Hardiyata benar-benar stabil. Ia memutar tubuhnya, menatap Walfred yang masih berdiri siaga di dekat pintu koridor. Di samping Walfred, beberapa perwira menengah militer bentukan Mayor Jenderal Handoko tampak menunggu perintah dengan raut wajah tegang."Walfred, jangan tunggu sampai esok hari," ucap Marlon, suaranya terdengar jernih dan sarat akan otoritas yang tidak bisa dibantah. Ia melangkah mendekati Walfred, menyerahkan sebuah cip memori kecil berisi parameter digital dari mesin sentrifugasi lab. "Bawa formula induk Yellow Core ini ke laboratorium produksi massal di lantai bawah. Kita harus menduplikasi cairan ini dalam skala besar sekarang juga."Walfred menerima cip tersebut dengan kedua tangannya yang kokoh. "Siap, Marlon! Semua tangki pengenceran steril dan cairan infus penyangga sudah disiapkan oleh tim farmasi militer sejak satu jam lalu. Berapa banyak vial yang harus kita kejar dalam gelom
Marlon melangkah mundur satu langkah dari sisi ranjang Kakek Hardiyata. Ia memberikan isyarat tangan kepada Erinka dan Sugalih untuk keluar dari area steril rutan ICU demi membiarkan sirkulasi udara di sekitar pasien tetap terjaga bersih. Mereka bertiga kini berdiri berdampingan di koridor pengamatan, menempelkan wajah dan telapak tangan mereka pada kaca tebal transparan yang membatasi mereka dengan sang Presdir."Marlon, lihat itu... garisnya masih bergoyang naik turun," bisik Erinka dengan suara serak, telunjuknya menempel pada kaca, menunjuk ke arah layar monitor parameter yang terpantau lewat kamera sirkuit dalam ruangan. Napasnya yang memburu membuat permukaan kaca di depannya berembun tipis. "Apakah dosisnya benar-benar sudah cukup? Aku takut kakek tidak kuat.""Itu hanya sisa benturan gelombang energi sel, Erinka. Tetap tenang," jawab Marlon dengan nada datar namun penuh keyakinan mutlak. Ia melipat kedua tangannya di depan dada, matanya yang tajam tidak berkedip sedikit pun me
Brak!Pintu koridor menuju bangsal isolasi ICU dihantam terbuka oleh Marlon yang berlari cepat dengan menjinjing kotak penyimpanan steril kedap udara. Di belakangnya, Erinka berusaha mengimbangi langkah tegap suaminya sambil mendekap tas peralatan medis darurat. Rambut Erinka yang berantakan terkena embusan angin koridor sama sekali tidak dipedulikannya lagi."Marlon! Di sebelah sini!" seru Sugalih yang sudah berdiri menghadang di depan pintu kaca ICU bersama dua orang dokter senior berpangkat tinggi dari komite medik rumah sakit.Marlon menghentikan langkahnya tepat dua jengkel di depan pintu masuk. Ia langsung membuka kunci digital kotak sterilnya, memperlihatkan tabung suntik besar berisi cairan kuning keemasan Yellow Core yang berkilau mewah."Tunggu dulu! Anda tidak boleh masuk membawa cairan tidak dikenal itu ke dalam ruang steril!" bentak Dokter Januar, kepala tim dokter spesialis saraf yang wajahnya tampak merah padam karena merasa dilangkahi wewenangnya. Ia merentangkan kedua
Meygi menyuruh Herru yang berdiri di belakangnya untuk memanggil si manager restoran. Tidak lama datang lah wanita berponi dan bermata sipit menghadapnya.“Iya Bu Meygi... Ibu panggil saya?” tanya si manager sambil membungkukan badan di depan Meygi untuk menunjukkan rasa hormatnya.“Tadi kamu bila
“Apakah kamu akan berhenti menuntut Marlon di penjara, Al?” tanya Wenny pada Albert saat di lobi hotel itu hanya tinggal mereka berdua, setelah Marlon dan yang lainnya pergi.“Kamu kan sudah kenal aku lama, masak enggak tahu sifatku, Wen? Kalau aku sudah punya keinginan, apapun caranya akan aku lak
Si wanita bergincu tebal itu terus mengikuti langkah Marlon hingga ke smoking area, dia duduk tidak jauh dari tempat duduk Marlon yang saat itu hanya seorang diri di balkon hotel yang terbuka bebas itu. Ada semilir angin bertiup di siang menjelang sore itu yang mengibas rambut panjang wanita berpak
“Bagaimana rasanya, Sayang, enak enggak nasi goreng buatanku?” tanya Marlon yang berdiri di samping Erinka, setelah istrinya itu menyuap sesendok nasi goreng ke mulutnya.“Hmm... sedap... beneran ini kamu yang masak?” tanya Erinka.“Iya, dong aku... tapi bumbunya sih Bi Puri yang membuat, aku bagia







