LOGINMeygi menyuruh Herru yang berdiri di belakangnya untuk memanggil si manager restoran. Tidak lama datang lah wanita berponi dan bermata sipit menghadapnya.
“Iya Bu Meygi... Ibu panggil saya?” tanya si manager sambil membungkukan badan di depan Meygi untuk menunjukkan rasa hormatnya.
“Tadi kamu bilang sudah bertemu dengan orang yang dulu sudah menyelamatkan nyawaku, mana sekarang orangnya?” tanya Meygi dengan nada tegas.
“Maaf Bu, apa Ibu tidak mengenalinya, bukankan ini Pramudya yang Ibu cari?” jawab si manager sambil menunjuk ke arah Albert dengan mengangkat ibu jari kanannya.
“Yang bener aja kamu, masak aku enggak kenal wajah orang yang sangat berjasa dalam hidupku. Dan orang itu bukanlah si pembohong ini... ngerti kamu!” ujar Meygi naik pitam memaki si wanita berbadan ramping di depannya itu.
Saat menyadari dirinya sudah salah mengenali orang yang dimaksud atasannya, si manager itu langsung berlutut dan menapar dirinya sendiri berkali-kali sambil mengakui kebodohan dirinya, kemudian meminta maaf pada Meygi.
Semua orang yang melihat kejadian itu langsung tercengang, betapa sosok wanita berpakaian hitam itu sangat ditakuti dan disegani oleh seorang manager restoran bintang lima yang tentu saja tidak sembarang orang bisa mendapat jabatan itu, tapi di depan Meygi, si manager itu tidak ada artinya apa-apa sampai dia berlutut merendahkan harga dirinya.
“Seperti inilah jadinya jika ada seorang saja melakukan kebohongan, banyak yang menjadi korban. Karena aku sudah terlanjur marah kalian juga semua harus menanggung akibatnya...!” acam Meygi pada Albert dan teman-temannya. Tentu saja semua merasa ketakutan sambil berpandangan satu sama lain.
“Hey, manager tak berguna... aku tidak ingin mengotori tanganku untuk memberi hukuman pada lelaki kurang ajar ini, sebagai gantinya kamu lah yang harus memberi pelajaran padanya, bikin dia babak belur, biar dia menyesal telah mempermainkan orang lain...!” perintah Meygi dengan tegas, lalu dia bergegas pergi meninggalkan tempat itu. Membuat orang-orang itu bisa bernapas lega, seperti terbebas dari ancaman kematian.
“Siapa sebenarnya kamu, mengapa kamu mengaku-ngaku sebagai Pramudya yang pernah menyelamatkan Ibu Meygi?” tanya si manager dengan penuh amarah pada Albert, karena kebohongan yang dilakukan lelaki itu reputasinya di depan Meygi telah tercoreng.
“I-iya... aku minta maaf, Bu, aku memang bukan dari keluarga Pramudya, namaku Albert Pramudianto, dan aku memang tidak pernah menyelamatkan hidup siapa pun,” jelas Albert.
Si manager langsung menampar wajah Albert untuk meluapkan kekesalannya, karena merasa bersalah Albert hanya terdiam.
“Gara-gara kamu aku jadi pecundang di depan atasanku,” maki wanita bertubuh tinggi dan kurus itu.
“Maaf sekali lagi Bu, saya mengaku salah...” ucap Albert sambil tertunduk.
Semua teman-teman yang awalnya menyanjung Albert karena kebaikannya, tiba-tiba merasa kecewa karena pengakuannya telah menyelamatkan nyawa seseorang itu hanyalah sebuah kebohongan belaka. Erinka yang menyaksikan semua kejadian itu pun merasakan hal yang sama dengan teman-temannya, kebanggaannya pada Albert luntur seketika itu juga.
Si manager itu pun segera memanggil beberapa orang karyawannya untuk memberi pelajaran pada Albert sesuai keinginan Meygi. Di depan teman-temannya Albert dihajar dua orang sekaligus hingga babak belur. Tidak ada satu orang pun yang ingin menolong, kecuali Erinka yang merasa tergerak hatinya untuk menyudahi penganiayaan yang terjadi di depan matanya.
“Sudah... sudah... hentikan...!” teriak Erinka coba melindungi Albert yang sudah tergeletak di lantai ketika salah satu dari dua orang lelaki berseragam itu ingin menginjak perut Albert. Dia berjongkok untuk membantu Albert berdiri, lalu duduk kembali ke tempat duduknya.
“Terima kasih, Rin...” ucap Albert lirih, sambil dalam hati dia merasa sangat berterima kasih pada Erinka, pada saat semua teman-teman hanya menjadi penonton saat dia dipukuli, tapi Erinka berani membelanya dari perlakuan kasar orang suruhan si manager restoran.
“Tadi kamu bilang kalau semua bill makan temanmu kamu yang bayar, kan? Nah, ini bayar sekarang juga, lalu kalian semua angkat kaki dari sini...” ucap si manager dengan tidak ramah lagi sambil meletakan bill holder berwarna hitam tepat di depan Albert yang wajahnya tampak lebam akibat terkena pukulan.
Albert pun perlahan membuka bill makan di depannya, dia langsung terkejut melihat nominalnya yang sampai 100 juta lebih.
“Kok bisa sebanyak ini tagihannya? Apa tidak salah hitung, Bu?” ucap Albert sambil memegangi pipinya menahan rasa sakit.
“Kamu pikir ini kaki lima yang harga makanannya murah? Ayo cepat bayar, aku sudah muak melihat tampang seorang pembohong seperti kamu!” ucap wanita itu mendesak Albert agar segera melunasi tagihan makannya.
“Maaf teman-teman, saldoku di kartu atm ini hanya ada 40 juta, bisakah kalian membantuku membayarkan kekurangannya terlebih dahulu, nanti pasti aku ganti kalau aku sudah gajian,” ucap Albert terpaksa merendahkan dirinya meminta bantuan pada teman-temannya.
“Duh, gimana sih, Al... katanya kamu yang mau traktir, kok sekarang malah minta saweran teman-teman. Kasihan sekali kamu ternyata...” ucap Wenny dengan tatapan sinisnya.
“Iya nih... gimana sih, Al, katanya kamu punya jabatan penting di perusahaanmu, masuk 100 juta aja kamu enggak punya... ternyata semua omonganmu bullshit...” tambah si kurus yang selalu mencari kelemahan orang lain.
“Ya udah teman-teman, daripada kita tertahan lama-lama di sini, lebih baik kita saweran saja...” ucap salah satu teman Erinka yang ingin masalah mereka di restoran itu segera selesai.
Mulailah satu per satu setiap orang meletakan uang tunai mereka di dalam bill holder hitam itu. Setelah terkumpul semua, Albert pun menghitungnya, ternyata tetap saja jumlahnya belum cukup untuk membayar jumlah tagihan makan mereka.
Albert dan teman-temannya mulai resah dan panik, tentu saja mereka tidak ingin dipolisikan karena tidak mampu membayar tagihan bill makan mereka.
Wenny dan si kurus bukan mencari solusi tapi malah terus mengejek Albert sebagai biang kekacauan di acara reuni mereka.
“Ayo cepat lunasi bill-nya... tunggu apa lagi, sih?” desak si manager restoran. “Kalau kalian tak mampu bayar, akan aku giring kalian semua ke kantor polisi. Ayo bayar sekarang...!” teriak si manager itu dengan penuh amarah.
Albert tampak sudah pasrah dan tidak tahu harus berbuat lagi, demikian pula teman-temannya yang lain hanya berdiam diri dengan perasaan yang sangat kesal dan kecewa pada Albert.
Dalam keadaan terdesak itu, Erinka akhirnya memutuskan untuk menggunakan Black Card yang tadi diberikan oleh Marlon. Dia yakin kalau suaminya adalah orang yang bertanggung jawab, tidak mungkin kalau kartu itu tidak bisa digunakan diberikan padanya untuk membayar traktiran makan yang diminta oleh teman-temannya sebelum Albert akhirnya berinisiatif untuk membayarnya. Walaupun demikian Erinka tetap merasa cemas kalau saldo dalam kartu hitam itu tidak mencukupi untuk membayar tagihan makan lebih dari 100 juta itu.
“Ini Bu, pakai saja Black Card suami saya saja untuk membayarnya,” ucap Erinka sambil mengulurkan kartu di tangannya kepada wanita berponi di depannya yang tampak sudah hilang kesabaran.
“Kenapa tidak dari tadi sih, kalian semua memang menyebalkan...!” jawab si manager itu lalu menuju konter kasir yang memang tidak jauh dari tempat duduk mereka.
Saat Black Card milik Marlon itu digesekkan ke mesin EDC terdengar suara operator yang membuat Albert dan teman-temannya tercengang.
Matahari pagi mulai memancarkan sinarnya yang benderang, menembus kabut tipis dan polusi yang menggantung di atas jalanan aspal ibukota. Bagi dunia luar, hari ini hanyalah hari biasa yang dipenuhi oleh hiruk-pikuk kemacetan dan kesibukan kaum urban yang mulai memadati trotoar jalan.Namun bagi Marlon Pramudya, detik ini adalah sebuah penegasan takdir yang paling sakral di dalam bentangan panjang silsilah kehidupannya yang penuh dengan darah. Linimasa waktu seolah berputar mundur di dalam benaknya, mencatat dengan sangat rapi setiap jengkal perjalanan yang telah ia lalui selama ini.Tepat enam tahun yang lalu, ketika usianya baru menginjak dua puluh tahun, ia melangkah keluar dari sangkar emas The Shadow of Death sebagai seorang eksekutor muda. Menggunakan jaket kulit hitam andalannya dan sepasang belati titanium, ia menjelma menjadi sesosok bloody killer nomor satu yang paling ditakuti dunia bawah tanah.Nama besar dan reputasinya yang mengerikan sempat meroket tajam di sepanjang lo
Langkah pertama Marlon untuk kembali ke dunia atas dimulai dari sebuah titik yang sangat sentimental bagi masa mudanya. Di dalam mobil sport hitamnya yang terparkir di seberang jalan, mata elang Marlon menatap tajam ke arah sudut gang sempit yang dulunya menjadi saksi bisu kehancurannya.Tempat yang sembilan tahun lalu merupakan sebuah kedai bakpao sederhana, kini telah berubah menjadi deretan ruko modern yang bising oleh deru mesin kendaraan. Marlon menyandarkan tubuh tegap berototnya pada kursi kulit kemudi, membiarkan jemari tangannya mengetuk setir mobil secara ritmis penuh perhitungan.Ia tidak bisa bergerak gegabah tanpa memiliki data intelijen yang akurat mengenai kondisi lingkaran keluarga besar Hardiyata setelah sepuluh tahun berlalu sejak pengeroyokan itu. Oleh karena itu, Marlon sengaja mengerahkan sisa jaringan anak buah setianya dari divisi peretasan data untuk melakukan penyelidikan mendalam hari ini.Ponsel khusus yang diletakkan di atas dasbor mobil mendadak bergeta
Proses transisi dari kegelapan menuju cahaya benderang dunia atas membutuhkan ketelitian yang jauh lebih rumit daripada sekadar menanggalkan pakaian taktis tempur. Di dalam ruang kerja pribadinya yang sunyi di puncak pent house mewah, Marlon duduk tegak di depan deretan layar monitor komputer yang memancarkan cahaya biru redup.Jemari tangannya yang kekar berotot bergerak dengan kecepatan luar biasa di atas papan ketik, menjalankan baris-baris kode enkripsi militer tingkat tinggi. Malam ini, ia fokus melakukan operasi pembersihan paling krusial dalam hidupnya: menghapus seluruh jejak digital identitas aslinya dari setiap basis data dunia bawah tanah.Nama Marlon Pramudya sebagai sang bloody killer legendaris andalan The Shadow of Death harus benar-benar lenyap, menguap tanpa menyisakan satu pun bukti fisik atau digital. Segala rekaman CCTV, manifes penerbangan jet pribadi, hingga catatan medis luka tembak sembilan tahun lalu dikikis habis sampai ke akar-akarnya."Apakah proses pen
"Aku ingin mundur dari posisi eksekutor utama lapangan dan menyerahkan kembali seluruh koin perak operasional mulai hari ini, Tante," ucap Marlon dengan nada suara yang sangat tenang namun sarat akan ketegasan mutlak.Marlon berdiri tegak laksana karang di tengah ruang kerja privat yang dilapisi dinding baja anti-peluru. Di usianya yang kini resmi menginjak dua puluh enam tahun, kegagahan fisiknya tampak begitu matang, memancarkan aura maskulin yang sangat kuat menindas udara sekitar.Tante Goldies yang sedang duduk di balik meja kerjanya seketika menghentikan gerakan jemarinya yang sedang memeriksa berkas. Ia mendongak dengan kening berkerut dalam, menatap anak angkat sekaligus pembunuh berdarah dingin terbaik yang pernah dilahirkan oleh organisasinya.Di sudut ruangan, seorang pria paruh baya bertubuh tegap dengan potongan rambut militer khas juga turut mengalihkan pandangannya dari layar monitor. Pria itu adalah sang Jenderal bintang tiga, suami dari Tante Goldies sekaligus pria
"Kamu tidak bisa pergi begitu saja tanpa mengucapkan salam perpisahan yang layak kepada kami, Marlon," bisik Jessy sembari merapatkan tubuh seksinya yang hanya dibalut gaun malam minim.Marlon tidak segera menjawab, ia hanya memutar gelas wiski di tangan kanannya dengan gerakan yang sangat pelan. Di dalam ruang VIP penthouse privat yang super mewah itu, atmosfer malam terasa begitu pekat oleh aroma parfum mahal dan kabut gairah yang menggebu-gebu."Jessy benar, Marlon. Selama ini kamu selalu datang dan pergi laksana hantu malam, membuat kami semua merana karena merindukan keperkasaan tubuhmu," sahut Tamara yang duduk di sisi kirinya."Malam ini adalah malam terakhirmu di sirkel kehidupan malam kami sebelum kamu mengurus bisnis barumu itu, jadi layani kami sepuasnya," tambah Santy, sang janda kaya pengusaha berlian yang turut hadir di sana.Marlon melayangkan tatapan mata elangnya yang tajam namun kini dipenuhi oleh binar karisma sensual ke arah para wanita cantik yang berkumpul di sek
Kabut tebal yang dingin menyelimuti kawasan hutan pinus di pinggiran Sektor Barat malam itu. Suara angin yang bergesek di antara rimbunnya dedaunan menciptakan simfoni alam yang mencekam, seolah menyembunyikan langkah kaki maut yang sedang mengintai. Di tengah kegelapan pekat yang terisolasi tersebut, sisa-sisa anggota kartel Kobra Hitam berlari dengan napas memburu berantakan.Mereka mengira pelarian ke dalam hutan lebat ini bisa menyelamatkan nyawa mereka dari amukan organisasi The Shadow of Death. Namun, mereka sama sekali tidak menyadari bahwa bertingkah paranoid di tengah alam liar justru mempermudah insting berburu milik Marlon Pramudya. Menggunakan pakaian tempur taktis serba hitam yang melekat erat pada tubuh kekarnya, Marlon bergerak tanpa suara di atas tumpukan daun kering."Hei, apakah kamu mendengar sesuatu di belakang kita tadi?" bisik seorang anggota kartel berkulit legam kepada temannya sembari menodongkan senapan serbu ke arah kegelapan."Jangan menakut-nakuti aku, k
Si wanita bergincu tebal itu terus mengikuti langkah Marlon hingga ke smoking area, dia duduk tidak jauh dari tempat duduk Marlon yang saat itu hanya seorang diri di balkon hotel yang terbuka bebas itu. Ada semilir angin bertiup di siang menjelang sore itu yang mengibas rambut panjang wanita berpak
“Kenapa kamu sejak tadi diam saja sih, Beb? Apa kamu masih belum yakin dengan Black Card yang aku miliki bisa membayar semua makanan yang dipesan teman-temanmu,” ucap Erinka saat terlihat kurang berselera menikmati makan siangnya di meja terpisah dengan teman-temannya. “Aku percaya kok, pasti kamu
Setelah Albert menyetujui untuk menyampaikan permohonan maafnya pada Hendrik dan tony, Erinka kembali mengajak Marlon untuk bergabung dengan teman-temannya yang sedang asyik mengobrol. Wenny tampak berbisik-bisik dengan lelaki kurus di sebelahnya, entah apa yang direncanakannya.“Marlon, selama per
Siapa saja yang mendengar nama Meygi, pasti akan membayangkan seorang wanita cantik tapi memiliki hati yang kejam. Dalam kalangan pebisnis kelas atas, namanya sangat ditakuti karena dia tidak akan segan-segan menghabisi siapa saja yang bermasalah dengan dirinya.Seperti halnya para pebisnis lainnya







