แชร์

BAB 7: MEMILIKI BLACK CARD 

ผู้เขียน: Langit Berawan
last update วันที่เผยแพร่: 2026-06-01 05:06:06

Setelah Albert menyetujui untuk menyampaikan permohonan maafnya pada Hendrik dan tony, Erinka kembali mengajak Marlon untuk bergabung dengan teman-temannya yang sedang asyik mengobrol. Wenny tampak berbisik-bisik dengan lelaki kurus di sebelahnya, entah apa yang direncanakannya.

“Marlon, selama pernikahanmu dengan Erinka, kami sebagai sahabat dekat istrimu ini tidak pernah lho sekalipun mendapat traktiran dari kamu. Gimana kalau sekarang aja kamu mentraktir kami, aku dengar-dengar makanan seafood di restoran ini terkenal sangat lezat. Kalian setuju kan dengan usulku, teman-teman?” ucap si kurus meminta persetujuan beberapa orang di dekatnya sesuai rencana yang dia telah sepakati dengan Wenny.

“Tentu saja setuju dong... kan pas momennya, kapan lagi kan kita bisa kumpul bareng begini,” sahut salah satu teman Erinka yang berpakaian blus bermotif batik.

“Walaupun sebenarnya sudah telat sih, sudah tiga tahun gitu lho, tapi... dari pada enggak sama sekali, bolehlah merasakan traktirnya Marlon, sebagai suami dari teman baik kita Erinka...” ujar Wenny ikut mengomentari ucapan si lelaki kurus.

Erinka dan Marlon langsung berpandangan, tentu saja Erinka menunjukkan rasa keberatan untuk mentraktir belasan orang temannya di sebuah restoran bintang lima yang pasti mahal harga makanannya. Tapi, Marlon sebaliknya, dia malah mengangguk kecil meminta persetujuan Erinka kalau dirinya bersedia mentraktir makan semua teman-teman Erinka.

“Oke, baiklah, kawan-kawan... daripada mati kalian nanti penasaran karena belum mencicipi traktiran makan dariku... hehehe...,” ucap Marlon diselingi canda. “Jadi, aku persilakan kalian untuk mengorder apa saja menu  yang ingin kalian makan di restoran ini, aku yang akan membayar semuanya...” ucap Marlon dengan enteng dan tanpa bersalah. 

Sebaliknya, Erinka merasa kesal  mendengar hal konyol yang dikatakan suaminya, bagaimana dia tidak kesal, karena dia tidak membawa cukup uang untuk membayar bill makan teman-temannya nanti.

“Kamu sadar enggak sih apa yang kamu lakukan ini? Kamu ingin mempermalukan aku ya di depan teman-temanku karena kita tidak akan bisa membayarnya?” tegas  Erinka sambil cemberut pada Marlon yang malah senyum-senyum.

“Tenang, Sayang... semuanya pasti beres... hehehe...” jelas Marlon tak henti tersenyum sambil menatap Erinka, membuat istrinya itu menggeleng-geleng kepala dengan penuh rasa kesal.

“Ayo... ayo... yang belum pesan makannya, pesan saja ya..., bebas mau pesan apa saja boleh...!” teriak Marlon memberitahu teman-teman Erinka. Melihat tingkah suaminya seperti seorang boss membuat Erinka tiba-tiba diserang sakit kepala, pusing memikirkan dengan apa nanti harus membayar semuanya.

“Kok kamu malah diam saja di situ, Sayang... ayo kita pesan makanan, kamu makan apa?” tanya Marlon saat menghampiri Erinka yang sedang duduk lemas memikirkan harus membayar semuanya.

“Terserah kamu deh, pokoknya kalau terjadi apa-apa karena kita tidak bisa membayar aku enggak mau ikut campur,” tegas Erinka sambil cemberut. 

Marlon malah tersenyum sambil mencubit pipi istrinya dengan gemas, Erinka menepis tangan suaminya dengan kesal.

“Pegang kartu ini, Beb... tidak perlu khawatir, banyak nih isinya, jangankan makanan teman-temanmu, restoran ini pun bisa kita beli... hehehe...” ucap Marlon sambil menyerahkan sebuah kartu pada Erinka.

“Black Card? Dari mana kamu dapat kartu ini?” tanya Erinka heran sambil memegang kartu pemberian suaminya itu.

“Aku memang sudah lama punya, kok, aku hanya menggunakannya untuk keperluan mendesak saja,” jelas Marlon beralasan.

“Kok, kamu enggak pernah cerita kalau punya kartu ini?” tegas Erinka mulai bawel pada Marlon.

“Bukan hal penting, kenapa harus diceritakan? Udah ah, aku sudah lapar... ayo kita pesan makanan,” ucap Marlon lalu dengan lembut menarik lengan Erinka untuk pergi ke tempat display makanan yang sudah dikerumuni teman-teman Erinka yang hari ini mendapat traktiran makan dari Marlon.

Erinka masih belum sepenuhnya yakin kalau Black Card yang diberikan Marlon apakah benar-benar memiliki saldo yang cukup untuk membayar tagihan makan mereka. Tapi, dia coba meyakini dirinya kalau suaminya tidak mungkin main-main untuk hal sepenting ini, karena selama ini Erinka mengenal Marlon sebagai orang yang bertanggung jawab dengan setiap apa saja yang diperbuatnya.

Kalau memang kartu itu memiliki saldo yang banyak, dari mana Marlon mendapatkannya? Bukankah selama tiga tahun ini dia tidak bekerja hanya diam di rumah? Atau memang uang tabungannya yang sudah lama dia simpan? Berbagai pertanyaan mulai menghantui pikiran Erinka. Dia semakin yakin kalau sebenarnya dia belum benar-benar mengenal diri Marlon, terbukti hari ini diam-diam menyimpan uang yang besar pada kartu Black Card yang dimilikinya.

“Kau lihat tadi Wen, si Marlon punya Black Card?” bisik si lelaki kurus pada Wenny yang sempat melihat Marlon memberikan Black Card pada istrinya.

“Aku rasa suami Erinka itu memang sudah tidak waras, karena setahuku hanya seorang miliarder saja yang bisa punya kartu itu. Aku rasa itu bukan kartu Black Card yang asli, tapi pasti itu kartu KTM, kartu keluarga tidak mampu... hehehe...” canda Wenny bermaksud meremehkan Marlon, si kurus pun ikut menertawai ucapan Wenny.

Wenny dan beberapa temannya yang sekongkol untuk mengerjai Marlon dan Erinka agar tidak sanggup membayar tagihan bill makan mereka, memesan berbagai makanan mahal semau mereka hingga meja makan dipenuhi begitu banyak makanan dan minuman. Melihat itu semua Erinka mulai resah kembali, dia benar-benar tidak bisa membayangkan jika nanti kartu yang diberikan Marlon tidak cukup untuk membayar makanan sebanyak itu.

Saat Erinka dan Marlon sedang memesan makanan di depan konter, seorang wanita berseragam menghampiri meja teman-teman Erinka yang mulai menikmati makanan mereka, dia adalah manager restoran hotel bintang lima itu.

“Maaf ya Bapak Ibu, kalau boleh saya tahu siapakah diantara kalian yang berasal dari keluarga Pramudya?” tanya wanita berponi dan bermata sipit itu.

Albert yang merasa orang itu mencarinya, langsung mengangkat tangan, walaupun nama keluarganya yang lengkap adalah Pramudianto. 

“Memang ada Ibu mencari saya?” tanya Albert yang sama sekali tidak tahu kalau Pramudya adalah nama belakang Marlon. 

“Oh, jadi bapaklah orangnya yang telah menyelamatkan nyawa atasan kami Ibu Meygi? Terima kasih banyak ya, Pak atas jasa baiknya...” ucap wanita itu sambil membungkuk untuk menghormati Albert yang mengaku sebagai keluarga Pramudya.

Semua teman-teman yang duduk bersama Albert seketika itu juga sangat kagum padanya. Memiliki penampilan yang menarik, bekerja di perusahaan bonafide dengan gaji besar, dan rupanya dia juga seorang yang baik hati karena telah mempertaruhkan dirinya untuk menyelamatkan nyawa seseorang.

“Aku tidak sangka kamu ini seorang hero, Al,” ucap seorang wanita yang duduk sejurus di depan Albert. 

“Iya, kamu memang lelaki idaman, kalau aku jadi cewek aku pasti akan tertarik padamu,” ucap si lelaki kurus yang duduk bersebelahan dengan Albert, membuat Albert dan yang lain tersenyum mendengarnya.

Di tengah pujian dan sanjungan yang diterimanya, Albert sendiri merasa wanita yang masih berdiri di dekatnya itu salah orang, karena seumur hidup belum pernah dia membantu menyelamatkan nyawa seseorang. Tapi, karena dirinya sudah terlanjur mengakui dan baginya ini sebuah keuntungan juga karena  teman-teman jadi menyanjung dan menghormatinya. 

“Iya sama-sama, Ibu... tidak perlu dibesar-besarkan sebenarnya,” ucap Albert menanggapi si manager restoran itu.

“Anda memang lelaki idaman, sudah tampan, baik dan rendah hati pula,” ucap wanita itu memuji. “Baiklah, saya pamit dulu, maaf kalau mengganggu waktunya,” tambahnya, lalu pergi meninggalkan Albert dan teman-temannya.

Albert memang sama sekali tidak tahu siapa Meygi itu, kalau dia mengenalnya dia pasti akan menolak mengaku-ngaku sudah menyelamatkan nyanya seorang wanita Bloody Killer yang bengis dan kejam.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Marlon Menantu Terhebat   BAB 180: DUA SISI TAKDIR YANG ADIL 

    Waktu terus berjalan tanpa pernah menunggu siapapun, membawa perubahan besar yang menandai babak baru bagi seluruh anggota keluarga besar Hardiyata. Di bawah langit kota Jakarta yang perlahan mulai cerah seiring dengan menurunnya angka infeksi pandemi, sebuah pemandangan yang sangat kontras terjadi di dua tempat yang berbeda. Roda kehidupan akhirnya berputar dengan sangat nyata dan adil di bawah langit Hardiyata, memberikan balasan yang setimpal bagi setiap perbuatan manusia yang telah menanam benih di masa lalu. Hukum alam yang tidak pernah salah alamat kini mempertontonkan bagaimana sebuah kejayaan sejati dan kehancuran total bisa terjadi dalam satu waktu yang bersamaan di dalam satu lingkaran keluarga yang sama.Di satu sisi, Marlon dan Sugalih menikmati penghormatan dunia yang luar biasa tinggi atas keberhasilan Yellow Pil membawa Megah Hardiyata Group ke puncak kejayaan internasional yang belum pernah tercapai oleh korporasi mana pun di Asia. Aula utama gedung pusat kendali op

  • Marlon Menantu Terhebat   BAB 179: PENYESALAN MENDALAM DI RUANG ICU 

    Aroma cairan antiseptik yang menyengat langsung menyambut kedatangan keluarga besar Hardiyata di lorong lantai khusus ruang ICU Rumah Sakit Pusat Megah Medika. Lampu indikator merah di atas pintu kaca besar itu menyala dengan konstan, menandakan bahwa di dalam ruangan tersebut sedang berlangsung perjuangan hidup dan mati yang sangat kritis. Langkah kaki yang terburu-buru dari para perawat dan dokter spesialis saraf yang keluar masuk ruangan semakin menambah pekat suasana ketegangan yang menyelimuti area tunggu sejak pagi buta. Di sudut lorong, Sugalih duduk dengan kedua tangan yang menopang wajah tuanya yang tampak sangat layu, kehilangan seluruh wibawa seorang CEO yang baru saja diraihnya di dunia bisnis internasional.Ketika pintu lift terbuka dengan dentingan yang nyaring, Marlon melangkah keluar dengan ekspresi wajah yang tenang namun waspada, mendampingi Erinka yang berjalan dengan tubuh yang limbung karena syok. Erinka menangis histeris saat mendapati ibunya sudah terkapar tid

  • Marlon Menantu Terhebat   BAB 178: SERANGAN STROKE YANG FATAL 

    Sejak fasilitas mewahnya ditarik dan status sosialnya dihancurkan oleh dewan keluarga besar Hardiyata, Kemala menghabiskan sebagian besar waktunya terkurung di dalam kamar. Kamar yang dahulu menjadi simbol kemewahan dan tempatnya memamerkan koleksi perhiasan mahal, kini terasa laksana sel penjara bawah tanah yang pengap dan sunyi, dipenuhi oleh tumpukan surat tagihan utang yang belum terbayar.Kemala duduk di tepi tempat tidur dengan gawai di tangannya—satu-satunya alat komunikasi yang tersisa setelah semua fasilitas premium miliknya diblokir oleh perusahaan. Dengan jemari yang gemetar karena menahan luapan emosi yang terpendam, ia mulai membuka aplikasi berita harian nasional dan internasional untuk melihat perkembangan situasi di luar sana. Namun, apa yang terpampang di layar gawai tersebut justru menjadi awal dari malapetaka terbesar dalam hidupnya.Puncaknya terjadi saat Kemala membaca berita harian yang menampilkan kejayaan internasional Megah Hardiyata Group dengan tajuk utama

  • Marlon Menantu Terhebat   BAB 177: EGO KERAS KEMALA 

    Suara deru mesin mobil-mobil mewah yang biasanya mengantar jemput para tamu sosialita kini telah lenyap, digantikan oleh kesunyian mencekam setelah tim logistik perusahaan menarik seluruh fasilitas kendaraan kemarin sore. Di dalam ruang tengah yang luas itu, sinar matahari yang menerobos masuk melalui celah gorden besar seolah enggan menyentuh sosok Kemala yang duduk sendirian di sudut sofa, meratapi nasibnya dengan tatapan mata yang dipenuhi oleh kabut kemarahan yang mendalam.Namun, di tengah keterpurukan sosialnya yang begitu nyata di hadapan publik dan keluarga besar, Kemala sama sekali menolak berkaca pada kesalahannya sendiri yang telah menghancurkan reputasinya. Alih-alih menyadari bahwa konspirasi busuknya bersama Zakie adalah penyebab utama dari segala penderitaan ini, hati wanita paruh baya itu justru semakin mengeras dan tertutup rapat oleh dinding keangkuhan yang semu. Pikiran Kemala telah menyimpang jauh dari kenyataan obyektif yang sedang terjadi di sekelilingnya, men

  • Marlon Menantu Terhebat   BAB 176: KEJATUHAN STATUS SOSIAL KELUARGA

    "Buka matamu lebar-lebar, Kemala! Lihat apa yang sudah kamu perbuat pada kehormatan nama baik kita!" bentak Sugalih dengan suara yang menggelegar, membanting pintu ruang tengah rumah utama mereka hingga bergetar hebat. Wajah pria tua itu tampak merah padam, menahan amarah yang sudah mencapai ubun-ubun setelah menghadiri pertemuan darurat dewan keluarga besar Hardiyata.Kemala yang sedang duduk meringkuk di atas sofa dengan mata sembab hanya bisa tersentak kaget. Tubuhnya gemetar melihat kemarahan suaminya yang belum pernah terjadi sekeras ini selama puluhan tahun mereka membina rumah tangga. "Pah, kumohon dengarkan penjelasanku dulu. Aku melakukan semua ini juga demi masa depan...""Masa depan apa?! Masa depan di dalam penjara?!" potong Sugalih dengan nada suara yang sangat sinis dan penuh penekanan yang menembus dada. "Pertemuan keluarga besar tadi benar-benar seperti panggung pembantaian bagiku! Semua kerabat, dari yang dekat sampai yang jauh, menunjuk wajahku dan mencaci-maki kelak

  • Marlon Menantu Terhebat   BAB 175: KEHANCURAN IBU MERTUA

    "Kumohon, angkat teleponnya, Zakie! Jangan membuatku gila seperti ini!" jerit Kemala dengan suara yang serak dan tubuh yang gemetar hebat di dalam kamar apartemennya yang berantakan. Ia terus menekan tombol panggil pada gawainya, namun hanya suara operator yang menjawab secara berulang-ulang.Di atas meja riasnya yang mewah, tumpukan surat tagihan utang dari bank dan beberapa rentenir pasar gelap sudah menggunung dengan cap merah bertuliskan peringatan terakhir. Kemala berjalan mondar-mandir laksana singa kelaparan yang terkurung di dalam kandang sempit, dengan napas yang memburu dan keringat dingin yang membasahi seluruh gaun sutranya."Ini tidak mungkin terjadi! Semuanya sudah aku atur dengan sangat rapi! Zakie seharusnya sudah berhasil membawa Erinka pergi dan memeras Sugalih untuk menyerahkan takhta perusahaan hari ini!" ratap Kemala, air matanya mulai merusak riasan wajahnya yang tebal hingga tampak sangat mengerikan.Tepat pada saat itu, layar televisi besar di sudut kamarnya y

  • Marlon Menantu Terhebat   BAB 2: BATAS KESABARAN

    Menjelang siang hari saat mengerjakan tugas rutin membersihkan rumah, menyapu dan mengepel lantai, Marlon kembali menerima sebuah pesan di ponselnya. Dia pun langsung tersenyum lebar mengetahui bahwa dirinya telah mendapat hadiah yang begitu banyak hari ini. Mulai dari uang 100 Milyar yang ditransf

  • Marlon Menantu Terhebat   BAB 1: MENANTU YANG TERTINDAS

    “Bagaimana rasanya, Sayang, enak enggak nasi goreng buatanku?” tanya Marlon yang berdiri di samping Erinka, setelah istrinya itu menyuap sesendok nasi goreng ke mulutnya.“Hmm... sedap... beneran ini kamu yang masak?” tanya Erinka.“Iya, dong aku... tapi bumbunya sih Bi Puri yang membuat, aku bagia

  • Marlon Menantu Terhebat   BAB 10: JERAT WANITA BERGINCU TEBAL

    Si wanita bergincu tebal itu terus mengikuti langkah Marlon hingga ke smoking area, dia duduk tidak jauh dari tempat duduk Marlon yang saat itu hanya seorang diri di balkon hotel yang terbuka bebas itu. Ada semilir angin bertiup di siang menjelang sore itu yang mengibas rambut panjang wanita berpak

  • Marlon Menantu Terhebat   BAB 3 : DISEREMPET LAMBORGHINI

    Setelah Marlon memandu mobil Avanza berwarna hitam itu di jalan raya, Erinka bisa merasakan kalau hari ini Marlon sangat berbeda. Rupanya dia piawai memandu mobil, cara menyetirnya halus dan tenang, membuat penumpang merasa nyaman. Erinka menyimpulkan, kalau suaminya itu mempunyai sisi lain pada di

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status