INICIAR SESIÓNSetelah Albert menyetujui untuk menyampaikan permohonan maafnya pada Hendrik dan tony, Erinka kembali mengajak Marlon untuk bergabung dengan teman-temannya yang sedang asyik mengobrol. Wenny tampak berbisik-bisik dengan lelaki kurus di sebelahnya, entah apa yang direncanakannya.
“Marlon, selama pernikahanmu dengan Erinka, kami sebagai sahabat dekat istrimu ini tidak pernah lho sekalipun mendapat traktiran dari kamu. Gimana kalau sekarang aja kamu mentraktir kami, aku dengar-dengar makanan seafood di restoran ini terkenal sangat lezat. Kalian setuju kan dengan usulku, teman-teman?” ucap si kurus meminta persetujuan beberapa orang di dekatnya sesuai rencana yang dia telah sepakati dengan Wenny.
“Tentu saja setuju dong... kan pas momennya, kapan lagi kan kita bisa kumpul bareng begini,” sahut salah satu teman Erinka yang berpakaian blus bermotif batik.
“Walaupun sebenarnya sudah telat sih, sudah tiga tahun gitu lho, tapi... dari pada enggak sama sekali, bolehlah merasakan traktirnya Marlon, sebagai suami dari teman baik kita Erinka...” ujar Wenny ikut mengomentari ucapan si lelaki kurus.
Erinka dan Marlon langsung berpandangan, tentu saja Erinka menunjukkan rasa keberatan untuk mentraktir belasan orang temannya di sebuah restoran bintang lima yang pasti mahal harga makanannya. Tapi, Marlon sebaliknya, dia malah mengangguk kecil meminta persetujuan Erinka kalau dirinya bersedia mentraktir makan semua teman-teman Erinka.
“Oke, baiklah, kawan-kawan... daripada mati kalian nanti penasaran karena belum mencicipi traktiran makan dariku... hehehe...,” ucap Marlon diselingi canda. “Jadi, aku persilakan kalian untuk mengorder apa saja menu yang ingin kalian makan di restoran ini, aku yang akan membayar semuanya...” ucap Marlon dengan enteng dan tanpa bersalah.
Sebaliknya, Erinka merasa kesal mendengar hal konyol yang dikatakan suaminya, bagaimana dia tidak kesal, karena dia tidak membawa cukup uang untuk membayar bill makan teman-temannya nanti.
“Kamu sadar enggak sih apa yang kamu lakukan ini? Kamu ingin mempermalukan aku ya di depan teman-temanku karena kita tidak akan bisa membayarnya?” tegas Erinka sambil cemberut pada Marlon yang malah senyum-senyum.
“Tenang, Sayang... semuanya pasti beres... hehehe...” jelas Marlon tak henti tersenyum sambil menatap Erinka, membuat istrinya itu menggeleng-geleng kepala dengan penuh rasa kesal.
“Ayo... ayo... yang belum pesan makannya, pesan saja ya..., bebas mau pesan apa saja boleh...!” teriak Marlon memberitahu teman-teman Erinka. Melihat tingkah suaminya seperti seorang boss membuat Erinka tiba-tiba diserang sakit kepala, pusing memikirkan dengan apa nanti harus membayar semuanya.
“Kok kamu malah diam saja di situ, Sayang... ayo kita pesan makanan, kamu makan apa?” tanya Marlon saat menghampiri Erinka yang sedang duduk lemas memikirkan harus membayar semuanya.
“Terserah kamu deh, pokoknya kalau terjadi apa-apa karena kita tidak bisa membayar aku enggak mau ikut campur,” tegas Erinka sambil cemberut.
Marlon malah tersenyum sambil mencubit pipi istrinya dengan gemas, Erinka menepis tangan suaminya dengan kesal.
“Pegang kartu ini, Beb... tidak perlu khawatir, banyak nih isinya, jangankan makanan teman-temanmu, restoran ini pun bisa kita beli... hehehe...” ucap Marlon sambil menyerahkan sebuah kartu pada Erinka.
“Black Card? Dari mana kamu dapat kartu ini?” tanya Erinka heran sambil memegang kartu pemberian suaminya itu.
“Aku memang sudah lama punya, kok, aku hanya menggunakannya untuk keperluan mendesak saja,” jelas Marlon beralasan.
“Kok, kamu enggak pernah cerita kalau punya kartu ini?” tegas Erinka mulai bawel pada Marlon.
“Bukan hal penting, kenapa harus diceritakan? Udah ah, aku sudah lapar... ayo kita pesan makanan,” ucap Marlon lalu dengan lembut menarik lengan Erinka untuk pergi ke tempat display makanan yang sudah dikerumuni teman-teman Erinka yang hari ini mendapat traktiran makan dari Marlon.
Erinka masih belum sepenuhnya yakin kalau Black Card yang diberikan Marlon apakah benar-benar memiliki saldo yang cukup untuk membayar tagihan makan mereka. Tapi, dia coba meyakini dirinya kalau suaminya tidak mungkin main-main untuk hal sepenting ini, karena selama ini Erinka mengenal Marlon sebagai orang yang bertanggung jawab dengan setiap apa saja yang diperbuatnya.
Kalau memang kartu itu memiliki saldo yang banyak, dari mana Marlon mendapatkannya? Bukankah selama tiga tahun ini dia tidak bekerja hanya diam di rumah? Atau memang uang tabungannya yang sudah lama dia simpan? Berbagai pertanyaan mulai menghantui pikiran Erinka. Dia semakin yakin kalau sebenarnya dia belum benar-benar mengenal diri Marlon, terbukti hari ini diam-diam menyimpan uang yang besar pada kartu Black Card yang dimilikinya.
“Kau lihat tadi Wen, si Marlon punya Black Card?” bisik si lelaki kurus pada Wenny yang sempat melihat Marlon memberikan Black Card pada istrinya.
“Aku rasa suami Erinka itu memang sudah tidak waras, karena setahuku hanya seorang miliarder saja yang bisa punya kartu itu. Aku rasa itu bukan kartu Black Card yang asli, tapi pasti itu kartu KTM, kartu keluarga tidak mampu... hehehe...” canda Wenny bermaksud meremehkan Marlon, si kurus pun ikut menertawai ucapan Wenny.
Wenny dan beberapa temannya yang sekongkol untuk mengerjai Marlon dan Erinka agar tidak sanggup membayar tagihan bill makan mereka, memesan berbagai makanan mahal semau mereka hingga meja makan dipenuhi begitu banyak makanan dan minuman. Melihat itu semua Erinka mulai resah kembali, dia benar-benar tidak bisa membayangkan jika nanti kartu yang diberikan Marlon tidak cukup untuk membayar makanan sebanyak itu.
Saat Erinka dan Marlon sedang memesan makanan di depan konter, seorang wanita berseragam menghampiri meja teman-teman Erinka yang mulai menikmati makanan mereka, dia adalah manager restoran hotel bintang lima itu.
“Maaf ya Bapak Ibu, kalau boleh saya tahu siapakah diantara kalian yang berasal dari keluarga Pramudya?” tanya wanita berponi dan bermata sipit itu.
Albert yang merasa orang itu mencarinya, langsung mengangkat tangan, walaupun nama keluarganya yang lengkap adalah Pramudianto.
“Memang ada Ibu mencari saya?” tanya Albert yang sama sekali tidak tahu kalau Pramudya adalah nama belakang Marlon.
“Oh, jadi bapaklah orangnya yang telah menyelamatkan nyawa atasan kami Ibu Meygi? Terima kasih banyak ya, Pak atas jasa baiknya...” ucap wanita itu sambil membungkuk untuk menghormati Albert yang mengaku sebagai keluarga Pramudya.
Semua teman-teman yang duduk bersama Albert seketika itu juga sangat kagum padanya. Memiliki penampilan yang menarik, bekerja di perusahaan bonafide dengan gaji besar, dan rupanya dia juga seorang yang baik hati karena telah mempertaruhkan dirinya untuk menyelamatkan nyawa seseorang.
“Aku tidak sangka kamu ini seorang hero, Al,” ucap seorang wanita yang duduk sejurus di depan Albert.
“Iya, kamu memang lelaki idaman, kalau aku jadi cewek aku pasti akan tertarik padamu,” ucap si lelaki kurus yang duduk bersebelahan dengan Albert, membuat Albert dan yang lain tersenyum mendengarnya.
Di tengah pujian dan sanjungan yang diterimanya, Albert sendiri merasa wanita yang masih berdiri di dekatnya itu salah orang, karena seumur hidup belum pernah dia membantu menyelamatkan nyawa seseorang. Tapi, karena dirinya sudah terlanjur mengakui dan baginya ini sebuah keuntungan juga karena teman-teman jadi menyanjung dan menghormatinya.
“Iya sama-sama, Ibu... tidak perlu dibesar-besarkan sebenarnya,” ucap Albert menanggapi si manager restoran itu.
“Anda memang lelaki idaman, sudah tampan, baik dan rendah hati pula,” ucap wanita itu memuji. “Baiklah, saya pamit dulu, maaf kalau mengganggu waktunya,” tambahnya, lalu pergi meninggalkan Albert dan teman-temannya.
Albert memang sama sekali tidak tahu siapa Meygi itu, kalau dia mengenalnya dia pasti akan menolak mengaku-ngaku sudah menyelamatkan nyanya seorang wanita Bloody Killer yang bengis dan kejam.
Matahari pagi mulai memancarkan sinarnya yang benderang, menembus kabut tipis dan polusi yang menggantung di atas jalanan aspal ibukota. Bagi dunia luar, hari ini hanyalah hari biasa yang dipenuhi oleh hiruk-pikuk kemacetan dan kesibukan kaum urban yang mulai memadati trotoar jalan.Namun bagi Marlon Pramudya, detik ini adalah sebuah penegasan takdir yang paling sakral di dalam bentangan panjang silsilah kehidupannya yang penuh dengan darah. Linimasa waktu seolah berputar mundur di dalam benaknya, mencatat dengan sangat rapi setiap jengkal perjalanan yang telah ia lalui selama ini.Tepat enam tahun yang lalu, ketika usianya baru menginjak dua puluh tahun, ia melangkah keluar dari sangkar emas The Shadow of Death sebagai seorang eksekutor muda. Menggunakan jaket kulit hitam andalannya dan sepasang belati titanium, ia menjelma menjadi sesosok bloody killer nomor satu yang paling ditakuti dunia bawah tanah.Nama besar dan reputasinya yang mengerikan sempat meroket tajam di sepanjang lo
Langkah pertama Marlon untuk kembali ke dunia atas dimulai dari sebuah titik yang sangat sentimental bagi masa mudanya. Di dalam mobil sport hitamnya yang terparkir di seberang jalan, mata elang Marlon menatap tajam ke arah sudut gang sempit yang dulunya menjadi saksi bisu kehancurannya.Tempat yang sembilan tahun lalu merupakan sebuah kedai bakpao sederhana, kini telah berubah menjadi deretan ruko modern yang bising oleh deru mesin kendaraan. Marlon menyandarkan tubuh tegap berototnya pada kursi kulit kemudi, membiarkan jemari tangannya mengetuk setir mobil secara ritmis penuh perhitungan.Ia tidak bisa bergerak gegabah tanpa memiliki data intelijen yang akurat mengenai kondisi lingkaran keluarga besar Hardiyata setelah sepuluh tahun berlalu sejak pengeroyokan itu. Oleh karena itu, Marlon sengaja mengerahkan sisa jaringan anak buah setianya dari divisi peretasan data untuk melakukan penyelidikan mendalam hari ini.Ponsel khusus yang diletakkan di atas dasbor mobil mendadak bergeta
Proses transisi dari kegelapan menuju cahaya benderang dunia atas membutuhkan ketelitian yang jauh lebih rumit daripada sekadar menanggalkan pakaian taktis tempur. Di dalam ruang kerja pribadinya yang sunyi di puncak pent house mewah, Marlon duduk tegak di depan deretan layar monitor komputer yang memancarkan cahaya biru redup.Jemari tangannya yang kekar berotot bergerak dengan kecepatan luar biasa di atas papan ketik, menjalankan baris-baris kode enkripsi militer tingkat tinggi. Malam ini, ia fokus melakukan operasi pembersihan paling krusial dalam hidupnya: menghapus seluruh jejak digital identitas aslinya dari setiap basis data dunia bawah tanah.Nama Marlon Pramudya sebagai sang bloody killer legendaris andalan The Shadow of Death harus benar-benar lenyap, menguap tanpa menyisakan satu pun bukti fisik atau digital. Segala rekaman CCTV, manifes penerbangan jet pribadi, hingga catatan medis luka tembak sembilan tahun lalu dikikis habis sampai ke akar-akarnya."Apakah proses pen
"Aku ingin mundur dari posisi eksekutor utama lapangan dan menyerahkan kembali seluruh koin perak operasional mulai hari ini, Tante," ucap Marlon dengan nada suara yang sangat tenang namun sarat akan ketegasan mutlak.Marlon berdiri tegak laksana karang di tengah ruang kerja privat yang dilapisi dinding baja anti-peluru. Di usianya yang kini resmi menginjak dua puluh enam tahun, kegagahan fisiknya tampak begitu matang, memancarkan aura maskulin yang sangat kuat menindas udara sekitar.Tante Goldies yang sedang duduk di balik meja kerjanya seketika menghentikan gerakan jemarinya yang sedang memeriksa berkas. Ia mendongak dengan kening berkerut dalam, menatap anak angkat sekaligus pembunuh berdarah dingin terbaik yang pernah dilahirkan oleh organisasinya.Di sudut ruangan, seorang pria paruh baya bertubuh tegap dengan potongan rambut militer khas juga turut mengalihkan pandangannya dari layar monitor. Pria itu adalah sang Jenderal bintang tiga, suami dari Tante Goldies sekaligus pria
"Kamu tidak bisa pergi begitu saja tanpa mengucapkan salam perpisahan yang layak kepada kami, Marlon," bisik Jessy sembari merapatkan tubuh seksinya yang hanya dibalut gaun malam minim.Marlon tidak segera menjawab, ia hanya memutar gelas wiski di tangan kanannya dengan gerakan yang sangat pelan. Di dalam ruang VIP penthouse privat yang super mewah itu, atmosfer malam terasa begitu pekat oleh aroma parfum mahal dan kabut gairah yang menggebu-gebu."Jessy benar, Marlon. Selama ini kamu selalu datang dan pergi laksana hantu malam, membuat kami semua merana karena merindukan keperkasaan tubuhmu," sahut Tamara yang duduk di sisi kirinya."Malam ini adalah malam terakhirmu di sirkel kehidupan malam kami sebelum kamu mengurus bisnis barumu itu, jadi layani kami sepuasnya," tambah Santy, sang janda kaya pengusaha berlian yang turut hadir di sana.Marlon melayangkan tatapan mata elangnya yang tajam namun kini dipenuhi oleh binar karisma sensual ke arah para wanita cantik yang berkumpul di sek
Kabut tebal yang dingin menyelimuti kawasan hutan pinus di pinggiran Sektor Barat malam itu. Suara angin yang bergesek di antara rimbunnya dedaunan menciptakan simfoni alam yang mencekam, seolah menyembunyikan langkah kaki maut yang sedang mengintai. Di tengah kegelapan pekat yang terisolasi tersebut, sisa-sisa anggota kartel Kobra Hitam berlari dengan napas memburu berantakan.Mereka mengira pelarian ke dalam hutan lebat ini bisa menyelamatkan nyawa mereka dari amukan organisasi The Shadow of Death. Namun, mereka sama sekali tidak menyadari bahwa bertingkah paranoid di tengah alam liar justru mempermudah insting berburu milik Marlon Pramudya. Menggunakan pakaian tempur taktis serba hitam yang melekat erat pada tubuh kekarnya, Marlon bergerak tanpa suara di atas tumpukan daun kering."Hei, apakah kamu mendengar sesuatu di belakang kita tadi?" bisik seorang anggota kartel berkulit legam kepada temannya sembari menodongkan senapan serbu ke arah kegelapan."Jangan menakut-nakuti aku, k
Si wanita bergincu tebal itu terus mengikuti langkah Marlon hingga ke smoking area, dia duduk tidak jauh dari tempat duduk Marlon yang saat itu hanya seorang diri di balkon hotel yang terbuka bebas itu. Ada semilir angin bertiup di siang menjelang sore itu yang mengibas rambut panjang wanita berpak
Meygi menyuruh Herru yang berdiri di belakangnya untuk memanggil si manager restoran. Tidak lama datang lah wanita berponi dan bermata sipit menghadapnya.“Iya Bu Meygi... Ibu panggil saya?” tanya si manager sambil membungkukan badan di depan Meygi untuk menunjukkan rasa hormatnya.“Tadi kamu bila
“Kenapa kamu sejak tadi diam saja sih, Beb? Apa kamu masih belum yakin dengan Black Card yang aku miliki bisa membayar semua makanan yang dipesan teman-temanmu,” ucap Erinka saat terlihat kurang berselera menikmati makan siangnya di meja terpisah dengan teman-temannya. “Aku percaya kok, pasti kamu
Siapa saja yang mendengar nama Meygi, pasti akan membayangkan seorang wanita cantik tapi memiliki hati yang kejam. Dalam kalangan pebisnis kelas atas, namanya sangat ditakuti karena dia tidak akan segan-segan menghabisi siapa saja yang bermasalah dengan dirinya.Seperti halnya para pebisnis lainnya







